Kamis, 07 Juli 2022

Mushoku Tensei Jilid 2 Bab 3 sampai 5 Brutalitas Masih Belum Berakhir


Sudah sebulan lamanya sejak aku mulai menjadi guru privat. Sejak awal, Eris tak memiliki niat untuk menghadiri kelasku. Dalam hal matematika dan bahasa, dia bakal menghilang begitu saja, dan tidak akan muncul kembali sebelum kelas berpedang dimulai.

Tentu saja ada pengecualian. Dia hanya akan memperhatikanku dengan sungguh-sungguh di kelas ilmu sihir.

Saat pertama kali dia berhasil menggunakan sihir Fireball, aku tidak bisa menemukan kata yang tepat dalam kosakataku untuk menjelaskan betapa senangnya dia. Dan dia sambil melihat ke arah tirai yang terbakar, berkata:

"Suatu hari aku akan mengeluarkan kembang api yang besar seperti Rudeus."

Aku memadamkan api yang membakar tirai, dan memberi peringatan keras kepada Eris agar dia tidak menggunakan sihir api bila tidak ada aku disekitarnya. Tirai yang terbakar memancarkan cahaya yang menyelimuti Eris. Tak peduli dari sisi manapun kau melihatnya, Eris benar-benar terlihat seperti pembakar, tapi kelihatannya dia lumayan bersemangat untuk mempelajari itu. Namun, kalau dihilat dari kemampuannya memahami sihir api, seharusnya dia juga bisa belajar dengan baik pada mata pelajaran lainnya.

Itulah yang aku pikirkan, tapi ternyata prediksiku benar-benar melenceng.

Eris sama sekali tidak memiliki niat untuk mengikuti kelas bahasa dan matematika.

Kalau aku mulai membahas kelas tersebut, dia akan segera melarikan diri. Kalau aku mencoba untuk menangkapnya, dia akan memukulku sebelum melarikan diri.

Kalau aku terus mengejar dia, dia akan berbalik dan menghajarku sebelum melanjutkan pelariannya.

Aku pikir dia akan paham tentang pentingnya bahasa dan matematika gara-gara insiden yang terjadi sebelumnya, tapi sepertinya dia masih sangat membencinya.

Saat aku mengeluh kepada Philip, dengan acuh tak acuh ia menjawab:

"Membuat murid mau mendengarkan pelajaran di kelas itu juga tugas seorang guru."

Aku tak bisa menyangkal itu.

Aku mulai mencari Eris.

Sekalipun Ghyslaine datang ke kelasku untuk belajar bahasa dan matematika dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya, dia itu masih lebih seperti pendampingnya Eris.

Bagaimana bisa aku mengajari Ghyslaine sendirian?

Tapi, mencari Eris itu bukan hal mudah.

Dibandingkan aku yang baru datang kemari sebulan yang lalu, Eris sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Dibandingkan denganku, dia jauh lebih akrab dengan area yang ada di sekitar sini. Dan jangan bicara soal petak umpet.

Guru privat yang sebelumnya juga sudah berusaha keras untuk membereskan masalah ini.

Tetapi. Tak peduli seberapa besarnya mansion ini, area yang ada di dalamnya tetaplah terbatas. Pada akhirnya, Eris masih bisa ditemukan.

Guru yang berhasil menemukan Eris pada akhirnya juga dihajar tanpa terkecuali.

Pada mulanya para guru banyak yang keluar gara-gara masalah ini.

Tapi ada juga guru privat yang membalas dan balik menghajar Eris. Kekerasan melawan kekerasan. Itu adalah sesuatu yang mulanya aku rencanakan.

Tapi di tengah malam, guru itu diserang oleh Eris dengan menggunakan pedang kayu, dan menderita luka-luka yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan untuk bisa sembuh sepenuhnya, yang memaksanya untuk berhenti mengajar.

Satu-satunya orang yang mampu menghalau serangan Eris di siang dan malam adalah Ghyslaine.

Aku tak yakin bisa menghalau serangan dari Eris.

Sekalipun aku berhasil menemukan dia, aku pasti akan masuk rumah sakit.

Kalau bisa, aku tidak mau pergi mencarinya.

Aku tak mau dihajar habis-habisan.

Kalau dia mau menghadiri kelas ilmu sihir, bukannya tak apa kalau aku cuma mengajarinya ilmu sihir? Tapi Philip memerintahkanku untuk juga mengajari Eris bahasa dan matematika. Dia juga bilang kalau kedua mata pelajaran itu harus setara dengan ilmu sihir yang aku ajarkan. Bahkan dia bilang:

"Dibandingkan dengan sihir, kelas yang lainnya sebenarnya lebih penting."

Sekali lagi, aku tidak bisa menyangkal itu.

Mungkin aku harus melakukan simulasi penculikan untuk kedua kalinya.

Anak-anak yang tidak mau mendengarkan harus dihukum.

Saat aku memikirkan itu, aku akhirnya menemukan Eris.

Seluruh tubuhnya tertimbun di dalam jerami yang berada di kandang kuda, dengan perut yang terlihat jelas.

Dia sedang tertidur pulas. Wajah yang dia miliki benar-benar mirip seperti bidadari.

Tapi, jangan tertipu dengan penampilan luarnya, karena dibalik wajah bidadari itu ada iblis yang bersembunyi.

Kau bisa menerima pukulan fatal dari si iblis, dan kemudian memuntahkan banyak darah.

Tapi bagaimanapun juga, aku harus membangunkan dia.

Pokoknya, pertama-tama aku menarik pakaian Eris untuk menutupi perutnya yang terbuka, agar dia tidak masuk angin.

Sementara itu, aku memijat bagian dadanya.

Petapa yang tinggal di dalam hatiku memberikan penaksiran.

"Hmm, aku mengerti, ukurannya masih AA, tapi ada kemungkinan yang sangat besar kalau ukurannya akan meningkat. Saat dia sudah dewasa, mereka akan tumbuh hingga melampaui ukuran E. Kau harus memijatnya setiap hari agar mereka bisa tumbuh dengan subur. Ini juga merupakan bagian dari latihanmu. Hoh, hoh, hoh."

Terima kasih banyak, tuan petapa.

Setelah aku menikmati momen itu sepenuhnya, aku memanggil Eris dengan suara kecil.

"Ojou-sama. Tolong bangun, Eris Ojou-sama. Waktu untuk kelas matematika yang menyenangkan telah tiba."

Dia tidak bergerak sama sekali. Yah, aku hanya bisa menyerah.

Apa boleh buat, celana dalam anak-anak yang tidak mau mendengarkan orang dewasa harus dilepas, kau tahu?

Aku perlahan menggapai ke arah gaun yang ia kenakan, dan pada saat itu.

Kedua mata Eris tiba-tiba terbuka.

Pandangannya perlahan beralih dari tanganku, ke pahanya, kemudian ke wajahku.

Wajah yang masih tampak mengantuk, namun ditemani dengan kertakan gigi.

Sesaat berikutnya, Eris mengepalkan tinjunya.

Wajahku!? Aku buru-buru menggunakan kedua tanganku untuk menutupi wajahku.

Hantaman keras datang menghampiri ulu hatiku.

Aku berlutut kesakitan.

Tidak ada bidadari. Hanya ada iblis di sini.

Dengan mengendus, Eris menendangku lagi.

Setelah melangkahiku, Ojou-sama pergi meninggalkan kandang kuda.

Aku tak punya pilihan lain.

Aku harus meminta bantuan Ghyslaine.

Aku hanya mendengarnya dari mulutnya Paul, namun katanya, otaknya Ghyslaine juga terbuat dari otot. Dari alasan yang ia miliki untuk mempelajari bahasa dan matematika, tentu dia akan lebih mudah untuk membujuk Eris. Dan harusnya, Eris akan mau mendengarkan Ghyslaine.

Ini adalah jalan keluarku.

Pada mulanya Ghyslaine tidak begitu peduli, tapi setelah aku menggunakan sihir air dan menangis sambil memohon kepadanya, Ghyslaine akhirnya setuju untuk membantuku.

Dia benar-benar gampang ditipu.

Benar, tunjukkan kemampuanmu kepadaku.

Kami tak pernah mendiskusikan itu secara khusus, dan aku menyerahkan semuanya kepada Ghyslaine.

Ghyslaine memulai aksinya di masa istirahat kelas ilmu sihir.

"Aku pernah berpikir kalau pedang yang ada ditanganku sudahlah cukup untuk mengatasi semuanya."

Dia tiba-tiba bicara soal masa lalu.

Dulu dia adalah seorang anak manja, dan menemukan seorang guru yang mau menerima dirinya apa adanya, dan bagaimana dia bisa menjadi seorang petualang, tentang pertama kali dia mendapat rekan seperjuangan. Sebuah pengantar yang panjang, dan kisahnya berputar dari sana. semuanya adalah masa lalu yang bermasalah.

"Saat aku masih menjadi seorang petualang, semuanya aku serahkan kepada orang lain. Persenjataan, armor, makanan, pembelanjaan, kehidupan sehari-hari, kontrak, peta, tujuan. Itu semua adalah hal-hal penting yang aku sadari setelah aku meninggalkan rekan-rekanku."

Berdasarkan dari kisah yang ia ceritakan, Ghyslaine pergi meninggalkan kelompoknya sekitar 7 tahun yang lalu.

Dengan kata lain, karena Paul dan Zenith pensiun dan memilih untuk menetap di tempat terpencil, kelompok tersebut bubar.

Sekalipun aku sudah menyadari tanda-tandanya, tapi aku tidak mengira kalau mereka benar-benar berasal dari kelompok yang sama.

"Sekalipun masih ada anggota kelompok lain, tapi Paul yang bertugas dalam memimpin garis depan dan Zenith yang merupakan satu-satunya penyembuh telah meninggalkan kelompok tersebut. Sekalipun kelompok itu tidak bubar, pada akhirnya mereka juga akan berpisah. Itu adalah hal yang wajar."

Jadi itu adalah kelompok yang terdiri dari 6 orang.

Warrior, swordsman, swordsman, mage, priest, thief.

Kalau kau menggunakan job untuk menjelaskan kelompok itu, kira-kira ya seperti kombinasi di atas.

Sekalipun pada saat itu Ghyslaine masih bergelar Sword Saint, tapi kekuatan serangnya sangatlah tinggi.

Sebagai tambahan, yang aku sebut thief, kalau didasarkan dari apa yang diucapkan Ghyslaine, dia bertanggung jawab dalam berbagai hal.

Mulai dari membobol kunci, memeriksa jebakan, membangun kemah, dan berdagang dengan para pedagang.

Orang terpelajar dengan pemikiran yang fleksibel.

Orang-orang seperti itu biasanya datang dari keluarga pedagang.

"Menyebut dia sebagai pemburu harta karun sepertinya akan cocok"

Aku mengatakan itu, tapi Ghyslaine mendengus dan menjawab:

"Orang itu selalu mencuri uang simpanan kelompok kami untuk berjudi, memanggil dia pencuri itu sudah cukup bagus."

"Mencuri uang? Apa dia tidak dihajar saat dia ketahuan?"

"Tidak, orang itu sangat berbakat dalam berjudi, dan dia selalu menang dan membawa uang lebih. Sangat jarang melihat dia rugi sampai kehilangan separuh dari uang yang ia bawa. Dan di saat tertentu, dia juga bersikap sangat bijak."

Situasinya kira-kira seperti itu.

Tapi sekalipun kau bisa meningkatkan dana simpanan, bagaimana bisa kau memaafkan sesuatu seperti itu

Aku kesulitan memahami itu.

Bukan niatku untuk pamer, tapi aku tak pernah sampai ketagihan berjudi.

Sekalipun aku menghabiskan lebih dari ¥100.000 di internet.

Yah, di dalam kelompok itu ada Paul yang tergila-gila dengan wanita, jadi etika yang ada di dalam kelompok itu mungkin tidak begitu ketat.

Semua orang punya garis dasar yang berbeda-beda. Makin banyak orang, makin banyak aturan.

"Tapi memang apa bedanya swordsman dengan warrior?"

Aku menanyakan itu karena aku lumayan tertarik.

Kalau keduanya sama-sama berada di garis depan, harusnya mereka tidak perlu dibedakan.

"Kalau kau menggunakan pedang dan teknik yang kau miliki berasal dari 3 teknik utama, kau adalah seorang swordsman. Orang lain yang menggunakan pedang namun tidak memiliki teknik yang berasal dari 3 teknik utama, adalah warrior. Sekalipun kau mempelajari 3 teknik utama tersebut, kalau kau tidak menggunakan pedang, kau akan tetap dipanggil warrior."

"Ehh, jadi ternyata swordsman memiliki sesuatu yang spesial seperti itu."

Atau lebih tepatnya, 3 teknik utama itulah yang spesial.

Teknik yang digunakan Ghyslaine benar-benar luar biasa.

Aku bahkan tidak tahu kapan dia menggunakan pedangnya.

Hanya dengan sedikit bergerak, dan kepala lawan akan menggelinding di tanah.

Setelah aku bertanya kepadanya soal itu, sepertinya teknik itu bernama ‘Sword of Light’, jurus rahasia dari teknik Pedang Dewa.

"Kalau begitu, seorang knight adalah?"

"Knight ya knight. Orang jadi knight kalau mereka dipekerjakan oleh suatu kerajaan atau penguasa daerah. Mereka yang berpendidikan memahami bahasa dan matematika. Beberapa diantara mereka juga tahu ilmu sihir. Tapi kebanyakan dari mereka datang dari keluarga bangsawan, dan harga diri mereka sangatlah tinggi."

Mungkin mereka berpendidikan karena mereka sekolah.

"Apa pada waktu itu ayahku adalah seorang knight?"

"Aku tak begitu yakin soal itu, aku ingat Paul menyebut dirinya sendiri sebagai seorang swordsman."

"Aku dengar ada yang namanya sihir swordsman dan sihir warrior?"

"Itu adalah orang-orang yang bisa menggunakan sihir, dan mereka memilih gelar mereka sendiri. Tak peduli profesi apapun yang mereka miliki, mereka memiliki kebebasan untuk menyebut diri mereka sendiri dengan gelar yang mereka inginkan."

"Oh"

Kedua mata Eris tampak bersinar dan dia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dia tidak akan memintaku atau Ghyslaine untuk membawanya ke dungeon terdekat, ‘kan?

Ini benar-benar membuatku gelisah. Daripada berpetualang, aku lebih memilih untuk dikelilingi oleh gadis dan hidup dengan gaya Eroge.

Ah, oops, rencana asliku adalah untuk membiarkan Ghyslaine bercerita tentang pentingnya bahasa dan matematika.

Tanpa aku sadari, rasa penasaranku menyebabkan topik pembicaraan ini jadi melenceng.

Tapi hal yang bagus dari tragedi ini adalah, di hari kedua Eris ikut datang bersama Ghyslaine ke dalam kelas matematika dan bahasa.

Ini semua berkat Ghyslaine. Setelah itu, dia lanjut bercerita tentang masa lalunya yang bermasalah.

Hanya mendengarkan ceritanya saja mampu membuat perutku terasa sakit, tapi berkat itu, Eris mungkin sudah menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang harus ia pelajari.

Sekalipun, mungkin saja dia datang ke kelasku hanya karena dia tertarik untuk mendengarkan cerita dari Ghyslaine. Pokoknya, ada kemajuan lah.

Aku sempat mempertimbangkan untuk melakukan hal seperti ini lebih awal…… tapi, tanpa insiden penculikan, aku pikir Ojou-sama tidak akan mau mendengarkan sepatah katapun dariku.

Sebelum insiden itu, dia menatapku seperti sedang menatap semut.

Jadi itu bukanlah usaha yang sia-sia.

Bagaimanapun juga, akhir seperti ini juga lumayan bagus.

Awalnya, pada pembelajaran pertama, aku mengajarkan dia operasi aritmatika dasar.

Karena Eris pernah sekolah, dan mempekerjakan beberapa guru privat, dia sudah tahu tentang penjumlahan dasar.

"Rudeus!"

"Ada apa, Eris-kun."

Aku menunjuk Eris yang tengah mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Kenapa aku harus belajar pembagian?"

Dia tidak mengerti tentang pentingnya pembagian dan pengurangan.

Sebelumnya, dia sangat buruk dalam hal pengurangan.

Aku selalu merasa kalau dia akan terjebak dalam perubahan angka, dan pada akhirnya menyerah untuk mempelajari matematika.

"Daripada kita bicara soal pentingnya itu, pada dasarnya ini adalah kebalikan dari perkalian."

"Aku tanya, apa gunanya itu."

"Baiklah, kalau kamu punya 100 koin perak, dan kamu harus berbagi dengan 5 orang, apa yang harus kamu lakukan?"

"Omonganmu sama seperti guru-guru sebelumnya!"

Eris menghantam meja dengan sekuat tenaga.

"Karena itulah aku tanya kenapa! Kenapa! Kenapa aku harus berbagi! Memang aku perlu berbagi dengan orang lain!"

Ah, ya, anak-anak yang tidak mau belajar pasti akan punya alasan seperti ini.

Tapi sejujurnya, ini tidak begitu penting.

"Entahlah, coba saja tanya sama 5 orang sana. Pembagian bagus digunakan kalau kamu mau membagi sesuatu dengan adil."

"Kamu bilang bagus, itu artinya kamu tak perlu menggunakan pengurangan, ‘kan?"

"Saat kamu tidak mau menggunakan itu, tentu saja kamu tidak perlu menggunakannya. Tapi tidak ingin menggunakan dan tidak bisa menggunakan, adalah dua hal yang sangat berbeda."

"Mumumuu"

Saat aku mengucapkan kalimat “tidak bisa menggunakan”, Eris yang angkuh itu menutup mulutnya. Tapi, ini tidak akan menyelesaikan masalah yang ada saat ini. Kalau aku membiarkan dia untuk terus-terusan beralasan, maka tidak ada gunanya untuk belajar matematika lebih lanjut.

Pada saat ini, aku hanya bisa bergantung kepada Ghyslaine.

"Ghyslaine, pernahkah kamu mengalami kesulitan tentang membagi sesuatu dengan rata?"

"Hmm, pernah sekali aku kehilangan beberapa persediaan makananku, dan aku ingin untuk mendistribusikan makananku agar bisa bertahan sampai beberapa hari, tapi aku gagal. Pada akhirnya, aku tidak makan dan minum selama 3 hari penuh. Pada saat itu, aku pikir aku akan mati. Saat aku sudah mencapai separuh perjalanan, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi, dan aku mulai memakan kotoran dari makhluk sihir, yang membuatku sakit perut. Aku menahan diri agar tidak muntah, menderita sakit perut, dan juga diare, dan aku masih tetap harus menghalau makhluk sihir yang ada di sekitar"

Cerita masa lalu ini berlangsung selama 5 menit, dan membuatku merasa mual.

Aku mendengarkan cerita itu dengan wajah pucat, tapi sepertinya bagi Eris, ini adalah kisah perjuangan yang mengagumkan.

Kedua matanya bersinar, serasa ada bintang di dalamnya.

Jadi, aku mau mempelajari pembagian, silahkan lanjutkan pelajarannya.

Karena Ghyslaine sudah mengucapkan sesuatu seperti itu, Eris hanya bisa menurut.

Keluarga Sauros sepertinya sangat menyukai Ras Hewan, dan bahkan Eris juga terus mendekati Ghyslaine.

Eris pasti akan mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan oleh Ghyslaine. Seperti seorang adik laki-laki yang mengikuti kakak perempuannya, tak peduli hal seperti apapun yang dilakukan oleh si kakak, si adik pasti akan menirunya.

"Kalau begitu, kita tinggalkan dulu latihan berulang-ulang yang membosankan. Tolong jawab semua pertanyaan ini. Kalau ada yang tidak paham, silahkan tanya."

Situasiku mengalami kemajuan selangkah demi selangkah, seperti ini.

Ghyslaine juga merupakan guru yang luar biasa.

Dia akan. menunjukkan bagian mana yang salah aku lakukan, dan memberikan pendapat yang tidak dibuat-buat.

Paul sebenarnya juga menunjukkan kesalahanku, tapi dia hanya bilang kalau itu tidak benar. Tak pernah sekalipun dia memberitahuku apa sebenarnya kekuranganku, dan dia juga tidak mengajariku bagaimana cara untuk mengoreksinya.

Hari ini juga sama seperti biasa; Eris dan aku berhadap-hadapan sambil menggenggam pedang, berlatih, dan menerima bimbingan dari Ghyslaine bersama-sama.

"Ingat pose tubuhmu saat kamu melangkah, dan terus perhatikan lawanmu."

Pedang kayu yang ada di tanganku telah diterbangkan oleh pedang kayu Eris.

"Kalau kau melangkah terlebih dahulu sebelum lawanmu, perhatikan dengan baik ke arah mana lawanmu akan bergerak, dan tebaslah ke arah itu. Kalau kau lebih lambat dari lawanmu, dia akan berhasil menghindari dari jalur seranganmu."

Karena tak bisa memberikan reaksi, aku terkena pukulan langsung oleh pedangnya Eris.

Hantaman yang kuat menembus armor pertahanan yang dipenuhi oleh kapas, dan langsung memberikan efek kepada tubuhku.

"Kamu harus bereaksi terhadap gerakan dan pandangan lawan untuk memprediksi aksi mereka!"

Aku terkena serangan lagi.

"Rudeus! Jangan gunakan pikiranmu, dan pikirlah! Pikir saja kemana musuhmu akan melangkah dan ayunkan pedangmu!"

Sebenarnya kamu mau aku berpikir atau tidak?

"Eris! Jangan berhenti! Lawanmu masih belum menyerah!"

"Ya!"

Ada perbedaan yang jelas di antara kami.

Eris menjawab dengan semangat. Melihat aksinya, aku beranggapan kalau dia masih memiliki sisa energi yang cukup banyak; sayangnya, aku sama sekali tidak memiliki setetes semangatpun yang tersisa untuk melanjutkan ini.

Aku akui, gadis ini punya cukup banyak energi untuk menghajarku tanpa henti. Dia mendemonstrasikan itu sampai Ghyslaine menghentikan dirinya.

Tanpa mengijinkanku untuk membalas sekalipun, sepertinya Eris tengah mencoba untuk melampiaskan amarahnya yang telah tertumpuk di kelas matematika.

Sialan.

Tapi bulan ini, aku bisa merasakan peningkatan kemampuanku dengan cukup jelas.

Memiliki Eris sebagai sainganku, yang tingkatannya kira-kira sama denganku, benar-benar sangat membantu.

Tak peduli bagaimanapun situasinya, memiliki seseorang dengan tingkat yang sama pasti akan banyak membantu perkembanganmu.

Sekalipun Eris lebih kuat dariku, sekalipun kami memiliki kemampuan yang sama, kekuatan yang ia miliki relatif kecil bila dibandingkan dengan Paul atau Ghyslaine.

Aku masih bisa memahami apa yang dilakukan lawanku.

Kalau aku bisa memahami lawanku, berarti aku bisa mengalahkan dia.

Misal, aku terkena pukulan di suatu tempat, maka aku akan memasang pertahanan di area itu.

Aku akan bergerak berdasarkan penalaran silogisme.

Ketika melawan Paul, perbedaan kemampuan diantara kami terlalu lebar, jadi caraku di atas tidak bisa berfungsi dengan baik. Aku bahkan tidak bisa mengikuti pergerakan Paul, jadi ujung-ujungnya aku bakal dikalahkan dengan cepat dan menyedihkan.

Sekalipun aku mendengarkan saran yang ia berikan, ada terlalu banyak perbedaan diantara ilmu dasar kami, jadi itu sama sekali tidak membantu.

Karena itulah, aku selalu mempertanyakan setiap gerakanku.

Saat Ghyslaine mengajariku sesuatu, sekalipun ada masalah seperti yang aku sebutkan di atas, aku cukup memahami penjelasan yang ia berikan. Tapi dia selalu bicara soal membalas serangan lawan dan mengatur posisi pedang pada waktu yang sama, jadi aku merasa ragu saat aku ingin menggunakan sebuah teknik.

Tapi, dengan Eris sebagai lawanku, pasti akan ada hasil lain bila aku melakukan sesuatu yang berbeda atau menggunakan trik tertentu.

Sekalipun aku merasa ragu, namun perbedaan teknik diantara kami tidak begitu besar, jadi aku masih bisa menyerang dia.

Mungkin cara seperti itu tidak akan berhasil di hari kedua, atau Eris akan menggunakan teknik yang berbeda, namun hal-hal yang tidak bisa dilakukan kemarin akan diselesaikan pada hari ini, atau teknik yang belum keluar kemarin akan ditunjukkan pada hari ini. Dengan terus bertambahnya pengalaman seperti itu, walaupun hanya sedikit demi sedikit, tapi kami sudah pasti mengalami kemajuan.

Seperti yang sudah aku duga, memiliki seorang rival akan memberiku banyak keuntungan, dengan beberapa kekurangan yang bisa diabaikan.

Ada target yang harus dikejar dan dilampaui.

Mungkin kemampuan kami hanya meningkat sebanyak 1 atau 2 poin, tapi, bagi orang-orang yang hanya memiliki perbedaan kemampuan yang sangat sedikit, poin sekecil itu sangatlah penting.

Tanpa kami sadari, kami menjadi lebih kuat.

Tapi dalam hal perkembangan, Eris jauh lebih cepat dariku.

Kalau kau melatih seekor kambing dan singa pada waktu yang sama, tentu saja singa yang akan lebih cepat menjadi kuat daripada si kambing.

Tapi setelah dilatih oleh Paul sejak aku mulai bisa berjalan, aku merasa tidak puas dengan situasi ini.

"Rudeus masih belum cukup kuat!!"

Eris menyilangkan lengannya dan memandang rendah diriku yang sedang terbaring lemas di tanah.

Pada akhirnya, dia dimarahi oleh Ghyslaine.

"Jangan sombong, Eris. Kamu sudah belajar ilmu pedang lebih lama."

Hanya pada saat kelas ilmu pedang berlangsung. Ghyslaine akan memanggil Eris dengan namanya secara langsung.

Dia bilang itu adalah suatu keharusan.

"Aku mengerti! Dan Rudeus juga bisa sihir!"

"Seperti yang kau katakan."

Hanya ilmu sihirku yang diakui oleh Eris.

"Tapi itu benar-benar aneh. Reaksinya Rudeus menjadi lambat saat ia diserang oleh lawan"

"Itu karena aku takut. Aku takut dengan lawan yang menyerang dihadapanku."

Tepat setelah aku selesai mengucapkan itu, kepalaku dipukul oleh Eris.

"Bicara apa kamu ini! Dasar tak berguna! Karena itulah kamu dipandang rendah!"

"Tidak, Rudeus adalah seorang penyihir. Ini sudah cukup."

Ghyslaine segera menambahkan komentar, namun pada akhirnya Eris hanya mengangguk layaknya ia mengetahui segalanya.

"Begitukah? Yasudah, mau bagaimana lagi!"

Eh? Terus kenapa aku harus dipukul?

"Aku minta maaf, aku tidak tahu cara untuk memperbaiki kebiasaan burukmu soal kakimu yang gemetaran. Itu adalah sesuatu yang harus kamu lalui sendiri."

"Aku mengerti."

Bagi diriku yang sekarang ini, tidak peduli siapapun yang menjadi lawanku, kakiku selalu gemetaran. Aku masih harus belajar banyak.

"Tapi setelah aku mulai menerima instruksi dari Ghyslaine, aku merasa yakin kalau aku sudah mengalami kemajuan."

"Paul itu termasuk orang dengan tipe naluriah, jadi dia tidak begitu ahli dalam mengajari orang lain."

Tipe naluriah!

Ah, jadi sesuatu seperti itu juga ada di dunia ini

"Apa maksudnya itu 'tipe naluriah'??"

"Orang yang tidak memahami teknik secara sadar, namun lebih memilih untuk mengandalkan perasaan dan naluri, disebut "tipe naluriah.' "

Aku menjawab pertanyaannya, dan Eris langsung cemberut.

Dia mungkin juga termasuk dalam perguruan naluriah.

"Memang apa salahnya dengan mengandalkan naluri?"

Dari awal, sangat sulit untuk menjawab pertanyaan Eris karena sifat keras kepala yang ia miliki, tapi sekarang aku ditanyai apakah 'tipe naluriah' itu bagus atau tidak.

Karena sekarang kita sedang mempelajari ilmu pedang, aku akan menyerahkan pertanyaan ini kepada sang guru.

Aku melihat ke arah Ghyslaine.

"Bukannya jelek. Tapi sekalipun ada seseorang yang berbakat, jika dia tidak menggunakan otaknya untuk berpikir, maka dia tidak akan menjadi kuat. Sebagai tambahan, 'tipe naluriah' juga tidak cocok untuk mengajari orang lain."

"Kenapa mereka tidak cocok untuk mengajar?"

"Karena mereka sendiri tidak memahami teknik yang mereka gunakan. Dan kalau mereka tidak bisa memahami semuanya, maka hal itu akan menghambat mereka untuk mempelajari teknik yang lebih sulit."

Berdasarkan dari penjelasan sang Raja Pedang, semua teknik sampai tingkat lanjut berhubungan dengan ilmu dasar. Baru setelah mampu menguasai ilmu dasar, dan sanggup mengatasi berbagai situasi yang berbeda dengan reaksi yang berbeda-beda pula, kau bisa menjadi seorang Sword Saint.

Untuk menaiki ke tingkat yang lebih tinggi, kau hanya bisa bergantung pada seberapa rajin dirimu dan juga bakat yang kau miliki.

Ya, pada akhirnya, bakatlah yang menentukan.

"Aku dulu juga termasuk dalam 'tipe naluriah', tapi setelah aku mulai menggunakan pikiranku dan mampu memahami teori dibalik teknik yang aku gunakan, aku mampu menjadi Raja Pedang."

"Itu menakjubkan."

Aku benar-benar merasa kagum dari dalam lubuk hatiku. Mengoreksi tindakan yang selalu diterapkan sebelumnya, dan berhasil.

Itu bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah.

"Bukannya Rudeus adalah penyihir air level Saint?"

"Aku sebenarnya juga termasuk dalam tipe naluriah. Tapi sihir dan ilmu pedang itu berbeda, asal kamu punya ilmu sihir, kamu akan bisa melakukannya."

"Oh, begitu. Tapi, ilmu dasarnya juga penting kan?"

"Aku tahu itu. Tapi lebih tepatnya, aku mampu mencapai tingkat Saint karena guruku yang mengajariku dengan baik."

Kalau dipikir-pikir, aku selalu mengingatkan diriku sendiri kalau ilmu dasar itu penting, tapi aku lebih condong untuk menggunakan [Mantra tanpa suara].

Jadi ilmu dasar sihir itu sebenarnya apa?

Kelasnya Roxy juga lebih condong ke arah perkembangan daripada ilmu dasar.

Kalau dipikir-pikir, Roxy itu juga termasuk tipe orang yang jenius, dan tidak terlalu condong ke arah ilmu dasar.

"Omong-omong, aku tak berencana untuk menjadi terlalu kuat, jadi itu tidak apa-apa!"

Eris menghentikan pemikiranku dengan ucapannya yang penuh dengan percaya diri.

Waktu SMP, aku ingat aku pernah mengucapkan sesuatu tentang tidak mau menjadi nomer 1, dan tidak mengerahkan banyak usaha.

Aku berencana untuk mengoreksi pemikirannya,

"Tapi aku akan berusaha keras untuk menjadi kuat seperti Ghyslaine dan Rudeus."

Tidak perlu. Dia memiliki target yang jelas.

Dia berbeda dari diriku di masa lalu.

Setelah pelajaran di pagi dan siang hari selesai, sudah waktunya untuk istirahat.

Hari itu, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.

Itu karena aku melihat Eris dan Ghyslaine membawa bahan-bahan untuk belajar sihir, jadi aku pikir mungkin perpustakaan di sini memiliki koleksi buku sihir yang lebih lengkap.

Karena aku tidak tahu tempatnya, aku meminta bantuan kepada seorang Maid bertelinga anjing untuk membawaku ke sana.

"Ah."

Aku bertemu dengan istrinya Philip di tengah jalan.

Namanya adalah Hilda, dan dia memiliki rambut berwarna merah membara seperti Eris, dan dada yang seperti gelombang tsunami. Sepertinya aku bisa berharap banyak pada pertumbuhan anaknya di masa depan nanti.

Aku pernah diperkenalkan kepada dia, tapi aku tidak pernah benar-benar berinteraksi dengannya.

Coba kupikir, kalau tidak salah, satu tangan diletakkan di dada

"Nyonya, selamat siang"

Hilda mendecakkan lidahnya dan mengabaikan salamku.

Aku membeku dengan postur seperti itu.

"Rudeus-sama"

"Ah, tidak apa-apa."

Maid bertelinga anjing mencoba untuk menghiburku, tapi aku menghentikannya dengan tanganku.

Tapi aku masih merasa sedikit terkejut. Apa aku dibenci olehnya? Tapi rasanya aku tidak melakukan hal-hal yang mampu memicu itu

Oh iya, kalau dipikir-pikir, dia tidak punya anak selain Eris.

Tidak, aku merasa kalau aku menemukan ada anak yang lain, dan kalau kasus anak itu lebih parah dari Eris, aku merasa beban kerjaku akan meningkat sebanyak 3 atau 4 kali lipat.

Aku tidak boleh menggali lubang kuburanku sendiri.

Saat aku sampai di perpustakaan, aku melihat Philip di sana.

"Apa kau tertarik dengan perpustakaan?"

Philip menatapku dengan penuh harapan.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan.

"Hmm, ya, sedikit."

"Kalau begitu silahkan nikmatilah waktumu."

Aku menerima tawarannya, dan melihat-lihat di sekitar perpustakaan, tapi ternyata aku tidak menemukan apa yang aku cari.

Aku berharap bisa menemukan buku sihir seperti yang dimiliki oleh Roxy, tapi semua dokumen yang tersedia memiliki hubungan dengan politik, dan tidak boleh dibawa keluar perpustakaan. Buku sihir adalah sesuatu yang langka di dunia ini, dan tidak bisa ditemukan di segala tempat.

Rencanaku sama sekali tidak berjalan dengan mulus.

Tapi aku menemukan beberapa buku sejarah di pojokan. Kalau aku punya waktu luang, aku akan membacanya.

Setelah bekerja seharian, aku sekarang sedang berada di kamarku sendiri, mempersiapkan materi pembelajaran untuk keesokan harinya.

Pada dasarnya, aku mempersiapkan pertanyaan untuk kelas matematika dan catatan untuk kelas bahasa dan juga latihan praktik untuk mengajari ilmu sihir.

Aku tidak mempersiapkan jadwal mengajar sama sekali, dan kalau aku tidak memiliki hal lain untuk diajarkan dalam 5 tahun ke depan, aku akan berada dalam masalah besar, jadi pelajaran di kelasku tidak berkembang terlalu cepat. Pokoknya, untuk mencegah adanya sesuatu yang tidak jelas, aku dengan cermat mengamati kembali rencana pendidikanku selama 5 tahun ke depan.

Itu adalah perasaan sama seperti yang aku rasakan saat aku mengajari Sylphy.

Latihan ilmu sihir sangatlah penting. Karena aku tidak merapal mantra saat aku menggunakan sihir, aku terus-terusan melupakan bacaan mantranya.

Satu-satunya saat dimana aku sungguh-sungguh mengingat bacaan mantra adalah saat aku mempelajari antidote dan sihir penyembuh, dan aku tak pernah mengingat mantra sihir serangan.

Materi pelajaranku sama dengan buku sihir yang ada di rumahku.

Eris dan Ghyslaine juga punya itu.

Berdasarkan penjelasan yang aku dapatkan, ada ratusan buku yang terjual dan tertulis sekitar seribu tahun yang lalu.

Sebelum buku itu muncul, orang harus mencari guru untuk belajar ilmu sihir, dan ‘guru’ tersebut biasanya hanya bisa menggunakan semua sihir tingkat dasar. Orang hanya bisa menemukan seorang guru setelah melewati banyak rintangan, tapi ternyata tidak ada yang bisa mereka pelajari dari guru tersebut. Kasus seperti itu sangat banyak terjadi.

Sekalipun pernah dijual, buku tersebut memiliki jumlah yang sangat sedikit, dan sekalipun kau menjualnya di pasar, orang yang tidak memiliki minat untuk mempelajari ilmu sihir tidak akan meliriknya sama sekali.

Di dunia ini juga tidak ada teknologi percetakan.

Buku ini terjual dengan jumlah yang lumayan banyak sekitar 50 tahun yang lalu.

Berkat material yang bisa dibeli dengan murah, jumlah penyihir di dunia ini meningkat dalam jumlah besar.

Para penyihir menguasai dunia…… tidak, tapi diantara para bangasawan kerajaan Asura, mereka mendapatkan pendidikan yang lumayan tinggi.

Tapi, apa sebenarnya alasan yang membuat materi ilmu sihir bertambah

Aku memikirkan itu sambil membolak-balik halaman, dan di buku itu tertulis [Diterbitkan oleh Akademi Ranoa.]

Mereka benar-benar ahli dalam hal bisnis.

Seperti itulah, hari-hariku sebagai guru privat, mengalir dengan cepat.

Setengah tahun telah berlalu lagi.

Belakangan ini Eris, yang sudah berubah menjadi agak jinak, kembali bersikap kasar lagi.

Kenapa, kenapa? Siapa yang menyebabkan kekacauan ini?

Sekalipun aku merasa sedikit frustasi, aku menyadari sesuatu.

Tidak ada hari libur.

Setelah makan malam, aku memanggil Ghyslaine dan guru etik untuk datang ke dalam kamarku.

Sebagai catatan, si guru etik tidak tinggal di dalam mansion, dan dia datang dari rumahnya sendiri di Roa untuk bekerja.

Jadi aku menyuruh seorang pelayan untuk memberikan undanganku kepada dia.

"Pertama-tama, senang bertemu dengan kalian, namaku adalah Rudeus Greyrat."

"Nama saya adalah Edona Leilon, saya bertugas untuk mengajarkan etika dan tata krama kepada Eris-sama."

Aku meletakkan satu tanganku di dada dan memperkenalkan diri dengan gaya kasual, tapi Edona membalasku dengan salam yang sopan.

Guru etik ini tepat seperti apa yang aku bayangkan.

Edona adalah seorang wanita paruh baya, dan kerutan bisa terlihat di wajahnya.

Dia memiliki wajah bulat, dengan senyum lembut yang cocok dengan imejnya yang hangat.

"Aku Ghyslaine."

Ghyslaine dengan otot-otot tubuhnya, tetap sama seperti biasanya. Aku menunjuk ke arah kursi dan menyarankan agar mereka duduk. Setelah mereka berdua duduk, aku menuangkan minum yang sudah dipersiapkan pelayan terlebih dahulu, dan mulai membahas topik.

"Hari ini aku mencari kalian berdua untuk satu alasan yang sama, yaitu, untuk mendiskusikan jadwal pelajaran Eris-sama."

"Jadwal?"

"Ya, saat ini, dia berlatih pedang di pagi hari, punya waktu luang di siang hari, belajar tata krama di malam hari, kira-kira seperti itu bukan?"

"Tepat seperti yang anda katakan."

Mata pelajaran Eris adalah bahasa, matematika, ilmu sihir, sejarah, ilmu pedang, dan tata krama, totalnya ada 6.

Kalau menggunakan sebutan modern, mata pelajarannya adalah bahasa nasional, matematika, olah raga, dan pendidikan moral.

Sekalipun di sini tidak ada jam, pelajaran tidak berlangsung terus menerus selama berjam-jam. Biasanya mata pelajaran itu dibagi menjadi 3 sesi, dengan makan pagi, makan siang, dan waktu minum teh sebagai indikasi untuk istirahat.

Setelah makan pagi lalu Kelas lalu Setelah makan siang lalu Kelas lalu Setelah waktu minum teh lalu Kelas lalu Setelah makan malam lalu Waktu luang.

Tidak ada guru sejarah yang dipekerjakan, jadi Philip lah yang akan mengajari Eris disaat ia memiliki waktu luang.

"Karena sekarang ada aku di sini, bahkan waktu luang dimalam hari pun bisa digunakan untuk belajar, dan kita akan menghabiskan seluruh waktu Ojou-sama secara menyeluruh."

"Benar, pelajaran Ojou-sama telah berjalan dengan lancar, dan Tuan besar juga memperhatikan itu."

Tebakanku benar.

"Memang benar kalau pelajaran Ojou-sama telah berjalan dengan mulus, tapi ada satu masalah."

"Masalah?"

"Ya, mempelajari segalanya, hari demi hari, menyebabkan Ojou-sama mengalami stress yang terus menumpuk."

Eris selalu memiliki mood jengkel saat ia mengikuti kelas matematika, dan bila dia menghadapi pertanyaan yang sedikit sulit, dia akan menerjang ke arahku.

Itu terlalu berbahaya.

Aku tak tahu kapan aku akan ditunggangi dan dihajar dari atas.

Sekali lagi, itu terlalu berbahaya.

"Sekalipun semuanya masih normal sekarang, dia mungkin tidak akan tahan lagi nantinya, dan akan melarikan diri dari satu mata pelajaran atau apalah."

Edona menutupi mulut dengan kedua tangannya, dan mengangguk setuju.

Aku tak pernah melihat kelas tata krama sebelumnya, tapi Eris sepertinya mau memperhatikan kelas tersebut.

Aku dengar kalau Edona adalah ibu ASI-nya Eris, tapi aku tak tahu kenapa Eris menyukai dia.

"Jadi aku mengajukan rencana, agar kita memilih satu hari dalam setiap 7 hari, dan tidak mengadakan kelas dalam hari itu."

Sebagai catatan, di dunia ini ada yang namanya kalender, dan ada juga yang namanya bulan dan hari, tapi tidak ada yang namanya konsep 1 minggu.

Setahun memiliki beberapa hari yang dianggap sebagai hari istirahat, tapi yang namanya hari minggu itu tidak ada.

Aku menggunakan angka 7 karena itu mudah untuk diingat, sekalipun aku tak tahu kenapa angka itu begitu spesial di dunia ini.

Angka itu dianggap sebagai angka keberuntungan, dan di ilmu pedang juga ada 7 tingkatan.

"Dan 6 hari sisanya, kita bisa mengadakan kelas bahasa, matematika, ilmu sihir, sejarah, ilmu pedang, dan tata krama, dengan 6 mata pelajaran tersebut."

"Boleh saya bertanya?"

"Silahkan, Edona-san."

"Kalau anda mendistribusikan waktu belajarnya menjadi seperti itu, kelas untuk tata krama hanya akan menjadi tiga kali, upahnya"

Jadi ternyata kau cuma memikirkan uang! Tapi aku tidak mau menyalahkan Edona, karena aku juga bekerja untuk mencari uang.

Edona memikirkan bagian tentang: "Apakah upah yang diterima akan dipotong, karena kelasnya menjadi lebih sedikit?"

Aku sudah mendiskusikan ini dengan Philip sebelmnya, dan tidak ada masalah dengan itu.

Ditambah lagi, karena upahnya dibayar bulanan, sekalipun ada satu kelas yang tidak dihadiri Eris, upahnya masih akan tetap diberikan.

Tentu saja, kalau tidak ada satu kelaspun yang dihadiri, akan ada orang yang dipecat bulan depan.

Aku tak perlu mengatakan itu kan?

Orang yang tidak memahami cara kerja dunia, jelas sudah lama dipecat dari sini.

"Tentu saja mata pelajarannya tidak akan dibagi seperti itu, kelas bahasa dan matematika hanya perlu diadakan dua kali dalam seminggu. Namun tidak ada artinya kalau kau tidak berlatih ilmu pedang setiap hari, dan sekalipun ilmu sihir harus dilatih setiap hari, tapi ada batasan dalam Mana yang bisa digunakan, jadi kau tidak perlu membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk melatihnya, dan aku berencana menggunakan waktu ekstranya untuk mengadakan kelas bahasa dan matematika."

Sekalipun ini sudah direncanakan, pada dasarnya ya seperti ini.

"Hari ini aku menggunakan Waterball X kali, air yang jatuh adalah Y kali. Kalau begitu, berapa banyak Waterball yang masih bisa aku gunakan" pertanyaan seperti itu.

Sebuah pertanyaan yang berdasarkan pada berapa kali sihir yang bisa digunakan oleh Eris dan Ghyslaine.

Dibandingkan dengan melihat nomer-nomer yang ada di dalam ruangan, aku lebih suka untuk melakukan praktek, karena itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan mereka.

Karena kau tidak bisa melihat jumlah Mana secara pasti, jawaban yang benar itu sulit untuk dijawab dengan pasti.

Yah, makin sering kau menggunakan kalkulasi mental, kau akan makin terbiasa dalam menggunakannya, dan otakmu juga akan beradaptasi.

Aku juga berencana untuk mengajarkan mantra tanpa suara dan ilmu sains nantinya.

Tapi aku harus menunggu sampai Eris menguasai matematika dan bahasa terlebih dahulu.

"Aku minta maaf Edona-san, tapi kelas tata krama harus dipotong menjadi 3 sampai 4 kali dalam sebulan."

"Saya mengerti."

Edona mengangguk setuju.

Dengan begitu, 1 hari memiliki 3 kelas, 6 hari 18 kelas. Pembagian untuk masing-masing mata pelajaran adalah, tata krama 5 kali, ilmu pedang 6 kali, bahasa 2 kali, matematika 2 kali, dan sihir 3 kali.

Aku merasa tidak ada cukup waktu untuk kelas sihirku, tapi karena isinya kebanyakan hanyalah latihan yang diulang-ulang, aku akan memikirkan itu nanti.

"Kalau ada situasi dimana kalian tidak bisa mengajar, tolong beritahu aku."

"Bisakah anda menjelaskannya dengan lebih detail?"

"Aku selalu ada di dalam mansion, kalau aku memiliki waktu luang aku akan mengadakan kelas, jadi semisal kalian ingin libur panjang, itu juga tidak apa."

"Saya mengerti."

Edona terus-terusan tersenyum, aku tak tahu apa dia benar-benar mengerti atau tidak.

"Ditambah lagi, saya ingin kita mengadakan rapat setiap bulan di hari pertama."

"Dan kenapa begitu?"

"Kalau kita para guru bisa berkoordinasi dengan lebih baik, kita akan bisa mengatasi masalah bila suatu saat nanti masalah tersebut akan muncul. Begitulah yang saya pikirkan. Sekalipun memang itu tidak terlalu diperlukan, namun ini untuk meningkatkan keefektifan, dan juga untuk jaga-jaga. Apakah itu tidak bisa dilakukan?"

"Tidak, bukan itu maksudku."

"Rudeus-sama sebenarnya masih sangat kecil, tapi anda benar-benar sangat memperhatikan Eris-sama."

Aku terus merasa kalau dia menganggapku lucu. Oh, yasudahlah.

Dengan begitu, aku mendapat waktu istirahat.

Setelah satu minggu berlalu, kami sampai di hari libur yang pertama, dan tampak Ojou-sama duduk dengan gelisah.

Ini adalah pertama kalinya dia memiliki waktu luang sepanjang hari.

Setelah aku menyapa Philip, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke kota, dan aku tak sadar sejak kapan Eris dan Ghyslaine berada di pintu.

"Kamu mau pergi kemana?"

"Kota Roa, jalan-jalan."

"Jalan-jalan. itu artinya kamu mau pergi ke kota sendirian?"

"Memangnya kamu lihat ada orang lain?"

"Kamu jahat, aku belum pernah keluar rumah sendirian."

Eris menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.

"Kalau Ojou-sama keluar sendirian, nanti kamu bakal diculik oleh seseorang kan?"

"Bukannya kamu juga diculik!"

Ah, benar juga, aku juga pernah diculik.

Tapi aku juga merupakan anggota dari keluarga Greyrat, mungkin aku bisa digunakan untuk meminta tebusan.

Tapi.

"Kalau aku diculik, aku bisa melarikan diri tanpa bantuan orang lain."

Aku tersenyum sambil mengucapkan itu, dan kemudian aku melihat Eris mengangkat tinjunya.

Aku buru-buru mengambil pose untuk mempertahankan diriku, tapi sepertinya tinju itu tidak kunjung tiba.

Ini adalah situasi yang langka.

"Ajak aku juga!"

Oh, jadi seperti itu. Sampai sekarang, tinjunya selalu datang lebih dulu sebelum dia bicara, Ojou-sama sudah berubah ya.

Tentu saja aku tidak punya alasan untuk menolak, daripada pergi sendirian, dua orang akan lebih aman bila bersama-sama.

"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang."

"Apa benar ini akan baik-baik saja?"

"Ghyslaine juga akan ikut, ‘kan?"

"Ya, tugasku adalah untuk melindungi Ojou-sama."

Jadi waktu rapat, Ghyslaine sama sekali tidak memahami arti dari hari libur.

Karenanya, akan lebih baik buat dia untuk terus dekat dengan Eris.

Pada mulanya dia dipekerjakan sebagai pengawal, jadi itu sudah aku perkirakan.

"Tunggu aku sebentar, aku akan bersiap-siap, Alphonse! Alphonse!"

Aku melihat Eris berlari-lari di dalam mansion, dan teriakannya masih keras seperti biasa.

"Rudeus."

Aku menoleh saat mendengar panggilan Ghyslaine, dia berdiri tepat disampingku.

Aku mendongak, dan tinggi badannya hampir 2 meter, aku pikir sekalipun aku sudah besar nanti, aku tetap harus mendongak untuk bertatap muka dengannya.

"Jangan terlalu percaya diri."

Aku diberikan peringatan.

Apa itu karena aku bilang kalau aku bisa melarikan diri sendirian?

"Aku tahu, aku cuma ingin Ojou-sama berusaha lebih keras."

"Oh, kalau begitu, misal ada sesuatu yang terjadi, cukup panggil aku, aku akan datang menyelamatkanmu."

"Hmm, kalau situasi seperti itu benar-benar terjadi, aku akan menembakkan kembang api besar sekali lagi."

Aku kembali memikirkan insiden penculikan sebelumnya.

"Ghyslaine, apa kamu pernah memberitahu hal yang sama kepada Ojou-sama?"

"Hmm? Memberitahu apa?"

"Harusnya kamu menambahkan, kalau dia hanya boleh teriak di tempat dimana teriakannya bisa terdengar."

"Nanti aku sampaikan, tapi untuk apa itu?"

"Di insiden penculikan sebelumnya, Ojou-sama nyaris terbunuh gara-gara berteriak meminta bantuan."

"Kalau aku bisa mendengar teriakannya, aku pasti akan pergi menghampiri Ojou-sama."

Tapi, pada saat itu dia memang menunjukkan kecepatan gerak yang tidak masuk akal. Aku merasa Ghyslaine akan bisa tiba tepat waktu, tak peduli dimanapun dia berada, dan pendengarannya juga sangat bagus.

Ditambah lagi, Eris tidak meminta bantuan Philip atau Sauros, tapi hanya Ghyslaine.

Wanita ini benar-benar bisa diandalkan.

"Kamu harus memberitahu dia bahwa dia tidak boleh berteriak meminta bantuan dalam kondisi tertentu."

Saat aku selesai bicara, Eris telah kembali. Apakah pakaian itu digunakan saat ia keluar dari rumah? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini.

Aku memuji pakaiannya, dan aku mendapat pukulan tepat di kepalaku.

Apa salahku?

Kota Roa adalah kota terbesar di teritori Fedoa, namun sekalipun kota ini adalah kota yang paling besar, bila dibandingkan dengan seluruh ladang gandum yang ada di desa Buina, kota ini tampak jauh lebih kecil.

Kau hanya butuh waktu 2 jam untuk mengitari tembok kota.

Roa adalah kota dikelilingi oleh tembok yang tingginya sekitar 7 sampai 8 meter.

Tapi tembok itu tidak melingkar dengan sempurna, karena tanah yang digunakan sebagai landasan tidak rata, dan aku tidak bisa memastikan panjang temboknya secara pasti.

Mungkin sekitar 30 meter.

Kota ini benar-benar tidak terasa seperti kota yang besar, dan kota yang dikelilingi oleh tembok seperti ini harusnya sangatlah sedikit. Sekalipun aku tidak pernah mengunjungi kota yang dikelilingi oleh tembok lainnya, tapi aku sangat yakin kalau menciptakan tembok sebesar ini bukanlah tugas yang mudah.

Apa ada sihir yang bisa menciptakan tembok seperti ini? Kalau iya, pasti itu adalah sihir level raja atau kaisar.

Atau apakah tembok ini dibuat dengan tangan manusia?

Saat aku memikirkan itu, kami meninggalkan area tempat para bangsawan berkumpul, dan tiba di ruang luas dimana banyak orang berlalu-lalang.

Tempat ini adalah area untuk para pedagang, dan karena lokasinya sangat dekat dengan teritori para bangsawan, ada banyak toko yang indah di sini.

Tapi aku bisa melihat beberapa pedagang yang berjualan di area terbuka.

Aku melihat barang-barang mahal yang dijual oleh salah satu pedagang.

"Selamat datang tuan muda, tuan putri, silahkan dilihat-lihat, barangkali anda berminat."

Aku menikmati kalimat Ossan (paman) penjaga toko yang biasa terdengar di game-game RPG, dan melihat barang-barang yang sedang dijual.

Aku mencatat barang-barang tersebut di secarik kertas, dan sejujurnya, semuanya adalah produk yang aneh.

Harga aphrosidiac 10 koin emas, catat, catat. 

"Apa yang kamu tulis, aku sama sekali tidak mengerti!"

Eris berteriak tepat disamping telingaku, di hari itu aku nyaris menjadi tuli.

Aku melihat kertas yang sedang kupegang, dan menyadari kalau aku tanpa sadar telah menulis dengan huruf Jepang.

"Aku cuma mau mencatat beberapa hal, yang penting aku bisa memahaminya."

"Cukup katakan saja apa yang kamu tulis."

Ojou-sama benar-benar suka memaksa, tapi aku tidak punya alasan untuk tidak memberitahu dia.

"Ini adalah nama dan harga barang yang dijual."

"Kenapa kamu menyelidiki itu?"

"Menyelidiki harga pasar adalah ilmu dasar dari game online."

"Onle. apa itu?"

Aku pikir Eris tidak akan paham sekalipun aku menjelaskan itu, dan aku mengganti topik pembicaraan dengan menunjuk ke arah sebuah produk berupa aksesoris kecil.

"Kamu lihat ini? Toko itu menjual barang ini seharga 5 koin emas, tapi kamu bisa membelinya seharga 4 koin emas dan 5 koin perak di sini."

"Ohhh, tuan muda, anda benar-benar memiliki mata yang bagus, barang-barang yang aku jual di sini murah, ‘kan?"

Aku mengabaikan si Ossan dan berbalik menghadap Eris.

"Eris, kalau kamu menawar dan harganya turun menjadi 3 koin emas, dan kemudian kamu menjualnya di toko lain seharga 4 koin emas, berapa banyak uang yang bisa kamu dapat?"

"Hmm, coba kupikir, 5-3+4, 6 koin emas!"

Oh tuhan, apa yang sebenarnya kamu hitung?

"Salah, jawabannya 1 koin emas."

"A, aku sudah mengerti itu!"

Eris cemberut dan memalingkan wajahnya.

"Apa kau benar-benar memahami itu?"

"Kita aslinya punya 10 koin emas, terus nanti jadi 11 koin emas."

Woah, kamu akhirnya mengerti. Tunggu, bukannya ini penjumlahan?

Biarkan saja lah, pokoknya aku akan memuji dia dulu.

Harga diri Eris itu benar-benar tinggi, dia hanya akan mengalami kemajuan kalau dia mendapat pujian.

"Woah, kamu benar, wow, Eris benar-benar pintar."

"Hmph, tentu saja."

"Erm, tuan muda, itu disebut resale, dan itu bukan sesuatu yang layak untuk dipuji, anda tidak boleh melakukan itu."

"Tak usah khawatir, aku akan melakukan itu. Kalau aku benar-benar ingin melakukan itu, aku akan memberitahu toko lain kalau kamu menjual barang itu seharga 4 koin emas di sini. Aku ambil 1 koin perunggu besar sebagai biaya informasi."

Si Ossan menunjukkan ekspresi yang tampak benar-benar jengkel dan melihat ke arah Ghyslaine untuk meminta bantuan, tapi sekarang Ghyslaine sedang memperhatikan penuh dengan hal-hal yang aku ucapkan.

Setelah memahami bahwa mengucapkan kalimat lain hanya akan membuang-buang waktunya saja, si Ossan menurunkan pundaknya dan menghela nafas.

Maaf ya, karena kami cuma lihat-lihat, tolong maklumi kami.

"Sekalipun kita tidak membeli atau menjual barang, kita harus tahu harga pasar."

"Memang kenapa kalau kamu tahu harga pasar!"

"Contohnya ya, kamu bisa menebak harga barang sekalipun kamu tidak pergi ke toko."

"Iya, itu gunanya apa?"

Gunanya apa? Erm, saat barangnya dijual ulang, kau bisa mendapat lebih banyak uang ah, bukan jawaban yang tepat. Okelah, aku serahkan sisanya kepada Ghyslaine.

"Ghyslaine, menurutmu apa gunanya itu?"

"Um, aku tidak tahu."

Oh sial, benarkah? Kau tak tahu? Aku pikir kau benar-benar memahami hal ini. Biarin saja lah, toh ini bukan waktunya aku mengajari mereka seperti di dalam kelas.

"Em, kalau begitu mungkin memang benar bahwa itu tidak ada gunanya."

Ujung-ujungnya ini adalah pelajaran buat diriku sendiri, sekalipun aku tidak memahami itu ya tidak apa-apa.

Kalau aku melihat pasar, hal pertama yang aku lakukan adalah menyelidiki informasi produk.

Aku selalu melakukan itu, jadi tidak mungkin itu salah.

Sekalipun aku berpikiran seperti demikian, ini adalah pertama kalinya aku memeriksa harga secara pribadi, jadi aku tidak benar-benar yakin apakah hal yang aku lakukan ini memang ada gunanya atau tidak.

"Kalau memang itu mungkin tidak ada gunanya, terus kenapa kamu melakukan itu?"

"Soalnya aku pikir itu ada gunanya."

Eris menampilkan ekspresi yang seakan-akan dia tidak bisa menerima jawabanku.

Toh, aku tidak bisa menjawab segala pertanyaan.

Ada beberapa hal yang membutuhkan pemikiranmu sendiri untuk dipahami, dan tidak bisa diajarkan oleh orang lain.

"Coba kamu pikir sendiri, kalau kamu pikir ini berguna, belajarlah dariku, kalau tidak, cukup tertawakan aku."

"Kalau begitu aku yang akan menertawakanmu, begitu?"

"Ahahahahaha."

"Kenapa kamu malah ketawa sekarang!?"

Aku dipukul lagi, hiks.

Aku juga melihat-lihat pedagang yang ada di sekitar, tapi harga dari barang-barang yang dijual pedagang yang memiliki level lebih tinggi itu terlalu mahal, jadi aku menghentikan penyelidikanku.

Aku perlahan mulai bergerak menuju bagian luar kota, dan rata-rata harga barang yang dijual pedagang mengalami perubahan yang jelas, turun dari sekitar 5 koin emas menjadi sekitar 1 koin emas.

Itu masih lumayan mahal, tapi harga sekitar itu masih berada dalam jangkauanku.

Para pembeli juga bertambah banyak, mulai dari orang-orang yang kelihatan seperti bangsawan sampai para petualang.

Karena harga barangnya sekitar 1 koin emas, aku masih bisa membeli barang di sana.

Saat aku mencatat harga-harga di catatanku, ada sebuah toko yang menarik perhatianku; toko buku.

Saat aku memasuki toko itu, ternyata suasana di dalam sana terasa tenang.

Bisa dibilang suasana toko itu sama seperti suasana di toko buku yang utamanya menjual buku-buku erotis.

Ada dua rak buku yang memiliki 2 sampai 3 buku dengan judul sama, yang diletakkan berdampingan.

Sebuah buku harganya rata-rata sekitar 1 koin emas, dengan pengecualian beberapa buku yang disimpan di dalam kabinet berkaca.

Di dalam kabinet tersebut harga rata-ratanya sekitar 8 koin emas, dengan yang paling mahal mencapai 20 koin emas, apakah itu barang paling bernilai yang dimiliki toko ini?

Pemilik toko tidak menganggapku sebagai seorang pembeli, dan tidak menyapaku.

Penilaiannya benar.

Aku mencatat judul buku-buku yang dijual, dan si pemilik toko menatapku dengan curiga.

Arara, tenang saja bos, aku tidak menyentuh bukunya.

Ditambah lagi, aku tidak mengambil foto.

Sebuah buku ensiklopedia harganya sekitar 7 koin emas, kalau 1 koin emas nilainya sekitar ¥100.000, berarti aku butuh ¥700.000 untuk beli itu. 

Di rumah ibuku juga ada buku ensiklopedia, kekonyolan macam apa ini

Tapi memang sudah seperti yang aku duga, buku ensiklopedia tampaknya merupakan buku yang benar-benar mahal. Buku yang wajib aku baca, Sihir Pemanggilan Shigulalulalu, berharga 10 koin emas.

Gaji bulananku yang hanya sekitar 2 koin perak tidak cukup untuk membuatku mampu membeli buku itu.

Buku yang paling mahal adalah Tata krama istana kerajaan Asuralalu, buku yang sama sekali tidak memiliki arti buatku.

"Hal menarik apa yang kamu cari?"

Eris bertanya padaku, mungkin dia merasa terganggu gara-gara aku cuma melihat-lihat dan tidak mencatat lagi.

"Tidak, aku cuma berpikir kalau buku yang dijual di sini tidak terlalu menarik."

"Aku dengar kamu suka baca buku?"

"Dengar dari mana kamu?"

"Dari Otou-sama." 

Philip hmm? Memang pernah sih aku meminta ijin darinya untuk masuk perpustakaan.

"A-, aku bisa membantu membelikan buku untukmu."

"Kamu berkata teralu mudah, memang kamu punya uang, Eris?"

"Oji-sama yang akan memberikanku!"

Benar. Tapi terlalu memanjakan dirimu itu bukanlah hal yang bagus.

Sekalipun aku menginginkan itu

Sekalipun aku menginginkan itu!

"Aku tak mau."

"Kenapa!"

Eris cemberut, dia selalu melakukan itu kalau dia merasa jengkel.

Kalau suasana hatinya terus-terusan memburuk, dia bakal menjelma menjadi iblis.

Tapi untuk sekarang masih tidak apa, dia masih bisa berpikir dengan jelas.

"Eris tidak boleh memberikan uang seenaknya."

"Apa maksudmu?"

Eris merajut kedua alisnya, dia menjadi semakin sebal karena dia tidak paham dengan ucapanku.

Belakangan ini aku bisa secara kasar mengukur meteran-amarah Eris.

Bagaimana ya caranya untuk menjelaskan ini dengan baik. Kalau dipikir-pikir, pentingkah bagi wanita dari keluarga bangsawan untuk mempelajari tentang pentingnya cara menggunakan uang?

"Aku sekarang kan jadi guru privatnya Eris, apa kamu tahu berapa banyak uang yang aku dapat?"

"5 koin emas, ‘kan?"

"2 koin perak."

"Terlalu Murah!"

Eris menjerit dengan suara melengking, dan di pojokan sana tampak si pemilik toko menunjukkan ekspresi yang mengatakan ‘kalian terlalu berisik’.

"Tidak juga, pencapaianku tidak begitu banyak dan umurku juga masih kecil, jadi itu harga yang tepat buatku."

Ditambah lagi keluargamu akan membantuku membayar biaya untuk belajar di akademi.

"Ta, tapi Ghyslaine saja menerima upah 2 koin emas. Bukannya Rudeus yang mengajariku banyak hal?"

"Ghyslaine memiliki pencapaian tinggi dan memiliki ranking Raja Pedang. Dia bahkan bertindak sebagai pengawalmu, karena itulah gajinya Ghyslaine lebih tinggi dariku."

Ditambah lagi ada kebiasaan buruk yang dimiliki keluarga Boreas Greyrat.

Kalau aku memikirkan mereka, aku membayangkan mereka akan memiliki ide seperti "Gadis dari Ras Hewan akan menerima perlakuan spesial!".

"Kalau begitu, kira-kira kalau aku kerja, aku akan dapat gaji berapa?"

"Kamu tidak bisa sihir, ilmu pedangmu dibawah rata-rata, dan tidak memiliki pencapaian apapun, jadi gaji tertinggi yang bisa diterima Ojou-sama tetap tidak akan mampu melebihi 1 koin perak."

Eris kehabisan kata-kata mendengar penjelasanku, dan ditambah lagi, dia belum pernah menerima uang saku.

"Kalau kamu mau membelikan sesuatu untuk seseorang, carilah uang dengan tanganmu sendiri, baru kita bicarakan itu."

"Aku mengerti"

Kepala Eris tertunduk lemas, dengan ekspresi sedih yang jarang terlihat. Kalau dia bisa terus seperti itu, aku tidak akan merasa kesulitan untuk mengatasi dia

"Yah, kamu bisa meminta beberapa uang saku dari Philip-sama."

"Benarkah?"

Eris mengangkat kepalanya, aku merasa kalau meteran-cinta nya kepadaku telah meningkat.

Yah, sekalipun dia tidak diberikan sepeserpun uang saku, memberinya apapun yang dia inginkan itu sama saja kalau dia terlalu dimanja.

Akan lebih baik kalau dia diberikan sedikit uang agar dia bisa mempelajari sendiri cara untuk menggunakannya dengan benar.

Setelah mencatat beberapa judul buku yang penting, aku pergi keluar dari toko buku.

Aku telah mendapat kesan menyeluruh tentang hal-hal yang ingin aku beli setelah seharian jalan-jalan mengunjungi berbagai toko.

Saat aku melihat ke atas langit, tampak ada sebuah kastil yang melayang di sana.

Kastil itu diselimuti dan tertutup oleh awan-awan, tapi kastil yang tampak sekilas itu sungguh ada di sana.

"Apa!"

Aku menunjuk ke arah langit, dan orang-orang yang ada disekitarku ikut melihat ke arah yang aku tunjuk, tapi tak lama setelahnya mereka mulai kehilangan minat.

Hah? Kalian lihat itu kan? Apa cuma aku? Apa cuma aku satu-satunya orang yang melihat kastil di langit ? 

Ayahku adalah pembohong? 

"Apa ini pertama kalinya kamu melihat itu? Itu adalah kastil langit milik [Raja Naga Berarmor] Pergius."

Apa kau tahu itu nona Ghyslaine!?

Tapi, mari kita kembali ke topik utama, kastil langit.

Woah, itu benar-benar sangat keren.

"Pergius itu apa?"

"Kamu tidak tahu itu?"

Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingatnya.

"Apa itu?"

Ghyslaine, dengan tampang yang sedikit terkejut, mencoba untuk menjelaskan itu kepadaku.

Tapi kali ini, Eris menyilangkan lengannya dan muncul di hadapanku.

"Biar aku yang mengajarimu!"

"Kalau boleh, tolong ajari aku."

"Baiklah! Pergius adalah salah satu dari 3 pahlawan yang mengalahkan Dewa Iblis Laplace."

Eris mengucapkan itu dengan bangga. Dewa Iblis Laplace, sepertinya aku pernah mendengar itu di suatu tempat?

"Dia itu sangat, sangat, sangat kuat, memimpin 12 pengikutnya yang ada di kastil langit menuju kastil Laplace."

"Wow, itu benar-benar keren."

"Luar biasa kan!"

"Ojou-sama benar-benar pintar, terima kasih."

"Ufufu! Rudeus masih belum cukup pintar!"

Kalau aku menyangkal itu, pasti aku akan dihajar. Sudah lama aku mempelajari itu.

Karena itulah, aku kembali melakukan penyelidikan.

Setelah bertanya kepada Philip, sekarang aku tahu kalau ada buku dengan informasi tentang Pergius di sekitar sini, dan setelah aku mengerahkan cukup banyak usaha, akhirnya aku menemukan buku itu.

Dan setelah aku melihatnya, ternyata buku itu adalah buku yang sama dengan buku yang ada di desa Buina.

Legenda Pergius.

Sebelumnya aku sangat yakin kalau itu adalah cerita dongeng, tapi sepertinya itu adalah sejarah asli.

[Raja Naga Berarmor] Pergius, tidak ada yang tahu darimana dia datang atau dimana dia tumbuh dewasa. Pada suatu saat, dirinya yang masih muda dan tidak memiliki sedikitpun ketenaran, dibawa ke organisasi petualang oleh Dewa Naga Urupein, itulah catatan tentang Pergius yang paling awal.

Pergius segera menunjukkan kekuatannya dalam waktu singkat, berkelompok dengan Dewa Naga Urupein, Dewa Utara Kalman, Kaisar Kembar Migus dan Gumis, dan mengalahkan banyak lawan.

Karena Pergius dianggap seperti adik dari Urupein, tidak ada yang tahu sejak kapan dia diberikan gelar [Naga Berarmor] diantara [5 Ksatria Naga] yang bekerja dibawah Dewa Naga.

Dia menggunakan seluruh kemampuannya tanpa persiapan, dan menggunakan sihir andalannya untuk menciptakan 12 Tsukkaima, yang dibagi menjadi. Kehampaan. Kegelapan. Kecerahan. Gelombang. Hidup. Gempa Bumi. Waktu. Badai. Kehancuran. Pengamatan. Kegilaan. Penebusan. 

Dengan kemampuan untuk mengontrol 12 Tsukkaima terkuat dan memangil kastil langit kuno bernama [Chaos Breaker], Pergius dan anak buahnya mulai bertarung habis-habisan melawan Laplace.

Namun sekalipun dengan semua itu, mereka masih belum mampu membunuh Laplace, dan pada akhirnya hanya mampu untuk menyegel Laplace.

Setelah menyaksikan kekuatan, martabat, dan juga [Chaos Breaker] miliknya, gelar [Raja Naga Berarmor] mulai tersebar.

Kerajaan Asura, dengan alasan untuk mengakui usaha yang telah dikerahkan Pergius, memutuskan untuk mendirikan namanya sebagai era yang baru.

Itulah era saat ini, [Tahun Naga Berarmor (Armored Dragon. AD)]. (Sebagai tambahan, sekarang adalah tahun 414 AD.)

[Raja Naga Berarmor] tidak memiliki hubungan dengan kerajaan apapun maupun menguasai suatu teritori tertentu, dan hanya terbang mengelilingi dunia dengan menggunakan kastil langit [Chaos Breaker].

Tidak ada yang tahu apa tujuan yang ia miliki.

Tapi serius deh, 400 tahun? Hmm, apa benar dia masih hidup?

Itu bukan kastil kosong yang terbang kemana-mana tanpa tujuan yang jelas, ‘kan?

Kalau ada kesempatan, aku pasti akan berkunjung ke sana.

Hari kedua.

Mood Eris hari ini lumayan bagus, sampai-sampai orang lain yang melihatnya pun bisa terkejut, mungkin itu karena dia bisa bermain seharian kemarin.

Atau mungkin itu ada hubungannya dengan kunjungannya ke toko-toko berkelas tinggi.

Terlepas dari alasan mana yang benar, sepertinya mengatur hari libur adalah hal yang tepat untuk dilakukan.

"Lain kali ajak aku main keluar lagi!"

Eris melakukan posenya yang biasa, dengan wajah sedikit memerah.

Apa yang menyebabkan wajahnya memerah?

Marah? Penghinaan? Apa? Jangan-jangan karena malu?

Bagaimana mungkin Eris bisa seperti itu!

"Aku"

Melihatku dengan ekspresi gelisah, Eris menggertakkan giginya, memutar pinggangnya, memegang rambutnya dengan kedua tangan , dan berkata

"To, tolong ajak aku lagi, nyan~?"

"Oke, A-aku akan mengajakmu keluar, Aku akan mengajakmu keluar lagi, tapi tolong jangan lakukan itu."

Aku buru-buru menghentikan dia, memang benar pose seperti itu sangat manis, tapi itu sangat buruk buat jantungku.

Aku merasa kalau meteran karmaku akan meningkat, dan saat karma itu kembali untuk menghantuiku, aku akan dibalas dengan pukulan.

"Hmph! Bagus lah kalau kamu mengerti."

Eris melepaskan genggamannya dari rambut, dan sebelum rambutnya kembali rapi, Eris duduk di belakang meja.

"Kalau begitu, kamu boleh melanjutkan pelajarannya."

"Kamu sangat bersemangat hari ini, yah."

"Soalnya, kalau aku tidak bersikap seperti anak yang baik, kamu gak akan mau mengajakku keluar lagi, ‘kan!"

O, Ojou-sama sekarang sudah bijaksana!?

"I, itu benar, aku akan mengajakmu keluar kalau kamu mau menurut!"

Aku menyelesaikan kelas hari ini dengan hati tersentuh.

Setengah tahun telah berlalu lagi.

Belakangan ini Eris, yang sudah berubah menjadi agak jinak, kembali bersikap kasar lagi.

Kenapa, kenapa? Siapa yang menyebabkan kekacauan ini?

Sekalipun aku merasa sedikit frustasi, aku menyadari sesuatu.

Tidak ada hari libur.

Setelah makan malam, aku memanggil Ghyslaine dan guru etik untuk datang ke dalam kamarku.

Sebagai catatan, si guru etik tidak tinggal di dalam mansion, dan dia datang dari rumahnya sendiri di Roa untuk bekerja.

Jadi aku menyuruh seorang pelayan untuk memberikan undanganku kepada dia.

"Pertama-tama, senang bertemu dengan kalian, namaku adalah Rudeus Greyrat."

"Nama saya adalah Edona Leilon, saya bertugas untuk mengajarkan etika dan tata krama kepada Eris-sama."

Aku meletakkan satu tanganku di dada dan memperkenalkan diri dengan gaya kasual, tapi Edona membalasku dengan salam yang sopan.

Guru etik ini tepat seperti apa yang aku bayangkan.

Edona adalah seorang wanita paruh baya, dan kerutan bisa terlihat di wajahnya.

Dia memiliki wajah bulat, dengan senyum lembut yang cocok dengan imejnya yang hangat.

"Aku Ghyslaine."

Ghyslaine dengan otot-otot tubuhnya, tetap sama seperti biasanya. Aku menunjuk ke arah kursi dan menyarankan agar mereka duduk. Setelah mereka berdua duduk, aku menuangkan minum yang sudah dipersiapkan pelayan terlebih dahulu, dan mulai membahas topik.

"Hari ini aku mencari kalian berdua untuk satu alasan yang sama, yaitu, untuk mendiskusikan jadwal pelajaran Eris-sama."

"Jadwal?"

"Ya, saat ini, dia berlatih pedang di pagi hari, punya waktu luang di siang hari, belajar tata krama di malam hari, kira-kira seperti itu bukan?"

"Tepat seperti yang anda katakan."

Mata pelajaran Eris adalah bahasa, matematika, ilmu sihir, sejarah, ilmu pedang, dan tata krama, totalnya ada 6.

Kalau menggunakan sebutan modern, mata pelajarannya adalah bahasa nasional, matematika, olah raga, dan pendidikan moral.

Sekalipun di sini tidak ada jam, pelajaran tidak berlangsung terus menerus selama berjam-jam. Biasanya mata pelajaran itu dibagi menjadi 3 sesi, dengan makan pagi, makan siang, dan waktu minum teh sebagai indikasi untuk istirahat.

Setelah makan pagi, lalu Kelas, lalu Setelah makan siang, lalu Kelas, lalu Setelah waktu minum teh, lalu Kelas, lalu Setelah makan malam lalu Waktu luang.

Tidak ada guru sejarah yang dipekerjakan, jadi Philip lah yang akan mengajari Eris disaat ia memiliki waktu luang.

"Karena sekarang ada aku di sini, bahkan waktu luang dimalam hari pun bisa digunakan untuk belajar, dan kita akan menghabiskan seluruh waktu Ojou-sama secara menyeluruh."

"Benar, pelajaran Ojou-sama telah berjalan dengan lancar, dan Tuan besar juga memperhatikan itu."

Tebakanku benar.

"Memang benar kalau pelajaran Ojou-sama telah berjalan dengan mulus, tapi ada satu masalah."

"Masalah?"

"Ya, mempelajari segalanya, hari demi hari, menyebabkan Ojou-sama mengalami stress yang terus menumpuk."

Eris selalu memiliki mood jengkel saat ia mengikuti kelas matematika, dan bila dia menghadapi pertanyaan yang sedikit sulit, dia akan menerjang ke arahku.

Itu terlalu berbahaya. Aku tak tahu kapan aku akan ditunggangi dan dihajar dari atas.

Sekali lagi, itu terlalu berbahaya.

"Sekalipun semuanya masih normal sekarang, dia mungkin tidak akan tahan lagi nantinya, dan akan melarikan diri dari satu mata pelajaran atau apalah."

Edona menutupi mulut dengan kedua tangannya, dan mengangguk setuju.

Aku tak pernah melihat kelas tata krama sebelumnya, tapi Eris sepertinya mau memperhatikan kelas tersebut.

Aku dengar kalau Edona adalah ibu ASI-nya Eris, tapi aku tak tahu kenapa Eris menyukai dia.

"Jadi aku mengajukan rencana, agar kita memilih satu hari dalam setiap 7 hari, dan tidak mengadakan kelas dalam hari itu."

Sebagai catatan, di dunia ini ada yang namanya kalender, dan ada juga yang namanya bulan dan hari, tapi tidak ada yang namanya konsep 1 minggu.

Setahun memiliki beberapa hari yang dianggap sebagai hari istirahat, tapi yang namanya hari minggu itu tidak ada.

Aku menggunakan angka 7 karena itu mudah untuk diingat, sekalipun aku tak tahu kenapa angka itu begitu spesial di dunia ini.

Angka itu dianggap sebagai angka keberuntungan, dan di ilmu pedang juga ada 7 tingkatan.

"Dan 6 hari sisanya, kita bisa mengadakan kelas bahasa, matematika, ilmu sihir, sejarah, ilmu pedang, dan tata krama, dengan 6 mata pelajaran tersebut."

"Boleh saya bertanya?"

"Silahkan, Edona-san."

"Kalau anda mendistribusikan waktu belajarnya menjadi seperti itu, kelas untuk tata krama hanya akan menjadi tiga kali, upahnya……"

Jadi ternyata kau cuma memikirkan uang! Tapi aku tidak mau menyalahkan Edona, karena aku juga bekerja untuk mencari uang.

Edona memikirkan bagian tentang: "Apakah upah yang diterima akan dipotong, karena kelasnya menjadi lebih sedikit?"

Aku sudah mendiskusikan ini dengan Philip sebelmnya, dan tidak ada masalah dengan itu.

Ditambah lagi, karena upahnya dibayar bulanan, sekalipun ada satu kelas yang tidak dihadiri Eris, upahnya masih akan tetap diberikan.

Tentu saja, kalau tidak ada satu kelaspun yang dihadiri, akan ada orang yang dipecat bulan depan.

Aku tak perlu mengatakan itu kan?

Orang yang tidak memahami cara kerja dunia, jelas sudah lama dipecat dari sini.

"Tentu saja mata pelajarannya tidak akan dibagi seperti itu, kelas bahasa dan matematika hanya perlu diadakan dua kali dalam seminggu. Namun tidak ada artinya kalau kau tidak berlatih ilmu pedang setiap hari, dan sekalipun ilmu sihir harus dilatih setiap hari, tapi ada batasan dalam Mana yang bisa digunakan, jadi kau tidak perlu membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk melatihnya, dan aku berencana menggunakan waktu ekstranya untuk mengadakan kelas bahasa dan matematika."

Sekalipun ini sudah direncanakan, pada dasarnya ya seperti ini.

"Hari ini aku menggunakan Waterball X kali, air yang jatuh adalah Y kali. Kalau begitu, berapa banyak Waterball yang masih bisa aku gunakan" -- pertanyaan seperti itu.

Sebuah pertanyaan yang berdasarkan pada berapa kali sihir yang bisa digunakan oleh Eris dan Ghyslaine.

Dibandingkan dengan melihat nomer-nomer yang ada di dalam ruangan, aku lebih suka untuk melakukan praktek, karena itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan mereka.

Karena kau tidak bisa melihat jumlah Mana secara pasti, jawaban yang benar itu sulit untuk dijawab dengan pasti.

Yah, makin sering kau menggunakan kalkulasi mental, kau akan makin terbiasa dalam menggunakannya, dan otakmu juga akan beradaptasi.

Aku juga berencana untuk mengajarkan mantra tanpa suara dan ilmu sains nantinya.

Tapi aku harus menunggu sampai Eris menguasai matematika dan bahasa terlebih dahulu.

"Aku minta maaf Edona-san, tapi kelas tata krama harus dipotong menjadi 3 sampai 4 kali dalam sebulan."

"Saya mengerti."

Edona mengangguk setuju.

Dengan begitu, 1 hari memiliki 3 kelas, 6 hari 18 kelas. Pembagian untuk masing-masing mata pelajaran adalah, tata krama 5 kali, ilmu pedang 6 kali, bahasa 2 kali, matematika 2 kali, dan sihir 3 kali.

Aku merasa tidak ada cukup waktu untuk kelas sihirku, tapi karena isinya kebanyakan hanyalah latihan yang diulang-ulang, aku akan memikirkan itu nanti.

"Kalau ada situasi dimana kalian tidak bisa mengajar, tolong beritahu aku."

"Bisakah anda menjelaskannya dengan lebih detail?"

"Aku selalu ada di dalam mansion, kalau aku memiliki waktu luang aku akan mengadakan kelas, jadi semisal kalian ingin libur panjang, itu juga tidak apa."

"Saya mengerti."

Edona terus-terusan tersenyum, aku tak tahu apa dia benar-benar mengerti atau tidak.

"Ditambah lagi, saya ingin kita mengadakan rapat setiap bulan di hari pertama."

"Dan kenapa begitu?"

"Kalau kita para guru bisa berkoordinasi dengan lebih baik, kita akan bisa mengatasi masalah bila suatu saat nanti masalah tersebut akan muncul. Begitulah yang saya pikirkan. Sekalipun memang itu tidak terlalu diperlukan, namun ini untuk meningkatkan keefektifan, dan juga untuk jaga-jaga. Apakah itu tidak bisa dilakukan?"

"Tidak, bukan itu maksudku."

"Rudeus-sama sebenarnya masih sangat kecil, tapi anda benar-benar sangat memperhatikan Eris-sama."

Aku terus merasa kalau dia menganggapku lucu. Oh, yasudahlah.

Dengan begitu, aku mendapat waktu istirahat.

Setelah satu minggu berlalu, kami sampai di hari libur yang pertama, dan tampak Ojou-sama duduk dengan gelisah.

Ini adalah pertama kalinya dia memiliki waktu luang sepanjang hari.

Setelah aku menyapa Philip, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke kota, dan aku tak sadar sejak kapan Eris dan Ghyslaine berada di pintu.

"Kamu mau pergi kemana?"

"Kota Roa, jalan-jalan."

"Jalan-jalan itu artinya kamu mau pergi ke kota sendirian?"

"Memangnya kamu lihat ada orang lain?"

"Kamu jahat, aku belum pernah keluar rumah sendirian."

Eris menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.

"Kalau Ojou-sama keluar sendirian, nanti kamu bakal diculik oleh seseorang kan?"

"Bukannya kamu juga diculik!"

Ah, benar juga, aku juga pernah diculik.

Tapi aku juga merupakan anggota dari keluarga Greyrat, mungkin aku bisa digunakan untuk meminta tebusan.

Tapi.

"Kalau aku diculik, aku bisa melarikan diri tanpa bantuan orang lain."

Aku tersenyum sambil mengucapkan itu, dan kemudian aku melihat Eris mengangkat tinjunya.

Aku buru-buru mengambil pose untuk mempertahankan diriku, tapi sepertinya tinju itu tidak kunjung tiba.

Ini adalah situasi yang langka.

"Ajak aku juga!"

Oh, jadi seperti itu. Sampai sekarang, tinjunya selalu datang lebih dulu sebelum dia bicara, Ojou-sama sudah berubah ya.

Tentu saja aku tidak punya alasan untuk menolak, daripada pergi sendirian, dua orang akan lebih aman bila bersama-sama.

"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang."

"Apa benar ini akan baik-baik saja?"

"Ghyslaine juga akan ikut, ‘kan?"

"Ya, tugasku adalah untuk melindungi Ojou-sama."

Jadi waktu rapat, Ghyslaine sama sekali tidak memahami arti dari hari libur.

Karenanya, akan lebih baik buat dia untuk terus dekat dengan Eris.

Pada mulanya dia dipekerjakan sebagai pengawal, jadi itu sudah aku perkirakan.

"Tunggu aku sebentar, aku akan bersiap-siap, Alphonse! Alphonse!"

Aku melihat Eris berlari-lari di dalam mansion, dan teriakannya masih keras seperti biasa.

"Rudeus."

Aku menoleh saat mendengar panggilan Ghyslaine, dia berdiri tepat disampingku.

Aku mendongak, dan tinggi badannya hampir 2 meter, aku pikir sekalipun aku sudah besar nanti, aku tetap harus mendongak untuk bertatap muka dengannya.

"Jangan terlalu percaya diri."

Aku diberikan peringatan.

Apa itu karena aku bilang kalau aku bisa melarikan diri sendirian?

"Aku tahu, aku cuma ingin Ojou-sama berusaha lebih keras."

"Oh, kalau begitu, misal ada sesuatu yang terjadi, cukup panggil aku, aku akan datang menyelamatkanmu."

"Hmm, kalau situasi seperti itu benar-benar terjadi, aku akan menembakkan kembang api besar sekali lagi."

Aku kembali memikirkan insiden penculikan sebelumnya.

"Ghyslaine, apa kamu pernah memberitahu hal yang sama kepada Ojou-sama?"

"Hmm? Memberitahu apa?"

"Harusnya kamu menambahkan, kalau dia hanya boleh teriak di tempat dimana teriakannya bisa terdengar."

"Nanti aku sampaikan, tapi untuk apa itu?"

"Di insiden penculikan sebelumnya, Ojou-sama nyaris terbunuh gara-gara berteriak meminta bantuan."

"Kalau aku bisa mendengar teriakannya, aku pasti akan pergi menghampiri Ojou-sama."

Tapi, pada saat itu dia memang menunjukkan kecepatan gerak yang tidak masuk akal. Aku merasa Ghyslaine akan bisa tiba tepat waktu, tak peduli dimanapun dia berada, dan pendengarannya juga sangat bagus.

Ditambah lagi, Eris tidak meminta bantuan Philip atau Sauros, tapi hanya Ghyslaine.

Wanita ini benar-benar bisa diandalkan.

"Kamu harus memberitahu dia bahwa dia tidak boleh berteriak meminta bantuan dalam kondisi tertentu."

Saat aku selesai bicara, Eris telah kembali. Apakah pakaian itu digunakan saat ia keluar dari rumah? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini.

Aku memuji pakaiannya, dan aku mendapat pukulan tepat di kepalaku.

Apa salahku?

Kota Roa adalah kota terbesar di teritori Fedoa, namun sekalipun kota ini adalah kota yang paling besar, bila dibandingkan dengan seluruh ladang gandum yang ada di desa Buina, kota ini tampak jauh lebih kecil.

Kau hanya butuh waktu 2 jam untuk mengitari tembok kota.

Roa adalah kota dikelilingi oleh tembok yang tingginya sekitar 7 sampai 8 meter.

Tapi tembok itu tidak melingkar dengan sempurna, karena tanah yang digunakan sebagai landasan tidak rata, dan aku tidak bisa memastikan panjang temboknya secara pasti.

Mungkin sekitar 30 meter.

Kota ini benar-benar tidak terasa seperti kota yang besar, dan kota yang dikelilingi oleh tembok seperti ini harusnya sangatlah sedikit. Sekalipun aku tidak pernah mengunjungi kota yang dikelilingi oleh tembok lainnya, tapi aku sangat yakin kalau menciptakan tembok sebesar ini bukanlah tugas yang mudah.

Apa ada sihir yang bisa menciptakan tembok seperti ini? Kalau iya, pasti itu adalah sihir level raja atau kaisar.

Atau apakah tembok ini dibuat dengan tangan manusia?

Saat aku memikirkan itu, kami meninggalkan area tempat para bangsawan berkumpul, dan tiba di ruang luas dimana banyak orang berlalu-lalang.

Tempat ini adalah area untuk para pedagang, dan karena lokasinya sangat dekat dengan teritori para bangsawan, ada banyak toko yang indah di sini.

Tapi aku bisa melihat beberapa pedagang yang berjualan di area terbuka.

Aku melihat barang-barang mahal yang dijual oleh salah satu pedagang.

"Selamat datang tuan muda, tuan putri, silahkan dilihat-lihat, barangkali anda berminat."

Aku menikmati kalimat Ossan (paman) penjaga toko yang biasa terdengar di game-game RPG, dan melihat barang-barang yang sedang dijual.

Aku mencatat barang-barang tersebut di secarik kertas, dan sejujurnya, semuanya adalah produk yang aneh.

Harga aphrosidiac 10 koin emas, catat, catat. 

"Apa yang kamu tulis, aku sama sekali tidak mengerti!"

Eris berteriak tepat disamping telingaku, di hari itu aku nyaris menjadi tuli.

Aku melihat kertas yang sedang kupegang, dan menyadari kalau aku tanpa sadar telah menulis dengan huruf Jepang.

"Aku cuma mau mencatat beberapa hal, yang penting aku bisa memahaminya."

"Cukup katakan saja apa yang kamu tulis."

Ojou-sama benar-benar suka memaksa, tapi aku tidak punya alasan untuk tidak memberitahu dia.

"Ini adalah nama dan harga barang yang dijual."

"Kenapa kamu menyelidiki itu?"

"Menyelidiki harga pasar adalah ilmu dasar dari game online."

"Onle? apa itu?"

Aku pikir Eris tidak akan paham sekalipun aku menjelaskan itu, dan aku mengganti topik pembicaraan dengan menunjuk ke arah sebuah produk berupa aksesoris kecil.

"Kamu lihat ini? Toko itu menjual barang ini seharga 5 koin emas, tapi kamu bisa membelinya seharga 4 koin emas dan 5 koin perak di sini."

"Ohhh, tuan muda, anda benar-benar memiliki mata yang bagus, barang-barang yang aku jual di sini murah, ‘kan?"

Aku mengabaikan si Ossan dan berbalik menghadap Eris.

"Eris, kalau kamu menawar dan harganya turun menjadi 3 koin emas, dan kemudian kamu menjualnya di toko lain seharga 4 koin emas, berapa banyak uang yang bisa kamu dapat?"

"Hmm, coba kupikir, 5-3+4, 6 koin emas!"

Oh tuhan, apa yang sebenarnya kamu hitung?

"Salah, jawabannya 1 koin emas."

"A, aku sudah mengerti itu!"

Eris cemberut dan memalingkan wajahnya.

"Apa kau benar-benar memahami itu?"

"Kita aslinya punya 10 koin emas, terus nanti jadi 11 koin emas."

Woah, kamu akhirnya mengerti. Tunggu, bukannya ini penjumlahan?

Biarkan saja lah, pokoknya aku akan memuji dia dulu.

Harga diri Eris itu benar-benar tinggi, dia hanya akan mengalami kemajuan kalau dia mendapat pujian.

"Woah, kamu benar, wow, Eris benar-benar pintar."

"Hmph, tentu saja."

"Erm, tuan muda, itu disebut resale, dan itu bukan sesuatu yang layak untuk dipuji, anda tidak boleh melakukan itu."

"Tak usah khawatir, aku akan melakukan itu. Kalau aku benar-benar ingin melakukan itu, aku akan memberitahu toko lain kalau kamu menjual barang itu seharga 4 koin emas di sini. Aku ambil 1 koin perunggu besar sebagai biaya informasi."

Si Ossan menunjukkan ekspresi yang tampak benar-benar jengkel dan melihat ke arah Ghyslaine untuk meminta bantuan, tapi sekarang Ghyslaine sedang memperhatikan penuh dengan hal-hal yang aku ucapkan.

Setelah memahami bahwa mengucapkan kalimat lain hanya akan membuang-buang waktunya saja, si Ossan menurunkan pundaknya dan menghela nafas.

Maaf ya, karena kami cuma lihat-lihat, tolong maklumi kami.

"Sekalipun kita tidak membeli atau menjual barang, kita harus tahu harga pasar."

"Memang kenapa kalau kamu tahu harga pasar!"

"Contohnya ya, kamu bisa menebak harga barang sekalipun kamu tidak pergi ke toko."

"Iya, itu gunanya apa?"

Gunanya apa? Erm, saat barangnya dijual ulang, kau bisa mendapat lebih banyak uang… ah, bukan jawaban yang tepat. Okelah, aku serahkan sisanya kepada Ghyslaine.

"Ghyslaine, menurutmu apa gunanya itu?"

"Um, aku tidak tahu"

Oh sial, benarkah? Kau tak tahu? Aku pikir kau benar-benar memahami hal ini. Biarin saja lah, toh ini bukan waktunya aku mengajari mereka seperti di dalam kelas.

"Em, kalau begitu mungkin memang benar bahwa itu tidak ada gunanya."

Ujung-ujungnya ini adalah pelajaran buat diriku sendiri, sekalipun aku tidak memahami itu ya tidak apa-apa.

Kalau aku melihat pasar, hal pertama yang aku lakukan adalah menyelidiki informasi produk.

Aku selalu melakukan itu, jadi tidak mungkin itu salah.

Sekalipun aku berpikiran seperti demikian, ini adalah pertama kalinya aku memeriksa harga secara pribadi, jadi aku tidak benar-benar yakin apakah hal yang aku lakukan ini memang ada gunanya atau tidak.

"Kalau memang itu mungkin tidak ada gunanya, terus kenapa kamu melakukan itu?"

"Soalnya aku pikir itu ada gunanya."

Eris menampilkan ekspresi yang seakan-akan dia tidak bisa menerima jawabanku.

Toh, aku tidak bisa menjawab segala pertanyaan.

Ada beberapa hal yang membutuhkan pemikiranmu sendiri untuk dipahami, dan tidak bisa diajarkan oleh orang lain.

"Coba kamu pikir sendiri, kalau kamu pikir ini berguna, belajarlah dariku, kalau tidak, cukup tertawakan aku."

"Kalau begitu aku yang akan menertawakanmu, begitu?"

"Ahahahahaha."

"Kenapa kamu malah ketawa sekarang!?"

Aku dipukul lagi, hiks.

Aku juga melihat-lihat pedagang yang ada di sekitar, tapi harga dari barang-barang yang dijual pedagang yang memiliki level lebih tinggi itu terlalu mahal, jadi aku menghentikan penyelidikanku.

Aku perlahan mulai bergerak menuju bagian luar kota, dan rata-rata harga barang yang dijual pedagang mengalami perubahan yang jelas, turun dari sekitar 5 koin emas menjadi sekitar 1 koin emas.

Itu masih lumayan mahal, tapi harga sekitar itu masih berada dalam jangkauanku.

Para pembeli juga bertambah banyak, mulai dari orang-orang yang kelihatan seperti bangsawan sampai para petualang.

Karena harga barangnya sekitar 1 koin emas, aku masih bisa membeli barang di sana.

Saat aku mencatat harga-harga di catatanku, ada sebuah toko yang menarik perhatianku; toko buku.

Saat aku memasuki toko itu, ternyata suasana di dalam sana terasa tenang.

Bisa dibilang suasana toko itu sama seperti suasana di toko buku yang utamanya menjual buku-buku erotis.

Ada dua rak buku yang memiliki 2 sampai 3 buku dengan judul sama, yang diletakkan berdampingan.

Sebuah buku harganya rata-rata sekitar 1 koin emas, dengan pengecualian beberapa buku yang disimpan di dalam kabinet berkaca.

Di dalam kabinet tersebut harga rata-ratanya sekitar 8 koin emas, dengan yang paling mahal mencapai 20 koin emas, apakah itu barang paling bernilai yang dimiliki toko ini?

Pemilik toko tidak menganggapku sebagai seorang pembeli, dan tidak menyapaku.

Penilaiannya benar.

Aku mencatat judul buku-buku yang dijual, dan si pemilik toko menatapku dengan curiga.

Arara, tenang saja bos, aku tidak menyentuh bukunya.

Ditambah lagi, aku tidak mengambil foto.

Sebuah buku ensiklopedia harganya sekitar 7 koin emas, kalau 1 koin emas nilainya sekitar ¥100.000, berarti aku butuh ¥700.000 untuk beli itu.

Di rumah ibuku juga ada buku ensiklopedia, kekonyolan macam apa ini

Tapi memang sudah seperti yang aku duga, buku ensiklopedia tampaknya merupakan buku yang benar-benar mahal. Buku yang wajib aku baca, Sihir Pemanggilan Shigu, berharga 10 koin emas.

Gaji bulananku yang hanya sekitar 2 koin perak tidak cukup untuk membuatku mampu membeli buku itu.

Buku yang paling mahal adalah <<Tata krama istana kerajaan Asuralalulalu, buku yang sama sekali tidak memiliki arti buatku.

"Hal menarik apa yang kamu cari?"

Eris bertanya padaku, mungkin dia merasa terganggu gara-gara aku cuma melihat-lihat dan tidak mencatat lagi.

"Tidak, aku cuma berpikir kalau buku yang dijual di sini tidak terlalu menarik." 

"Aku dengar kamu suka baca buku?"

"Dengar dari mana kamu?"

"Dari Otou-sama."

Philip hmm? Memang pernah sih aku meminta ijin darinya untuk masuk perpustakaan.

"A a, aku bisa membantu membelikan buku untukmu."

"Kamu berkata teralu mudah, memang kamu punya uang, Eris?"

"Oji-sama yang akan memberikanku!"

Benar. Tapi terlalu memanjakan dirimu itu bukanlah hal yang bagus.

Sekalipun aku menginginkan itu

Sekalipun aku menginginkan itu!

"Aku tak mau."

"Kenapa!"

Eris cemberut, dia selalu melakukan itu kalau dia merasa jengkel.

Kalau suasana hatinya terus-terusan memburuk, dia bakal menjelma menjadi iblis.

Tapi untuk sekarang masih tidak apa, dia masih bisa berpikir dengan jelas.

"Eris tidak boleh memberikan uang seenaknya."

"Apa maksudmu?"

Eris merajut kedua alisnya, dia menjadi semakin sebal karena dia tidak paham dengan ucapanku.

Belakangan ini aku bisa secara kasar mengukur meteran-amarah Eris.

Bagaimana ya caranya untuk menjelaskan ini dengan baik. Kalau dipikir-pikir, pentingkah bagi wanita dari keluarga bangsawan untuk mempelajari tentang pentingnya cara menggunakan uang?

"Aku sekarang kan jadi guru privatnya Eris, apa kamu tahu berapa banyak uang yang aku dapat?"

"5 koin emas, ‘kan?"

"2 koin perak."

"Terlalu Murah!"

Eris menjerit dengan suara melengking, dan di pojokan sana tampak si pemilik toko menunjukkan ekspresi yang mengatakan ‘kalian terlalu berisik’.

"Tidak juga, pencapaianku tidak begitu banyak dan umurku juga masih kecil, jadi itu harga yang tepat buatku."

Ditambah lagi keluargamu akan membantuku membayar biaya untuk belajar di akademi.

"Ta, tapi Ghyslaine saja menerima upah 2 koin emas. Bukannya Rudeus yang mengajariku banyak hal?"

"Ghyslaine memiliki pencapaian tinggi dan memiliki ranking Raja Pedang. Dia bahkan bertindak sebagai pengawalmu, karena itulah gajinya Ghyslaine lebih tinggi dariku."

Ditambah lagi ada kebiasaan buruk yang dimiliki keluarga Boreas Greyrat.

Kalau aku memikirkan mereka, aku membayangkan mereka akan memiliki ide seperti "Gadis dari Ras Hewan akan menerima perlakuan spesial!".

"Kalau begitu, kira-kira kalau aku kerja, aku akan dapat gaji berapa?"

"Kamu tidak bisa sihir, ilmu pedangmu dibawah rata-rata, dan tidak memiliki pencapaian apapun, jadi gaji tertinggi yang bisa diterima Ojou-sama tetap tidak akan mampu melebihi 1 koin perak."

Eris kehabisan kata-kata mendengar penjelasanku, dan ditambah lagi, dia belum pernah menerima uang saku.

"Kalau kamu mau membelikan sesuatu untuk seseorang, carilah uang dengan tanganmu sendiri, baru kita bicarakan itu."

"Aku mengerti"

Kepala Eris tertunduk lemas, dengan ekspresi sedih yang jarang terlihat. Kalau dia bisa terus seperti itu, aku tidak akan merasa kesulitan untuk mengatasi dia……

"Yah, kamu bisa meminta beberapa uang saku dari Philip-sama."

"Benarkah?"

Eris mengangkat kepalanya, aku merasa kalau meteran-cinta nya kepadaku telah meningkat.

Yah, sekalipun dia tidak diberikan sepeserpun uang saku, memberinya apapun yang dia inginkan itu sama saja kalau dia terlalu dimanja.

Akan lebih baik kalau dia diberikan sedikit uang agar dia bisa mempelajari sendiri cara untuk menggunakannya dengan benar.

Setelah mencatat beberapa judul buku yang penting, aku pergi keluar dari toko buku.

Aku telah mendapat kesan menyeluruh tentang hal-hal yang ingin aku beli setelah seharian jalan-jalan mengunjungi berbagai toko.

Saat aku melihat ke atas langit, tampak ada sebuah kastil yang melayang di sana.

Kastil itu diselimuti dan tertutup oleh awan-awan, tapi kastil yang tampak sekilas itu sungguh ada di sana.

"Apa!"

Aku menunjuk ke arah langit, dan orang-orang yang ada disekitarku ikut melihat ke arah yang aku tunjuk, tapi tak lama setelahnya mereka mulai kehilangan minat.

Hah? Kalian lihat itu kan? Apa cuma aku? Apa cuma aku satu-satunya orang yang melihat kastil di langit ? 

Ayahku adalah pembohong?

"Apa ini pertama kalinya kamu melihat itu? Itu adalah kastil langit milik [Raja Naga Berarmor] Pergius."

Apa kau tahu itu nona…… Ghyslaine!?

Tapi, mari kita kembali ke topik utama, kastil langit.

Woah, itu benar-benar sangat keren.

"Pergius itu apa?"

"Kamu tidak tahu itu?"

Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingatnya.

"Apa itu?"

Ghyslaine, dengan tampang yang sedikit terkejut, mencoba untuk menjelaskan itu kepadaku.

Tapi kali ini, Eris menyilangkan lengannya dan muncul di hadapanku.

"Biar aku yang mengajarimu!"

"Kalau boleh, tolong ajari aku."

"Baiklah! Pergius adalah salah satu dari 3 pahlawan yang mengalahkan Dewa Iblis Laplace."

Eris mengucapkan itu dengan bangga. Dewa Iblis Laplace, sepertinya aku pernah mendengar itu di suatu tempat…?

"Dia itu sangat, sangat, sangat kuat, memimpin 12 pengikutnya yang ada di kastil langit menuju kastil Laplace."

"Wow, itu benar-benar keren."

"Luar biasa kan!"

"Ojou-sama benar-benar pintar, terima kasih."

"Ufufu! Rudeus masih belum cukup pintar!"

Kalau aku menyangkal itu, pasti aku akan dihajar. Sudah lama aku mempelajari itu.

Karena itulah, aku kembali melakukan penyelidikan.

Setelah bertanya kepada Philip, sekarang aku tahu kalau ada buku dengan informasi tentang Pergius di sekitar sini, dan setelah aku mengerahkan cukup banyak usaha, akhirnya aku menemukan buku itu.

Dan setelah aku melihatnya, ternyata buku itu adalah buku yang sama dengan buku yang ada di desa Buina.

Legenda Pergius.

Sebelumnya aku sangat yakin kalau itu adalah cerita dongeng, tapi sepertinya itu adalah sejarah asli.

[Raja Naga Berarmor] Pergius, tidak ada yang tahu darimana dia datang atau dimana dia tumbuh dewasa. Pada suatu saat, dirinya yang masih muda dan tidak memiliki sedikitpun ketenaran, dibawa ke organisasi petualang oleh Dewa Naga Urupein, itulah catatan tentang Pergius yang paling awal.

Pergius segera menunjukkan kekuatannya dalam waktu singkat, berkelompok dengan Dewa Naga Urupein, Dewa Utara Kalman, Kaisar Kembar Migus dan Gumis, dan mengalahkan banyak lawan.

Karena Pergius dianggap seperti adik dari Urupein, tidak ada yang tahu sejak kapan dia diberikan gelar [Naga Berarmor] diantara [5 Ksatria Naga] yang bekerja dibawah Dewa Naga.

Dia menggunakan seluruh kemampuannya tanpa persiapan, dan menggunakan sihir andalannya untuk menciptakan 12 Tsukkaima, yang dibagi menjadi. Kehampaan. Kegelapan. Kecerahan. Gelombang. Hidup. Gempa Bumi. Waktu. Badai. Kehancuran. Pengamatan. Kegilaan. Penebusan.

Dengan kemampuan untuk mengontrol 12 Tsukkaima terkuat dan memangil kastil langit kuno bernama [Chaos Breaker], Pergius dan anak buahnya mulai bertarung habis-habisan melawan Laplace.

Namun sekalipun dengan semua itu, mereka masih belum mampu membunuh Laplace, dan pada akhirnya hanya mampu untuk menyegel Laplace.

Setelah menyaksikan kekuatan, martabat, dan juga [Chaos Breaker] miliknya, gelar [Raja Naga Berarmor] mulai tersebar.

Kerajaan Asura, dengan alasan untuk mengakui usaha yang telah dikerahkan Pergius, memutuskan untuk mendirikan namanya sebagai era yang baru.

Itulah era saat ini, [Tahun Naga Berarmor (Armored Dragon. AD)]. (Sebagai tambahan, sekarang adalah tahun 414 AD.)

[Raja Naga Berarmor] tidak memiliki hubungan dengan kerajaan apapun maupun menguasai suatu teritori tertentu, dan hanya terbang mengelilingi dunia dengan menggunakan kastil langit [Chaos Breaker].

Tidak ada yang tahu apa tujuan yang ia miliki.

Tapi serius deh, 400 tahun? Hmm, apa benar dia masih hidup?

Itu bukan kastil kosong yang terbang kemana-mana tanpa tujuan yang jelas, ‘kan?

Kalau ada kesempatan, aku pasti akan berkunjung ke sana.

Hari kedua.

Mood Eris hari ini lumayan bagus, sampai-sampai orang lain yang melihatnya pun bisa terkejut, mungkin itu karena dia bisa bermain seharian kemarin.

Atau mungkin itu ada hubungannya dengan kunjungannya ke toko-toko berkelas tinggi.

Terlepas dari alasan mana yang benar, sepertinya mengatur hari libur adalah hal yang tepat untuk dilakukan.

"Lain kali ajak aku main keluar lagi!"

Eris melakukan posenya yang biasa, dengan wajah sedikit memerah.

Apa yang menyebabkan wajahnya memerah?

Marah? Penghinaan? Apa? Jangan-jangan karena malu?

Bagaimana mungkin Eris bisa seperti itu!

"Aku…"

Melihatku dengan ekspresi gelisah, Eris menggertakkan giginya, memutar pinggangnya, memegang rambutnya dengan kedua tangan , dan berkata:

"To, tolong ajak aku lagi, nyan~?"

"Oke, A-aku akan mengajakmu keluar, Aku akan mengajakmu keluar lagi, tapi tolong jangan lakukan itu."

Aku buru-buru menghentikan dia, memang benar pose seperti itu sangat manis, tapi itu sangat buruk buat jantungku.

Aku merasa kalau meteran karmaku akan meningkat, dan saat karma itu kembali untuk menghantuiku, aku akan dibalas dengan pukulan.

"Hmph! Bagus lah kalau kamu mengerti."

Eris melepaskan genggamannya dari rambut, dan sebelum rambutnya kembali rapi, Eris duduk di belakang meja.

"Kalau begitu, kamu boleh melanjutkan pelajarannya."

"Kamu sangat bersemangat hari ini, yah."

"Soalnya, kalau aku tidak bersikap seperti anak yang baik, kamu gak akan mau mengajakku keluar lagi, ‘kan!"

O, Ojou-sama sekarang sudah bijaksana!?

"I, itu benar, aku akan mengajakmu keluar kalau kamu mau menurut!"

Aku menyelesaikan kelas hari ini dengan hati tersentuh.

Tuan Putri Berusia 10 Tahun

Satu tahun telah berlalu.

Pendidikan Eris berjalan dengan lancar.

Sepertinya dia memiliki bakat dalam hal mempelajari ilmu pedang, karena sebelum dia berumur 10 tahun, dia sudah mencapai standart pada level menengah.

Bisa dibilang, orang dengan ilmu pedang level menengah mampu bersaing dengan seorang ksatria biasa.

Ghyslaine bilang Eris bisa mencapai tingkat lanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Dia baru berumur 9 tahun tapi…… apakah si Ojou-sama ini jenius?

Bagaimana denganku? Kalau kau bertanya padaku, aku akan memalingkan mataku.

Dalam hal bahasa, bisa dibilang pelajarannya berjalan lancar.

Hal itu khususnya disebabkan oleh Ghyslaine yang bercerita tentang cobaan berat yang ia alami di masa lalu gara-gara tidak bisa membaca.

Gara-gara itu, ia tak bisa melakukan apa-apa, ditipu oleh segala jenis orang jahat, dan pada akhirnya dijual sebagai budak.

Karena itulah Eris berusaha untuk mempelajari bahasa dengan sungguh-sungguh.

Peningkatan dalam bidang matematika tidak begitu terlihat. Aku tidak yakin hal-hal seperti apa yang akan terjadi kepada Eris di masa depan, tapi dunia ini kelihatannya tidak membutuhkan penggunaan rumus-rumus matematika yang terlalu maju, jadi aku merasa akan lebih baik untuk tidak terburu-buru dalam belajar matematika.

Untuk bisa terbiasa dan mahir dalam menggunakan 4 operasi hitung-hitungan dasar dalam 5 tahun, aku akan memilih itu sebagai targetku.

Kelas ilmu sihir juga berjalan dengan lancar, tapi aku merasa kalau sebentar lagi kami akan menemui hambatan.

Eris pada dasarnya bisa menggunakan semua sihir tingkat dasar, dan dia juga terbiasa dengan semua sistem sihir selain sihir tanah, dibandingkan dengan Ghyslaine yang hanya bisa mempelajari sihir api.

Mereka berdua menghadiri kelas yang sama, jadi kenapa kok ada perbedaan seperti itu?

Apakah Ghyslaine tidak terbiasa dengan sihir air, angin, dan tanah?

Pokoknya, ada beberapa hal di buku panduan sihir yang tidak bisa digunakan sekalipun kau merapal mantranya.

Sehubungan dengan hal ini, aku juga tidak berusaha keras untuk mengingat mantra-mantranya, jadi aku tidak begitu paham.

Dan juga, aku mencoba untuk mengajarkan mantra tanpa suara kepada mereka, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Sylphy bisa langsung memahami itu, mungkin masalahnya ada pada umur.

Atau mungkin Sylphy punya bakat seperti itu.

Aku tidak benar-benar mengerti, mungkin aku telah mengajari mereka sesuatu yang tidak berguna.

Kini sudah waktunya untuk mempelajari sihir level menengah, tapi baik Ghyslaine maupun Eris adalah seorang Swordsman.

Harusnya mempelajari sihir level menengah sudah cukup bagi mereka untuk membereskan hal-hal lain yang tidak penting.

Aku pikir begini saja tidak apa.

Aku yakin suatu hari nanti ilmu yang mereka pelajari akan berguna.

Sekalipun aku merasa kalau semua pelajaran berjalan dengan lancar, tapi sepertinya kelas tata krama tengah menemui suatu masalah.

Hari ulang tahun Eris yang kesepuluh semakin dekat.

Usia 10 tahun adalah sesuatu yang spesial, dan menurut tradisi bangsawan, hari ulang tahun ke 5, 10, dan 15 harus dirayakan dengan pesta besar.

Halaman mansion akan dibuka bagi umum dan digunakan untuk menerima hadiah dari para penduduk, keluarga Eris juga akan mengundang para bangsawan dari kota untuk ikut merayakan pesta ulang tahun.

Dan omong-omong soal pesta, yang merasa paling pusing adalah Eris.

Pokoknya, dia tidak bisa berdansa. Dia bahkan tidak bisa melakukan gerakan dansa yang paling mudah.

"Masalahnya akan terlalu besar bila bintang utama pesta tidak bisa berdansa."

Ucap Edona dalam rapat pengurus yang diadakan setiap awal bulan.

Aku bertanya tentang Eris saat dia masih berumur 5 tahun, dan mendapat jawaban bahwa kelas dansa baru diperlukan setelah bangsawan Asura mencapai usia 10 tahun. Ini artinya tidak perlu untuk belajar dansa.

Jadwal untuk kelas ilmu pedang dan sihir harus ditunda untuk mengadakan sesi latihan darurat kelas tata krama.

Latihan ilmu pedang di pagi hari masih tetap ada, dan setelah makan siang, akan ada sedikit latihan ilmu sihir untuk mencerna makanan, dan setelah itu semua kelas lainnya akan digunakan untuk belajar dansa.

Semakin lama, aku merasa kalau Eris makin merasa muram dan jengkel.

"Maaf, kalau boleh saya tanya, apakah Rudeus-sama bisa berdansa?"

Edona yang baru saja muncul setelah latihan ilmu sihir berakhir dengan bertanya kepadaku.

"Tidak, aku tidak bisa."

"Kalau tidak bisa, saya mohon bergabunglah dengan latihan Eris-sama. Rudeus juga akan menghadiri pesta dansa bukan?"

"A, ah. Aku juga, berpartisipasi?"

Aku menengok ke arah Eris, dan dia mengangguk dengan pasti.

"Tentu saja Rudeus juga akan ikut berpartisipasi." (Bicara dengan sopan)

Apa gaya bicaranya itu dipengaruhi oleh kelas tata krama? Eris menggunakan kata-kata yang aneh.

Nah, itu bukan hal yang penting.

"Sepertinya aku diminta untuk menghadiri pesta tersebut."

"Kalau anda akan menghadiri pesta tersebut, tidak baik kalau anda tidak tahu cara untuk berdansa."

"Tidak, aku akan baik-baik saja kalau aku berdiam diri di pojokan dan bersikap seperti anak kecil."

Edona bahkan tidak menunjukkan senyuman kaku.

Wajahnya selalu dihiasi oleh senyuman lembut yang tidak pernah hilang.

Aku menyadari bahwa selain ekspresi itu, orang ini tidak menunjukkan ekspresi lain.

Dengan kata lain, wajah tanpa ekspresi.

"Bila seseorang untuk pertama kalinya menghadiri sebuah pesta, orang tersebut mungkin akan merasa lebih gugup dari biasanya.

Mungkin ada saat dimana orang tersebut menginjak jari-jari kaki pasangannya saat berdansa, ditambah lagi para tamu mungkin akan merasa berkecil hati melihat usia Ojou-sama yang masih muda.

“Untuk mengatasi ketegangan tersebut, kalau bisa, saya harap anda mau menjadi"

Edona beberapa kali melihat ke arahku, tapi dia tetap menunjukkan senyuman yang sama di wajahnya.

Setelah berbelit-belit seperti itu, pada akhirnya kamu hanya menginginkan bantuanku bukan?

Kelas dansa Eris berlangsung dengan kesulitan seperti itu.

Mau bagaimana lagi, sekalipun aku tak mau memberikan bantuan dalam hal yang tidak aku kuasai, tapi karena Edona sudah menjelaskan dengan cara yang seperti itu, aku tidak bisa menolak.

Bagaimanapun juga, aku masih tetap menjadi guru kepala.

"Baik, aku mengerti. Tapi aku tidak akan membayar biaya untuk belajar dansa, oke?"

"Tentu saja, sebaliknya, saya minta maaf karena akan merepotkan Rudeus-sama."

Gara-gara percakapan di atas, aku juga ikut berpartisipasi dalam kelas dansa.

Metode mengajar Edona benar-benar terlalu jelek, tidak, hampir semua guru juga seperti itu.

Kamu harus melakukan ini, bagaimana kamu melakukannya, dalam hal apapun kamu harus ingat itu. Sesuatu seperti itu.

Yang paling penting, dia sama sekali tidak mengajarkan pokok inti dari permasalahan dan poin-poin yang perlu diperhatikan.

Aku juga pernah bertemu dengan guru seperti itu saat aku masih SMP. Ya sudahlah, aku tinggal berpikir sendiri kalau ada yang tidak aku pahami, toh aku bukan anak-anak lagi.

"Aku mengerti."

Setelah 3 hari, aku sudah memahami beberapa gerakan dansa yang berbeda.

Yang dimaksud dengan dansa hanyalah menyesuaikan diri dengan irama dan melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.

Kamu bahkan tak perlu berlatih untuk melakukan dansa yang paling mudah.

Mungkin karena aku secara aktif menggunakan pengalamanku saat aku bermain dance-dance revolution semasa aku SMP, aku tidak terlalu mendapat banyak masalah.

"Itu luar biasa, Rudeus-sama benar-benar jenius."

Eris langsung cemberut saat ia melihat Edona memujiku.

Sesuatu yang tidak bisa ia lakukan setelah belajar selama berbulan-bulan dapat dengan mudah dilakukan oleh orang lain, pasti di dalam hati ia merasa tidak tenang.

Tapi aku tidak mengulur-ulur waktu saat belajar dansa 3 hari belakangan ini, dan aku telah mengamati masalah yang dialami Eris.

Dan akhirnya aku paham dengan jelas, tarian Eris terlalu cepat dan kaku.

Sekalipun sebenarnya berdansa memiliki suatu kecocokan dengan teknik Pedang Dewa, tapi berbalik dengan apa yang diharapkan, dimana Eris seharusnya melangkah dengan anggun menurut ritme, dia malah melangkah dengan kecepatan penuh, yang pada akhirnya menyebabkan ritme pasangan dansanya menjadi kacau.

Naluri dasar Eris merasa tertekan oleh ritme yang membatasi gerakannya. Tak peduli bagaimanapun juga, dia akan bersikeras untuk melangkah menggunakan ritme yang ia ciptakan sendiri, tanpa dipengaruhi oleh faktor lain. Itu adalah bakat dalam pertempuran, tapi hal itu juga akan mengganggu dirinya sendiri saat berdansa.

Bagaimanapun juga, dia harus menyesuaikan diri dengan tindakan pasangan dansanya.

Edona diam-diam telah memberitahuku, bahwa dia belum pernah menemui murid yang tidak berbakat seperti ini, tapi sejujurnya itu tidaklah benar.

Kalau Eris mampu bergerak dengan kecepatan tinggi, itu artinya dia juga bisa berdansa, hanya saja metode yang dipakai untuk mengajarinya tidaklah bagus.

Sekalipun mengoreksi masalah ini sebenarnya lumayan merepotkan, tapi aku punya trik rahasia.

"Eris, tutup matamu, biarkan ritmemu untuk mengontrol gerakan tubuhmu."

"Apa yang kamu pikirkan, pakai memintaku untuk menutup mata segala!"

"Rudeus-sama?"

Wajah tanpa ekspresi Edona sedikit runtuh.

Tidak, ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Kalian ini benar-benar tidak sopan, tega-teganya kalian mencurigai seorang gentleman sepertiku.

"Aku akan menggunakan trik sihir agar Eris bisa berdansa."

"Eh! Apa ada sihir seperti itu?"

"Bukan, ini trik sihir, bukan sihir sebenarnya. Ini adalah fenomena yang ajaib."

Eris memiringkan kepalanya dengan bingung, tapi dia mau mendengarkan saranku dan menutup kedua matanya.

Saat belajar ilmu pedang, dia telah melihat banyak ritme gerakan tubuh, seperti gerakan dengan kecepatan tinggi, gerakan yang halus, gerakan yang tajam, namun tidak ada ritme yang beraturan.

Karena kau tidak bisa membuat prediksi yang akurat, akan mudah jadinya untuk mengacaukan ritme lawan, dan aku sudah pasti tidak bisa melakukan ritme aneh secara alami seperti itu.

"Aku akan menepuk tanganku sekarang, dan melangkahlah layaknya kamu tengah menghindari sebuah serangan, dan ikutilah arahanku."

Dengan begitu, aku mulai menepuk tanganku secara beraturan, plok~, plok~, plok~.

Eris menyesuaikan gerakannya, selangkah demi selangkah dengan cara menggerakkan badannya.

Hal itu berlanjut untuk beberapa saat, dan aku menambahkan bunyi-bunyi lain dengan selang waktu acak.

"Haii! Haii!"

Timing-nya adalah sesaat sebelum aku menepuk tangan, Eris akan memperlambat gerakan tubuhnya untuk sesaat, dan hanya bereaksi ketika dia mendengar suara tepuk tanganku.

"O, oh, ini.!"

Edona tampak terkejut.

Eris melanjutkan tariannya, dan sekalipun langkahnya sedikit terlalu cepat, tapi gerakannya masih bisa diikuti.

"Anda berhasil, anda berhasil Ojou-sama!"

"Benarkah!?"

Edona menggenggam kedua tangan Eris dan menunjukkan senyum gembira yang jarang terlihat sambil berteriak.

Eris membuka kedua matanya dengan senang hati dan menjawab dengan senyum lebar di wajahnya.

"Ini masih belum selesai, jangan buka matamu dulu, kamu harus mengingat perasaan itu, oke?"

"Ingat apanya, itu kan cuma menyadari mana serangan yang palsu, dan menghindari serangan yang asli!!"

Itu benar, hal itu juga diajarkan di kelas ilmu pedang.

Saat Ghyslaine mengajari bagaimana caranya untuk menghindari serangan lawan, dia akan mendemonstrasikan pergerakan palsu dengan mengeluarkan bunyi, dan kami harus menghindari serangan yang sesungguhnya tanpa merasa bingung oleh pergerakan palsu lawan.

Dibandingkan dengan bereaksi terhadap pergerakan palsu Ghyslaine yang penuh dengan hawa membunuh, mengikuti bunyi sederhana yang aku keluarkan tentu jauh lebih mudah.

Sebagai catatan, dalam topik ini hasilku lebih bagus ketimbang Eris.

Dia itu terlalu polos dan gampang tertipu oleh pergerakan palsu.

"Eris, hal-hal yang kamu pelajari di kelas, bisa diterapkan di kelas lain. Terkadang kalau ada sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan dengan baik, coba kamu ingat-ingat apakah ada pelajaran lain yang memiliki sesuatu yang mirip, jadi coba pikirkan itu baik-baik, oke?"

Eris membuka matanya lebar-lebar, hal yang tidak biasa, tapi dia tidak membantah dan hanya mengangguk.

Dengan begitu, harusnya kelas dansa tidak memiliki masalah lagi.

"Rudeus-sama memang hebat, anda hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk berhasil mengajarkan matematika kepada Ojou-sama."

Edona kelihatannya merasa kagum denganku.

Tapi kalau kau berkata begitu, apa itu berarti kau menganggap kalau Eris tidak memiliki harapan lagi untuk mempelajari matematika?

Hm, tapi aku memang mendapat banyak masalah dalam hal itu. Meski begitu, aku bisa sukses mengajari matematika karena dibantu oleh Ghyslaine, jadi aku tidak boleh sombong.

"Oh iya, Edona, aku pikir ilmu pedang memiliki kemiripan dengan dansa."

Edona menunjukkan ekspresi tidak percaya, Aku telah melihat sebuah keajaiban, ohhh dewa yang ada di luar sana, sebenarnya sekarang kau sedang berada di hadapanku dan mengambil alih ekspresinya, ‘kan? Kau ini terlalu berlebihan.

"Tapi, ada tarian yang memang khusus dilakukan sambil mengayunkan pedang."

"Ara, benarkah ada tarian seperti itu?"

"Y, ya, aku pernah membacanya di buku."

Tarian pedang adalah hal yang biasa dalam pengetahuan Chuunibyou milikku, tapi mungkin saja dunia ini tidak memiliki tarian seperti itu.

"Darimana buku tersebut berasal?"

"B, buku itu berasal dari negara yang ada padang pasirnya."

"Padang pasir. apakah itu Begaritto?"

"Aku tidak yakin. Bisa saja tarian itu berasal dari ras iblis yang tinggal di benua iblis. Aku dengar ada banyak suku-suku kecil di sana, dan ada orang-orang yang mampu menggunakan pedang untuk menari."

Aku baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

"Saya mengerti, dengan banyaknya pengetahuan yang anda miliki, Rudeus-sama benar-benar seperti sumber kecerdasan."

Edona kembali menunjukkan wajahnya yang tanpa ekspresi, dan tampaknya ia menerima cerita yang aku buat-buat.

"Itu benar, Rudeus itu luar biasa!"

Aku tak tahu kenapa Eris dengan bangga menjawab seperti itu.

Itu bagus, puji aku lebih banyak.

Aku adalah tipe orang yang akan mengalami peningkatan saat menerima pujian, fuahahahaha!

Hari H pun tiba, dan aku hanya mengambil posisi di pojokan halaman.

Di awal pesta, Philip dan istrinya bertugas untuk menangani bangsawan kelas menengah dan bawah yang berkunjung ke mansion.

Di saat Sauros bertugas untuk menerima tamu, mereka malah merasa takut dengan sikap liar dan suaranya yang lantang, dan ada lumayan banyak orang yang berusaha melarikan diri.

Kesempatan terakhir untuk menangkap orang-orang yang melarikan diri tersebut terletak di tempat dimana sang tokoh utama pesta berada.

Eris tidak memiliki kewenangan apapun, tidak memahami politik, dan tidak peduli siapapun lawan bicaranya, dia akan berkata “Silahkan bertemu Otou-sama”.

Ada beberapa remaja berwajah tampan yang memperkenalkan diri, dan juga orang-orang tua yang memperkenalkan anak mereka kepada Eris.

Ada beberapa anak yang kira-kira berumuran sama dengan Eris, tapi hampir semuanya berbadan gendut.

Mereka pasti hidup dengan nyaman di rumah, seakan-akan aku melihat sosokku sendiri pada kehidupan sebelumnya.

Saat aku memikirkan itu, pesta pun dimulai.

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, aku akan menjadi pasangan dansa Eris yang pertama. Kami akan melakukan tarian yang paling sederhana untuk anak-anak, tapi karena Eris adalah aktor utama dalam pesta ini, kami berdiri tepat di tengah-tengah halaman.

Anggap saja ini sebagai latihan, aku harap kami tidak gagal,

"A. a. a. apa-apaan ini.!"

Eris benar-benar merasa sangat gugup dan bergerak kaku seperti robot.

Aku memutuskan untuk mencampur sedikit tipuan dalam langkahku. Setelah itu, Eris menggumam "apa-apaan ini!" dengan suara pelan, dan kondisinya pun kembali normal.

Setelah selesai berdansa, Edona mencariku untuk membicarakan sesuatu.

Dari kejauhan, bisa dilihat kalau Oujo-sama sudah tidak merasa tegang lagi.

Edona bertanya, apa yang aku lakukan saat berdansa, dan aku menjawab kalau aku melakukan hal yang sama saat aku sedang latihan.

Aku menambahkan kalau hal yang aku lakukan sebenarnya berasal dari latihan berpedang.

Mendengar itu, Edona yang tadinya merasa kagum, kini diam-diam tertawa.

Karena misiku sudah selesai, aku bisa pergi dan mencari makanan.

Ada banyak makanan yang tidak biasa tersedia di sini.

Contohnya, ada buah yang tidak aku ketahui asal-usulnya, yang dibuat menjadi kue pie asam, atau hidangan yang menggunakan seluruh bagian dari kepala sapi, dan kue-kue yang ditata dengan indah.

Saat aku menikmati makanan-makanan tersebut, tatapanku bertemu dengan tatapan Ghyslaine.

Dia tidak memberikan isyarat apa-apa dengan tatapannya, tapi aku bisa melihat dengan jelas kalau mulutnya meneteskan air liur.

Aku juga seorang pria yang bisa memahami situasi lho.

Aku mengambil beberapa makanan dengan menggunakan serbet, dan meminta bantuan seorang pelayan untuk mengirim makanan itu ke ruanganku.

Para pengawal dan pelayan bisa menikmati makanan yang lebih baik dari biasanya, tapi makanan seperti yang tersedia di pesta ini tidak akan tersedia di tempat lain.

Saat aku hampir selesai memindahkan makanan ke ruanganku, aku tiba-tiba menyadari ada seorang gadis muda yang manis dihadapanku.

Dia mengambil inisiatif untuk berbicara denganku, memperkenalkan namanya, dan mengucapkan sambutan singkat.

Sepertinya dia adalah gadis yang berasal dari keluarga bangsawan menengah, tapi aku lupa namanya.

Dia memintaku untuk berdansa, dan setelah aku memberitahu dia kalau aku hanya bisa melakukan gerakan dasar, kami pergi menuju area halaman yang kosong.

Aku merasa kalau aku berdansa dengan cukup bagus.

Setelah kami selesai berdansa, ada gadis lain yang datang menghampiriku untuk mengajakku berdansa lagi.

Apa yang. hey, jangan-jangan aku populer?

Sembari memikirkan itu, satu demi satu gadis terus mengundangku untuk berdansa.

Bahkan ada seorang bibi yang umurnya sudah lewat 30 tahun, dan bahkan ada juga anak lebih kecil dariku yang tidak tahu cara berdansa.

Selain dengan orang yang memiliki perbedaan tinggi badan yang terlalu besar, pada dasarnya aku berdansa dengan semua orang yang menghampiriku.

Aku adalah orang Jepang yang tahu bagaimana caranya untuk mengucapkan kata TIDAK, tapi setelah menjawab OK kepada orang pertama, rasanya tidak enak kalau aku menolak orang lain.

Sekalipun aku memiliki niat untuk melakukan itu, tapi aku tidak benar-benar ahli dalam mengingat wajah dan nama orang, dan itu membuatku lelah.

Saat semuanya hampir berakhir, Philip menghampiriku untuk menjelaskan situasiku saat ini.

Sepertinya Sauros mendengar ada seseorang yang penasaran dengan identitas anak muda yang berdansa dengan Eris di awal pesta, dan Sauros dengan bangga mengumumkan bahwa anak muda itu adalah seseorang yang memiliki nama Greyrat.

Yang artinya, semua ini adalah kesalahannya Sauros Jii-san.

Meski begitu, aku tidak bisa menyalahkan dia.

Anak yang berhasil menghilangkan ketegangan Ojou-sama, apakah dia anak rahasia Sauros-sama?

Dia pasti merasa senang saat diberi pertanyaan seperti itu.

Pada mulanya kami berencana untuk tidak membeberkan fakta bahwa aku memiliki nama keluarga Greyrat, tapi setelah 3 ronde minum bir, terbuka sudah rahasianya.

Ini artinya aku dianggap sebagai anggota dari keluarga cabang, dimana nantinya cepat atau lambat aku akan menjadi terkenal, dan mereka pun akan mengirim anak maupun cucu mereka untuk menghampiriku.

Tapi aku bertanya kepada Philip, kalau memang situasinya seperti itu, bukannya aneh untuk menghampiriku saat pestanya sudah hampir berakhir?

Dia melihatku mengambil makanan dengan serbet, dan menungguku sampai selesai sebelum melanjutkan pembicaraan.

Apapun yang aku lakukan, akan tercerminkan di mata seseorang.

Aku bertanya kepada Philip tentang bagaimana cara untuk menangani gadis-gadis yang datang menghampiriku, dan dia bilang aku hanya perlu merespons dengan jawaban yang samar-samar.

Sepertinya dia tidak mau aku ikut berpartisipasi dalam politik di masa depan.

Atau apakah dia berencana membuatku bergantung kepada orang lain untuk mendapatkan kekuatan politik?

Tapi aku tidak memiliki sedikitpun rasa ketertarikan dalam hal itu, jadi populeritasku saat ini hanyalah mimpi sesaat.

Tapi, tunggu dulu, kalau aku bisa menjadi seseorang yang luar biasa, aku bisa melahap seluruh gadis-gadis manis dengan uang yang aku miliki.

"Tapi, aku sarankan agar kamu tidak melakukan hal-hal yang akan mencemarkan nama Greyrat."

Inspirasiku yang tiba-tiba muncul itu langsung dipadamkan oleh ucapan Philip yang dingin.

Orang terakhir yang datang menghampiriku adalah Eris. Sebagai catatan, kali ini dia mengenakan gaun berwarna biru laut, dan tidak mengenakan pakaian meriah yang biasa ia gunakan.

Rambut merahnya diikat dengan hiasan ornamen bunga, dan dia tampak sangat manis.

Karena ini adalah pesta pertama yang ia hadiri, ia terus didatangi oleh tamu, dan aku pikir saat ini dia sudah lumayan kelelahan.

Aku tak yakin, apakah karena dia menjadi aktor utama pesta, atau karena pesta itu sendiri, dia merasa gembira.

"Bolehkah aku berdansa denganmu?"

Di hadapanku bukanlah Eris yang biasanya ribut, tidak sopan, tidak anggun, dan sombong.

Gadis yang mengundangku untuk berdansa ini adalah seseorang yang tidak kalah hebat dari semua gadis yang menghampiriku sebelumnya, dan bersikap seperti seorang wanita yang anggun.

Kami pergi ke tengah aula, dan musik mulai memainkan sesuatu yang belum pernah kami pelajari sebelumnya, dengan ritme yang sedikit sulit dan cepat.

"Ahh, uuuu"

Eris langsung menunjukkan ketidak nyamanan yang ia rasakan. Ini semua gara-gara kamu bersikap sok dewasa.

Eris melirik ke arahku untuk meminta bantuan, dan aku pun menambahkan gerakan tipuan untuk menyesuaikan diri dengan musik.

Sekalipun tarian kali ini berbeda dari biasanya, ritme cepat seperti ini harusnya lebih mudah bagi Eris.

Karena langkah kaki kami kelihatan agak samar, aku tak yakin apakah Edona akan merasa terkejut atau marah saat dia melihat kami.

Kedua tangan kami saling berpegangan, dan kami pun melangkah maju dan mundur layaknya sedang berlatih ilmu pedang.

Gerakan kami yang sangat tidak biasa, digabungkan dengan musik yang diputar, pasti tampak cukup unik bagi orang-orang yang melihatnya.

Tapi Eris benar-benar tenggelam dalam tarian kami, dan dia pun tersenyum.

Gadis yang biasanya terus menunjukkan ekspresi cemberut, kini tengah tertawa dengan ekspresi yang sesuai dengan umurnya sekarang.

Hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saat ini, membuatku merasa puas karena telah menghadiri pesta ini.

Usai berdansa, semua orang memberikan tepuk tangan.

Sauros berlari menghampiri kami dan kemudian menggendong kami berdua di pundaknya, setelah itu ia berlari mengelilingi halaman sambil tertawa riang.

Benar-benar kakek yang penuh dengan semangat. Melihat itu, orang-orang yang ada di sekitar pun juga ikut tertawa.

Yah, ini adalah pesta yang menyenangkan.

Saat pestanya sudah berakhir, aku memanggil Ghyslaine dan Eris ke dalam kamarku, sebenarnya memanggil Ghyslaine saja sudah cukup, tapi saat aku mengundang dia, ternyata dia sedang bersama dengan Eris, jadi aku juga ikut mengajak Eris.

Melihat ada makanan-makanan lezat di atas meja, perut Eris pun keroncongan. Saat pesta, dia terus merasa gugup dan gembira, jadi dia tidak makan sama sekali.

Dari lemari, aku mengeluarkan anggur murah yang aku beli di kota.

Sekalipun aku mempersiapkan itu untuk Ghyslaine, Eris bilang kalau dia juga ingin meminumnya, jadi aku mempersiapkan 3 cangkir, cheers.

Hukum di negara ini menyebutkan bahwa orang baru diijinkan untuk minum minuman keras setelah mereka mencapai usia 15 tahun, tapi untuk hari ini aku akan mengesampingkan itu.

Terkadang terbebas dari aturan itu adalah hal yang baik.

"Waktunya juga pas, jadi aku akan memberikan hadiah kepada kalian berdua."

Aku mengeluarkan dua tongkat sihir dari laci yang ada di samping kasur.

"A-apa itu?"

"Yah, bisa dibilang ini adalah hadiah ulang tahunmu, mungkin."

"Ehh, tapi aku mau itu!"

Eris menunjuk ke arah benda-benda yang aku ciptakan saat aku berlatih ilmu sihir, menggunakan sihir tanah untuk menciptakan model-model kecil yang rumit.

Ada seekor naga, kapal, dan patung Sylphy berukuran 1/10 yang terletak di sana.

Bukan maksudku untuk pamer, tapi waktu aku berumur 20 tahun di masa lalu, aku memiliki hobi merakit model, dan aku membuat cat pelapisku sendiri.

Tapi di sini, bahan-bahan untuk mewarnai memiliki harga tinggi, dan tidak ada peralatan yang bisa digunakan untuk menyemprot.

Tapi karena aku menciptakan model-model tersebut dengan penuh gairah, khususnya pada bagian celana dalam, secara menyeluruh model figure buatanku pun tampak mendetail.

Meski begitu, tetap saja semua model tersebut dibuat oleh orang yang masih amatiran.

Omong-omong, patung kecil Roxy berukuran 1/10 aku jual ke pedagang seharga 1 koin emas.

Saat ini dia pasti sedang pergi mengelilingi dunia.

Yah, kembali ke topik awal.

"Ini adalah tradisi Shishou-ku untuk memberikan tongkat sihir kepada murid. Aku tak tahu bagaimana cara membuatnya dan aku tidak memiliki cukup uang untuk membeli material yang dibutuhkan, jadi aku sedikit terlambat membuatnya. Kalau bisa, tolong terimalah."

Ghyslaine berhenti makan setelah mendengar ucapanku, kemudian ia berdiri dan berlutut satu kaki dengan hormat.

Ah, aku tahu ini, ini adalah pose milik teknik Pedang Dewa untuk menunjukkan rasa hormat kepada sang guru.

"Baik! Rudeus-shishou, saya menerima ini dengan penuh rasa syukur."

"Umu, kamu tak perlu bersikap formal seperti itu."

Ghyslaine menerima dan mengamati tongkat pemberianku dengan penuh hormat, sepertinya dia merasa senang.

"Sekarang aku bisa menyebut diriku seorang penyihir."

Ah, begitu, jadi sekarang kau bisa menyebut dirimu seperti itu?

Aku tak pernah mendengar Roxy bicara soal itu, tidak, lagipula kamu hanya bisa menggunakan sihir tingkat dasar, jadi itu masih belum masuk hitungan, ‘kan?

Atau bisakah kau menyebut dirimu sendiri sebagai seorang penyihir kalau kau mulai mempelajari ilmu sihir?

Shishou-ku tak pernah menjelaskan itu kepadaku secara mendetail.

"Erm, Eris, apa kau mau ini?"

Aku setengah bercanda sembari meraih patung Sylphy berukuran 1/10, dan membawanya dengan kedua tanganku, tapi aku melihat Eris menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Aku mau tongkat itu! Aku mau tongkat itu saja!"

"Baik, ini."

Eris menjulurkan tangannya untuk mengambil tongkat itu, tapi mungkin karena ia melihat sikap yang ditunjukkan Ghyslaine, ia buru-buru membenarkan postur tubuhnya, dan menerima tongkat sihir dengan kedua tangannya dan dengan penuh hormat.

"Tw, terima kasih banyak, Rudeus-shishou."

"Umu, jagalah itu dengan baik-baik."

Eris selanjutnya melirik ke arah Ghyslaine, dan setelah Ghyslaine menyadari itu, ia berhenti untuk sesaat, kemudian menggelengkan kepalanya.

"Maafkan aku, rasku tidak memiliki tradisi seperti itu, jadi aku tidak mempersiapkan apa-apa."

Aku tadinya penasaran dengan apa arti lirikan Eris, jadi ternyata dia meminta hadiah.

Ah, Eris duduk di sofa dengan ekspresi kecewa.

Seorang pelayan memberikan hadiah kepada tuannya, sekalipun memang tidak ada tradisi seperti itu, tapi melihat Eris tidak menerima apapun dari Ghyslaine-nee-chan kesayangannya, itu membuatku merasa kasihan.

Ijinkan aku untuk sedikit memperbaiki situasi ini.

"Ghyslaine, kamu tidak perlu mempersiapkan sesuatu yang spesial, kalau kamu memiliki sesuatu, atau jimat keberuntungan pun, itu bisa diberikan sebagai hadiah."

Ghyslaine berpikir untuk sesaat dan melepas sebuah cincin yang ia kenakan di jarinya.

Cincin yang diukir dari kayu, yang kelihatan sudah lumayan berumur, aku tak yakin apakah ada sihir yang tersimpan pada benda itu, ataukah memang seperti itu karakter materialnya, tapi cincin itu memancarkan sedikit cahaya berwarna hijau.

"Ini adalah jimat yang diwariskan secara turun menurun oleh rasku. Kabarnya kalau kamu memakai cincin ini, kamu tak akan diserang oleh serigala jahat di malam hari."

"Apa kamu benar-benar mau memberikan itu kepadaku?"

"Iya, karena itu hanya takhayul."

Eris menerimanya dengan hati-hati, memasangkan di jarinya, dan memeluk tangannya erat-erat di dadanya.

"A, aku akan menjaganya dengan baik."

Dia bahkan lebih bahagia dibandingkan saat dia menerima tongkat sihir dariku, yah, karena itu cincin, perempuan mungkin akan lebih menyukainya.

Saat ini, sebuah pertanyaan melintas di dalam pikiranku.

"Takhayul, eh? Jadi itu artinya Ghyslaine pernah diserang oleh serigala jahat di malam hari?"

"Ya, pada waktu itu aku kesulitan tidur di malam hari, lalu Paul mengajakku menyelam"

"Aaah, lebih baik jangan dilanjutkan ceritanya, aku bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya."

Gawat, kalau topik ini berlanjut, penilaian mereka terhadapku akan menurun. Paul sialan, si brengsek itu terus-terusan menggangguku.

"Oh begitu, yah, kamu mungkin tak ingin mendengar tentang hal-hal yang dilakukan oleh ayahmu."

"Bukannya itu sudah jelas . nih, makanlah. Sekalipun sudah dingin, nikmatilah makanannya. Kalian berdua adalah muridku, jadi tidak perlu sungkan."

Hari ulang tahun Eris yang berkesan berhasil kami lalui tanpa ada masalah yang berarti.

Hari selanjutnya aku melihat ada Eris yang terbaring disampingku.

Wooah, aku sudah menjadi dewasa, tidakkk (malu).

Bagaimana mungkin.

Mari kita sedikit memutar waktu kebelakang.

Eris tiba-tiba merasa ngantuk, dan jatuh kelelahan di kasurku.

Melihat itu, Ghyslaine berkata kalau dia juga harus pergi, dan pada akhirnya meninggalkan Eris dan kembali ke kamarnya sendiri.

Bukan pria namanya kalau kamu melihat ada hidangan yang disajikan di hadapanmu, dan kamu tidak berani mengambilnya.

Gehehehe, ini waktunya untuk menjadi anak nakal.

Aku menjilat bibirku seperti yang biasa dilakukan oleh orang jahat dan mendekati pojokan kasur.

Kemudian aku melihat cincin pemberian Ghyslaine yang terpasang di jari tangan Eris, dan dia memeluk erat tongkat sihir yang aku berikan; Eris sedang tertidur pulas dengan senyum puas di wajahnya.

Serigala besar jahat dengan tampang memuakkan telah berhasil diusir.

"Jimat itu benar-benar berguna"

Gumamku, tanpa sedikitpun menyentuh Eris, dan aku pun tidur tanpa suara di pojokan kasur.

Saat ini masih pagi, aku melihat keluar jendela, matahari masih belum terbit, dan langit masih sangat gelap.

Aku pergi keluar untuk jalan-jalan sebentar. Sekalipun melihat wajah tidur Eris bukanlah hal yang buruk, tapi aku pasti akan mendapat pukulan setelah dia bangun.

Aku tak mau dipukuli.

Aku pergi meninggalkan kamar tanpa mengeluarkan banyak suara dan berjalan di koridor yang dingin, sambil memikirkan kemana enaknya tujuanku selanjutnya.

Gerbang utama mansion tidak akan terbuka sebelum waktu yang ditentukan tiba, jadi aku tidak bisa keluar, dan pilihan yang tersedia pun sangatlah sedikit.

Pada dasarnya aku sudah berkeliling kesana-kemari dalam beberapa tahun terakhir, tapi masih ada beberapa area yang tidak aku ketahui, contohnya, ada menara yang terpisah dari bangunan utama.

Sekalipun aku sudah diberitahu untuk tidak mendekati menara itu, aku masih tetap penasaran dengannya.

Atau mungkin, bisa saja aku mendapatkan sesuatu yang bagus, misal celana dalam seseorang yang sudah dikeringkan oleh hembusan angin.

Sambil memikirkan hal-hal bagus seperti itu, aku memanjat ke bagian atas mansion, dan setelah menelusuri tempat itu untuk beberapa saat, aku akhirnya menemukan sebuah tangga berputar.

Itu mungkin adalah pintu masuk menuju menara.

Saat aku menaiki tangga tersebut, aku mendengar bunyi nyan~, nyan~ yang menggiurkan, jadi aku berusaha untuk naik tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Sauros berada di lantai tertinggi, di dalam sebuah ruangan yang aku tidak yakin bisa dimasuki atau tidak, dan sedang melakukan sesuatu yang sangat nakal terhadap seorang Nekomimi Maid.

Oh begitu, jadi itu alasan kenapa kamu tidak mengijinkan orang lain untuk datang kemari.

Aku ingin menikmati pemandangan itu hingga akhir, tapi aku ketahuan oleh Sauros.

Sebenarnya aku sudah ketahuan lebih dahulu oleh si maid, dan setelah pelayan itu menyelesaikan urusannya, dia langsung pergi melewatiku dan menuruni tangga.

"apakah itu kau Rudeus?"

Suaranya terdengar kecil dan stabil, berbeda dari biasanya. Apakah dia memasuki mode orang bijak?

"Benar, Sauros-sama. Selamat pagi."

Aku hendak menyapanya dengan sikap formal yang biasa ditunjukkan oleh bangsawan, tapi Sauros menghentikanku dengan tangannya.

"Tak perlu, apa yang kau lakukan di sini?"

"Saya melihat ada tangga, jadi saya ingin menaikinya."

"Apa kau suka tempat yang tinggi?"

"Ya."

Sekalipun aku mengatakan itu, kalau aku melihat keluar jendela, kakiku pasti akan gemetaran.

Rasa suka dan kepuasan itu berbeda, sekalipun aku berhasil menguasai dunia dan menciptakan menara yang paling tinggi, aku tetap akan membangun ruanganku di lantai pertama.

"Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Sauros-sama di sini?"

"Aku berdoa kepada batu permata itu."

Ahh? Budaya berdoa di mansion ini kelihatannya sudah ditinggalkan, tapi aku tidak terlalu memikirkan itu.

Dia biasanya bersikap tegas, tapi dia juga merupakan anggota dari keluarga Greyrat.

"Batu permata?"

Aku melihat keluar jendela, dan ada sebuah batu permata berwarna merah yang melayang di udara. Batu permata itu tampak berdenyut dan mengeluarkan cahaya redup, dan aku bisa melihat ada sesuatu yang bergerak di dalamnya.

Apa itu, keren sekali. Apakah batu permata itu melayang di udara karena sihir?

"Boleh saya tahu, apa sebenarnya batu itu?"

"Aku sendiri tidak yakin."

Sauros menggelengkan kepalanya.

"Batu itu ditemukan 3 tahun yang lalu, tapi, itu bukanlah sesuatu yang buruk."

"Bagaimana bisa anda begitu yakin?"

"Lebih baik kita menganggapnya seperti itu."

Aku mengerti. Memang benar, karena benda itu tidak bisa diraih, kalau kau menganggap benda itu sebagai sesuatu yang buruk, itu tidak akan baik bagi kesehatanmu. Jadi lebih baik anggap saja benda itu sebagai sesuatu yang baik dan berdoa kepadanya, mungkin suasana hati tuan batu permata akan menjadi lebih baik.

Ijinkan aku untuk ikut berdoa, tolong jatuhkanlah gadis cantik dari langit ke dalam pangkuanku.

"Rudeus, aku hendak menunggangi kuda untuk berkeliling sebentar, apa kau mau ikut?"

"Saya mau."

Sauros jii-san pernah melakukan itu sebelumnya, tapi kelihatannya kali ini dia lumayan bersemangat. Hari ini adalah hari libur, dan sepertinya aku diijinkan untuk bermain.

Oh yeah! Kedengarannya hari ini bakal jadi melelahkan.

"Kalau dipikir-pikir."

"Apa?"

"Apakah istri Sauros-sama tidak tinggal di sini?"

Aku mendengar bunyi gertakan, dan menyadari bahwa Sauros sedang menggertakkan giginya, dan keringat dingin pun mengalir di punggungku.

"Dia sudah tiada."

"Um, saya benar-benar minta maaf karena telah menanyakan hal tersebut."

Aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh, dia barusan melakukan hal ini dan itu dengan Nekomimi maid, dan mungkin aku telah membuatnya mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan.

Sepertinya akan lebih baik kalau aku tidak bertanya, kenapa Eris tidak memiliki saudara kandung.

"Kalau begitu, ayo berangkat."

"Baik."

Hari ini akan digunakan untuk beristirahat, dan aku akan menyuruh Eris untuk berusaha keras mulai keesokan harinya