Minggu, 10 Juli 2022

Mushoku Tensei Jilid 2 Bab 8 - Titik Balik Sudut pandang orang ketiga

Istana Kerajaan Shirone.

Roxy dengan santai melihat keluar jendela dan mengernyitkan dahinya.

Warna yang ada di langit sangatlah aneh, ada abu-abu, hitam, ungu, dan kuning.

Warna biru yang biasanya tidak tampak.

Tapi warna tersebut sebelumnya pernah terlihat di suatu tempat.

"Apa itu………"

Sekalipun dia pernah melihat warna itu sebelumnya, tapi Roxy belum pernah melihat warna langit berubah seperti itu.

Tapi hanya dengan melihatnya, siapapun akan tahu, bahwa itu adalah fenomena yang tidak wajar.

Kemungkinan besar ada sesuatu yang menyebabkan Mana menjadi kacau.

Skala sebesar itu. Dari jauh, langit terlihat seperti pusaran Mana.

Roxy akhirnya ingat dimana dia pernah melihat itu sebelumnya. Lokasi yang bersinar seperti itu pernah ia lihat di Akademi Sihir sebelumnya. Mirip dengan Sihir pemanggilan.

"Lokasi itu berasal dari Asura…… Mungkinkah itu Rudeus?"

Roxy mengingat muridnya, anak muda yang pernah ia ajari.

Anak muda itu mampu menciptakan badai tanpa mengalami kesulitan pada saat masih berusia 5 tahun.

Pada saat itu, dia sudah memiliki kontrol penuh atas Mana yang ia miliki.

Anak itu sekarang berusia 10 tahun. Ada kemungkinan bahwa dia lah yang menyebabkan fenomena ini. Sekalipun di surat yang ia kirim, anak itu berkata kalau dia tidak bisa mempelajari Sihir pemanggilan. Tapi mungkin dia berhasil mendapatkan materi pelajaran Sihir pemanggilan secara kebetulan.

"Pertahananmu terbuka!"

Saat Roxy sedang berpikir keras, dia dipeluk dari belakang, dan buah dadanya diraba, pada waktu yang sama dia juga merasakan ada sesuatu yang keras yang menempel di pantatnya.

"Haaah……"

Roxy menjadi lelah. Sudah jelas, orang tidak akan merasakan apa-apa saat meraba atau menempelkan diri dengan tubuhnya yang diselimuti oleh jubah berukuran tebal.

Ditambah lagi, sekalipun si tersangka bisa merasakan sesuatu, korbannya tidak akan merasa senang.

"Api yang membara, selimuti tubuhku, Burning Place!"

Pelindung yang diselimuti oleh api mampu membuat orang yang memeluknya dari belakang melayang.

Sekalipun dia tidak bisa melakukan mantra tanpa suara, tapi Roxy mampu memperpendek mantra sihir cukup banyak dalam 5 tahun terakhir.

Dan setelah mengetahui bahwa Roxy mulai berlatih untuk memperpendek mantra, Rudeus juga mulai mengajarkan mantra tanpa suara kepada muridnya, tapi itu bukanlah sesuatu yang bisa digunakan dengan mudah.

Anak berbakat itu pasti berharap banyak pada murid-muridnya. Tapi itu bukan berarti semua orang memiliki bakat seperti yang dia miliki.

"Yang mulia, kamu tak boleh meraba dada seorang wanita dari belakang."

"Roxy, apa kau mencoba untuk membunuhku? Aku akan melemparmu ke dalam penjara!"

Pangeran ke-7 yang berusia 15 tahun, Pax Shirone dia adalah seorang bocah yang nakal.

Pada mulanya dia adalah anak yang menarik, tapi belakangan ini dia sepertinya menjadi lebih cabul, dan dengan terang-terangan menunjukkan hawa seksualnya di siang bolong.

"Maafkan aku soal itu, kalau kamu mati karena sihir seperti itu, berarti kemampuan Yang mulia lebih rendah daripada lalat."

"Nggghh! Berani kau menghinaku! Tidak bisa dimaafkan! Kalau kamu mau meminta maaf, buka jubahmu dan biarkan aku melihat celana dalammu!"

"Aku menolak."

Beberapa maid wanita juga sudah menjadi korban dari si pangeran, dan sang raja pun merasa tersiksa karenanya.

Dan belakangan ini dia ingin menjadikan sang guru privat kerajaan sebagai mainannya.

(Memang apa sih menariknya gadis jadul ini?)

Roxy tidak mengerti.

Tapi dia tidak perlu mematuhi segala perintah sang pangeran, tidak peduli permintaan apapun yang dia buat.

Sudah tertulis dengan jelas di kontrak. Sekalipun sang pangeran meminta sesuatu yang egois, guru privat boleh menggunakan penilaiannya sendiri.

Di dalam kastil ini, hanya ada sangat sedikit orang yang mau mendengarkan perintah langsung dari si pangeran. Karena dia adalah pangeran ke-7, kemungkinan untuk dia menjadi raja sangatlah kecil, dan dia hampir tidak memiliki wewenang.

Kalau soal wewenang, Roxy yang ditunjuk sebagai penyihir kerajaan, memiliki lebih banyak memiliki wewenang.

"Roxy, aku tahu kalau kau punya kekasih."

Sang pangeran mulai menggunakan metode lain.

"Hmm? Sejak kapan aku punya kekasih?"

Roxy memiringkan kepalanya dan bertanya, menghadap kepada sang pangeran yang tiba-tiba bicara ngelantur.

Kekasih, sekalipun dia pernah mempertimbangkan untuk mencari orang seperti itu, tapi dari orang-orang yang ia temui, Roxy belum merasa ada yang cocok dengan dirinya.

Bahkan semisal dia bertemu dengan seseorang yang lumayan sesuai dengan kriteria yang ia miliki, mereka tidak akan repot-repot melirik Roxy, karena ciri-ciri yang dimiliki oleh ras migurd, jadi pada akhirnya dia pun menyerah. (umur tua, body remaja)

Sang pangeran sedikit spesial, dan sepertinya dia ingin mencoba untuk merasakan tubuh seperti itu, tapi Roxy tidak berniat untuk menjual dirinya semudah itu.

"Hehehe, aku diam-diam memasuki kamarmu dan menemukan sebuah surat diantara tumpukan barangmu di lemari! Aku tak tahu siapa itu, tapi aku bisa menggunakan wewenangku untuk menghancurkan dia! Kalau kau tak ingin melihatnya di eksekusi dengan kejam, jadilah wanitaku!"

Metode lainnya kira-kira ya seperti itu.

Menggunakan kekasih si target sebagai tawanan dan mengancam agar mereka mau menyerahkan tubuhnya, kemudian memperkosa mereka di hadapan kekasihnya, dan merasa nikmat setelah berhasil mendominasi mereka.

Sang pangeran tentunya tidak memiliki wewenang seperti itu. Meski begitu, dia masih tetap merupakan seorang pangeran, dan dia memiliki pasukannya sendiri, dan sejujurnya, ada rumor dimana ia menculik kekasih para maid untuk dijadikan sebagai tawanan.

(Selera yang buruk. Hanya ada perasaan jijik darinya, hmm.)

Roxy berpikir bahwa beruntung dirinya tidak memiliki kekasih. Semua surat yang berada di kamarnya ditulis oleh Rudeus, dia hanyalah muridnya yang terhormat, dan bukan kekasih.

"Silahkan saja dan lakukan apa maumu."

"Ap! Apa! Aku benar-benar akan melakukannya! Kalau kau mau memohon, lakukan itu sekarang juga! Kalau kau memohon ampunan, kau hanya perlu membayar dengan tubuhmu!"

Sang pangeran itu tidak menggunakan otaknya. Ditambah lagi dia tidak tahu dimana Rudeus berada.

Dengan pendekatan seperti itu, dia pasti belum melihat isi yang tertulis di dalam surat.

"Kalau kau bisa melakukan sesuatu terhadap Rudeus, kau boleh melakukan apapun terhadap tubuhku."

"K, kenapa kau bisa seyakin itu…… Bukannya kau sadar dengan wewenang yang aku miliki!?"

Roxy memang sangat menyadari itu, wewenang yang dimiliki sang pangeran sebagai anggota kerajaan, ada pada tingkat dimana orang lain bisa tertawa dan mengejeknya.

"Rudeus berada di bawah perlindungan bangsawan kelas tinggi, Boreas, di kerajaan Asura."

"Boreas…? Sebagai seorang pangeran, kenapa aku harus takut dengan bangsawan kelas tinggi?"

Dia bahkan tidak tahu nama-nama bangsawan kelas tinggi yang ada di kerajaan Asura. Roxy menghela nafas saat mengetahui fakta tersebut.

(Apa yang diajarkan oleh guru lain kepadanya.)

Empat penguasa Asura, Notus, Boreas, Eurus, Zephyrus, memiliki reputasi yang terkenal.

Bila ada perang yang terjadi di kerajaan Asura, perwira militer dari keempat keluarga di atas lah yang akan menghadapi serangan dari lawan secara langsung.

Bila ada upacara yang diadakan di Shirone, tidak aneh bila ada bangsawan yang memiliki nama-nama di atas untuk datang berkunjung.

Mereka adalah bangsawan yang harus diingat.

"Asura adalah negara yang 10 kali lebih besar daripada Shirone, kalau kau ingin mengirim anggota keluarga mereka menuju tiang gantung, kau akan membutuhkan strategi dan kekuatan politik yang luar biasa tingginya. Dengan wewenang yang dimiliki Yang mulia, itu mustahil."

"A, aku akan mengirim pengawal kerajaanku sebagai pembunuh untuk membunuh dia!"

Mendengar kata pengawal kerajaan, Roxy kembali menghela nafas. Pangeran yang satu ini benar-benar tidak menggunakan otaknya.

"Pengawal kerajaan tidak bisa meninggalkan perbatasan, bukan? Sekalipun mereka mampu melintasi perbatasan, keluarga Boreas sudah mempekerjakan Ghyslaine. Untuk menyusup ke dalam mansion yang berada di dalam kota benteng Roa di teritori Fedoa, di bawah pengawasan Raja Pedang Ghyslaine, dan membunuh seorang penyihir hebat? Apa kau pikir itu mungkin?"

Sang pangeran menggertakkan giginya dan menginjak-injakkan kakinya ke lantai dengan keras, dan melihat hal itu, Roxy kembali menghela nafas.

(Haaa. Bagaimana ya, dia sudah berusia 15 tahun dan masih tidak bisa membaca sepatah katapun.)

Eris Ojou-sama yang berada di bawah pengawasan Rudeus, memiliki sifat seperti hewan buas yang tidak bisa dikekang. Tapi baru-baru ini ada kabar kalau dia sudah berubah menjadi lumayan sopan.

Dibandingkan dengan sang pangeran yang saat ini belajar dari Roxy.

Di masa lalu, dia memang memiliki potensi dan merupakan anak yang manis. Tapi setelah sadar bahwa dia bisa menggunakan wewenangnya sebagai anggota kerajaan, keinginan untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri pun hilang dengan cepat.

Baru-baru ini yang dilakukan sang pangeran di kelas hanyalah tidur. Roxy benar-benar merasa kalau dia tidak memiliki kemampuan untuk menjadi guru yang baik.

"Dan juga, sebentar lagi aku sudah tidak menjadi guru privat Yang mulia lagi, jadi sekalipun kau mengirim pembunuh, kau tetap tidak akan bisa melakukannya dengan tepat waktu."

Sang pangeran terkejut dan menaikkan nada suaranya.

"Ap! Apaaaaa! Aku tidak mendengar apapun soal ini!"

"Salahmu sendiri karena tidak ingat."

Janji Roxy adalah untuk menjadi guru sang pangeran sampai dia menjadi dewasa. Pada mulanya Roxy mengira kalau dia akan tetap bertahan di Shirone kalau dia diminta, sekalipun kontraknya sudah habis.

Tapi ada banyak orang yang menganggap eksistensi Roxy sebagai pengganggu.

Mengundurkan diri adalah keputusan yang bijak.

"Ini kesempatan yang bagus, hmm."

"Kesempatan bagus apa?"

"Langit di barat sana mengalami perubahan mendadak, aku ingin melihatnya."

"A, apa-apaan ini……"

'Aku ingin bertemu Rudeus yang sudah lama tidak aku jumpai', kalimat tersebut tidak keluar dari mulutnya.

Kalau iya, sang pangeran pasti akan mengamuk.

"A, aku masih membutuhkan Roxy! Pelajaranku masih sampai di tengah semester, kan!"

"Apa maksudmu di tengah semester, bukannya kamu selalu tidur?"

"Itu kan salahnya Roxy, kenapa tidak membangunkanku."

"Benarkah? Kalau begitu, guru yang banyak salahnya ini akan segera pergi. Silahkan pekerjakan guru yang bisa membangunkanmu, kalau aku, aku memilih untuk menolak tawarannya."

Roxy merasa kalau dia tidak bisa menjadi guru dari sang pangeran.

Ajarkan satu hal kepada Rudeus, dan dia akan mempelajari 10 sampai 20 hal lain dengan sendirinya. Setelah secara kebetulan bertemu dengan murid seperti itu, Roxy tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjadi guru lagi.

Dan begitulah, Roxy pergi meninggalkan Shirone, dan di tengah-tengah perjalanannya ia diserang oleh prajurit di bawah pimpinan pangeran ke-7, tapi mereka semua berhasil ia pukul mundur.

Pangeran ke-7 mengaku bahwa Roxy menyerang dirinya, dan itu adalah tindakan kekerasan yang tidak bisa dimaafkan, dan kerajaan harus segera mengeluarkan surat perintah penangkapan.

Tapi raja Shirone mengabaikan dia.

Malahan, sang raja memarahi dan menghukum parah sang pangeran karena gagal mempertahankan penyihir air level raja, Roxy Migurd.

Tidak hanya Roxy yang menyadari perubahan di langit, semua orang di segala penjuru dunia juga menyadari itu. Perubahan yang mendadak dan tidak biasa. Seluruh makhluk dengan kekuatan tinggi di dunia telah menyadari fenomena itu.

Di pegunungan Naga Merah 

Dewa Naga generasi ke-100, Orsted, melihat ke langit barat.

"Mana berkumpul di sana…? Apakah ada sesuatu yang tidak beres terjadi?"

Ia menunjukkan ekspresi bingung.

"Yah, aku akan tahu kalau aku pergi ke sana."

Dan dia mulai berjalan langsung ke arah barat, sambil menginjak mayat-mayat naga merah yang ia bunuh dengan sekali serang.

Ada banyak naga dengan jumlah yang tidak terhitung mengitari dirinya, tapi tidak ada satupun diantara mereka yang berani mengambil inisiatif. Mereka tahu, makhluk seperti apa yang sedang berjalan di tanah tersebut.

Mereka tahu bahwa sekalipun mereka menyerang secara bersama-sama, mereka tetap akan terbunuh oleh makhluk tersebut. Pada waktu yang sama, mereka tahu bahwa mereka tidak akan terbunuh bila mereka tidak melakukan apa-apa.

Itulah Dewa Naga, eksistensi yang berada di luar akal sehat dunia ini.

Eksistensi yang tidak boleh dilawan oleh siapapun.

Seekor naga muda yang arogan lainnya tanpa pikir panjang menyerang Orsted, dan dalam sekejap naga tersebut berubah menjadi onggokan daging.

Para naga merah tahu, bila mereka tidak mengganggu eksistensi tersebut, maka mereka akan bisa terbang di langit dengan aman.

Naga merah sudah pasti merupakan makhluk terkuat di Benua Tengah, namun bukan karena kekuatan bertarung mereka, itu karena mereka memiliki kecerdasan, dan karena itulah mereka dianggap sebagai makhluk yang kuat.

Para naga merah tahu.

Yang sedang berjalan dibawah mereka itu adalah makhluk terkuat di dunia, sekalipun mereka menggabungkan seluruh kekuatan untuk melawan Orsted, mereka tetap tidak akan mampu mengalahkannya.

Orsted perlahan berjalan menuruni gunung, dibawah pengawasan para naga merah…… Tidak ada yang tahu apa tujuan yang ia miliki.

 Di dalam Kastil Langit 

Salah satu dari 3 pahlawan, Raja Naga Berarmor Pergius tengah melihat ke arah langit utara.

"Benda apa itu? Cahayanya mirip seperti saat Kaisar Iblis Agung hendak bangkit dari kematiannya."

Berdiri di sampingnya, adalah seorang wanita dari ras langit yang memiliki sepasang sayap berwarna hitam dan mengenakan topeng burung berwarna putih.

"Kualitas Mana-nya terlalu berbeda."

Ucap wanita itu.

"Ya, cahayanya lebih mirip seperti Sihir pemanggilan."

"Tapi ukuran cahaya itu…… Rasanya aku pernah melihat itu di suatu tempat."

"Ukurannya sangat mirip dengan saat Kastil Langit ini diciptakan."

Pergius bergerak.

Saat ini Pergius sedang duduk di singgasana Kastil Langit, Chaos Breaker. Ia memimpin kedua belas pengawalnya dan terus mengamati langit dengan hanya satu tujuan di dalam pikirannya.

Balas dendam. Setelah Dewa Iblis Laplace hidup kembali, Pergius akan mengalahkannya.

Dia hanya menunggu sampai segel yang mengunci Laplace menghilang, dan dia menunggu di atas langit.

"Apa mungkin segel Dewa Iblis dihilangkan oleh Kaisar Iblis Agung?"

"Mungkin saja. Ketidakaktifan Kaisar Iblis Agung sejak hidup kembali 300 tahun yang lalu terasa seperti pertanda buruk."

"Baiklah. Arumanfi!"

"Hadir."

Pria yang mengenakan pakaian berwarna putih dan topeng berwarna kuning, berlutut di hadapan Pergius.

"Pergilah sekarang dan selidiki…… Tidak, karena itu sudah pasti adalah sesuatu yang buruk. Kalau ada orang yang mencurigakan, bunuh mereka."

"Dimengerti."

Raja Naga Berarmor Pergius telah mengambil tindakan.

Diikuti oleh 12 pengawalnya.

Demi membalaskan dendam 4 rekannya yang ia sayangi.

Kali ini, pasti, dia dapat membunuh Laplace.

Di Tanah Pedang Suci 

Dewa Pedang Gal Farion tengah melihat langit selatan.

"Langit itu….. Aku tau."

Saat dia mengalihkan konsentrasinya untuk mengamati langit, dua muridnya yang manis menyerang pada waktu yang bersamaan.

"Saat aku sedang melihat hal lain, jangan menyerang."

Dibandingkan dengan kedua muridnya yang bernafas berat, dia tetap tenang.

Dewa Pedang merasa kalau kedua muridnya tidak menggunakan akalnya seperti biasa.

Sekalipun mereka memiliki gelar Kaisar Pedang, tapi kemampuan mereka hanya sebatas itu.

Bosan, bosan.

Kau tidak perlu menjadi terkenal saat mempelajari teknik berpedang.

Kau hanya perlu menjadi kuat, cukup itu saja.

Kalau kau ingin ketenaran, itu hanya untuk uang dan kekuasaan belaka.

Kedua hal itu sama sekali tidak memiliki nilai, dan mereka bisa dengan mudah didapatkan oleh siapapun, aku akan menebas keduanya dengan pedangku.

Kalau kau menjadi kuat, kau bisa melakukan hal apapun yang kau mau.

Kau bisa menganggap dirimu hidup bila kau mampu melakukan apapun yang kau inginkan.

Ghyslaine lah yang paling mengetahui itu, tapi perlahan-lahan dia mulai menjadi lunak.

Dia tidak mengalami peningkatan setelah mencapai tingkat Raja Pedang.

Orang yang serakah tidak perlu mengayunkan pedang untuk menjadi kuat.

Setelah kau mendapatkan kekuatan, keserakahanmu akan berkurang.

Ghyslaine yang sekarang tidak akan bisa mengalami peningkatan, keserakahan yang ia miliki tidaklah cukup.

Kedua muridku ini bukanlah orang yang tidak memiliki bakat, namun dengan hasrat yang membosankan seperti itu, mereka hanya akan bisa mencapai tingkat Kaisar Pedang.

Untuk bisa bertahan hidup dalam pertarungan hidup dan mati, kau harus memiliki hasrat yang tidak ada habisnya.

"Oi, oi, cepat bangun. Sekalipun kalian mengalahkanku dan bertarung satu sama lain, jangan pikir kalian bisa mendapatkan gelar Dewa Pedang!

Uang bisa kalian hamburkan dengan ember, wanita mulai dari budak sampai putri bisa kalian bariskan dan kalian sodok pantat-pantatnya, hanya dengan mendengar nama kalian bisa membuat siapapun ketakutan setengah mati, kalian bahkan bisa menebas lautan prajurit dengan setiap langkah yang kalian ambil, ‘kan!"

"Aku tidak belajar ilmu pedang dengan alasan seperti itu!"

"Shishou! Jangan meremehkanku!"

Benar.

Jujurlah pada dirimu sendiri.

Dengan itu, kalian akan bisa melampaui dan membunuhku dengan mudah, dan mencuri gelar Dewa Pedang.

Pada saat ini Dewa Pedang sudah lupa akan peristiwa yang sedang terjadi di langit selatan.

Di suatu tempat yang tidak di ketahui di Benua Iblis

Kaisar Iblis Agung Kishirika Kishirisu sedang mendongak ke atas.

"Hah! Sekalipun diriku membelakangi itu, diriku masih bisa melihatnya! Bagaimana! Menakjubkan bukan?"

Tapi tidak ada jawaban yang muncul, karena memang tidak ada satupun orang disekitarnya.

"Kalian mengabaikan diriku! Wahahaha! Tidak apa, tidak apa, diriku akan memaafkan kalian para manusia! Kalau dipikir-pikir, tidak ada manusia yang menghampiri diriku gara-gara era yang damai ini, jadi tidak ada pilihan lain bagi diriku selain untuk memaafkan para manusia! Wahahaha, fuhahahaha, fuhah krrgh uhuk…… uhuk uhuk uhuk."

Kishirika sendirian karena, pada dasarnya, tidak ada yang peduli dengannya.

Saat dia bangkit kembali, dia berteriak "Kaisar Iblis Agung Kishirika telah hadir! Maaf telah membuat semuanya menunggu! Fuawahahahahaha!", tapi tidak ada satupun orang yang ada disekitarnya.

Dia pun lari ke jalanan sambil meneriakkan itu, dan ada seseorang yang menatapnya dengan ekspresi kasihan. Setelah itu, semua orang mulai mengabaikan dirinya.

Dia bertemu dengan kawan-kawan lamanya, namun dia diberitahu bahwa saat ini adalah era yang damai, dan dia harus bersikap lebih sopan.

"Apa yang sebenarnya dilakukan oleh para peramal manusia? Di masa lalu, saat diriku bangkit, pasti akan ada bunyi glodak glodak yang datang dari jendela rumah-rumah, dan mereka akan mengadakan pertunjukan yang menarik.

Tanpa acara pembuka, kehebatan dari kebangkitan diriku tidak akan terpancar dengan sempurna....

Haaa, sheesh. Apa sih yang dilakukan anak-anak muda jaman sekarang?"

Kishirika menendang kerikil yang ada di dekat kakinya dan melihat ke arah pusaran Mana yang ada di langit barat. Kaisar Iblis Agung ini juga memiliki sebutan Kaisar Bermata Iblis, karena memiliki lebih dari 10 tipe mata iblis, dan mampu mengetahui situasi yang sedang terjadi hanya dengan melihatnya sesaat.

Tak peduli seberapa jauhnya itu, dia akan bisa melihatnya dengan jelas. Dia akan melihat energi Mana yang kuat, cahaya pemanggilan yang familiar, dan orang yang mengontrolnya.

"Eh, diriku tidak bisa melihatnya, ada penghalangnya ya. Melakukan hal sebesar ini tanpa menunjukkan wajahnya. Orang itu pasti pemalu......"

Mata iblis yang dimiliki Kishirika tidak memiliki kekuatan yang absolut. Jadi dia hanya akan bisa menjadi Kaisar Iblis Agung, dan tak peduli seberapa lama waktu berlalu, dia tidak akan pernah disebut sebagai Dewa Iblis. Tapi dia tidak terlalu memikirkan itu.

"Memanggil para pahlawan kemari kelihatannya sangat menarik, tapi belakangan ini semua orang lebih cenderung mengikuti Laplace......... Huh, Kishirika? Siapa itu? Begitukah jadinya.....? Orang-orang pasti sudah pergi untuk mencari para pahlawan, atau menemui si Laplace yang tampan itu....... Ahh, diriku benar-benar merasa iri, diriku juga mau berjalan di panggung utama lagi."

Kishirika melanjutkan perjalanannya sambil terus mengeluh.

Pergi ke arah manapun yang dia inginkan.

Pada waktu yang sama, Sudut pandang Rudeus

Aku berjalan menaiki bukit kecil yang terletak di luar kota Roa.

Untuk memenuhi janji yang aku buat di hari ulang tahunku, aku akan menunjukkan sihir air level Saint kepada Ghyslaine.

Tentu saja Eris juga ikut.

Batu sihir yang berada pada tongkatku dan juga tanganku terikat.

Sekalipun kelihatannya jelek, aku harus menyembunyikan batu sihir dan menutupi Mana yang terpancar darinya.

Para bandit akan datang bila mereka melihat benda mahal seperti ini.

Sebelum aku menggunakan sihir level Saint, aku menguji performa Raja Naga Air yang Sombong terlebih dahulu.

Aku menggunakan output Mana yang sama seperti yang biasa aku gunakan, dan berhasil menciptakan bola air yang ukurannya beberapa kali lebih besar dari biasanya.

"Woah, itu benar-benar besar."

Saat aku mencoba untuk mengubah ukurannya, bola air itu menjadi terlalu kecil dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Sepertinya aku harus mengubahnya sedikit demi sedikit.

Setelah bereksperimen selama 30 menit, aku mulai memahami kalau tongkat ini memperkuat sihir airku sebanyak 5 kali.

Sihir serangan menjadi lebih kuat, dan untuk mencapai kekuatan yang sama besarnya seperti sebelumnya, aku bisa mengurangi output Mana.

Kalau dijelaskan dengan angka, Tanpa tongkat : Output 10, Kekuatan 5. Dengan tongkat : Output 10, Kekuatan 25. Dengan tongkat : Output 2, Kekuatan 5.

Yang artinya tongkat ini mirip seperti teleskop atau mikroskop, memang sedikit sulit untuk melakukan perubahan secara mendetail, tapi mungkin kalau aku sudah terbiasa semuanya akan jadi baik-baik saja.

"Ba, bagaimana?"

"Agak sedikit sulit untuk mengaturnya, tapi tongkat ini luar biasa."

Eris menatapku dengan ekspresi gelisah.

Jangan khawatir, aku ketagihan dengan mainan baru ini.

Setelah itu aku melakukan beberapa percobaan lagi. Sekarang aku mengerti kalau sihir api menjadi 2 kali lebih efektif, sihir tanah dan angin menjadi 3 kali lebih efektif, dan Sihir kombinasi menjadi lebih sulit saat menggunakan tongkat ini.

Tidak, mungkin nanti aku juga akan terbiasa dengan itu.

"Baik, maaf telah membuat kalian menunggu. Rudeus Greyrat akan menunjukkan jurus rahasia terkuatnya!"

Eris bertepuk tangan dengan gembira.

Ghyslaine juga sangat tertarik.

Semangatku juga terpicu. Baiklah, aku akan melakukannya di sini.

"Fuhahaha! Sekarang, berkumpullah Mana! Oh, roh air yang hebat, putra dari....... Ara?"

Saat aku mulai merapal mantra Cumulonimbus, sambil mengangkat kedua tangan dan tongkat yang aku genggam ke atas

Kami bertiga menatap langit, dan kami melihat itu.

"Warna langitnya mulai berubah........ Apa itu!"

Warna langit berubah menjadi warna yang tidak nyaman untuk dilihat. Kelihatannya seperti campuran dari abu-abu dan ungu

Ghyslaine melepas penutup matanya, dan menunjukkan mata yang berwarna hijau tua, apa itu?

Jadi matamu memiliki dua warna yang berbeda?

"Apa itu?"

"Entahlah. Mana-nya luar biasa kuat......!"

Mata itu ternyata bisa melihat Mana.

Aku baru tahu kekuatan Ghyslaine yang sesungguhnya setelah 3 tahun

Ghyslaine segera memasang penutup matanya lagi.

"Pokoknya, ayo kita kembali ke mansion dulu."

"Sekalipun aku tidak tahu apa arti dari pertanda yang tidak biasa ini, lebih baik kita mencari tempat untuk sembunyi sebelum ada sesuatu yang terjadi."

"Jangan, Mana yang berkumpul di dekat kota memiliki energi yang lebih kuat, lebih baik kita meninggalkan tempat ini."

"Kalau benar begitu, kita harus memperingatkan mereka!"

Kita harus memberitahu Philip agar para penduduk di kota bisa menghindari situasi ini.

"Kalau begitu aku akan kembali... Rudeus! Merunduk!"

Aku merunduk secara refleks. Kemudian aku mendengar bunyi whoosh, seperti ada sesuatu yang menebas angin di atas kepalaku dengan kecepatan tinggi.

Keringat dingin mengalir di punggungku.

Apa, apa yang baru saja terjadi?

Dihadapanku, Ghyslaine mengayunkan pedang yang ada di tangannya dalam sekejap mata. Setelah itu, aku hanya melihat Ghyslaine mempertahankan posenya setelah ia melakukan gerakan menebas.

Jurus terkuat teknik Pedang Dewa, Sword of Light.

Aku sudah sering kali melihat teknik itu.

Setelah mengayunkan pedangmu hingga batas kecepatan tertinggi, ujung dari pedang akan mencapai kecepatan cahaya, itulah jurus terkuat dari teknik Pedang Dewa.

Ghyslaine memberitahuku, bahwa berkat jurus inilah teknik Pedang Dewa dianggap sebagai teknik pedang yang terkuat diantar teknik lainnya.

Ghyslaine mengernyitkan dahinya, dan aku akhirnya menoleh ke belakang.

"Se..... sejak kapan......"

Ada seorang pria yang berdiri di sana, rambutnya berwarna emas, dan mengenakan sesuatu yang mirip seperti baju seragam sekolah berwarna putih berkancing dan bercelana panjang.

Topeng berwarna kuning yang ia kenakan mungkin menutupi wajah tampannya. Topeng itu memiliki motif hewan sejenis rubah.

Tangan kanannya menggenggam pisau. Mungkin itulah yang barusan melayang di atas kepalaku.

Kemudian, wajah pria itu memancarkan cahaya dalam jumlah yang luar biasa, sampai pemandangan sekitar benar-benar menjadi putih.

Aku mendengar Ghyslaine berteriak.

Bunyi logam yang berbenturan.

Bunyi seseorang yang sedang berlari.

2, 3 kali bunyi benturan logam.

Saat aku bisa melihat lagi, Ghyslaine sedang berada di depanku. Penutup matanya sudah dilepas.

Jadi begitu, saat cahaya yang begitu terang tadi menutupi pemandangan secara menyeluruh, Ghyslaine melepas penutup matanya dan menggunakan matanya yang lain untuk melihat.

"Kau brengsek! Siapa kau! Apa kau musuh dari keluarga Greyrat!?"

"Arumanfi Sang Cahaya. Itulah namaku."

"Arumanfi?"

"Aku datang kemari karena fenomena yang tidak biasa ini, berdasarkan perintah dari Pergius-sama....."

Aku mendengar nama Pergius, sepertinya dia adalah salah satu dari 3 Pahlawan yang menghabisi Dewa Iblis (sebetulnya tidak tepat bila disebut ‘menghabisi’). Dia adalah seorang pemanggil yang mengontrol 12 Tsukkaima.

Aku juga ingat dengan nama Arumanfi. Dia adalah salah satu dari 12 Tsukkaima milik Pergius, Arumanfi Sang Cahya.

"Ghyslaine, berhati-hatilah. Di buku bilang kalau dia bisa bergerak secepat cahaya."

"Rudeus, mundurlah bersama Ojou-sama."

Aku mengikuti perintah itu dan menutupi Eris di belakang punggungku, dan pindah ke suatu tempat yang tidak akan mengganggu pertempuran antara mereka berdua. Tapi tempat itu juga tidak boleh terlalu jauh, untuk jaga-jaga semisal ada situasi buruk yang tiba-tiba terjadi, Ghyslaine akan bisa membantu kami.

Kalau itu benar-benar Arumanfi Sang Cahaya, maka dia tidak akan terluka dengan sabetan pedang.

Tapi dimana orang itu sembunyi sebelumnya?

…... Bukan, aku ingat kalau Arumanfi Sang Cahaya adalah Tsukkaima yang menguasai roh cahaya. Selama dia bisa melihat suatu tempat, dia akan bisa bergerak ke tempat itu secara instan, tidak peduli seberapa jauh jaraknya.

Saat aku membaca buku, aku pikir itu adalah hal yang mustahil, tapi di sini dia tiba-tiba muncul di belakang kami.

Aku yakin Ghyslaine tidaklah cukup ceroboh sampai membuat kesalahan, dan Arumanfi juga tidak memiliki alasan untuk bersembunyi di sini. Dia terbang, tepat seperti yang dideskripsikan di dalam buku, dengan kecepatan cahaya.

"Wanita. Minggirlah. Kalau aku membunuh anak laki-laki itu, mungkin fenomena ini akan berhenti."

Soal itu, apa kau bilang? Fenomena, apa dia salah paham?

"Aku adalah Raja Pedang Ghyslaine Dedorudia. Fenomena itu tidak ada hubungannya dengan kami, tinggalkan kami sekarang juga!"

"Kenapa aku harus percaya itu? Tunjukkan bukti identitasmu."

"Lihat! Ini adalah salah satu dari 7 pedang Dewa Pedang, Pilar Kedamaian Hiramune! Di sini ada aku, seorang Raja Pedang, dan juga pedang ini, apa kau masih tidak mempercayaiku!"

Ghyslaine menunjukkan pedang yang ada di tangannya kepada Arumanfi. Jadi pedang itu juga memiliki nama,

Hiramune. Nama pedang itu benar-benar tidak sesuai dengan Ghyslaine.

"Bersumpahlah atas nama Sishou dan ras mu."

"Aku bersumpah atas nama masterku, Gal Farion, dan rasku, Dedorudia!"

"Baiklah. Kalau kalian terbukti bersalah, Pergius-sama akan menghukum kalian nantinya."

"Silahkan."

Arumanfi menyingkirkan pisaunya. Sekalipun aku tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya dia telah menyetujui sesuatu.

Di duniaku yang dulu, sumpah seperti itu tidak bisa dipercaya dengan mudah, tapi sepertinya di dunia ini berbeda.

Aku tak mengira dia akan sepenuhnya mempercayai sumpahnya Ghyslaine. Rasanya hampir seperti seorang Paus yang percaya kepada Tuhannya.

"Kalau memang bukan kalian, kalau begitu lupakan saja."

"…...... Setelah menyerang kami secara tiba-tiba, kau tidak memiliki niat untuk meminta maaf?"

"Salah kalian sendiri karena muncul di tempat seperti ini."

Arumanfi Sang Cahaya bersiap untuk pergi.

Tepat pada saat ini.

Mataku menangkap momen ini.

Langit tampak dilukis dengan warna putih oleh sorotan cahaya yang ditembakkan ke tanah.

Saat cahaya putih itu menyentuh tanah, cahaya itu melahap seluruhnya bagaikan gelombang tsunami.

Mansion menghilang.

Kota menghilang.

Tembok disekitar kota menghilang.

Di saat ini juga, seluruh bunga dan tanaman dilahap oleh cahaya yang juga mendekat ke arah kami.

Arumanfi membalikkan kepalanya dan melihat fenomena tersebut. Sesaat berikutnya, ia berubah menjadi cahaya keemasan dan pergi melarikan diri.

Ghyslaine bergegas mendekati kami setelah ia melihat cahaya tersebut, namun menghilang ditelan cahaya yang terus mendekat ke arah kami.

Eris hanya bisa terdiam dan bengong setelah melihat itu.

Aku memeluk Eris. Paling tidak, aku ingin melindungi dirinya.

Hari itu, Fedoa menghilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar