Mungkinkah Ini Dunia Lain?
Ketika aku bangun, hal pertama yang aku rasakan adalah mataku berkunang-kunang.
Cahaya memenuhi pandanganku, dan aku menyipitkan mata karena ketidaknyamanan ini.
Setelah mataku terbiasa dengan cahaya terang, aku menemukan seorang wanita muda pirang sedang menatapku.
Seorang gadis cantik ...... bukan, akan lebih tepat jika aku memanggilnya wanita cantik.
(Siapakah ini?)
Di sampingnya adalah seorang pria berambut cokelat yang sepertinya seusia dengan si wanita, dan dia menampilkan senyum kaku padaku
Dia adalah seorang pria yang tampak kuat dan sombong. Otot-ototnya begitu menakjubkan.
Rambut cokelat, dan kelihatan sombong. Dengan melihat penampilan DQN-nya [1], sepertinya aku baru saja terpental oleh bogem pria itu. Anehnya, aku tidak merasa bahwa dia orang jahat.
Rambutnya berwarna cokelat indah, dan aku pikir itu adalah warna rambut alami miliknya.
Sebuah senyum merobek wajah wanita itu, sembari dia menatapku dan mengatakan sesuatu.
Apa yang dia katakan? Karena masih merasa pening, aku tidak bisa mendengar dengan jelas, dan tidak memahaminya sama sekali.
Mungkinkah itu bukan bahasa Jepang
------ XXXXX ---- XXX, si pria menjawab dengan ekspresi lembut di wajahnya. Ampun deh, apa sih yang dia katakan? Aku tidak mengerti sama sekali.
Suara orang ketiga datang dari suatu tempat.
Aku tidak bisa melihat mereka.
Aku mencoba untuk duduk dan bertanya pada mereka, Di manakah tempat ini, dan siapakah kalian?
Walaupun aku adalah seorang hikikomori, aku tidaklah sepenuhnya gagal dalam urusan berkomunikasi.
Aku masih bisa melakukan hal seperti itu.
Ah ah------
Tapi aku tidak tahu apakah apa keluar dari bibirku adalah erangan, ataukah hanya hembusan nafas berat.
Tubuhku tidak bisa bergerak.
Aku merasakan suatu sensasi pada jari dan pergelangan tanganku, tapi aku tidak sanggup menggerakkan tubuhku bagian atas.
Pada akhirnya, pria itu membawaku.
Ini adalah sebuah lelucon, ‘kan? Tubuhku beratnya lebih dari 100 kilogram, dan ia mengangkatku dengan begitu mudahnya ....
Tidak, mungkin aku sudah koma selama puluhan hari, dan itu menyebabkan berat tubuhku menurun drastis.
Aku baru saja mengalami sebuah insiden yang besar. Ada kemungkinan besar bahwa aku sudah kehilangan lengan atau kaki.
(Suatu nasib yang bahkan lebih buruk daripada kematian, hah ......)
Pada hari itu.
Seperti itulah yang kupikirkan.
Sebulan berlalu.
Sepertinya aku telah bereinkarnasi. Akhirnya aku menyadari kenyataan ini.
Aku telah menjadi bayi.
Aku menyadarinya ketika aku tahu bahwa kepalaku ditopang, dan aku bisa melihat tubuhku sendiri yang berukuran begitu kecil.
Aku tidak tahu mengapa aku masih memiliki kenangan masa lalu, akan tetapi tidak ada salahnya mempertahankan memori-memori itu.
Masih mempertahankan memori bahkan setelah bereinkarnasi ----- setiap orang pasti pernah berdeilusi seperti itu meskipun hanya sekali.
Tapi aku tidak pernah mengira bahwa khayalan seperti itu akan menjadi kenyataan......
Pasangan pertama yang kulihat begitu aku membuka mata, tampaknya adalah sepasang suami-istri yang merupakan ayah-ibuku.
Tampaknya mereka berumur 20-an.
Jelas, umur mereka lebih muda dariku pada kehidupan yang sebelumnya.
Dari perspektif orang berusia 34 tahun, tidaklah masalah jika mereka berdua kusebut muda.
Aku benar-benar iri karena mereka telah mempunyai anak pada umur semuda itu.
Aku sudah menyadarinya sejak awal, tapi tampaknya aku tidak sedang berada di Jepang.
Bahasanya berbeda, wajah orangtuaku pun tidak pantas disebut wajah orang Jepang, dan pakaian mereka bahkan tampak berasal dari suatu desa yang jauh.
Aku tidak bisa melihat apa pun yang menyerupai perangkat elektronik (ada juga orang mengenakan celemek Maid, yang sedang bersih-bersih dengan menggunakan kain), perabot, mangkuk, dan furniture terbuat dari kayu dengan kasar. Mungkin ini bukanlah suatu negara yang maju seperti Jepang.
Cahaya tidak berasal dari bohlam, melainkan dari lilin dan lentera.
Tentu saja, ada kemungkinan bahwa mereka sangatlah miskin, sehingga tidak mampu membayar tagihan listrik.
..... Apakah kemungkinan besar seperti itu?
Aku pikir, mereka pasti punya uang, karena ada seseorang yang berpakaian seperti Maid.
Tapi mungkin saja si Maid itu merupakan saudari dari salah satu orang tuaku. Adalah hal yang normal baginya, ikut membersihkan rumah.
Aku sungguh-sungguh ingin memulai hidup sekali lagi dari awal, tapi tinggal di sebuah keluarga yang bahkan tidak mampu membayar tagihan listrik........ itu sangat membuatku gelisah.
Setengah tahun berlalu.
Setelah mendengarkan percakapan orang tuaku selama setengah tahun terakhir ini, aku sudah mulai memahami berbagai hal sedikit demi sedikit.
Nilai bahasa Inggris-ku tidak bisa dibilang bagus sih, tetapi tampaknya benar bahwa belajar dapat berlangsung dengan lebih efektif jika kau langsung berhubungan dengan orang berbahasa natif. Atau mungkinkah kecerdasan tubuh baruku ini cukup tinggi? Atau mungkin juga karena usiaku saat ini masih muda, sehingga aku bisa mengingat segala sesuatu dengan lebih tangkas.
Pada saat ini, aku bisa merangkak.
Mampu bergerak adalah hal yang indah.
Sebelumnya, aku tidak pernah merasa begitu bersyukur ketika bisa bergerak seperti ini.
Dia akan lari ke tempat lain ketika mataku tidak mengawasinya.
Bukankah baik kalau dia bergerak dengan aktif? Aku sangat khawatir sewaktu dia tidak menangis sama sekali, ketika lahir.
Bahkan sekarang pun, dia tidak menangis.
Orang tuaku saling berdiskusi sembari melihatku merangkak kesana-kemari.
Bagaimanapun juga, pemikiranku saat ini bukanlah seperti bayi yang hanya bisa menangis ketika kelaparan.
Tetapi, walaupun aku mencoba untuk menahannya, masih ada beberapa hal yang terjadi tanpa kendaliku, sehingga aku membiarkannya begitu saja.
Meskipun aku hanya bisa merangkak, setelah aku melakukannya, aku mengerti banyak hal.
Pertama-tama, keluarga ini cukup kaya.
Rumah ini tingkat dua, terbuat dari kayu, dan terdapat lebih dari lima kamar. Mereka pun memperkerjakan seorang Maid.
Pada awalnya aku pikir bahwa Maid ini adalah bibiku atau semacamnya, tapi sikap hormatnya pada orang tuaku membuatnya tidak mirip seperti bagian keluarga.
Tempat ini adalah sebuah desa.
Dari pemandangan yang bisa kulihat lewat jendela, nampak suasana ladang yang tenang.
Ada beberapa rumah lain yang tersebar di sekitarnya, dan pada salah satu sisi ladang gandum, aku bisa melihat dua, atau tiga rumah tangga.
Di sini cukup terpencil. Aku tidak bisa melihat kabel listrik, lampu, atau sesuatu semacamnya. Mungkin tidak ada generator di dekat sini.
Aku pernah mendengar bahwa negara-negara asing menempatkan kabel listrik di bawah tanah, tapi kalau memang itu yang terjadi di sini, aneh sekali kalau rumah kami tidak memiliki listrik.
Suasana pedesaan sangat kental di sini. Dan aku pun sudah muak berdesak-desakan dengan kerumunan manusia.
Walaupun aku telah bereinkarnasi, aku masih ingin memiliki komputer pribadi.
Pemikiran seperti itupun berakhir pada suatu sore tertentu.
Aku hampir tidak melakukan apapun seharian, dan pada sore hari aku naik ke kursiku seperti biasanya, aku berniat menikmati pemandangan ladang. Ketika aku melihat keluar jendela, aku sangat terkejut.
Ayah mengayun-ayunkan pedang di halaman.
(Apa....? Apa yang dia lakukan?)
Pada umur setua ini, ayahku masih saja menebas-nebaskan benda seperti itu? Apakah dia pengidap Chuunibyou?
(Ah, omong kosong ....)
Karena shock, aku pun jatuh dari kursi.
Tanganku yang masih belum berkembang berhasil meraih kursi, tapi tidak dapat mendukung berat tubuhku, lantas kepalaku terjatuh ke lantai.
Kyaa!
Aku mendengar jeritan ketika tubuhku membentur lantai.
Ibu melihatku dan segera menjatuhkan pakaian-pakaian yang baru saja dicuci, karena kedua tangannya dia sumpalkan ke mulut. Ibu pun melihatku dengan wajah pucat bagai mayat.
Rudi! Apakah kau baik-baik saja !?
Ibuku bergegas menuju ke arahku dengan panik, lantas menggendongku.
Dengan tatapan lega, dia melihat mataku, lantas meletakkan tangan di dadanya.
..... Fiuh, syukurlah kau tampaknya baik-baik saja.
(Madam, lebih baik kau tidak menggerak-gerakkan seorang bayi ketika kepalanya baru saja membentur lantai,) aku berpikir begitu dalam benakku.
Jika dilihat dari seberapa cemas ekspresi di wajahnya, tampaknya aku jatuh dengan cara yang cukup berbahaya.
Mungkin saja aku bisa menjadi bodoh karena hantaman keras di kepala. Bukan berarti bahwa akan berbeda.
Ada rasa sakit yang berdenyut di belakang kepalaku. Paling tidak, kecepatan jatuhku berkurang saat aku berhasil meraih kursi tadi.
Karena reaksi ibuku tak terlampau panik, aku pun berasumsi bahwa darah tidak merembes dari kepalaku. Mungkin aku hanya mengalami pembengkakan.
Dengan hati-hati, ibu memeriksa kepalaku.
Ekspresinya seakan mengatakan, jika ada cedera, maka itu akan serius.
Akhirnya, dia meletakkan tangannya di atas kepalaku,
Untuk amannya ....... Biarkan kekuatan Dewa berubah menjadi tanaman yang melimpah, dan diberikan kepada mereka yang telah kehilangan kekuatan agar bisa berdiri sekali lagi, [HEALING]”
Aku hampir saja berteriak, Hey, hey, apakah ini negara dimana kau hanya perlu berkata: [sakit, sakit, sembuhlah segera]*?
[Sakit, sakit, sembuhlah segera adalah ungkapan yang biasa diucapkan ketika seorang anak kecil terluka. Ada kepercayaan bahwa ucapan itu bisa mengurangi rasa sakit si bocah, bahkan menyembuhkannya dengan cepat.
Atau, apakah ibuku pengidap chuunibyou yang sama seperti ayah?
Apakah aku adalah anak hasil pernikahan antara seorang prajurit dan pendeta?
Ketika aku berpikir begitu........
Tangan ibuku memancarkan cahaya redup, dan, dalam sekejap, rasa sakitku lenyap.
(...... Eh?)
Lihat, tidak apa-apa kan sekarang. Bagaimanapun juga, ibumu adalah seorang petualang terkenal, ibuku mengatakan itu dalam lagak sombong.
Aku langsung larut ke dalam kebingungan.
Pedang, prajurit, petualang, penyembuhan, lantunan mantra, pendeta. Semua istilah ini bergema di dalam kepalaku.
Apa itu tadi? Apa yang dia lakukan?
Apa yang terjadi?
Ayahku melihat dari luar jendela, ketika ia mendengar ibuku berteriak.
Seluruh tubuhnya berkeringat karena ia baru saja mengayunkan pedangnya.
Dengarkan aku, sayang. Rudi benar-benar naik di atas kursi ..... dan hampir mendapat luka parah.
Yahh, bagaimanapun juga, seorang anak lelaki harus suka bergerak dengan aktif.
Si ibu sedikit khawatir, dan si ayah tidak menganggapnya sebagai hal yang serius, kemudian dia menenangkan istrinya.
Ini adalah adegan yang biasa terlihat di dalam suatu keluarga.
Tapi, ibuku masih saja bersikeras, mungkin karena bagian belakang kepalaku membentur lantai terlebih dahulu.
Tunggu sebentar, sayang. Umur anak ini bahkan belum genap setahun. Tunjukkan sedikit rasa khawatirmu dong!
Meskipun begitu, anak laki-laki harus sering jatuh agar menjadi kuat. Dengan begitu, dia justru akan semakin sehat. Lagipula, walaupun dia cedera, bukankah kau hanya perlu menyembuhkannya?”
Tapi aku benar-benar khawatir, aku terus berpikir bahwa dia mendapatkan luka berat, sehingga aku tidak mampu menyembuhkannya ......
Dia akan baik-baik saja.
Ayahku mengatakan itu, lantas memeluknya erat-erat.
Wajah ibuku memerah.
Aku sangat khawatir ketika dia sama sekali tidak menangis sewaktu dilahirkan, tetapi jika dia senakal ini, harusnya dia baik-baik saja ......
Ayahku mencium ibuku.
Hey, hey, kalian sengaja menunjukkan ini padaku, ‘kan? Dasar kalian berdua!
Create :Atsun rai. Rate : ⭐⭐⭐⭐ / 7.35
Kemudian mereka berdua menempatkan aku di kamar sebelah untuk tidur, lantas mereka naik ke lantai 2, dan mengerjakan rutinitas suami-istri.
Meskipun kalian berdua naik ke lantai 2, aku masih bisa mendengarkan suara ‘nyan-nyan’ yang menyebalkan itu ... Dasar orang-orang offline yang sukses*
[Dia memanggil orang biasa yang tidak ber-hikikomori dengan sebutan orang offline yang sukses, karena mereka tidak hidup pada dunia maya seperti NEET pada umumnya.]
Kemudian, aku mulai memperhatikan percakapan antara orang tuaku dan si Maid.
Lantas, aku mendengar banyak hal yang tidak ada dalam kamus kosakataku.
Terutama nama-nama negara, distrik, dan berbagai lokasi lainnya.
Ada juga beberapa kata benda yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Mungkin tempat ini .....
Tidak, aku yakin akan hal itu.
Ini bukan Bumi, melainkan suatu dunia lainnya.
Sebuah dunia berbeda yang terdapat pedang dan sihir di dalamnya.
Pada saat ini, aku memikirkan sekelebat inspirasi.
....... Jika memang seperti itulah dunia ini, maka orang seperti aku pun bisa mendapatkannya.
Jika ini adalah dunia yang berisikan pedang dan sihir, dunia yang menyimpang dari kehidupanku sebelumnya, dan apa yang kutahu adalah hal yang normal di sini, mungkin aku bisa melakukannya.
Untuk hidup seperti orang normal, untuk bekerja keras seperti orang normal, untuk dapat memanjat kembali jikalau aku terjatuh, untuk menjalani hidupku sepenuhnya.
Aku sungguh menyesal dengan kematianku pada kehidupan sebelumnya.
Sekarat dengan penuh kegelisahan atas betapa tidak bergunanya diriku ini, dan fakta bahwa aku tidak mampu memperoleh apapun dalam hidupku sebelumnya.
Tapi, diriku yang mengalami semua itu,
Setelah mempertahankan pengetahuan dan pengalaman hidupku sebelumnya, mungkin aku benar-benar bisa melakukannya kali ini.
......Untuk hidup dengan lebih serius.
Maid Tanpa Ekspresi
Lilia pernah sekali menjadi Guard-Maid untuk selir Asura.
Guard-Maid adalah seorang pelayan yang juga berperan sebagai penjaga.
Guard-Maid biasanya akan melakukan pekerjaan sebagai pelayan, tetapi jika terjadi sesuatu, mereka akan mengambil pedang untuk melindungi tuannya.
Lilia menjalani tugasnya dengan setia. Selama mengerjakan pekerjaan sebagai Maid, dia tidak pernah mengeluh
Tapi sebagai Swordsman, kemampuannya biasa-biasa saja.
Dan dengan demikian, adalah suatu hal sembrono ketika dia berani melawan pembunuh yang mengincar nyawa putri yang baru saja lahir, dan dia mendapat cedera di kaki karena tikaman belati musuh.
Belati itu dilapisi dengan racun yang secara khusus dimaksudkan untuk membunuh keluarga bangsawan.
Tidak ada obat penawar atau sihir penyembuhan yang mampu mengobati racun seperti itu.
Namun luka itu segera diobati, dan dia pun selamat berkat sang dokter yang mencoba berbagai upaya untuk menyembuhkannya, tapi ada efek samping yang bertahan lama.
Tidak ada efek serius pada kehidupan sehari-harinya, tapi dia tidak pernah bisa berjalan atau menginjak tanah lagi.
Kemudian, pihak kerajaan memecatnya tanpa ragu.
Itu bukan kejadian yang jarang, dan Lilia menerima nasib ini dengan ikhlas.
Setelah kehilangan kemampuannya, otomatis dia juga kehilangan posisinya.
Meskipun dia tidak diberi uang kompensasi, dia masih menganggap dirinya beruntung karena tidak dihabisi secara diam-diam, karena dia sudah banyak tahu tentang berbagai hal di dalam istana.
Lilia kemudian meninggalkan ibukota.
Dalang usaha pembunuhan belum juga ditemukan.
Setelah mengerti aturan staf selir, dia pun menyadari adanya kemungkinan bahwa dia bisa saja menjadi target pembunuhan selanjutnya.
Mungkin pihak istana sengaja menyuruh Lilia pergi untuk memancing keluar si otak pembunuhan.
Dia selalu bertanya-tanya, mengapa dirinya (yang tidak memiliki latar belakang berarti) telah diterima di istana. Akhirnya dia sekarang mengerti; mereka hanya ingin menyewa Maid rumah tangga yang bisa dimanfaatkan, lantas dibuang.
Namun, tidak peduli apapun alasannya, dia harus meninggalkan ibukota secepat mungkin, demi keselamatannya sendiri.
Meskipun kerajaan diperlakukan dirinya sebagai umpan, dia tidak punya kewajiban untuk terus tinggal di istana, karena tak seorang pun bisa memanfaatkan nyawanya yang berharga.
Dan ia tidak punya rasa kewajiban untuk memenuhi itu semua.
Lilia secara diam-diam menaiki kereta kuda untuk pergi, lantas dia tiba di wilayah Fedoa, yang memiliki lahan pertanian luas, dan terletak di berbatasan.
Ini adalah tempat yang santai, terdapat ladang gandum yang luas. Namun ada pengecualian pada kota benteng Roa, di mana seorang penguasa hidup.
Lilia bermaksud untuk mencari pekerjaan di sana.
Tapi, karena kakinya sedang terluka, ia tidak boleh mencari pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik.
Dia bisa beristirahat sembari mengajarkan ilmu berpedang, tapi pekerjaan terbaik adalah sebagai Maid, karena gajinya cukup besar.
Di perbatasan ini, ada banyak orang yang bisa menggunakan pedang, dan banyak yang bisa mengajarkan ilmu berpedang, tapi seorang Maid yang benar-benar berpengalaman dalam urusan dalam negeri sangatlah jarang.
Karena jumlah pasokan sangat sedikit, maka gaji cenderung semakin besar.
Namun, akan berbahaya baginya untuk dipekerjakan oleh penguasa Fedoa, atau keluarga bangsawan kelas tinggi dengan status yang sama ...
Orang-orang seperti itu pasti memiliki hubungan dengan raja.
Jika mereka tahu dia adalah seorang Maid yang pernah bekerja untuk selir istana, ada kemungkinan bahwa ia akan diperlakukan lagi sebagai alat politik.
Dan karena alasan itulah, Lilia terus menjauhi mereka.
Dia tidak ingin mengalami bahaya yang membuat nyawanya terancam.
Meskipun sedikit tidak adil untuk sang putri, Lilia berharap tinggal sejauh-jauhnya dari pertentangan kekuasaan para bangsawan.
Tapi, jika gajinya terlalu rendah, maka uang yang hendak dia kirimkan untuk keluarganya tidak akan cukup.
Mencoba untuk menemukan pekerjaan yang aman dengan gaji tinggi, sungguh tidak mudah.
Setelah berjalan ke mana-mana selama hampir satu bulan, Lilia akhirnya mendapati suatu selebaran berisikan lowongan kerja.
Seorang ksatria kelas rendah dari desa Buina, yang terletak di wilayah Fedoa, sedang mencari Maid untuk dipekerjakan.
Yang terpenting, lowongan kerja itu mengatakan bahwa si ksatria akan memberikan prioritas khusus kepada seseorang yang memiliki pengalaman dalam merawat anak-anak, atau memiliki pengetahuan tentang kebidanan.
Buina adalah sebuah desa kecil di tepi Fedoa.
Sebuah desa di antara desa-desa lainnya. Itu adalah desa yang terpencil.
Tempat itu sungguh tidak nyaman, akan tetapi, malah itulah yang dia cari selama ini.
Kebetulan, majikannya adalah seorang ksatria tingkat rendah.
Dan yang paling penting, dia mengenali nama calon majikan.
Paul Greyrat.
Dia adalah anak didik Lilia.
Seorang putra bangsawan yang congkak, pada satu hari, dia tiba-tiba pernah menerobos masuk ke dalam dojo di mana Lilia belajar ilmu pedang.
Menurutnya, ia telah meninggalkan rumah setelah bertengkar dengan ayahnya, lantas datang ke dojo untuk belajar ilmu pedang.
Meskipun gayanya berbeda, ia juga belajar tentang ilmu pedang di rumah, dan tak lama kemudian, dia pun berhasil melampaui Lilia.
Lilia tidak senang dengan kenyataan ini, tapi karena dia paham bahwa orang itu memiliki bakat, maka Lilia pun menyerah.
Paul, yang benar-benar berbakat, kemudian diusir dari dojo setelah membuat kesalahan.
Dia hanya meninggalkan suatu kalimat pada Lilia, Aku akan menjadi seorang petualang.
Dia adalah seorang pria yang penuh prahara.
Tak terasa, sudah 7 tahun mereka berpisah.
Pada saat itu, ia benar-benar menjadi seorang ksatria dan menikah ...
Meskipun Lilia tidak tahu seperti apakah rintangan yang telah dia hadapi dalam hidupnya, Paul bukan lagi sesosok pria jahat yang pernah Lilia kenal.
Bahkan jika Lilia menceritakan masalah yang tengah dihadapinya, dia yakin Paul akan menolongnya.
Jika itu tidak berhasil, maka ia hanya perlu menyebutkan beberapa peristiwa masa lalu.
Ada beberapa hal yang bisa dia gunakan untuk bernegosiasi.
Setelah mempersiapkan semua hal ini, Lilia pun menuju ke Buina.
Paul langsung memperkerjakan Lilia tanpa banyak omong.
Tampaknya dia benar-benar cemas ketika istrinya, Zenith, hendak melahirkan.
Lilia telah diajari ilmu kebidanan yang cukup banyak sewaktu menangani kelahiran sang putri.
Selain itu, dia adalah seseorang yang begitu Paul kenal, dan dia pun tahu latar belakangnya.
Lilia diterima dengan sambutan hangat.
Gajinya juga lebih tinggi daripada apa yang dia harapkan, sehingga semua keinginannya bisa tercapai. Anak itupun lahir.
Tidak ada masalah tentang buruh atau sesuatu semacamnya. Semuanya berjalan lancar seperti apa yang pernah diajarkan padanya di dalam istana.
Tidak ada masalah sama sekali. Bayinya lahir dengan sukses.
Namun, bayi itu sama sekali tidak menangis ketika dilahirkan.
Keringat dingin Lilia mulai bercucuran.
Bayi mengeluarkan cairan ketuban segera setelah ia lahir, tapi dia hanya mengangkat kepalanya tanpa emosi apapun, dan tidak mengeluarkan suara.
Wajah tanpa ekspresi itu mengingatkannya pada kasus anak yang mati tepat setelah dilahirkan.
Lilia menyentuh si bayi, dan dia merasakan denyut jantung. Ia bisa bernapas.
Tapi dia tidak menangis.
Lilia teringat kata-kata Guard-Maid senior.
Bahwa bayi yang tidak menangis saat lahir, biasanya memiliki komplikasi.
Tepat ketika dia memikirkan hal ini.
Ah ah. Bayi itu melihat ke arahnya, dan menggumamkan sesuatu untuk memecahkan keheningan.
Lilia langsung lega setelah mendengar itu.
Meskipun tidak ada bukti, ia merasa bahwa sama sekali tidak ada masalah di sini.
Nama anak itu adalah Rudeus.
Dia adalah seorang anak yang luar biasa, dia tidak pernah menangis atau rewel. Pada awalnya, orang-orang beranggapan bahwa tubuhnya sedikit lebih lemah daripada anak pada umumnya, sehingga tidaklah diperlukan banyak tenaga untuk merawat anak ini.
Tapi, gagasan seperti itu hanya terjadi di awal.
Setelah Rudeus belajar merangkak, ia mulai bergerak ke mana-mana, pada setiap sudut rumah.
Dia hampir menelurusi setiap sisi rumah seperti: dapur, pintu belakang, gudang, ruang peralatan pembersih, tungku ...... dan lainnya
Dia bahkan naik ke lantai dua, dan tak seorang pun bisa membayangkan bagaimana dia bisa melakukan itu.
Ia akan menghilang setiap kali orang-orang lengah mengawasinya.
Tapi, dia akan selalu ditemukan pada suatu tempat di rumah itu.
Rudeus tidak pernah meninggalkan rumah.
Dia kadang-kadang melihat ke luar jendela, tapi sepertinya dia masih takut untuk pergi ke luar.
Secara naluriah, Lilia takut pada bayi ini, dan orang-orang penasaran sejak kapan fenomena ini terjadi.
Ini mungkin terjadi saat Lilia menemukan bayi itu setelah menghilang beberapa saat.
Namun, Rudeus hampir selalu tersenyum.
Kadang-kadang ia melihat sayuran, menatap api lilin yang berkedip-kedip, atau hanya melihat celana dalam yang belum dicuci.
Rudeus menggumamkan suara, dan menunjukkan senyum yang membuat orang merasa cukup jijik ketika melihatnya.
Itu adalah senyum yang ototmatis bisa membuat orang-orang merasa jijik.
Ketika Lilia bekerja di dalam istana, dia harus pergi ke bagian utama istana untuk menjalankan misinya, dan semakin tinggi level pejabat bangsawan, maka semakin sering pula dia melihat senyuman menjijikkan seperti yang biasa ditunjukkan si bayi.
Mereka botak, memiliki perut gemuk, dan mereka melirik dada Liliana sembari terenyum seperti itu. Anehnya, itu sangat mirip seperti bayi ini, yang baru saja dilahirkan beberapa saat lalu.
Sangat menakutkan ketika dia harus menggendong Rudeus.
Saat Lilia membenamkan wajah si bayi pada dadanya, hidungnya mendengus, sudut-sudut mulutnya naik, dan napasnya semakin kencang.
Kemudian dia membuat suara-suara aneh, seperti: Huuu dan Orhhh , tampaknya dia sedang tertawa ketika bersuara seperti itu.
Dan ketika itu, seluruh tubuh Lilia merinding ketakutan.
Dia selalu punya hasrat untuk membuang bayi ini, dan membantingnya ke lantai.
Bayi ini gak ada lucu-lucunya sama sekali. Senyumnya justru menyebabkan rasa takut pada orang lain.
Itu adalah senyuman yang mirip seperti pejabat tinggi yang telah membeli banyak budah wanita muda.
Ketika seseorang baru saja dilahirkan, seharusnya tingkah lakunya mirip seperti bayi pada umumnya.
Lilia sungguh merasa tidak nyaman, dan bahkan dia merasakan bahaya ketika memikirkan semua ini.
Bayi yang sangat aneh. Mungkinkah ada semacam roh jahat yang merasukinya? Atau mungkin itu adalah sesuatu yang mirip, seperti kutukan.
Setelah dia berpikir lagi dan lagi, dia mulai merasa sangat cemas.
Dia pergi ke toko barang, dan menghabiskan sejumlah uang untuk membeli beberapa barang yang diperlukan.
Ketika Greyrats pergi tidur, dia memulai beberapa ritual untuk mengusir roh jahat.
Tentu saja, ini dirahasiakan dari Paul dan keluarganya.
Hari kedua, setelah menggendong Rudeus lagi, Lilia akhirnya mengerti.
Bahwa semua usahanya adalah sia-sia belaka.
Dia masih menjijikkan seperti biasanya. Sangatlah menakutkan ketika melihat bayi menampilkan ekspresi seperti itu di wajahnya.
Zenith pernah mengatakan, Ketika menyusui bayi ini, dia akan menjilati ‘itu’ ...
Ini sungguh keterlaluan.
Paul memang tidak pernah sungkan ketika berhadapan dengan seorang wanita, tetapi dia juga tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu. Lantas, nurun siapa nih anak!!?
Lilia mengingat suatu hal lagi.
Dia pernah mendengar suatu cerita di istana.
Di masa lalu, seorang pangeran Asuran pernah dirasuki setan. Untuk membangkitkan setan itu, dia akan merangkak dengan menggunakan tubuhnya setiap malam.
Seorang Maid tidak begitu mencurigai tindakan pangeran ini, dan dia pun memeluknya begitu saja, lantas sang pangeran menikamnya dengan pisau yang tersembunyi di belakang tubuh, untuk membunuhnya.
Itu terlalu menakutkan.
Apakah ada makhluk semcam itu pada diri Rudeus?
Tidak diragukan lagi. Pasti yang merasukinya adalah setan semacam itu.
Dia masih patuh untuk saat ini, tapi suatu hari dia akan terbangun, dan ketika semua orang tertidur, satu per satu dia akan .......
Ahh ..... Terlalu dini, terlalu dini untuk memutuskan ini. Aku seharusnya tidak mengambil pekerjaan ini.
Aku akan diserang cepat atau lambat.
....... Lilia adalah orang yang begitu percaya pada takhayul seperti itu.
Selama setahun bekerja untuk keluarga ini, dia masih takut padanya.
Tapi dia tidak menyadari ketika gerakan tak terduga dari Rudeus mulai berubah.
Dia tidak lagi suka menghilang, dan dia punya kebiasaan baru, iaitu berdiam diri di ruangan belajar Paul, pada lantai dua.
Yang dimaksud ruang belajar adalah, sebuah ruangan yang terdapat beberapa buku di dalamnya.
Rudeus berdiam diri di sana, dan tidak lagi suka menghilang. Lilia diam-diam mengamati dia, dan mendapati dia sedang bergumam sendiri sambil membaca buku.
Itu adalah gumaman tanpa arti.
Atau setidaknya, Lilia tahu bahwa yang dia gumamkan adalah bahasa yang tidak umum digunakan di Benua Central.
Masih terlalu dini baginya untuk belajar bagaimana cara berbicara. Tentu saja, dia juga belum diajari bentuk-bentuk huruf.
Dia hanyalah seorang bayi, yang melihat sebuah buku, dan membuat suara acak.
Ya, harusnya sih seperti itu, jika tidak…. Maka itu terlalu aneh.
Namun Lilia selalu menduga bahwa suara-suara yang dikeluarkan oleh mulut bayi itu memiliki arti dan susunan kalimat.
Rudeus tampaknya memahami isi buku itu.
Itu terlalu menakutkan ..... Lilia selalu berpikir demikian, ketika ia mengamati Rudeus dari celah kusen pintu.
Namun, entah kenapa… dia tidak pernah merasa jijik ketika si bayi melakukan hal seperti itu.
Kalau dipikir-pikir, rasa gelisah Lilia perlahan-lahan menghilang ketika si bayi berdiam diri di dalam ruangan itu.
Ia kadang-kadang menunjukkan senyum menjijikkan ketika Lilia menggendongnya, tapi itu tidaklah terlalu buruk baginya.
Dia sudah tidak lagi membenamkan wajah ke dada Lilia, dan tidak juga tertawa dengan terengah-engah.
Maka, tidak ada lagi alasan bagi Lilia untuk takut pada si bayi.
Belakangan ini, Lilia mulai merasa bahwa si bayi adalah seorang yang tulus, pekerja keras, dan tidak berniat mengganggunya.
Zenith sempat curhat beberapa hal padanya.
Namun Lilia berpikir bahwa hal yang terbaik adalah tidak peduli pada si bayi.
Itu adalah ide yang bertentangan dengan akal sehat.
Normalnya, tidak ada satu pun manusia yang tidak peduli pada seorang bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia ini.
Namun akhir-akhir ini, terlihat dari mata Rudeus bahwa dia mulai mengerti sesuatu.
Dia hanya menunjukkan mata chikan [1] beberapa bulan yang lalu, tapi pada saat ini, terlihat kemauan yang kuat dan pengetahuan pada matanya.
Apa yang harus Lilia lakukan? Meskipun dia memiliki pengetahuan tentang merawat bayi, namun kali ini Lilia merasa sulit membedakannya.
Dia tidak bisa mengingat apakah senior Guard-Maid, ataukah ibunya di kampung halaman, yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun cara yang benar dalam membesarkan seorang anak.
Tapi setidaknya, dia tidak lagi merasa jijik, tidak nyaman, atau takut.
Jadi dia memutuskan bahwa hal yang terbaik adalah tidak mengganggu proses belajar si bayi, dan biarkan dia berkembang apa adanya. ---Ah, biarkan saja seperti itu. Lilia akhirnya menyimpulkan begitu.