Minggu, 10 Juli 2022

Mushoku Tensei Jilid 3 Bab 1 Penipu yang Memanggil dirinya sendiri Dewa

Aku bermimpi.

Di dalam mimpiku aku tengah menggendong Eris dan terbang bersamanya.

Sekalipun kesadaranku sedang kabur, kenapa aku mendapat perasaan kalau aku memang sedang terbang?

Pemandangan yang ada di hadapanku terus berubah dengan kecepatan yang mengerikan.

Layaknya kecepatan suara atau kecepatan cahaya, terbang ke atas dan ke bawah dengan tidak beraturan.

Aku tidak mengerti kenapa kami bisa berada dalam situasi seperti ini.

Aku hanya yakin kalau aku tidak berhati-hati, ah, tidak, sekalipun aku sangat berhati-hati kecepatanku akan tetap lenyap, dan aku akan jatuh.

Aku terus berusaha untuk fokus mencari tempat mendarat yang aman di dalam pemandangan yang tidak kunjung berhenti berubah seperti ini.

Sekalipun kau bertanya kenapa, aku sendiri juga tidak tahu.

Aku hanya merasa akan mati kalau aku tidak melakukan itu.

Tapi aku bergerak terlalu cepat, pemandangan di hadapanku berubah lebih cepat sebelum mataku dapat beradaptasi dengannya, nyaris seperti putaran slot machine.

Aku terus berkonsentrasi dan mengalirkan Mana ke dalam tubuhku.

Dan kemudian, untuk sesaat, kecepatanku menurun.

Ini gawat, aku akan jatuh.

Saat aku memikirkan itu, aku melihat ada tanah. Tanah itu memiliki permukaan yang rata.

Gawat jika aku jatuh di laut, jatuh di gunung juga gawat, begitu pula di hutan, tapi kalau di tanah yang rata....

Saat harapanku meningkat, tubuhku mulai turun.

Aku berhasil mengurangi kecepatan jatuhku dan mendarat di tanah yang berwarna merah kecoklatan.

Sesaat kemudian, kesadaranku terputus.

Saat kedua mataku terbuka, aku menyadari bahwa diriku sedang berada di dunia yang benar-benar berwarna putih.

Tidak ada apa-apa di dunia ini, dan aku segera menyadari kalau ini adalah mimpi.

Sebuah mimpi yang nyata atau sesuatu semacamnya.

Dan tubuhku benar-benar terasa berat.

Aku melihat ke bawah pada tubuhku, kemudian aku merasa takut.

Itu adalah tubuh berusia 34 tahun yang biasa aku lihat pada kehidupan sebelumnya.

Dan pada waktu yang sama, aku mengingat memoriku di masa lalu.

Penyesalan, perselisihan, kebodohan, dan pemikiranku yang naif.

Saat aku berpikir bahwa 10 tahun yang kulalui ini terasa bagai mimpi, kesedihan yang ada di dalam hatiku tumbuh semakin besar.

Aku telah kembali.

Aku secara intuitif menyadari hal itu.

Dan aku menerima fakta tersebut dengan begitu mudahnya.

Itu memang sebuah mimpi.

Sekalipun itu adalah mimpi yang begitu panjang, aku tetap merasa bahagia.

Lahir dalam keluarga yang hangat dan penyayang, bersama dengan gadis manis selama 10 tahun.

Meski begitu, aku tetap ingin menikmatinya lebih lama.

Aku mengerti.

Semuanya sudah berakhir.......

Aku bisa merasakan ingatanku sebagai Rudeus semakin meredup.

Mimpi atau apalah, itu adalah sesuatu yang sangat mengecewakan di saat aku bangun.

Apa yang sebenarnya aku harapkan, sungguh.......

Tidak mungkin aku diberikan hidup bahagia dan nyaman seperti itu.

Aku tiba-tiba menyadari kalau ada orang aneh di sana.

Dengan wajah kosong berwarna putih dan senyuman lebar.

Tidak ada fitur yang spesial.

Saat aku sadar bahwa itu adalah wajah, pikiranku tiba-tiba lenyap dari kepalaku.

Aku tidak bisa mengingatnya.

Mungkin karena alasan itulah, orang itu memberikan kesan bahwa seluruh tubuhnya ditutupi oleh mosaik.

Tapi aku merasa kalau dia adalah orang yang ramah.

"Hey, sepertinya ini adalah pertemuan pertama kita. Halo, Rudeus-kun."

Dalam kondisi depresi seperti ini, aku diajak ngobrol oleh orang yang kelihatan tidak senonoh dan ditutupi oleh mosaik.

Orang ini memiliki suara netral, aku tidak tahu apakah dia pria atau wanita.

Orang yang ditutupi mosaik, tidak apa kan kalau aku menganggapnya sebagai wanita, dan membayangkannya secara erotis.

"Kamu bisa mendengarku, ‘kan?"

Ah, tentu saja aku bisa mendengarmu.

Halo, halo.

"Bagus, bagus, syukurlah kamu bisa menyapa."

Sekalipun aku tidak bisa mengeluarkan suara, tapi sepertinya aku bisa berkomunikasi dengan orang ini. Aku akan lanjut berbicara dengan cara seperti ini.

"Lumayan, kamu bisa beradaptasi dengan cukup baik."

Ah, itu tidak benar.

"Mmfufu. Kamu memang memiliki kemampuan untuk itu."

Baik kalau begitu, siapa sebenarnya dirimu?

"Siapa, hmm, seperti yang kau lihat."

Seperti yang kulihat? Sekalipun kau ditutupi oleh mosaik...... Apa namamu Spellman Sang Prajurit Tak Tertandingi?

"Spellman? Siapa itu, apa orang itu mirip denganku?"

Ya, sangat mirip, dia bahkan ditutupi oleh mosaik juga.

"Jadi begitu ya, duniamu juga punya sesuatu seperti itu."

Tapi tidak ada yang sepertimu.

"Apa tidak ada yang mirip....... Yah, lupakan itu. Aku adalah seorang dewa. Dewa Manusia, Hitogami."

Haa. Hitogami.......

"Responsmu tidak seperti yang aku harapkan."

Tidak............ Kenapa seorang dewa berbicara kepadaku? Dan juga, bukannya kemunculanmu agak sedikit terlambat, hm? Bukannya seharusnya kamu datang lebih awal, hah?

"Datang lebih awal....? Apa maksudnya itu?"

Bukan apa-apa. Silahkan lanjutkan.

"Soal dirimu, aku sudah melihat semuanya. Hidupmu sangat menarik."

Mengintip memang merupakan sesuatu yang sangat menarik.

"Ya, itu benar-benar menarik. Karena itulah aku selalu melindungimu."

Melindungiku..... Terima kasih, ya. Kau lumayan suka memandang rendah, hmm. Aku merasa sangat jengkel kalau aku dipandang rendah, huh.

"Hey, itu benar-benar tidak sopan. Aku pikir kau sedang merasa kesulitan, jadi aku bicara padamu."

Orang yang bicara kepada seseorang di saat mereka sedang kesulitan bukanlah orang baik.

"Aku adalah kawanmu."

Haa! Kawan! Kau membuatku tertawa.

Di hidupku yang lalu, ada orang-orang seperti ini. Aku adalah kawanmu. Hey, aku akan melindungimu, jadi berusahalah sebisamu. Sekelompok orang yang tidak memiliki tanggung jawab apapun. Coba bayangkan tentang apa yang terjadi setelah orang-orang itu mengusirku. Saat ini, kalimat yang kau ucapkan memiliki nada yang sama seperti mereka. Aku tidak bisa mempercayaimu.

"Aku sedikit bingung kalau kamu berkata sampai segitunya....... Yah, pokoknya, aku akan memberimu sugesti."

Aku tidak membutuhkan saran apapun.....

"Entah kamu mau mendengarkan saranku atau tidak, semuanya tergantung pada dirimu sendiri."

Ahh. Tipe ini. Ya, ya, ada juga tipe seperti ini. Soal saran... Mengarahkan pemikiranku, bukan dari dalam, namun dari luar. Sungguh, aku tidak mengetahui inti sesungguhnya dari saran-saran semacam itu. Sekalipun aku dengan sungguh-sungguh mencoba untuk menjalankan saran tersebut, toh nanti juga tidak ada artinya. Era 'di mana ada niat, disitu ada jalan' sudah berakhir! Hal positif apapun yang berhasil kau raih, hanya akan menambah rasa keputusasaan, dan pada akhirnya dilempar kembali ke arahmu.

Sama seperti ini! Mimpi seperti apa yang kau tunjukkan padaku, dunia paralel seperti apa ini!

Membuatku menjalani proses reinkarnasi, dan membuatku merasakan nikmatnya hidup. Seperti inikah caramu bekerja? Untuk membawaku kembali ke kehidupanku yang dulu saat hidupku sedang mencapai puncaknya!

"Tidak, tidak, tolong jangan salah paham. Hal-hal yang ingin aku beritahukan kepadamu bukanlah tentang kehidupanmu yang dulu, tapi ini ada hubungannya dengan hidupmu yang sekarang."

… Hm? Kalau begitu tubuhku yang sekarang ini?

"Itu tubuh spiritualmu. Bukan tubuh fisik."

Tubuh spiritual?

"Tentu saja, tubuh fisikmu baik-baik saja."

Kalau begitu, ini cuma mimpi? Saat aku bangun, aku tidak akan kembali ke tubuh sialan ini lagi...... kan?

"Yup. Ini adalah mimpi. Saat kau bangun, tubuhmu akan kembali menjadi normal. Apa kamu merasa lega sekarang?"

Ya, aku merasa lega. Jadi begitu, ini hanyalah mimpi.

"Ah, tapi ini bukan mimpi biasa. Aku bicara secara langsung dengan tubuh spiritualmu. Aku terkejut, kau ternyata memiliki perbedaan sebesar itu diantara tubuh spiritual dan tubuh fisikmu."

Kamu suka blak-blakan ya.

Terus, kau ingin aku melakukan apa?

Karena aku adalah benda asing di dunia ini, jadi apakah kamu ingin aku kembali ke dunia tempat diriku berasal?

"Eh, bagaimana mungkin? Sekalipun itu aku, diluar 6 dunia yang ada di permukaan, aku tidak bisa mengirimmu kembali. Mana mungkin kamu tidak tahu hal yang sudah jelas seperti itu?"

Huh..... mana yang jelas dan mana yang tidak jelas, bagaimana mungkin aku mengetahui semua itu?

"Kamu ada benarnya."

Tunggu dulu. Kalau kamu tidak bisa mengirimku kembali, jadi bukan kamu yang memindahkanku ke dunia ini?

"Yah, dari awal, aku tidak akan bisa melakukan sesuatu seperti reinkarnasi. Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh Dewa Naga yang jahat."

Dewa Naga yang jahat, hmm....

"Jadi, apa kamu mau mendengarnya? Saranku."

….... Aku tidak mau.

"Ehh! Kenapa tidak?"

Sekalipun situasi saat ini memang tidak terlalu bagus, tapi kamu terlalu mencurigakan.

Harusnya aku tidak mendengarkan sepatah katapun yang diucapkan oleh orang sepertimu.

"Mencurigakan.... hm?"

Yup, mencurigakan. Kau punya aura seperti seorang penipu. Kamu mirip seperti penipu yang sering aku lihat di dalam game online. Kalau aku mendengarkan ucapan seorang penipu, nanti bisa-bisa pikiranku dimanipulasi.

"Ini bukan penipuan, serius. Kalau ini benar-benar penipuan, aku tidak akan bilang kalau kamu boleh mendengarkan saranku atau tidak."

Itu kan hanya strategi.

"Percayaalaaaahhh padaku."

Katanya kamu dewa, tapi kamu malah merengek dengan suara yang memalukan seperti itu.

Sejak awal aku masih belum mempercayai dirimu sebagai dewa. Dewa yang asli adalah dewa yang mampu memberikan keajaiban.

Saat ada dewa dari agama lain mengucapkan sesuatu yang aneh, tentu saja itu mencurigakan.

Dan juga, orang yang terus-menerus bicara soal kepercayaan itu sudah pasti adalah seorang penipu.

Di dalam buku kesukaanku tertulis seperti itu, jadi itu pasti benar.

"Aku tidak akan mengucapkan hao seperti itu, sungguh. Cukup dengarkan apa yang aku katakan, sekali saja."

Apa?

Apa maksudmu dengan 'dengarkan sekali saja', aku tahu kalau kamu berusaha untuk menipuku.

Di kehidupanku sebelumnya, aku sering berdoa pada dewa.

Kamu bahkan tidak datang untuk menolongku saat aku mati. Sekarang tiba-tiba kamu mau memberiku saran?

"Tidak, bukan, aku bukanlah dewamu, kami adalah dua makhluk yang berbeda. Aku kan sudah bilang, aku akan membantumu mulai dari sekarang, oke?"

Karena itulah aku tidak bisa mempercayaimu. Hanya dengan ucapan yang keluar dari bibirmu tidaklah cukup. Kalau kamu ingin aku percaya kepadamu, tunjukkanlah sebuah keajaiban kepadaku.

"Aku sudah melakukan itu. Aku sedang bicara denganmu di dalam mimpi, kan? Tidak ada makhluk lain yang bisa melakukan ini kecuali aku."

Omong kosong. Sekalipun kamu tidak menggunakan mimpi untuk menghubungiku, kamu masih bisa menggunakan surat atau sesuatu semacamnya.

"Kamu benar. Kamu sudah bilang kalau kamu tidak dapat percaya denganku, tapi kamu akan mati kalau aku tidak melakukan sesuatu."

… Mati? Kenapa?

"Benua Iblis adalah tempat yang mengerikan. Hampir tidak ada apapun yang bisa dimakan di sana, dan ada banyak makhluk sihir yang kuat. Sekalipun kamu bisa berkomunikasi, tapi kaidah di sana sangatlah berbeda. Apa kamu benar-benar bisa bertahan hidup di sana? Apa kamu benar-benar yakin?"

Huh? Benua Iblis? Tunggu sebentar, apa maksudmu?

"Kamu terhisap ke dalam Mana Malapetaka dengan jangkauan luas, dan tubuhmu di teleportasikan secara paksa ke tempat lain."

Mana Malapetaka. Cahaya itu?

"Benar, cahaya itu."

Teleportasi. Jadi itu adalah teleportasi.....

Bukan hanya aku yang terlibat dalam peristiwa ini. Aku penasaran apakah Philip akan baik-baik saja. Buina seharusnya baik-baik saja karena lokasinya lumayan jauh dari Roa. Sylphy pasti merasa khawatir.

…..Apa yang telah terjadi?

"Kamu bertanya padaku, apa itu artinya kamu bersedia untuk percaya kepadaku? Kamu barusan menolak untuk mempercayaiku."

Kamu benar. Aku tertipu dengan mudahnya.

"Aku hanya bisa berkata kalau semua orang mendoakan keselamatanmu. Berdoa agar kamu bisa kembali dengan selamat."

Itu..... Siapapun akan melakukan itu.

"Benarkah? Di suatu tempat di dalam hatimu, kamu berpikir kalau semisal dirimu menghilang dari dunia ini, kamu akan membuat orang lain merasa senang, kan?"

…..Bohong jadinya kalau aku bilang aku tidak memikirkan itu. Aku menghilang dari duniaku yang dulu di mana aku tidak dibutuhkan. Bahkan sekarang pun aku masih memiliki pemikiran itu.

"Tapi kamu bukanlah seseorang yang tidak dibutuhkan di dunia ini. Tolong, kembalilah dengan selamat."

Ahh. Kamu benar.

"Tapi kalau kamu mengikuti saranku, sekalipun aku tidak akan bilang kalau itu adalah hal yang pasti, tapi kamu akan memiliki kesempatan yang sangat tinggi untuk bisa kembali dengan selamat."

Sebentar. Sebelum itu, aku ingin bertanya tentang tujuan yang kamu miliki. Kenapa kamu begitu terobsesi denganku?

"Kamu benar-benar banyak bicara...... Itu karena cara hidupmu itu menarik. Bukannya itu sudah cukup?"

Orang yang mengambil tindakan hanya karena merasa ada sesuatu yang menarik, sudah pasti orang itu adalah orang yang jahat.

"Begitukah hal itu bekerja di duniamu yang dulu?"

Orang yang mengambil tindakan karena ada sesuatu yang menarik hanya akan merasa senang jika dia dapat memanipulasi orang lain di dalam genggaman tangan mereka.

"Mungkin aku memang memiliki sifat seperti itu."

Dan juga, memangnya apa yang menarik dari hidupku?

"Daripada menyebut hidupmu menarik, kenapa tidak kita sebut saja kalau hidupmu itu bermakna. Sangat jarang ada manusia yang datang dari dunia lain. Memberimu saran dan membiarkanmu berinteraksi dengan segala jenis manusia. Akhir seperti apa yang akan kau dapatkan nantinya...?"

Jadi begitu. Kira-kira itu mirip seperti memberikan perintah yang tidak jelas kepada seekor monyet dan mengamati bagaimana monyet itu menyelesaikannya. Hobi yang kamu miliki ini benar-benar kelewatan.

"Hah.... Kamu ini. Apa kamu sudah lupa tentang pertanyaanku yang pertama?"

Pertanyaanmu yang pertama?

"Kalau begitu aku akan bertanya lagi. Apa kau yakin? Yakin bahwa dirimu bisa bertahan hidup di tempat yang tidak kamu ketahui sebelumnya, dan sangat berbahaya."

….. Tidak.

"Kalau begitu, bukannya lebih baik kalau kamu mau mendengarkan saran dariku? Sekalipun aku akan mengatakan ini lagi, terserah kamu mau mengikuti saranku atau tidak."

Baik, aku mengerti, aku mengerti. Saran atau apalah, bisa tidak kamu langsung mengucapkannya? Pada akhirnya kamu terlalu banyak bicara dan terus berbelit-belit. Cukup berikan saranmu tanpa perlu menunggu jawaban dariku, bukannya itu sudah cukup?

"….... Oke, oke. Rudeus, dengar baik-baik. Saat kau bangun, bergantunglah kepada orang yang ada di sampingmu, dan kemudian bantulah dia."

Dewa mosaik tersebut hanya meninggalkan kalimat seperti itu, dan menghilang sambil meninggalkan suara yang menggema.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar