Buku Pelajaran Sihir
Sekitar 2 tahun telah berlalu sejak aku bereinkarnasi. Kaki dan pinggang mulai cukup kuat untuk menopang tubuhku.
Dan aku mulai belajar bahasa dunia ini. Setelah memutuskan untuk hidup dengan serius, aku mulai mempertimbangkan apa yang bisa aku lakukan. Apa yang aku butuhkan dalam hidupku?
Belajar, olahraga, dan keahlian. Sebagai bayi, hanya ada sedikit hal yang bisa kulakukan. Dan saat ini, hal yang paling mahir kulakukan adalah membenamkan wajahku ke dada seseorang. Dan ketika aku melakukan itu pada mbak Maid, dia menampilkan ekspresi jengkel di wajahnya. Maid itu pasti membenci anak-anak. Esoknya, setelah aku sadar bahwa aku bisa bergerak lebih leluasa, aku pun mulai mencari buku di rumah untuk belajar kata-kata.
Aku tidak boleh buta huruf.
Tingkat warga Jepang yang buta huruf adalah 0%, tetapi kebanyakan tidak menguasai bahasa Inggris, sehingga mereka menolak keras ide tentang pergi ke luar negeri, dan bahkan mereka memperlakukan bahasa asing sebagai keahlian sampingan. Oleh karena itu, belajar kata-kata dunia ini adalah tugas pertamaku.
Ada lima buku di rumah ini. Mungkinkah buku di dunia ini harganya mahal, atau mungkin si Paul dan Zenith itu tidak membaca buku?
Mungkin karena kedua alasan inilah. Aku pun tidak bisa mempercayainya, karena aku punya ribuan buku di kehidupan sebelumnya.
Meskipun semuanya adalah Light Novel. Hanya terdapat lima buku di sini, tapi itu sudah cukup bagiku untuk belajar kata-kata. Bahasa di dunia ini mirip dengan bahasa Jepang, sehingga mudah bagiku untuk mempelajarinya. Meskipun huruf-hurufnya benar-benar berbeda, aku bisa belajar bicara dengan lancar. Akan baik-baik saja selama aku menghafal cukup banyak kosakata. Ini akan bermanfaat untuk mempelajari tahapan awal berbicara. paul membacakan isi buku berkali-kali, sehingga aku bisa belajar kosakata dengan lebih mudah. Mungkin itu ada hubungannya dengan kemampuan tubuh ini untuk menghafal dengan baik. Setelah bisa membaca bahasa, aku mengerti bahwa isi buku ini cukuplah menarik.
Dalam kehidupanku sebelumnya, aku tidak pernah berpikir bahwa pelajaran adalah hal yang begitu menarik. Kalau diingat-ingat lagi, ini sama persis seperti menghafal informasi dari internet. Bagaimana mungkin itu tidak menyenangkan bagiku?
Namun demikian, apakah paulku benar-benar mengira bahwa bayi seumuranku bisa mengerti isi buku ini?
Tidak masalah sih, akan tetapi di duniaku sebelumnya, seorang bayi hanya akan mengerutkan dahinya dan menangis ketika belajar hal-hal seperti ini.
Berikut adalah kelima buku yang kutemukan di rumah.
Menjelajah Seluruh Dunia
Ini adalah buku panduan yang berisi nama dan karakteristik unik berbagai negara di dunia ini.
Monsters, Ekologi dan Kelemahan Fedoa
Sebuah buku yang mendeskripsikan monster yang muncul di wilpaul Fedoa, dan cara untuk menangani mereka.
Panduan untuk Sihir
Sebuah buku panduan yang menjelaskan bagaimana menggunakan serangan sihir, komplet dari level pemula sampai tingkat lanjut.
Legenda Perugius
Sebuah dongeng tentang seorang Summoner bernama Perugius, yang berpetualang bersama dengan rekan-rekannya, bertarung melawan dewa iblis, menyelamatkan dunia, menghukum orang yang jahat, dan membantu orang baik.
Tiga Swordsman dan Labirin
Ini adalah petualangan yang menceritakan tiga Swordsman berbakat, yang memiliki gaya berbeda, saling bertemu satu sama lain, kemudian bersama-sama memasuki labirin.
Jika kita kesampingkan 2 novel tentang pertarungan, maka 3 buku lainnya bisa membuatku banyak belajar. Terutama buku pedoman tentang sihir. Bagiku, yang datang dari dunia tanpa sihir, hal-hal yang tercatat di dalam buku ini sangatlah menarik. Aku membaca seluruh isi buku tersebut, dan aku paham beberapa konsep dasar.
1. Pertama-tama, sihir dapat secara luas diklasifikasikan menjadi tiga kategori.
Sihir Serangan = kau harus menyerang targetmu
Sihir Penyembuhan = kau harus menyembuhkan targetmu
Sihir Pemanggilan = kau harus memanggil sesuatu
Ada tiga jenis sihir dasar, dan bagiku itu mudah dimengerti.
Ada berbagai fungsi, tetapi menurut buku panduan, sihir itu awalnya dikembangkan untuk perang. Tapi, masihlah tidak banyak digunakan selain untuk bertempur dan berburu.
2. Untuk menggunakan sihir, kau harus memiliki Mana.
Sebaliknya, selama kau memiliki Mana, maka kau bisa menggunakan sihir. Ada dua cara menggunakan Mana. 1 Gunakan mana di dalam tubuhmu, 2 Keluarkan Mana dari sesuatu yang mengandung Mana
Kau bisa menggunakan sihir jika memenuhi salah satu saja dari kedua syarat tersebut.
Aku tidak bisa memikirkan contoh yang pantas untuk menganalogikannya. Ini mungkin sesuatu seperti rumah yang listriknya dipasok dari kekuatan generator, atau alat yang menyala karena energi yang tersimpan pada batre. Dahulu kala, orang-orang hanya menggunakan Mana mereka untuk mengaktifkan sihir; dan setelah berlalunya waktu, sihir diteliti lebih dalam, kesulitan pun semakin rumit, dan sebagai hasilnya, Mana yang diperlukan pun meningkat secara drastis. Ini tidaklah masalah bagi orang-orang yang memiliki banyak Mana, namun bagi mereka yang hanya memiliki sedikit Mana, mereka tidak bisa menggunakan berbagai jenis sihir. Dengan demikian, para penyihir di masa lalu memikirkan cara untuk menarik keluar Mana dari tempat lain, untuk memenuhi kebutuhan sihir mereka.
3. Ada dua cara untuk mengaktifkan sihir.
pertama Mantra , kedua Simbol Sihir
Ini sudah cukup jelas, ‘kan? Untuk mengaktifkan sihir, seseorang bisa melakukannya dengan merapalkan mantra, atau menggambar simbol sihir.
Simbol sihir sudah menjadi norma sejak zaman dahulu kala, tapi saat ini, orang-orang lebih suka melantunkan mantra. Di masa lalu, perapalan mantra memerlukan waktu sekitar 1 atau 2 menit. Itu tidak terlalu lama, tetapi metode tersebut sangat sulit dilakukan ketika berperang. Sebaliknya, ketika simbol sihir selesai digambar, maka itu bisa digunakan berkali-kali.
Ada seorang penyihir tertentu yang berhasil memperpendek waktu perapalan mantra. Dengan demikian, mantra pun sudah menjadi norma. Mantra-mantra sederhana membutuhkan waktu sekitar 5 detik, sehingga serangan sihir dasar lebih efektif diaktifkan melalui mantra. Kecuali jika situasinya mendesak, sihir yang rumit lebih baik diaktifkan melalui simbol. Mana seseorang sudah ditentukan sejak dia lahir.
Pada game RPG, Mana-mu akan meningkat seiring naiknya level.
Tapi sepertinya, bukan itu masalahnya di dunia ini. Pada dasarnya, jika ditinjau dari segi profesi, semua orang adalah Warrior. Tapi, aku pun merasa bahwa akan terjadi semacam perubahan pada diri seseorang... Lantas, bagaimana denganku? Hmm. Rupanya, jumlah Mana yang terkandung dalam suatu tubuh adalah bawaan keturunan. Fakta bahwa ibuku bisa menggunakan sihir, berarti bahwa mungkin saja sejumlah Mana darinya telah diturunkan padaku.
Ini sedikit mengkhawatirkan. Meskipun orang tuaku berbakat dalam urusan sihir, kukira aku belum tentu sanggup melakukannya.
Apapun itu, aku harus mulai mencoba sihir yang paling sederhana.
Buku panduan tersebut berisi metode untuk penggunaan mantra, maupun formasi sihir, tapi karena mantra sudah ditetapkan sebagai suatu norma, maka tidak ada tempat bagiku untuk coba menggambar simbol sihir. Lantas, aku pun tak punya pilihan selain memulai dengan mantra.
Tampaknya, semakin sulit sihirnya, maka semakin lama pula waktu pelantunan mantra. Bahkan, sihir yang rumit harus dimulai dengan mantra, kemudian dilanjutkan dengan simbol sihir, itu tidak masalah sih pada awalnya, namun...
Tampaknya seorang penyihir yang terampil dapat menggunakan sihir tanpa mantra. Mantra tak bersuara, atau mengurangi perapalannya; itulah teknik yang mereka lakukan. Tapi mengapa orang yang berbakat tidak memerlukan mantra?
Jumlah Mana yang diperlukan untuk melepaskan teknik tidaklah berubah, dan walaupun levelmu naik, MP-mu tidak akan meningkat ..
Atau, apakah jika dirimu semakin terampil, maka kau semakin sedikit menggunakan mantra?
Tidak, walaupun itu tidak mengurangi penggunaan Mana seseorang, tidak ada alasan untuk melewatkan tahapan dasar.
.... Ah, terserah lah, aku hanya akan mencobanya terlebih dahulu.’
Aku memegang buku pedoman di tangan kiriku, mengulurkan kananku, dan membaca beberapa kata.
Limpahkan perlindungan air di tempat yang engkau inginkan, biarkan kristal air bersih mengalir di sini, WATER BALL
Aku merasakan sensasi pengumpulan darah di tangan kananku. Darahku terasa seolah-olah diperas keluar, lantas peluru air seukuran kepalan tangan muncul di depan tangan kananku.
Whoa !!
Saat aku takjub, peluru air itupun jatuh ke lantai, kemudian lenyap. Buku ini mengatakan bahwa peluru air harus ditembakkan, tapi malah jatuh begitu saja. Mungkin konsentrasiku telah rusak, sehingga menyebabkan mantranya gagal. Konsentrasi, konsentrasi .. Terasa sensasi pengumpulan darah di tangan kananku. Ini, perasaan ini,.. Mmmm. Aku sekali lagi mengangkat tangan kananku, mengingat perasaan barusan, lantas membayangkannya dalam kepalaku. Aku tidak tahu berapa banyak Mana yang kumiliki, tapi sebaiknya kuanggap bahwa diriku belum mampu melakukan ini berkali-kali. Konsentrasi, dan biarkan setiap usaha menjadi berhasil. Pertama, aku harus membayangkannya, mengulanginya berulang kali dalam pikiranku, kemudian melepaskannya secara nyata. Jika berakhir dengan kegagalan, aku akan membayangkannya lagi dalam pikiranku. Sampai aku bisa melakukannya dengan sempurna di kepalaku. Ini adalah caraku berlatih setiap jurus baru dalam game perang di kehidupan sebelumnya. Karena itu, aku tidak benar-benar gagal ketika mencoba untuk mengeksekusi combo. Seharusnya tidak akan ada masalah jika aku terus berlatih dengan menggunakan metode seperti ini .. setidaknya, begitulah yang kuharapkan.
Na. fas..
Sebuah napas dalam-dalam. Semua darah pada jari-jari kaki dan kepalaku, kukirim menuju ke tangan kanan, lantas kuhimpun semua tenaga. Kemudian, kubayangkan suatu tembakan sihir yang muncul dari telapak tanganku . Hati-hati, dengan hati-hati. Setiap detak jantung, kumpulkan sedikit demi sedikit ..
Air, air, air, peluru air, bola air, bola air, bola air.
Sempak ..
Ahhh. pikiran mesum mulai masuk ke kepalaku. Oke, sekali lagi.
Konsentrasi, keluarkan airrrrrrrrrrr ...
HAH!
Tanpa sadar, aku pun berteriak seperti seorang biarawan, lantas peluru air pun keluar.
Eh, ya ..?
Celepuk. Ketika kutunjukkan betapa terkejutnya diriku, peluru air jatuh dengan begitu cepat.
... Ah.
Huh . barusan aku tidak merapalkan mantra apapun, kan?
Mengapa..?
Yang kulakukan hanyalah mengingat kembali perasaan ketika menggunakan mantra, kemudian menirukannya dalam pikiran.
Tapi, apakah aku tidak perlu merapalkan mantra, jika aku sanggup mengulang aliran sihirnya?
Semudah itukah pelantunan mantra tanpa suara?
Bukankah seharusnya itu adalah teknik kelas tinggi?
Jika ternyata semudah ini berhasilnya, maka apa gunanya mantra?
Bahkan seorang pemula sepertiku dapat melepaskan sihir dengan menggunakan mantra tanpa suara.
Mengkosentrasikan Mana di ujung jariku, dan membayangkan bentuknya di pikiran. Seperti itulah dasarnya. Dalam hal ini, mantra benar-benar tidak dibutuhkan. Malahan, semua orang bisa melakukan ini.
Mungkinkah mantra adalah aktivasi sihir?
Tidak perlu mengingat kembali perasaan mengumpulkan darah; aku bisa menyelesaikannya jika kulepaskan suaraku. Mungkin begitu. Ini seperti sebuah mobil otomatis. Seseorang bisa merubah kemudinya ke sistem manual, dan mobil itu masih berfungsi.
Mantra akan melepaskan sihir secara otomatis.
Akan ada beberapa keuntungan menggunakan mantra.
Pertama, itu mudah. Bukannya menjelaskannya sebagai pengumpulan darah dari pembuluh darah di dalam tubuhku, setiap orang bisa membacanya, kemudian berhasil, ‘kan? Guru dan murid akan banyak dimudahkan dengan metode seperti ini. Dan setelah mengajarkan ini berulang-ulang, itu akan menjadi mantra adalah sesuatu yang klasik. Kedua, ini praktis untuk digunakan. Tentu saja, serangan sihir dimaksudkan untuk digunakan dalam pertempuran. Alih-alih menutup matamu, dan menggumamkan mmmmmmm sambil berkonsentrasi, akan lebih cepat jika kau merapalkan mantranya. Akan lebih mudah jika seseorang mengumpulkan segenap tenaganya sambil melantunkan mantra, daripada ketika seseorang mengumpulkan tenaganya sambil membayangkan. Tapi, tidak semua orang mengalami hal yang sama. Mungkin ada beberapa orang yang lebih suka menggunakan cara terdahulu .. Aku dengan cepat membalik-balikan halaman-halaman buku sihir tersebut, tapi aku tak pernah menemukan bab tentang mantra tanpa suara. Itu aneh. Karena berdasarkan pengalamanku, seharusnya itu tidaklah begitu sulit. Mungkin saja itu adalah bakat alami yang kumiliki, sedangkan orang lain sama sekali tak bisa melakukannya. Mungkin aku bisa berpikir demikian. Seorang penyihir biasanya mulai mempelajari sihir, kemudian berakhir sebagai veteran, dan semua orang menggunakan metode mantra untuk melepaskan sihirnya. Setelah ribuan kali, tubuh mereka akan terbiasa oleh mantra tersebut. Tapi, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan tentang mantra tanpa suara. Oleh karena itu, informasi tentang mantra tanpa suara tidak pernah disebarluaskan, dan juga tidak pernah tercatat dalam buku pedoman.
Whoaa, begitu rupanya!
Maka itu berarti aku bukanlah orang biasa.
Itu luar biasa, bukan?
Seakan-akan aku menggunakan lembaran tip.
Mereka menggunakan Crime Catalyst tanpa menyanyikan Oratorio!?
Tapi, aku bahkan menggunakan katalis ini dengan biasa, kemudian membuka gerbangnya.
Seperti itukah?
Woohoo, aku semakin bersemangat!
Ah, tidak, tidak. Tenang dulu, tenang. Aku yang dahulu, sering ditipu oleh perasaan semacam ini. Aku lebih pakar dalam menggunakan komputer daripada kebanyakan orang, dan aku sering mendapatkan semacam perasaan bahwa aku adalah orang terpilih, itulah yang membuatku menjadi serakah dan akhirnya berakhir dengan kegagalan. Aku harus rendah hati. Yang paling penting adalah tidak menganggap diriku seperti seseorang yang lebih unggul daripada orang lain. Aku hanyalah seorang pemula. Seorang pemula. Seorang pemula dengan keberuntungan pemula, dan kebetulan berhasil menjatuhkan semua pin bowling hanya dalam sekali lemparan. Aku hanya mendapatkan keberuntungan pemula. Kupikir, aku bukanlah orang yang berbakat. Aku harus bekerja keras. Baik. Pertama-tama, aku perlu mengandalkan lantunan mantra untuk menggunakan sihir, maka berdasarkan perasaan yang aku alami saat melepaskan sihir, aku bisa berlatih mantra tanpa suara berkali-kali. Aku memilih untuk menggunakan format belajar seperti itu.
Kalau begitu, ayo kita melakukannya lagi.
Tapi ketika aku mengacungkan tangan kananku, anehnya aku merasa lamban. Seolah-olah ada sesuatu yang berat di pundakku. Rasa kelelahan.
Apakah karena aku berkonsentrasi terlalu keras?
Tidak, aku setidaknya dianggap pro di game internet (ngaku-ngaku). Aku adalah orang yang bisa melanjutkan perburuan selama enam hari penuh, tanpa sedetik pun tertidur jika dibutuhkan. Konsentrasiku tidak akan lenyap hanya dengan melakukan 2 kali percobaan seperti itu.
Artinya, apakah MP-ku habis .?
Ya ampun . padahal mereka bilang bahwa jumlah Mana sudah ditentukan ketika seorang lahir, jadi artinya, Mana-ku hanya cukup untuk menembakkan 2 peluru air?
Itu terlalu sedikit, ‘kan? Atau karena aku seorang pemula, sehingga efisiensiku ketika menggunakan Mana sangatlah rendah?
Tidak, bagaimana bisa?
Untuk amannya, aku mencoba melantunkan mantra sekali lagi, tapi pada akhirnya aku pingsan.
Oh ya ampun, Rudeus, jika kau mengantuk, maka pergilah ke toilet terlebih dahulu, kemudian cepat tidurlah di kamarmu.
Ketika aku bangun, aku diperlakukan seolah-olah aku tertidur saat membaca buku. Sial. Aku dimarahi karena ketiduran pada umur setua ini ..
Sialan .. sialan.. Eh, bukannya saat ini aku hanya berusia 2 tahun? Pada umur semuda ini, seharusnya aku akan dimaafkan meskipun aku mengompol.
Tapi serius, bukankah Mana-ku terlalu sedikit?
Hah .. ini membuat aku merasa benar-benar tak berdaya .. Yahh, walaupun hanya menembakkan 2 peluru air, hal berikutnya yang harus kukuasai adalah bagaimana cara menggunakannya.
Apapun itu, aku harus berlatih sampai aku bisa menembakkan sihir tepat ketika aku memerlukannya. Keesokan harinya, tubuhku masih baik-baik saja meskipun sudah menembakkan 4 peluru air. Aku hanya merasa lelah setelah tembakan kelima kulepaskan.
Huuuh .?
Berdasarkan pengalaman kemarin, aku tahu bahwa aku akan pingsan setelah melampaui batas, sehingga lebih baik aku memutuskan untuk berhenti. Lantas, aku mulai berpikir. Tembakan maksimumku saat ini adalah 6 kali. Itu dua kali lebih banyak daripada kemarin. Aku menatap lima peluru air yang jumlahnya setara dengan 1 tong air, dan bertanya-tanya,
Aku penasaran, mengapa aku bisa menembakkan peluru 2 kali lebih banyak daripada kemaren. Apakah karena aku sudah lelah kemarin, atau apakah karena aku mengonsumsi lebih banyak MP?
Aku melepaskan semua sihirku melalui mantra tanpa suara, jadi seharusnya tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kedua metode tersebut. Aku tidak mengerti.
Mungkin jumlahnya akan terus meningkat besok. Hari berikutnya.
Jumlah peluru air yang bisa kuciptakan meningkat. Sebelas kali. Rasanya seperti, aku dapat meningkatkan jumlah tembakan setiap harinya. Jika teoriku benar, seharusnya besok aku bisa menembakkan 21 kali. Hari lainnya pun berlalu. Untuk mengkonfirmasi tebakanku, aku melepaskan 5 kali tembakan, kemudian berhenti. Hari lainnya pun berlalu, Dan batasku menjadi 26 kali tembakan. Batasku benar-benar sama dengan jumlah sihir yang kutembakkan.
(Jangan bercanda ........!)
Bukankah jumlah Mana seseorang sudah ditentukan sejak saat dia lahir?
Tapi, kau sendirilah yang menentukan bakatmu, yaitu hal tak berwujud yang tak bisa kau lihat dengan mata telanjang.
Potensi anak-anak bukanlah hal yang bisa ditentukan oleh orang dewasa!!
Yahh, ini juga berarti bahwa aku tidak boleh mempercayai apa yang tertulis di buku begitu saja.
Buku ini mungkin mengatakan sesuatu seperti, kebahagiaan manusia memiliki batas . Atau sejenisnya.
Atau, apakah itu mengacu pada hasil latihan?
Apakah itu berarti bahwa setelah berlatih keras, ada kapasitas Mana pada diri seseorang?
Tidak, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Ini hanyalah sebuah hipotesis. Ini adalah sesuatu seperti .. Tergantung bagaimana kau tumbuh berkembang, atau sejenisnya. Ketika melepaskan sihir selama balita, nilai maksimum MP-ku meningkat secara drastis, atau semacamnya.
Ah, mungkin juga ini karena kemampuan khusus pada tubuhku.
.. Tidak, tidak baik menganggap diri sendiri spesial.
Pada duniaku sebelumnya, dikatakan bahwa kemampuan atletis seseorang meningkat pesat selama masa pubertas. Tapi masalahnya adalah, setelah pubertas, tidak peduli seberapa keras kau mencoba, kemajuannya tidak pernah signifikan. Bahkan di dunia ini, untuk hal seperti sihir, kaidah-kaidah itu masihlah berlaku. Pada dasarnya sama saja. Kalau begitu, ada satu hal yang harus kulakukan. Yaitu, berlatih sekeras mungkin sebelum pubertas berakhir.
Dari hari berikutnya dan seterusnya, aku menghabiskan Mana-ku sampai titik nol setiap harinya. Pada saat yang sama, jumlah sihir yang bisa kugunakan terus meningkat. Selama aku bisa mengingat perasaan itu, mudah bagiku untuk menggunakan mantra tanpa suara. Pokoknya, target jangka pendekku adalah benar-benar menguasai sihir tingkat awal. Yang dimaksud sihir tingkat awal adalah, sihir yang hanya bersifat menyerang. Peluru air dan api dikategorikan sebagai mantra-mantra dasar.
Ada tujuh tingkatan kesulitan sihir. Dasar, Menengah, Lanjut, Saint, Raja, Kaisar, Dewa
Aku membaca bahwa penyihir biasa yang telah menempuh pendidikan sihir, dapat meningkatkan sihir khusus miliknya sampai level lanjut, sedangkan seorang penyihir yang tidak menempuh pendidikan sihir hanya bisa mengembangkan sihirnya dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. Jika kita berhasil memasuki level di atas tingkat lanjut, berdasarkan sistem ini, orang-orang itu disebut sebagai Saint Api atau Saint Air.
Level Saint.
Aku mulai mendambakannya. Tapi buku pedoman sihir ini hanya berisikan sistem sihir api, air, angin, dan bumi, sampai tingkat lanjut.
Di manakah aku bisa belajar mantra level Saint dan di atasnya ..?”
Tidak, lebih baik aku tidak berpikir terlalu jauh saat ini. Ini sama seperti RPG Maker, Jika seseorang memulai dengan menciptakan monster terkuat, maka kemungkinan besar dia akan menyesal nanti. Seseorang harusnya mulai dari Slime. Meskipun begitu, aku bahkan tidak menyelesaikan Slime walaupun memulainya dari situ.
Sekarang, buku ini berisikan pelajaran dasar elemen air, seperti:
Peluru air: Sebuah peluru air yang bisa ditembakkan. Water Ball.
Perisai air: Air yang naik dari tanah untuk membentuk dinding. Water Shield.
Panah air: Sebuah panah sepanjang 20 cm yang ditembakkan. Water Arrow.
Serangan air: Menciptakan pilar es untuk menghantam musuh. Ice Smash.
Senjata es: Membentuk pedang es. Ice Blade.
Aku mencoba semuanya. Meskipun setiap mantra hanyalah tingkat dasar, jumlah Mana yang dibutuhkan untuk melepaskan sihir sangatlah bervariasi. Aku menggunakan peluru air sebagai standarku. Sekali pelepasan sihir bisa mengeluarkan antara 2 – 20 peluru air, berdasarkan seberapa besar Mana-mu.
Pada dasarnya, aku hanya berlatih tentang sihir air. Akan jadi masalah jika aku berlatih sihir api, kemudian berakhir dengan membakar rumah. Berbicara tentang api, tampaknya jumlah Mana yang digunakan adalah berhubungan dengan suhu. Begitupun dengan sihir air, semakin tinggi tingkatnya, maka semakin dingin esnya.
Pada buku dijelaskan bahwa air harus ditembakkan keluar melalui tanganku, namun peluru air dan juga panah air ciptaanku tidak pernah meluncur dengan baik.
Aku tidak pernah menembakkan air ciptaanku dengan kecepatan tinggi, seperti yang diajarkan pada buku.
Kenapa bisa begitu? Di manakah kesalahanku ..
Hmmm. Aku tidak mengerti.
Buku itu mengatakan sesuatu tentang ukuran dan kecepatan mantra.
Mungkinkah. Setelah menciptakan peluru, aku masih harus mengontrolnya dengan menggunakan sihir?
Kalau begitu, mari kita coba.
Oh?
Peluru air menjadi lebih besar.
Ohhhh !!
Celepuk.
Oh ..
Tapi masih saja jatuh ke lantai, tanpa melesat. Setelah itu, aku mencoba berbagai cara untuk mengubah ukuran peluru. Aku membuat dua peluru yang berbeda, pada saat yang sama.
Aku mengubah ukuran peluru, pada saat yang sama. Namun, meskipun aku sudah mendapatkan temuan baru seperti ini, air ciptaanku masih saja tidak melesat. Api dan angin tidak terpengaruh oleh gravitasi, dan dapat melayang di udara. Namun pada akhirnya, itu akan hilang setelah waktu tertentu.
Aku mencoba menggunakan angin untuk menembak bola api, tapi rasanya salah deh.
2 bulan kemudian.
Setelah berkali-kali melakukan kesalahan, aku akhirnya berhasil melesatkan peluru air.
Sekarang, aku sudah paham konsep dasar di balik perapalan mantra. Ada langkah-langkah tertentu untuk melantunkan mantra.
Penciptaan >> Pengaturan ukuran >> Pengaturan kecepatan tembak >> Aktivasi.
Dengan begini, mantra sihir selesai dibuat setelah si pencipta menentukan ukuran dan kecepatan dari sihir itu sendiri.
Artinya, setelah melantunkan mantra..
1) Mantra secara otomatis membentuk wujudnya.
2 Setelah itu, dalam jangka waktu yang konstan, tingkatkan input Mana untuk menyesuaikan ukuran.
3 Setelah penyesuaian ukuran, dalam jangka waktu yang konstan, tambahkan input Mana untuk menyesuaikan kecepatan luncur peluru sihir.
4 Setelah menyelesaikan tahapan-tahapan persiapan di atas, maka sihir akan terlepas dari tanganmu, kemudian terbang secara otomatis pada target yang kau bidik.
Seperti itulah urutan kerjanya. Atau setidaknya. seperti itulah yang kusimpulkan.
Kuncinya adalah setelah pelantunan mantra, aku perlu menambahkan lebih banyak Mana, sampai dua kali lipat. Jika tidak ada penyesuaian ukuran, penyesuaian kecepatan tembak pun tidak akan terjadi. Maka, pantas saja ketika aku melepaskan peluru air, airnya langsung jatuh ke lantai tanpa melesat terlebih dahulu. Yang terjadi hanyalah penyesuaian ukuran.
Sebagai tambahan, ketika aku merapalkan mantra tanpa suara, aku sendirilah yang harus memproses itu semua. Meskipun itu merepotkan, itu dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengubah ukuran dan kecepatan tembak. Mungkin saja aku bisa melakukannya lebih cepat daripada perapalan mantra biasa. Dan juga, modifikasi dapat dilakukan selama fase penciptaan mantra tanpa suara.
Misalnya, yang tidak tercatat dalam buku ini adalah bagaimana caranya untuk membekukan peluru air, sehingga menjadi peluru es. Jika aku berlatih ini, aku mungkin bisa menggunakan serangan Kaiser Phoenix (Wajahku pun dipenuhi kebanggaan).
Dengan ide-ide yang berbeda, aku dapat membuat berbagai macam efek.
Ini semakin menarik!!
... Tapi dasar-dasarnya sangatlah penting. Aku harus menunggu sampai aku meningkatkan Mana secara keseluruhan, sebelum bereksperimen.
1 Meningkatkan kapasitas Mana-ku
2 Gunakan mantra tanpa suara sampai semudah bernafas
Ini adalah dua PR-ku saat ini. Jika kau memiliki tujuan yang besar, maka kegagalan yang akan kau dapatkan juga semakin besar. Sehingga, cara terbaik adalah menentukan target yang kecil dan lebih mudah terlebih dulu. Baiklah, waktunya untuk bekerja keras. Dan, aku terus berlatih sihir dasar sampai aku hampir pingsan
Bab 4 – Guru
3 tahun.
Baru-baru ini, akhirnya aku tahu nama orang tuaku. Nama paulku adalah Paul Greyrat. Dan nama ibuku adalah Zenith Greyrat. Namaku Rudeus Greyrat. Putra tertua dari keluarga Greyrat.
Meskipun aku bernama Rudeus, orang tuaku selalu mempersingkat nama ketika memanggil anggota keluarga lainnya, sehingga mereka hanya memanggilku Rudi. Karena itulah, aku baru tahu nama lengkapku setelah sekian lama.
Oh Rudi, kau benar-benar menyukai buku.
Ketika aku berjalan-jalan sambil membawa buku, Zenith pun selalu tertawa saat melihatnya. Mereka tidak pernah mengomel padaku, ataupun mengambil buku-bukuku. Aku selalu menyelipkan buku di bawah ketiakku, bahkan saat makan. Namun, aku tidak pernah membaca buku sihir di depan keluargaku.
Aku melakukannya bukan untuk menyembunyikan bakatku. Hanya saja, aku belum tahu bagaimana orang-orang memandang sihir di dunia ini. Dalam duniaku sebelumnya, para penyihir dibasmi selama Abad Pertengahan. Perapalan mantra selalu dianggap sebagai ajaran sesat, dan mereka pun dibakar hidup-hidup.
Ada buku-buku praktis yang membahas sihir di dunia ini, sehingga mungkin saja penggunaan sihir tidak dianggap sebagai suatu tindakan yang sesat, tapi tetap saja aku belum melihat pandangan orang lain secara keseluruhan.
Mungkin pemahaman umum adalah, sihir hanya dapat digunakan setelah seseorang menjadi dewasa. Karena bagaimanapun juga, sihir adalah tindakan berbahaya yang akan menyebabkan penggunanya pingsan setelah kelelahan. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa sihir adalah suatu halangan bagi balita untuk tumbuh berkembang.
Dengan pemikiran sepertiitu, aku memutuskan untuk tetap merahasiakan sihir yang sedang kupelajari dari kedua orang tuaku.
Atau mungkin saja mereka sudah lama mengetahui rahasia ini, karena aku pernah menembakkan peluru sihir ke luar jendela. Aku pun tak punya banyak pilihan. Pokoknya, aku ingin tahu seberapa cepat aku bisa menembakkan sihir. Si Maid (sepertinya namanya adalah Lilia) sesekali menatapku dengan ekspresi khawatir di wajahnya, tapi sepertinya orang tuaku tidak terlalu mempermasalahkannya, jadi kupikir itu baik-baik saja.
Jika aku berhenti di sini, apa boleh buat, tapi aku tidak ingin kehilangan masa pertumbuhanku.
Bakat akan meredup ketika seseorang mencegah pertumbuhannya. Aku harus memanfaatkan periode ini sebaik-baiknya. Namun, aku harus terus merahasiakan latihan sihir ini sampai akhir. Pada suatu sore hari tertentu.
Kapasitas Mana-ku telah tumbuh cukup baik, jadi aku mulai mencoba beberapa mantra level menengah. Aku ingin coba-coba menembakkan meriam air. Ukuran: 1, Kecepatan: 0.
Seperti biasa, aku ingin melakukannya hanya untuk mengisi air pada tong. Aku mengira bahwa, aku bisa mengisi tong itu sampai penuh, bahkan sampai meluber.
Tapi tiba-tiba, sejumlah besar air dilepaskan, menabrak tembok, sehingga membuat lubang besar di sana. Karena seketika terkejut, aku pun tidak sanggup melakukan apa-apa. Sebuah lubang menganga di dinding adalah bukti jelas bahwa aku telah belajar menembakkan sihir. Dan aku pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyembunyikannya. Aku menyerah seketika.
Apa yang terjadi!? Whoa ..
Yang pertama datang menghampiriku adalah si paul, Paul. Kemudian, dia menatap dinding dengan mulut ternganga.
Tunggu.hei, apa ... Rudi, kamu baik-baik saja ..?
Paul benar-benar pria yang baik. Tidak peduli bagaimana orang melihatnya, pasti akulah orang yang telah melakukan ini semua.
Namun, dia malah mengkhawatirkan aku.
Monster .? Tapi di sekitar sini?” Bahkan sekarang pun, dia masih saja menggumamkan hal-hal seperti itu, sambil melihat sekeliling dengan hati-hati.
Astaga.
Dan Zenith mengikutinya masuk ke ruangan. Dia lebih tenang dari sang paul. Setelah melihat dinding hancur dan genangan air di lantai,
Oh .?
Matanya menajam ketika dia melihat lembaran buku sihir yang kubiarkan terbuka. Setelah melihatku dan buku tersebut, ia berjongkok di depanku, dan menatap mataku dengan ekspresi lembut. Mengerikan. Tidak ada senyum di matanya. Dan sebisa mungkin, aku menatap Zenith dengan mata memelas.
Aku belajar ini ketika masih menjadi NEET. Ketika kau melakukan sesuatu yang salah, sikap keras kepala hanya akan membuat berbagai hal menjadi semakin buruk. Oleh karena itu, aku tidak bisa menghindari tatapan matanya. Ini adalah saat ketika sikap tulus dibutuhkan. Aku tidak bisa memalingkan pandangan dari tatapan mata seseorang, dan aku harus menatap wajah mereka secara langsung. Ini saja akan membuat aku terlihat lebih tulus. Tidak peduli apa yang orang pikirkan. Tujuan utamaku adalah menampilkan ekspresi setulus mungkin.
Rudi, apakah kau membaca keras-keras apa yang tertulis di buku ini?
Maafkan aku.
Aku mengangguk, dan meminta maaf. Ketika telah melakukan kesalahan, hal yang terbaik adalah meminta maaf dengan segera.
Bagaimanapun juga, dalam situasi seperti ini, tak mungkin ada orang lain yang dituduh melakukannya. Jika aku mengucapkan kebohongan murahan pada mereka, maka kepercayaan mereka akan turun. Aku berbohong semauku di masa lalu, dan hasilnya, tak seorang pun mempercayaiku.
Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi.
Tidak, tunggu, ini adalah level menengah ..
Kyaa! Kau dengar itu, sayang !? Bagaimanapun, anak kita adalah seorang jenius!!”
Kata-kata Paul tenggelam oleh jeritan Zenith. Dia meraih tangan Paul dan melompat dalam suka-cita. Betapa energik wanita satu ini.
Apakah permintaan maafku diabaikan?
Tidak, kau, erm, bahkan aku pun belum pernah mengajarinya kata-kata!
Ayo kita menyewa tutor privat sekarang!! Anak ini akan menjadi penyihir yang luar biasa di masa depan!!”
Paul masih kebingungan, sementara Zenith benar-benar senang. Sepertinya Zenith kegirangan setelah melihat fakta bahwa aku bisa menggunakan sihir. Mungkin aku terlalu khawatir ketika berpikir bahwa anak-anak seharusnya tidak menggunakan sihir. Lilia tetap tenang, sembari dia membersihkan kamar tanpa suara. Maid ini mungkin sudah lama tahu bahwa aku menggunakan sihir, atau dia sudah punya firasat bahwa aku bisa menggunakan sihir. Mungkin menurutnya itu bukanlah suatu hal yang buruk, sehingga dia tidak begitu histeris. Atau mungkin dia hanya ingin melihat wajah bahagia dari orang tuaku.
Hei sayang, pergilah ke Roa besok, dan pasang pengumuman tentang lowongan pekerjaan!! Bakat ini harus terus dilatih!!
Zenith masih saja histeris dengan dirinya sendiri, dia bahkan mengira aku adalah semacam anak jenius. Apakah aku dianggap jenius karena tiba-tiba mampu melepaskan sihir?
Sejauh itukah rasa sayang orang tua terhadapku? Ataukah seorang balita yang bisa menggunakan sihir tingkat menengah dianggap begitu luar biasa di dunia ini? Aku masihlah tak tahu apa-apa. Tidak, sepertinya orang tuaku saja yang kelewat menyayangiku. Aku tidak pernah menggunakan sihir di depan Zenith sebelumnya
Aku kira itu benar. Tapi karena dia berkata begitu, mungkin dia benar-benar menganggap bahwa aku adalah seorang jenius.
Ini sebenarnya adalah suatu asumsi yang tak berdasar .. Ah, tidak. Aku tiba-tiba teringat. Karena aku selalu sendirian.
Ketika aku sedang membaca, aku terkadang mengulangi frase yang kusukai.
Dan sejak aku datang ke dunia ini, aku sering bergumam sendiri ketika membaca buku. Awalnya aku menggunakan bahasa Jepang, tapi setelah aku belajar bagaimana cara berbicara, aku sengaja menggunakan bahasa dunia ini.
Dan kemudian, ketika aku bergumam pada diri sendiri, Rudi, itu ----- Zenith akan mengajariku arti dari kata-kata tersebut.
Karena itu, aku cukup ingat tentang kaidah-kaidah dasar dunia ini. Yahh, lupakan itu.
Aku tidak pernah mengatakan apapun pada siapapun, tapi aku belajar huruf dunia ini sendirian. Orang tuaku bahkan tidak mengajari bagaimana caranya berbicara. Dari sudut pandang orang tuaku, seakan-akan mereka bilang : Anak kita bisa membaca kata-kata yang belum pernah kita ajarkan, dan membaca buku itu dengan keras. Dia pasti jenius.”
Jikalau aku punya anak seperti itu, tentu saja aku juga akan menganggapnya jenius. Di masa lalu, hal yang sama terjadi ketika adikku lahir. Dia tumbuh dengan cepat, dan melakukan segala sesuatu lebih cepat daripada aku dan kakakku.
Dia lebih cepat belajar tentang berbicara, dan juga berjalan dengan menggunakan kedua kakinya. Itu membuat kedua orang tuaku optimis; setiap kali anak-anak mereka melakukan sesuatu, walaupun itu tidak terlalu hebat, mereka akan mengatakan Anak itu pasti jenius
Yah, aku hanyalah seorang NEET terkutuk yang putus sekolah semenjak SMA, dan mentalku saat ini di atas pria berusia 30 tahun. Tanpa banyak pengalaman, aku hanya bisa hidup sengsara.
Itu 10 kali! 10 Kali!
Sayang, dapatkan tutor secepatnya!! Kita pasti akan menemukan guru sihir yang baik di Roa!!”
Ketika orang tau tahu bahwa anaknya berbakat, maka mereka pasti akan segera memberikan yang terbaik untuk anak tersebut, agar bakatnya semakin berkembang. Dalam kehidupanku sebelumnya, orang tuaku selalu memuji bakat adikku, dan membiarkan dia belajar segala macam hal. Yang terjadi di dunia inipun tidaklah banyak berbeda, Zenith menyarankan untuk menyewa seorang penyihir untuk menjadi tutor privat.
Tapi Paul keberatan dengan ide ini.
Tunggu, bukankah kita sudah sepakat jika anak kita laki-laki, maka dia akan menjadi seorang Swordsman kelak?
Jika anak mereka terlahir sebagai laki-laki, maka mereka akan mendidiknya untuk menjadi seorang Swordsman. Jika perempuan, maka mereka akan memperbolehkannya belajar sihir. Tampaknya mereka telah membuat keputusan seperti itu sebelum aku dilahirkan.
Tapi dia bisa mengaktifkan mantra level menengah pada usia sekecil ini!! Jika ia mulai pelatihan sekarang, maka dia akan menjadi penyihir yang luar biasa!!”
Tapi janji adalah janji, kan !?
Janji apa!? Bukankah kau juga sering melanggar janjimu!?”
Itu tidak ada hubungannya dengan ini, ‘kan!?
Dan, sebuah pertengkaran dalam rumah tangga pun pecah. Lilia dengan tenang masih saja membersihkan kamar.
Biarkan dia belajar sihir sejak dini, dan belajar ilmu berpedang ketika sudah besar nanti. Tidakkah itu adil bagimu?”
Setelah pertengkaran itu bertahan untuk sementara waktu, Lilia akhirnya selesai bersih-bersih, dia mendesah, dan menyarankan untuk menyudahi adu argumen di antara mereka berdua.
Dan, kedua orang tua tolol ini pun menyuruhku belajar tanpa mengetahui apakah minatku yang sebenarnya. Baiklah. Aku tidak masalah dengan itu, karena aku memang sudah memutuskan untuk hidup dengan serius di dunia ini.
Dan karena alasan tersebut, rumah tangga kami memutuskan untuk menyewa seorang tutor. Tampaknya gaji seorang guru privat untuk anak bangsawan cukuplah tinggi.
Paul adalah salah seorang dari beberapa ksatria di daerah ini, dan masih memiliki status sebagai bangsawan kelas rendah. Dengan demikian, dia mampu membayar gaji yang pantas untuk si tutor. Tapi ini adalah wilpaul desa yang jauh dari ibukota. Karena tempat ini adalah daerah perbatasan, maka sangatlah susah untuk mendapatkan tenaga pengajar yang mahir.
Apakah mereka dapat mempekerjakan seseorang hanya dengan mengirimkan permintaan ke Guild Sihir dan Guild Petualang? Meskipun aku memiliki kekhawatiran seperti itu, hal yang tak terduga adalah, ternyata kami dapat menemukan tutor dengan cepat, dan calon guruku pun akan datang besok pagi.
Desa ini tidak memiliki penginapan, sehingga lowongan pekerjaan itu menyertakan fasilitas berupa tempat tinggal bagi si tutor. Menurut dugaan orang tuaku, calon guruku mungkin adalah seorang pensiunan petualang. Orang-orang muda tidak akan mau datang ke pedesaan, dan seorang penyihir istana bisa dengan mudah mencari pekerjaan di ibukota. Di dunia ini, hanya penyihir yang telah menguasai sihir kelas lanjut atau lebih tinggi, yang boleh menjadi seorang tutor. Itu artinya, level petualang ini mungkin di atas level menengah. Yang datang mungkin adalah seorang pria setengah baya, atau bahkan kakek tua yang menghabiskan hidupnya untuk meneliti sihir. Orang itu mungkin memiliki jenggot, dan tampak bijaksana.
Aku adalah Roxy. Mohon bantuannya.
Tapi, bertentangan dengan bayanganku sebelumnya, guru yang datang malah seorang gadis muda belia. Dia mungkin seusia siswa SMP.
Dia mengenakan jubah penyihir coklat, memiliki rambut berwarna biru muda yang dikepang, dan tubuh yang sesuai dengan umurnya. Kulitnya putih bersih, sama sekali tidak ada noda kecoklatan akibat sengatan sinar matahari, dan dia menatap kami dengan mata-setengah-mengantuk. Dia memiliki bibir yang mungil, dan meskipun dia tidak berkacamata, dia kelihatan seperti seorang gadis yang suka menghabiskan waktu bekerja di perpustakaan. Dia memegang tas pada satu tangan, tangan lainnya memegang tongkat yang biasa digunakan oleh penyihir pada umumnya. Dan dengan demikian, ia bertemu dengan kami bertiga di rumah ini.Orang tuaku melihat ke arahnya tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. Pantas saja.
Karena kami sama sekali tidak mengira bakal mendapatkan tutor seperti ini. Kami membayangkan seorang guru sihir tua yang sudah peyot. Tetapi orang yang datang adalah gadis muda seperti ini. Bagiku, yang telah memainkan banyak game, penyihir loli seperti itu bukan sesuatu hal yang luar biasa. Loli, dengan mata setengah mengantuk, dan kepribadian yang sepertinya kasar.
Dengan 3 kualitas ini, dia begitu sempurna.
Kumohon jadilah istriku.
Ah-ah, apakah kau adalah. si tutor itu?
Ah, itu, sebenarnya..
Ketika kedua ortuku tergagap, aku dengan cepat menambahkan..
Kau benar-benar kecil.
Aku tidak ingin mendengarnya darimu.
Aku segera dibantah. Mungkin dia memiliki sindrome tentang hal itu. Namun, yang kumaksud bukanlah dadanya.
Roxy mendesah.
Hah. Apapun itu, yang manakah murid yang akan kuajari?”
Dia melihat sekeliling sembari bertanya,
Ah, anak inilah dia.
Zenith memperkenalkan aku, yang berada di pelukannya. Aku memberinya kedipan mata. Dan ia segera melebarkan matanya, dan melepaskan desahan,
Haaa. Sudah kuduga ini akan terus terjadi, huh, selalu ada orang tua yang berpikir bahwa anaknya punya bakat, setelah melihatnya tumbuh sedikit saja .
Dia diam-diam menggerutu seperti itu.
Aku mendengarnya!! Nona Roxy !!
Yah, meskipun begitu. aku sangat setuju sih dengan omongannya.
Kau bilang apa?
Tidak ada. Namun, aku berpikir bahwa anak kalian tidak memahami konsep sihir, ‘kan?”
Tidak apa-apa. Rudi kami sangatlah berbakat !!”
Zenith mengatakan hal mainstream yang akan selalu dikatakan orang tua bego pada umumnya. Roxy mendesah lagi.
Haa, aku mengerti. Aku akan mencoba yang terbaik.
Mungkin dia merasa bahwa tidak akan berguna jika dia berkata lebih banyak. Dan dengan demikian, telah diputuskan sejak pagi ini, bahwa Roxy akan memberikan pelajaran untukku, dan sewaktu sore, Paul akan memberiku pelajaran tentang berpedang.
Nah, mari kita mulai dari buku sihir .. Tidak, sebelum itu, mari kita menguji seberapa banyak sihir yang dapat kau gunakan, Rudi.
Untuk pelajaran pertama, Roxy membawaku ke halaman. Sebagian besar pelajaran sihir dilakukan di luar ruangan. Dia sangat paham apa yang akan terjadi jika sihir digunakan di dalam rumah. Dan dia tidak akan merusak dinding seperti yang kulakukan.
Biarkan aku menunjukkannya padamu. Limpahkan perlindungan air di tempat yang engkau inginkan, biarkan kristal air bersih mengalir di sini,「WATER BALL」.
Ketika Roxy membacakan mantra, peluru air seukuran bola basket terbentuk di tangannya. Gumpalan air itu terbang menuju salah satu pohon dengan kecepatan tinggi. Ranting-ranting pohon langsung patah, dan pagar basah kuyup. Ukuran 3, kecepatan 4. Kalau aku boleh menilai, mungkin seperti itu kisaran sihirnya.
Bagaimana dengan itu?
Ya. Itu adalah pohon yang ditanam ibuku dengan penuh kasih sayang. Kupikir dia akan marah nanti.
Eh!? Sungguh?
Sungguh.
Paul pernah mengayunkan pedangnya, lantas memangkas ranting-ranting pohon itu. Zenith pun marah besar, dan itu bukanlah teror sembarangan.
Bukankah ini buruk? Aku harus memikirkan sesuatu .. !!”
Roxy dengan panik berlari ke pohon, dan mengambil ranting yang jatuh. Dan dengan wajah memerah, dia pun mengambil ranting-ranting tersebut.
Uu . biarkan kuasa Dewa mengubahnya menjadi tanaman yang melimpah, dan limpahkan pada sesuatu yang telah kehilangan kekuatannya untuk bangkit sekali lagi, HEAL
Mantra lainnya. Dan ranting-ranting pun kembali ke keadaan semula.
Fiuh.
Wow. Menakjubkan. Apapun itu, aku harus memujinya.
Fiuh.
Guru, kau tahu bagaimana menggunakan sihir penyembuhan!!?
Eh, ya. Aku tidak punya masalah dalam menggunakan sihir penyembuhan sampai level menengah.
Kereeeeen!! Itu kereeeen sekali!!
Tidak, jika kau berlatih dengan baik, maka kau pasti bisa melakukannya sampai sejauh itu.
Meskipun tanggapannya terkesan jutek, tapi aku bisa melihat bahwa sudut-sudut bibirnya melengkung ke atas, dan hidungnya berkedut ketika dia menghembuskan napas penuh kepuasan. Ya, dia bangga, dan dia senang setelah mendapatkan pujian dariku.
Aku hanya berteriak keren dua kali, dan dia sudah sebahagia ini. Itu terlalu mudah.
Nah, Rudi. Cobalah.
Baik.
Aku mengangkat tanganku ..
Ups, aku belum pernah menggunakan mantra peluru air selama hampir setahun. Sekarang aku tidak bisa mengingatnya. Mari kita coba apa yang baru saja dikatakan oleh Roxy, Erm, erm,
Mm, gimana bunyi mantranya tadi?
Limpahkan perlindungan air di tempat yang engkau inginkan, biarkan kristal air bersih mengalir di sini.
Roxy menjawab dengan acuh tak acuh. Mungkin dia sudah menduga bahwa aku lupa mantranya. Tetapi walaupun kau menjawab dengan begitu tak acuh, aku masih saja tidak bisa mengingatnya dalam sekali percobaan.
Limpahkan perlindungan air di tempat yang engkau inginkan .. water ball.
Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, jadi aku hanya mempersingkat mantra itu. Aku membuat bola air yang sedikit lebih kecil dan lamban daripada yang dibuat oleh Roxy. Jika aku membuatnya lebih besar daripada miliknya, dia mungkin akan cemberut. Aku sangat murah hati ketika berhadapan dengan gadis-gadis muda. Namun, ternyata muncul gumpalan air seukuran bola basket yang terbang dengan kekuatan tinggi, beserta deruan. Dan pohon pun tumbang dengan suara retakan yang keras. Roxy menatapku dengan wajah bingung.
Kau mempersingkat mantranya?
Ya.
Apakah itu buruk?
Kalau dipikir-pikir, mantra tanpa suara memang tidak pernah diajarkan pada buku sihir.
Tapi aku sudah cukup biasa menggunakannya, apakah aku melakukan suatu hal yang tabu?
Ataukah dia marah karena 10 tahun terlalu dini bagiku untuk menggunakan mantra tanpa suara..
Dalam kasus ini, akan lebih baik jika aku tidak mengatakan hal-hal seperti, Gimana tuh, siapa yang mau merapalkan mantra panjang kayak gitu?
Apakah kau sudah biasa mempersingkat mantra?
Biasanya .. aku malah tidak merapalkannya.
Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu, jadi aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
Namun, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya karena aku akan selalu mendapatkan pelajaran sihir dari gadis ini.
Mantra tanpa suara!?
Roxy membelalakkan matanya, dan memandangku dengan tatapan skeptis.
..Aku paham. Jadi kau biasanya menggunakan mantra tanpa suara. Aku paham, aku paham. Apakah kau cepat merasa lelah?”
Namun, ia segera kembali ke ekspresi formalnya.
Ya. Aku masih baik-baik saja sih.
Begitukah? Aku tidak mempermasalahkan tentang ukuran dan kekuatan peluru.
Terima kasih banyak.
Roxy akhirnya memberikan senyum. Sebenarnya itu lebih mirip seperti seringai yang besar. Dan dia bergumam, .. Sepertinya, dia memang cukup layak diajari, ya?
Hei, aku bisa mendengarnya.
Nah, mari kita segera mempelajari mantra berikutnya . Roxy tampak agak bersemangat, dan ketika dia hampir membuka lembaran buku pelajaran sihirnya, AHHHH !!!
Sebuah teriakan meledak di belakangku. Itu adalah suara Zenith, yang datang untuk memeriksa kami. Minuman di atas nampan yang dia pegang jatuh ke tanah, dan tangannya menutupi mulut saat ia menatap pohon yang sudah tumbang. Ekspresi sedih muncul di wajahnya. Tak lama berselang, kesedihan itu berubah menjadi murka. Ah, ini buruk.
Zenith melesat untuk mendekati Roxy.
Nona Roxy !! Kumohon jangan memperlakukan rumah kami sebagai laboratorium percobaan!!
Ehh !! Tapi Rudi lah yang melakukannya ..
Walaupun Rudi yang melakukannya, kaulah yang memberikan dia ijin, ‘kan!?
Roxy tampak seperti disambar petir, dia benar-benar terkejut, matanya kosong, dan dia hanya bisa menundukkan wajahnya.
Yahh, kau tidak bisa menyalahkan balita berumur 3 tahun.
Ya, Anda benar.
Aku harap ini tidak akan terjadi lagi !!!
Ya, aku sangat menyesal, nyonya ..
Lantas, Zenith melepaskan sihir penyembuhan untuk memperbaiki pohon itu sekali lagi, kemudian dia kembali ke dalam rumah.
Sepertinya, aku begitu cepat membuat kesalahan ..
Guru.
Haha, aku mungkin akan dipecat besok.
Roxy duduk di tanah dan mulai menggambar . Dia benar-benar tidak bisa menerima suatu kesalahan pun. Aku menepuk bahunya.
Rudi?
Meskipun aku menepuk bahunya, aku tidak tahu harus berkata apa untuk menghiburnya, karena aku tidak pernah berkomunikasi dengan baik pada siapa pun selama hampir 20 tahun. Maaf, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini . Tidak.. tenanglah.
Pikirkan hal ini dengan hati-hati. Bagaimana cara seorang protagonis dalam ero-game mencoba untuk menghiburnya dalam situasi seperti ini. Hmm, aku yakin itu adalah sesuatu seperti ini.
Kau masih belum gagal, guru.
Ru-Rudi .?
Kau hanya mendapatkan pengalaman buruk.
Roxy menatapku dengan heran.
I-itu benar. Terima kasih.
Ya. Silakan lanjutkan pelajarannya.
Dan, sejak saat itu, aku semakin akrab dengan Roxy.
Sekitar sore hari, setelah berlatih dengan Paul. Tidak ada satu pun pedang kayu yang pas dengan ukuran tubuhku, jadi pada dasarnya, pelatihannya adalah tentang kemampuan fisik.
Jogging, push-up, sit-up, dan sebagainya.
Pokoknya, sepertinya rencana Paul adalah agar diriku lebih banyak bergerak terlebih dahulu. Pada hari-hari ketika Paul tidak dapat melatihku karena sibuk bekerja, aku harus tetap meneruskan latihan, karena latihan fisik adalah sesuatu yang perlu dikerjakan secara rutin. Di dunia inipun demikian. Aku akan mencoba yang terbaik. Sebagai seorang anak, tubuh fisikku tidak tahan jika harus mengikuti porsi latihan sepanjang sore, jadi latihan berpedang akan selesai sebelum senja. Karena itu, aku akan mengembangkan Mana-ku sampai makan malam. Mantra sihir mengonsumsi sejumlah Mana yang berbeda, tergantung pada ‘perubahan ukuran’. Sebagai contoh, bayangkan saja aku mengeluarkan 1 Mana untuk melakukan mantra tanpa suara. Itu berarti, Mana tambahan akan semakin banyak ketika aku meningkatkan kecepatan tembakan sihirku. Ini adalah contoh nyata dari hukum kekekalan masa. Tapi sebaliknya, entah kenapa, semakin kecil ukuran sihirnya, Mana yang kubutuhkan juga semakin besar. Aku benar-benar tidak mengerti logika ini. Membuat tetesan sihir air mengharuskan aku untuk menggunakan lebih banyak Mana daripada menciptakan peluru air berukuran kepalan tangan. Ini benar-benar aneh.
Setiap pertanyaan yang kupikirkan, selalu kutanyakan pada Roxy, tapi satu-satunya jawaban yang dia balaskan adalah, Ya memang begitu.. .
Sepertinya itu masih belum terpecahkan. Aku masih tidak mengerti alasannya. Tapi ini bukanlah metode yang buruk untuk pelatihanku. Kapasitas Mana-ku telah meningkat cukup banyak baru-baru ini. Jika aku tidak menggunakan mantra besar, maka aku tidak bisa mengetahui sampai seberapakah kapasitas Mana-ku saat ini. Jika aku ingin menguras Mana-ku, maka aku hanya perlu output maksimum untuk menghabiskannya. Tapi sekarang, saatnya untuk mencoba melatih ketangkasanku. Jadi, aku memutuskan untuk melakukan pekerjaan secara lembut. Menggunakan sihir untuk melakukan pekerjaan kecil, halus dan lembut. Misalnya, penciptaan patung es, menyalakan api pada ujung jariku, atau menulis kata-kata di papan tulis. Aku mencoba membelah tanah yang kuperoleh dari halaman, menjadi beberapa potongan kecil . Dan bahkan, hal-hal seperti menggantung kunci di depan kenop. Sihir bumi tidak mempengaruhi logam dan mineral sampai pada batas tertentu. Tapi jika kandungan logam pada benda itu semakin tinggi, maka Mana yang kugunakan juga semakin banyak. Kupikir, benar-benar sulit untuk merubah benda yang begitu keras. Semakin kecil target kontrol, semakin halus, semakin rumit, semakin akurat, semakin efisien, maka semakin besar pula jumlah Mana yang terkonsumsi. Melempar bola bisbol dengan segenap kekuatanku. Memasukkan benang dengan perlahan pada lubang jarum. Jumlah Mana yang diperlukan untuk melakukan kedua hal di atas, kurang-lebih sama. Dan juga, aku mencoba menggunakan berbagai jenis sihir pada waktu yang sama. Aku perlu menggunakan setidaknya 3 kali lipat Mana lebih banyak. Jadi, jika aku menggunakan 2 sistem sihir yang berbeda pada saat yang sama, dan melepaskannya dengan lembut, akurat, dan cepat pada saat yang sama, maka aku bisa dengan mudah menguras semua Mana-ku. Dan setelah melanjutkan pelatihan tersebut setiap hari ---- Aku akhirnya dapat menguras semua Mana-ku, bahkan setelah melepaskan mantra untuk satu setengah hari atau lebih. Aku kira, ini harusnya cukup. Hatiku mulai goyah. Tulang malasku ini mulai memberitahuku bahwa ini saharusnya sudah cukup, ‘kan? Setiap kali, aku berteriak dan memaki diriku sendiri. Otot-otot seseorang semakin mati rasa jika malas-malasan latihan.
Tentunya Mana bekerja dengan cara yang sama. Aku tidak bisa mengabaikan pelatihanku hanya karena kapasitasku sudah naik. Ketika mencoba melepaskan sihir di tengah malam, aku bisa mendengar beberapa suara teriakan yang menjengkelkan. Dari mana itu berasal? Tentu saja itu berasal dari kamar Paul dan Zenith. Mereka sedang sibuk bekerja rupanya. Mungkin dalam waktu dekat, adikku akan lahir.
Kupikir, memiliki adik perempuan adalah suatu hal yang baik. Yup, aku tidak ingin adik laki-laki. Aku masing ingat betul ketika adik lelakiku menghancurkan komputerku dengan pentungannya. Aku tidak ingin adik laki-laki. Seorang adik perempuan yang imut jauh lebih baik.
Aduh, nikmatnya.
Dalam kehidupanku sebelumnya, jika kudengar desahan menyebalkan seperti itu, aku akan segera menggebruk dinding atau lantai untuk menyuruh mereka diam. Oleh karena itu, kakak perempuanku tidak pernah lagi membawa pacarnya ke rumah. Kangen juga pada saat-saat seperti itu.
Sampai sekarang pun, aku masih menganggap bahwa tindakan seperti ini adalah suatu bentuk kejahatan. Aku selalu berpikir bahwa mereka mengejekku dari suatu tempat yang tidak bisa kugapai. Jadi, aku hanya bisa marah pada diriku sendiri, tanpa bisa kulampiaskan. Seolah-olah, aku didorong pada suatu tempat yang gelap, kemudian orang yang mendorongku melihat dari atas sembari mengatakan: Kenapa kau masih di tempat itu?
Tidak ada yang lebih menghina daripada itu. Namun baru-baru ini, aku mengubah pemikiranku. Tapi aku tidaklah yakin, apakah ini karena tubuhku yang kembali menjadi anak-anak, karena kedua orang tuaku, atau karena aku bekerja keras untuk meraih masa depan sendirian. Sekarang, aku berencana untuk menguping apa yang mereka sedang lakukan. Hmph, aku juga sudah dewasa lho .. Dengan mendengarkan rintihan-rintihan itu, kurang-lebih aku bisa menerka apa yang sedang terjadi di sana. Tampaknya Paul sangat ahli dalam hal ini. Adapun untuk Zenith, dia terjepit beberapa saat, terengah-engah, dan semacamnya, tetapi Paul mengatakan sesuatu seperti Masih pagi, lho ~ , dan terus menyerang. Sama seperti protagonis pada ero-game pelecehan seksual. Dia memiliki stamina yang hampir tak terbatas .. Hah, karena aku adalah anak Paul, maka apakah aku juga punya energi sebesar itu!?
Bangkitlah. Untuk para Heroine!!
Berilah aku rute cerita berwarna merah muda!!
Yah, meskipun begitu, antusiasme itu baru-baru ini memudar, dan aku bisa dengan tenang menuju ke toilet sembari melewati koridor yang berderita. Asal tahu saja, suara deritan itu akan berhenti ketika aku melewati ruangan mereka. Ini benar-benar menarik. Hari itu, aku berjalan ke toilet untuk menunjukkan bahwa aku belum tidur, dan aku menunjukkan bahwa anak mereka sudah bisa berjalan dengan bebas. Baiklah, apakah aku harus menyapa mereka pagi ini?
Papa, mama, apa yang sedang kalian lakukan dalam keadaan telanjang seperti itu?
Itulah yang akan aku tanyakan. Aku tak sabar untuk mendengar alasan mereka. Kukuku . Dengan berpikir begitu, aku diam-diam keluar dari ruanganku. Tapi, ternyata tamu tak diundang lainnya sudah tiba di sana. Gadis berambut biru itu berjongkok di koridor gelap, sembari mengintip ke dalam ruangan melalui celah pintu. Wajahnya memerah dan laju napasnya semakin kencang, tapi matanya terus terpaku ke dalam ruangan papa-mamaku.
Aku bisa melihat tangannya meremas bagian bawah jubahnya, seraya melakukan gerakan-gerakan erotis yang mengundang. Aku diam-diam kembali ke kamarku. Roxy adalah seorang gadis berusia remaja. Aku cukup murah hati untuk berpura-pura tidak melihat dia terlibat dalam urusan semacam ini. ..Hanya bercanda. Yah, paling tidak aku melihat tontonan yang menarik.
4 bulan telah berlalu.
Dan aku dapat menggunakan semua mantra tingkat menengah. Dan, aku mulai mengambil kelas malam dengan Roxy.Ups, tidak ada makna erotis dalam kata ‘kelas malam’ yang barusan kubilang tadi. Kelas malam berisikan pelajaran tentang bermacam-macam pengetahuan.
Roxy adalah guru yang baik.
Dia tidak terlalu terpaku pada kurlikulum dalam mengajar. Dia mengajarku menurut pemahamanku saja. Dia sangat mudah menyesuaikan dengan pemahaman siswanya. Dia mengambil pertanyaan dari buku catatan yang telah dipersiapkannya untukku; jika aku tidak mampu menjawab dengan benar, maka dia akan beralih pada buku catatan lainnya. Jika aku tidak mengerti, dia akan mengajariku dengan sabar. Ini saja sudah bisa membuatku memandang dunia ini dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam kehidupanku sebelumnya, keluarga kami pernah menyewa seorang tutor privat seperti Roxy, yaitu ketika kakakku hendak menempuh ujian. Pernah sekali aku merasa tertarik dan mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh si tutor. Namun, itu tidak berbeda dari apa yang telah diajarkan di sekolah. Dibandingkan dengan itu, kelas Roxy jauh lebih mudah untuk dipahami, dan menarik. Ini adalah sebuah kelas di mana aku bisa menanyakan berbagai macam hal. Ditambah lagi, gurunya adalah seorang gadis muda seumuran siswi SMP. Ini adalah skenario terbaik untukku. Dalam kehidupanku yang sebelumnya, ketika aku membayangkan terjadinya situasi begini, itu sudah cukup membuatku masturbasi 3x.
Guru, mengapa sihir hanya digunakan dalam pertempuran?
Sebenarnya, kau tidak boleh mengatakan bahwa sihir hanya bisa digunakan pada pertempuran .
Roxy selalu saja menjawab setiap pertanyaan tiba-tiba dariku dengan serius.
Hmm, memang, dari manakah aku harus mulai ..? Pertama-tama, dikatakan bahwa sihir berasal dari Petinggi Efl kuno berkuping panjang.
WHOA, Elf !!
Apakah mereka benar-benar ada!?
Rambut emas, baju hijau, memegang busur, dan selalu berhubungan erat dengan tentakel!!
“Bagi kalian yang belum tahu kenapa harus berhubungan erat dengan tentakel, maka lebih baik kalian tetap tak tahu. :v “
Ups, tenang. Mungkin yang disebut Elf di dunia ini berbeda dengan apa yang aku tahu .. Meskipun begitu, Roxy benar-benar berkata bahwa mereka berkuping panjang ..
Apa itu Elf berkuping panjang?
Hmm, Elf berkuping panjang adalah ras yang hidup di sebelah utara benua Millis.
Menurut kata-kata Roxy,
Dahulu kala, sebelum perang antara manusia dan iblis pecah, dunia masih dalam kekacauan, dan perang muncul di mana-mana. Pada waktu itu, ras Petinggi Elf berkuping panjang mampu berkomunikasi dengan roh hutan, lantas mereka memanipulasi bumi dan angin untuk melawan penjajah. Dikatakan bahwa itu merupakan sihir tertua di dunia ini.
Heh? Ini juga tercatat dalam sejarah?
Tentu saja.
Roxy memberikan anggukan untuk menanggapi pertanyaanku yang tiba-tiba.
Sihir pada zaman ini, berasal dari ras manusia yang meniru sihir milik ras Petinggi Elf berkuping panjang selama masa perang, dan manusia pun terus mengembangkannya. Manusia sangat ahli melakukan hal seperti itu.
Manusia sangat ahli dalam melakukan hal seperti itu?
Ya, ras manusia selalu menciptakan hal-hal baru.
Tampaknya di dunia ini, manusia adalah ras yang suka menciptakan.
Alasan mengapa sihir hanya digunakan dalam pertempuran adalah, karena awalnya sihir memang digunakan dalam situasi tersebut. Sihir memang bisa mempermudah kita melakukan banyak hal, namun lebih baik kita tidak terlalu mengandalkannya, lagipula banyak benda di sekitar kita yang bisa digunakan dengan praktis.
Seperti apa contohnya?
Misalnya, jika kau membutuhkan cahaya, kau dapat menggunakan lilin atau lentera, ‘kan?
Aku paham, itu adalah sesuatu yang sangat umum. Dibandingkan dengan menggunakan sihir, alat-alat seperti itu jauh lebih simpel. Itulah logikanya.
Namun, jika kau bisa merapalkan mantra tanpa suara, maka itu bahkan lebih simpel daripada menggunakan alat.
Dan juga, tidak setiap jenis sihir cocok untuk pertempuran. Misalnya, dengan sihir pemanggilan, kau dapat memanggil binatang magis ataupun roh.
Sihir pemanggilan!! Bisakah kau mengajariku suatu hari nanti?
Tidak, aku juga belum pernah menggunakannya. Dan, masih ada peralatan sihir juga.
Peralatan sihir. Dengan mendengarnya saja, aku sudah bisa membayangkannya.
“Peralatan sihir adalah?”
“Alat yang mengandung efek khusus. Bagian dalamnya tertulis dengan formasi sihir, sehingga orang dapat menggunakannya walaupun dia bukan penyihir. Namun, peralatan sihir juga mengonsumsi banyak Mana.”
“Aku paham.”
Pada dasarnya, ini seperti yang sudah kubayangkan. Kalau dipikir-pikir, sangat disayangkan bahwa Roxy tidak bisa menggunakan sihir pemanggilan. Konsep sihir serangan dan sihir penyembuhan bisa kupahami dengan mudah, tapi aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya sihir pemanggilan. Dan juga, banyak istilah-istilah lain yang tiba-tiba keluar. Perang antara manusia dan iblis, tsukkaima, roh ..
“Roksi Sensei, apa perbedaan antara binatang magis dan makhluk sihir?”
“Tidak banyak perbedaan.”
Pada dasarnya, makhluk sihir adalah makhluk yang mengalami beberapa perubahan. Dan ada kalanya makhluk sihir meningkatkan jumlahnya secara kebetulan, dan menjadi suatu ras, setelah beberapa generasi mereka akan memiliki kecerdasan dan menjadi binatang magis.
Setelah mereka memiliki kecerdasan, mereka masih disebut makhluk sihir jika mereka menyerang manusia.
Ada beberapa kasus bahwa binatang magis berubah menjadi jahat selema beberapa generasi, dan mereka akan dikembalikan menjadi makhluk sihir.
Tidak ada perbedaan yang jelas di antara keduanya. Makhluk sihir = menyerang manusia. Binatang magis = tidak menyerang manusia. Sebetulnya, hanyalah itu perbedaannya.
“Artinya, apakah ras iblis berevolusi dari makhluk sihir?”
“Sama sekali tidak. Ras iblis telah lama didefinisikan selama perang antara manusia dan iblis.”
“Apakah maksudmu perang antara manusia dan iblis yang itu?”
“Ya. Perang pertama adalah sekitar 7000 tahun yang lalu.”
“Itu tentu waktu yang sangat lama.”
Sejarah dunia ini benar-benar yang panjang.
“Tidak dianggap begitu panjang. Manusia masih berperang sampai 400 tahun yang lalu. Sejak 7000 tahun yang lalu, umat manusia dan ras iblis terus saling menyerang.”
Aku pikir, 400 tahun dianggap waktu yang lama, tapi ternyata perangnya benar-benar berlanjut hampir selama 7000 tahun.
Apakah hubungan manusia dan iblis seburuk itu?
“Hah, aku paham. Mungkin ini dikarenakan perbedaan paham antara kedua ras. Jadi, apakah tujuan ras iblis dalam perang tersebut?”
“Cukup merepotkan jika kita harus mendefinisikan ras iblis ..
Jika itu benar-benar diperlukan, Simpelnya, ras iblis adalah mereka yang membela kaum iblis selama perang berlangsung harusnya definisi itu mudah dipahami.
“Tentu saja, ada beberapa pengecualian. “
“Ah, asal tahu saja, aku juga dari ras iblis.”
“Oh, aku paham.”
Guru privatku adalah seorang iblis. Bukankah itu berarti sekarang sedang berlangsung perang di sini?
Untungnya kami damai-damai saja selama ini.
“Ya. Jika didefinisikan secara formal, Ras Migurd dari daerah Bigoya adalah bagian dari benua iblis. Bukankah orang tua Rudi terkejut ketika pertama kali melihatku?”
“Aku pikir alasannya adalah karena Roksi Sensei tampak kecil.”
“Aku tidak kecil.”
Roxy membantahku. Sepertinya, dia menganggap ini dengan begitu serius.
“Mereka terkejut ketika mereka melihat rambutku.”
“Rambut?”
Kukira itu adalah rambut biru yang indah.
“Rumornya adalah, semakin hijau warna rambutmu, maka semakin dekat hubunganmu dengan ras iblis, yang berarti, orang tersebut semakin ganas dan berbahaya. Rambutku terlihat berwarna hijau di bawah pencahayaan yang berbeda ..”
Hijau.
Jadi, hijau adalah warna peringatan pada dunia ini. Rambut Roxy berwarna hijau indah, yang membuat mata orang-orang terbelalak ketika melihatnya. Dia bermain-main dengan poninya saat ia menjelaskan. Tingkah seperti itu benar-benar imut. Jika ada rambut biru di Jepang, maka dia pasti seorang berandalan atau oba-chan . Tidak peduli apapun jenisnya, hal yang tak wajar itu membuatku jijik. Tapi rambut Roxy bukanlah sesuatu yang tak wajar, dan itu sama sekali tidak membuatku jijik. Bisa dikatakan bahwa rambut itu cocok dengan ekspresi mengantuk Roxy. Jika dia adalah seorang pemeran utama wanita dalam ero-game, dia pasti sangat cocok untuk ditakhlukkan terlebih dahulu.
“Rambutmu benar-benar cantik.”
“.. Terima kasih atas pujiannya, tapi kau tidak boleh berbicara seperti itu pada gadis yang kau cintai nanti.”
“Tapi aku suka Roksi Sensei.”
Aku mengatakannya tanpa ragu-ragu. Aku bukanlah tipe orang yang suka ragu-ragu. Aku akan mengungkapkan rasa cintaku pada gadis-gadis manis.
“Baiklah. Jika pikiranmu tidak berubah 10 tahun lagi, maka kita akan membicarakan hal ini sekali lagi.”
“Oke, Roksi Sensei.”
Meskipun hanya tampak samar-samar, tapi aku bisa melihat senyum bahagia di wajah Roxy. Namun, aku tidak tahu, apakah semua ilmuku yang kudapatkan dari ero-game bisa kuterapkan di dunia ini. Tapi, bukan berarti pengalamanku dalam bermain ero-game tidaklah berguna di sini. Sesuatu seperti, dokidoki mungkin merupakan guyonan klise di Jepang, tetapi mungkin saja itu merupakan tanda-tanda tumbuhnya cinta yang berapi-api.
Oalah, apa sih yang kubicarakan?
Roxy sangatlah imut dan seksi. Jika bisa saja menaikkan benderaku. Tapi perbedaan usia di antara kami cukup jauh.
Apa yang akan terjadi di masa depan?
“Kembali ke topik, semakin terang warna rambutnya, maka akan semakin berbahaya , dan itu sungguh merupakan takhayul.”
“Ya, memang seperti itulah takhayul yang beredar di tengah-tengah masyarakat.”
Aku benar-benar berpikir bahwa itu adalah warna peringatan.
“Ya, Ras Superd dari daerah Babinos adalah suatu ras berambut hijau, dan mereka bertanggung jawab atas banyaknya kekejaman yang terjadi pada perang 400 tahun silan. Itulah sebabnya mereka sangat dibenci. Sebenarnya, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan warna rambut. Orang-orang yang melakukan kekejaman itu, kebetulan saja berambut hijau.”
“Banyak kekejaman?”
“Ya. Selama perang lebih dari 10 tahun, kejahatan mereka membuat kedua belah pihak merasa takut dan merasa benci. Ras mereka sangat berbahaya, dan setelah perang, mereka dituntut dan diusir dari benua iblis.”
Diusir setelah perang berakhir?
Itu luar biasa.
“Apakah mereka benar-benar dibenci ..”
“Tentu saja.”
“Apa sih yang mereka lakukan?”
“Yah, kira-kira .. hanya saja, aku hanya mendengar ini sewaktu aku masih kecil. Aku mendengar bahwa mereka menyerang daerah netral di wilpaul ras iblis, lantas membunuh semua wanita dan anak-anak, mereka juga memusnahkan semua musuh dan membunuh sekutu-sekutunya. Pernah juga ada cerita bahwa ketika kau tertidur di malam hari, Superd akan memakanmu hidup-hidup, atau semacamnya.”
Shimaachau oji-san?
“Ras Migurd adalah bangsa yang mirip seperti Ras Superd, sehingga mau tidak mau mereka juga terlibat dalam kekacauan di masa lalu. Cepat atau lambat, orang tuamu akan menceritakan hal ini padamu..”
“Ingat ini.”
Roxy menekankan.
“Jika kau melihat seseorang yang memiliki rambut berwarna zamrud, dan batu seperti ruby di dahinya, maka jangan pernah mendekati mereka. Jika kau tidak punya pilihan selain berbicara dengan mereka, kau tidak boleh membuatnya marah.”
Rambut berwarna zamrud, dan batu ruby di dahi. Tampaknya ini adalah ciri-ciri khusus Ras Superd.
“Apa yang terjadi jika kau membuat mereka marah?”
“Dia akan membunuh seluruh keluargamu.”
“Rambut berwarna zamrud dan batu ruby di dahi, ‘kan?”
“Ya, benda di dahi mereka berguna untuk melihat pergerakan Mana. Itu adalah mata ketiga mereka.”
“Apakah ada wanita pada Ras Superd?”
“Eh? Te Tentu saja ada.”
“Apakah batu itu akan berubah menjadi biru setelah melakukan sesuatu?”
“Hah? T-Tidak kok. Setidaknya aku belum pernah mendengar tentang itu sebelumnya.”
Apa sih yang kau katakan? Roxy memiringkan kepalanya karena kebingungan. Aku hanya bertanya untuk kepuasan sendiri.
“Tapi karakteristik seperti itu mudah dikenali, ‘kan?”
“Ya. Jika kau melihat mereka, maka segera cari alasan untuk menjauh, seperti Aku harus pergi sekarang juga , dan selalu hindarilah mereka. Melarikan diri dengan tiba-tiba bisa juga membuat mereka marah.”
Ya, jika kau melarikan diri secara tiba-tiba ketika bertemu dengan preman, maka mereka hanya akan mengejarmu karena merasa tersinggung. Aku punya pengalaman seperti itu.
“Berdasarkan hal-hal yang telah kau ceritakan padaku, bukankah lebih baik jika kita menghargai dan menghormati mereka?”
“Kukira tidak akan timbul masalah jika kau tidak menghina mereka secara langsung. Ini terjadi karena ada banyak perbedaan antara ras manusia dan iblis, dan kau mungkin saja membuat mereka marah karena alasan itu. Sebaiknya, kau tidak menanggapi mereka dengan sinis.”
Mereka tampaknya mudah terprovokasi. Namun, bukankah akan lebih baik jika kita mengatakan bahwa kita takut pada mereka?
Ini seperti ketika seseorang berpikiran, oh, orang itu sangatlah mengerikan ketika dia marah, lebih baik kita menghindarinya yah, sesuatu seperti itu.
Menakutkan, menakutkan.
Aku tidak yakin bisa bereinkarnasi setelah dibunuh lagi di dunia ini. Lebih baik sebisa mungkin aku menghindari mereka. Ras Superd, jangan main-main dengan mereka. Aku camkan itu dalam-dalam pada pikiranku. Kelas sihir berjalan dengan lancar. Saat ini, aku sudah bisa menggunakan semua sihir tingkat lanjut. Dan tentu saja, dengan menggunakan mantra tanpa suara. Dibandingkan dengan latihan biasa, jauh lebih mudah bagiku menggunakan mantra tanpa suara. Sebagian besar sihir kelas lanjut adalah AOE*, jadi penggunaannya sangatlah terbatas.
Sebelum datang ke sini, Roxy pernah menurunkan hujan pada suatu daerah, dan dia mendapatkan banyak pujian atas pekerjaannya itu. Aku mendengar ini dari Paul ketika aku berada di rumah. Selain itu, Roxy menerima beberapa permintaan dari warga desa, dan menggunakan sihir untuk memecahkan berbagai masalah.
“Aku menemukan sebuah batu besar ketika aku menggali tanah, tolong bantu aku Rokaemon!”
“Serahkan padaku, Dan* Rako.”
“Sihir macam apa itu?”
“Itu adalah sihir untuk membasahi tanah di sekitar batu tersebut, kemudian aku akan mengubahnya menjadi lumpur dengan menggunakan sihir bumi, jadi itu adalah sihir kombinasi.”
“Woah, itu luar biasa, batu itu tenggelam!!!”
“Roksi Sensei memang hebat. Kau membantu orang lain.”
“Membantu orang lain? Tidak, ini aku lakukan untuk mendapatkan upah.”
“Kau meminta bayaran?”
“Tentu saja.”
Betapa matre! Meskipun aku berpikir bahwa tindakan seperti itu terlalu komersil, tapi bagi penduduk desa, tampaknya itu biasa saja. Karena tidak ada orang lain yang bisa melakukan ini di desa, mereka terus memuji Roxy. Memberi dan menerima. Aku menganggap bahwa hal seperti itu salah. Membantu orang lain tanpa kompensasi adalah suatu keharusan. Seperti itulah persepsi orang Jepang. Tapi secara norma, kau layak mendapatkan imbalan setelah melakukan pekerjaan seperti itu. Seperti itulah aturannya, dan itu adalah hal biasa bagi mereka. Yahh, karena aku adalah NEET yang bahkan tidak pernah membantu orang lain yang kurang beruntung, aku diperlakukan sebagai sampah oleh keluargaku.
Suatu hari yang biasa, aku pun bertanya.
“Haruskah aku memanggilmu Roksi Roksi Sensei Shishou ?”
Pada akhirnya, Roxy menunjukkan ekspresi jijik.
“Tidak, kemungkinan besar kau akan mudah melampauiku. Jadi, lebih baik jangan panggil aku dengan sebutan itu.”
Sepertinya aku memiliki potensi untuk melampaui Roxy. Aku merasa sedikit malu ketika dia memujiku seperti itu.
“Kau tidak akan memanggil seseorang yang lebih lemah darimu dengan sebutan Shishou, ‘kan?”
“Tentu saja.”
“Aku membencinya. Seseorang yang lebih baik dariku, memanggilku Shishou – bukankah itu sama saja dengan memalukan dirimu sendiri?”
Apakah itu masalahnya?
“Apakah karena Roksi Sensei lebih kuat dari guru Roksi Sensei, sehingga kau mengatakan ini?”
“Dengarkan aku, Rudi. Shishou, adalah seseorang yang tidak bisa mengajarkanmu lebih, tapi masih mengharapkan sesuatu darimu ----- Ini sungguh merepotkan.”
“Tapi Roxy tidak akan melakukan itu, ‘kan?”
“Mungkin aku akan melakukannya.”
“Walaupun itu yang terjadi, aku masih akan menghormatimu.”
Meskipun begitu, Roxy lah yang memintaku untuk melakukan hal itu.
Aku akan tetap tersenyum dan menghormatinya.
“Tidak, mungkin aku akan iri pada potensi muridku, lantas mengatakan sesuatu yang buruk.”
“Seperti?”
“Dasar iblis kotor, atau sesuatu seperti itu, kau harusnya tidak pergi ke desa itu, dll”
Apakah kau mengkritik seperti itu? Sungguh kasihan. Diskriminasi adalah hal yang buruk. Tapi hubungan antara atasan-bawahan selalu seperti ini.
“Tidak apa-apa, itu hanya hal kecil.”
“Hanya karena seseorang sedikit lebih tua, bukan berarti itu adalah sesuatu yang diperbolehkan !! Hubungan guru-murid tanpa kekuatan tertentu akan membuat orang lainnya bahagia !!”
Aku berhenti memikirkannya. Tampaknya, hubungannya dengan gurunya jauh lebih buruk daripada yang aku bayangkan. Karena itu, aku tidak pernah memanggil Roxy dengan sebutan Shishou. Tapi aku memutuskan untuk selalu memanggilnya begitu dalam hatiku.
Bab 5 - Sihir dan Pedang
Aku berusia 5 tahun sekarang. Pada hari ulang tahunku, keluargaku mengadakan pesta kecil. Negara ini tidak memiliki kebiasaan merayakan ulang tahun setiap tahunnya. Namun, normanya adalah, jika umurmu telah melampaui usia tertentu, maka keluargamu akan memberikan beberapa hadiah. Usia-usia tertentu yang dimaksud adalah umur 5, 10, dan 15 tahun. Sangat mudah untuk memahami norma ini, karena mereka akan menganggapmu dewasa setelah menginjak umur 15 tahun. Untuk merayakan itu, Paul memberiku sepasang pedang. Dua pedang. Salah satunya adalah pedang sungguhan yang terlalu berat untuk anak berusia 5 tahun. Yang lainnya adalah pedang kayu pendek. Pedang sungguhan itu sudah ditempa dan diasah. Benda seperti itu tidak diperuntukkan pada anak-anak.
“Dalam hati seorang anak lelaki, pedang seperti itu haruslah suatu senjata yang digunakan untuk melindungi orang yang dianggapnya penting-----”
Aku menyeringai ringan, sementara mengabaikan pidato panjang mereka.
Meskipun Paul sangat bersemangat pada pidatonya, ia disela oleh Zenith dengan “itu terlalu lama, sayang…” di akhir.
Oleh karena itu, ia harus mengakhirinya dengan “Maka, kau harus menyimpannya baik-baik, dan gunakan hanya ketika kau membutuhkannya.” Paul mungkin menginginkan agar aku memiliki keteguhan hati dan kesadaran diri untuk menggunakan pedang tersebut. Aku menerima buku dari Zenith.
“Karena Rudeus tampaknya suka sekali dengan buku.”
Buku yang diberikan kepadaku adalah ensiklopedia tanaman.
Aku tidak bisa menahan “Woah..” yang muncul dari mulutku
Di dunia ini, buku sangatlah mahal. Meskipun sudah ada teknik untuk membuat kertas, cara untuk mencetak tulisan masihlah sangat kuno, sehingga sebagian besar buku ditulis dengan menggunakan tangan secara manual. Ensiklopedia itu sangat tebal, dan dilengkapi juga dengan ilustrasi sehingga seseorang bisa mengerti dengan baik. Aku bahkan tidak bisa mengira seberapa banyaknya uang yang telah ibu habiskan untuk membeli benda ini di hari ulangtahunku.
“Terima kasih, ibu. Aku selalu menginginkan benda seperti ini.”
Dan aku memeluk erat bukunya setelah mengatakan itu. Aku menerima tongkat sihir dari Roxy.Itu adalah sebuah batang sepanjang 30 cm, dilengkapi dengan batu ruby kecil berwarna yang menghiasi bagian depannya. Secara keseluruhan, tampilannya cukup sederhana.
“Aku membuatnya beberapa hari yang lalu. Aku hampir saja melupakannya, karena Rudeus tahu bagaimana menggunakan sihir sejak awal. Biasanya, guru akan membuat tongkat secara pribadi, agar memungkinkan muridnya menggunakan sihir tingkat dasar. Maafkan aku karena baru memberikannya sekarang.”
Tampaknya, itu adalah suatu ketentuan standar. Roxy benci dipanggil Shishou, tapi dia tidak ingin mengabaikan ketentuan standar ini.
“Ya, Shishou, aku akan merawatnya dengan baik.”
Roxy menunjukkan ekspresi pahit setelah mendengar apa yang kukatakan. Hari kedua, aku mulai berlatih teknik pedang sungguhan.Pada dasarnya, pelatihan utama adalah mengayunkan pedang, dan membentuk kuda-kuda yang tepat.Contoh latihannya adalah, menyerang orang-orangan kayu di halaman rumah, atau menyerang paul sembari belajar cara melangkah dan menggeserkan tubuh dengan benar.Aku sungguh senang ketika memperlajari sesuatu dari dasarnya.Di dunia ini, teknik berpedang sangatlah dihormati.Bahkan dalam buku cerita, seorang pahlawan sering kali terlihat menggunakan pedang sebagai senjatanya. Meskipun mereka juga menggunakan kapak dan tombak*, tapi orang-orang seperti itu berasal dari Party yang tidak umum.
“Mungkin kalian membayangkan tombak sebagai senjata tongkat kayu yang dilengkapi mata pisau di ujungnya, namun bukan itu yang dimaksud. Tombak di sini adalah Mace, yaitu semacam tongkat panjang dengan ujung sedikit meruncing, biasanya senjata ini digunakan oleh ksatria-ksatria berkuda dari Eropa kuno.”
Tidak ada yang berani menggunakan tombak, karena pernah disebutkan bahwa Ras Supard menggunakan tridents*. Menurut opini umum, tombak adalah senjata milik para iblis jahat. Dan dalam buku cerita pun disebutkan bahwa iblis jahat dideskripsikan sebagai monster terdiskriminasi yang akan membunuh dan memakan teman maupun lawan.
“Trident atau trishula atau serampang (Sanskerta: trishul) adalah tombak bermata tiga yang secara harfiah berarti tiga tombak. Juga disebut trident dalam bahasa Inggris. Trisula juga digunakan oleh retarii, gladiator dengan penampilan seperti nelayan (membawa jaring). Trisula saat ini sering diasosiasikan dengan setan oleh mitologi Kristen. Ini kemungkinan karena penggunaannya dalam agama pagan. Trisula adalah senjata Siwa, salah satu dari Trimurti yang sering disembah pada masa kejayaan kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Begitu pula dalam agama pagan Yunani-Romawi, Poseidon (Neptunus) dewa peguasa laut selalu membawa trisula. Dalam kebudayaan Mikenai, Poseidon adalah dewa utama, dan mungkin lebih utama dibanding Zeus. Trisula juga digunakan sebagai senjata utama oleh tentara Korea masa lalu, berbeda dengan tentara Tiongkok saat itu yang menggunakan tombak dengan mata berbentuk daun. Selain itu, trisula digunakan juga oleh orang Indonesia. Dalam tradisi spiritual Hindu trisula adalah simbol mata ketiga. Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan”
Karena latar belakang seperti itu, di sini teknik pedang jauh lebih dipandang daripada di duniaku sebelumnya.
Jika kau menjadi seorang ahli pedang, maka kau dapat memecahkan batu-batu dengan sekali ayunan pedang, dan bahkan menjatuhkan lawan yang berada jauh di sana dengan sekali tebasan.
Bahkan, Paul bisa memecahkan batu-batu yang besar.
Aku terus memuji dia, untuk mencoba dan memahami bagaimana logika kerja teknik berpedang. Aku terus mengamatinya ketika paul menunjukkan jurusnya padaku berulang kali. Paul tampak senang ketika dipuji oleh anaknya, yang masih muda tapi sudah bisa menguasai sihir tingkat lanjut.
Tapi, tak peduli berapa kali pun aku mengamati gerakan paul, aku masih saja tidak paham logika di balik teknik berpedang.
Karena aku tidak mengerti, aku meminta dia untuk menjelaskannya ..
“BRUKK ke tanah, dan WUUUSH seketika!! Seperti itulah caranya.”
“Seperti ini!?”
“Dasar bego! Kau BOOOM ke tanah, dan BAAAAM seketika, ‘kan!! Harusnya kau BRUKK ke tanah, dan WUUUSH seketika! Lakukan dengan lebih lembut!”
Seperti itulah.
Berdasarkan dugaanku, teknik pedang di dunia ini memerlukan sejumlah Mana.
Dibandingkan dengan mantra sihir yang bisa dilihat dengan mata, teknik berpedang dikhususkan untuk meningkatkan kekuatan fisik tubuh, dan komponen logam dalam pedang itu sendiri memperkuat aspek ini. Jika tidak, bagaimana bisa kau memotong batu, bahkan sebelum kau menyelesaikan gerakan berkecepatan tinggi? Mungkinkah itu terjadi?
Tetapi Paul tidak sadar bahwa dirinya sendiri sedang menggunakan Mana.
Sehingga dia tidak bisa menjelaskannya kepadaku.
Tapi jika bisa ditiru, mungkin dapat digunakan sebagai dorongan sihir untuk perkuatan tubuh fisik.
Aku akan bekerja keras.
Di dunia ini, ada 3 jurus mainstream dalam teknik pedang.
Salah satunya adalah jurus Dewa Pedang.
Dalam teknik berpedang, serangan adalah pertahanan terbaik. Ini adalah jurus yang menekankan pada serangan yang lebih cepat daripada lawan.
Sebuah skill tertentu yang lebih cepat daripada gerakan lawan.
Jika kau gagal mengenai lawan, maka tebaslah lagi sampai kau megenainya.
Jika kau membandingkannya dengan apa yang ada pada duniaku sebelumnya, itu seperti jurus prefektur Satsuma.
Yang kedua adalah jurus Dewa Air.
Jurus ini adalah kebalikan dari Dewa Pedang.
Ini adalah sebuah gaya bertarung defensif yang berdasar pada tangkisan dan serangan balik.
Karena fokusnya adalah pertahanan, maka inisiatif serangan adalah hal yang jarang dilakukan.
Ketika kau mencapai level Saint, maka kau dapat melawan segala jenis serangan.
Setiap jenis serangan ------ Termasuk sihir dan tembakan proyektil.
Ini adalah jurus yang wajib dikuasai oleh klas ksatria istana atau bangsawan, karena tujuan mereka adalah melindungi sesuatu.
Yang ketiga adalah jurus Dewa Utara.
Akan lebih baik jika kau mendeskripsikannya sebagai teknik bertarung, daripada teknik menggunakan pedang.
Tidak ada teknik khusus pada jurus ini. Kau hanya perlu bereaksi berdasarkan situasi yang kau hadapi.
Menurut Paul, meskipun jurus ini didasarkan pada reaksi, namun juga bergantung pada gerakan mengecoh, dan penggunaan benda-benda di sekitarmu.
Ini benar-benar sesuatu yang fantastis.
Ini mengingatkanku pada jurus-jurusnya Jackie Chan.
Jurus Dewa Utara juga termasuk penyembuhan luka dan juga kemampuan bertarung meskipun menderita cacat. Oleh karena itu, jurus ini populer di kalangan tentara bayaran dan petualang.
Ketiga jurus itulah yang disebut 3 Jurus Umum, dan ada juga orang di dunia ini yang bisa menggunakan ketiga jurus itu secara bersamaan.
Seorang Swordsman berharap untuk menjadi ahli dalam setiap jurus, dan mereka akan mengayunkan pedangnya sampai mati.
Tapi Swordsman semacam itu sangatlah jarang terlihat.
Jika kau ingin cepat menjadi kuat, maka kau perlu mulai dari hal-hal pokok dari masing-masing jurus.Paul lebih sering menggunakan Dewa Pedang, tapi dia juga mampu menggunakan jurus Dewa Air dan Dewa Utara.
Jika kau hanya mengandalkan jurus Dewa Pedang atau Dewa Air, maka kemampuanmu tidak akan cukup jika kau ingin berpetualang di dunia luar.
Asal tahu saja, teknik pedang juga memiliki beberapa level.
Dasar, Menengah, Lanjutan, Saint, Raja, Kaisar, Dewa.
Dan pada masing-masing tingkatan, terdapat nama Dewa pada jurusnya.
Meskipun masih tingkat dasar, seorang Swordsman yang menganut jurus Dewa Air, juga bisa menggunakan sihir setingkat Dewa Air pula.
Dan juga, kau biasanya menyebut Swordsman Dewa Air atau Saint Air . Untuk seorang penyihir, kau perlu menambahkan kata “level” pada namanya, seperti level Dewa Air atau level Saint Air .
Misalnya, Roxy adalah “penyihir berlevel Saint Air.”
Aku harus belajar 2 jurus sekaligus, yaitu: jurus Dewa Pedang, dan Dewa Air.
Dewa Pedang untuk menyerang, sedangkan Dewa Air untuk bertahan.
“Tapi paul, berdasarkan apa yang telah kau katakan, bukankah jurus Dewa Utara adalah yang paling seimbang?”
“Jangan bodoh. Itu hanyalah menggunakan pedang untuk melawan. Itu tidak bisa disebut teknik.”
“Aku paham.”
Apakah jurus Dewa Utara dipandang seburuk itu?
Ataukah hanya Paul yang membencinya?
Yahh, meskipun ia membencinya, Paul masihlah memiliki level lanjut dalam penggunaan jurus Dewa Utara.
“Rudeus, Kau memiliki bakat dalam menggunakan sihir, tetapi tidak ada salahnya belajar teknik pedang. Jadilah seorang penyihir yang bisa menghindari serangan jurus Dewa Pedang.”
“Maksud paul, aku bisa menjadi seorang .. Swordsman sihir?”
“Hm? Swordsman sihir adalah seorang pendekar pedang yang juga bisa menggunakan sihir. Tapi dalam kasusmu, yang terjadi justru sebaliknya, bukan?”
Apa bedanya?
Walaupun ini didasarkan pada profesi sebagai prajurit atau penyihir, seorang Swordsman sihir tetaplah Swordsman sihir.
Tidak peduli apapun itu, pelajaran teknik pedang juga dapat diterapkan untuk teknik sihir.
Masalahnya adalah, Paul memperkuat tubuhnya tanpa dia sadari, sehingga dia tidak bisa mengajariku.
Sepertinya aku perlu belajar sendiri, tapi dapatkah aku benar-benar mempelajarinya hanya dengan melatih tubuh sendirian?
“.... Sebenarnya, kau benci teknik pedang, ‘kan?”
Paul bertanya dengan ekspresi gelisah, ketika dia melihatku terhanyut dalam pikiran.
Bagaimanapun juga, ibu memujiku sebagai anak dengan bakat sihir alami.
Paul khawatir jikalau aku tidak bersedia belajar teknik berpedang.
Tapi jangan salah paham. Aku sama sekali tidak membenci teknik pedang. Aku hanya lebih suka belajar bersama Roxy, daripada belajar dengan seorang bapak-bapak yang bermandikan keringat di halaman rumah.
Aku tipe orang rumahan.
Meskipun begitu, ini bukanlah pertanyaan yang aku suka.
Karena aku sudah memutuskan untuk hidup di dunia ini dengan serius, maka aku akan mempelajari teknik pedang maupun sihir dengan sungguh-sungguh.
“Tidak, aku berharap memiliki skill pedang yang setara dengan skill sihirku.”
Paul terenyuh ketika mendengarkan kata-kataku, dia pun mengangguk dengan gembira, dan mengangkat pedang kayu tersebut.
“Baik, sekarang mari kita mulai. Serang aku !!”
Dia adalah seorang pria sederhana.
Teknik pedang ataupun teknik sihir. Ujung-ujungnya, aku tidak tahu teknik manakah yang harus kuprioritaskan.
Sejujurnya, itu tidaklah masalah bagiku.
Namun, akan lebih baik jika aku berbakti pada orang tuaku saat ini.
Pada kehidupanku sebelumnya, aku terus merepotkan kedua orang tuaku, bahkan sampai mereka meninggal.
Jika aku memperlakukan orang tuaku dengan lebih baik, saudara-saudaraku tidak akan mengusirku keluar rumah.
Jadi aku harus memperlakukan mereka dengan baik.
Ketika aku baru saja mempelajari setahap teknik pedang, pelajaran sihirku pun sudah memasuki penggunaan praktis.
“Jika kau mengaktifkan Water Fall, Heat Island, dan Icicle Field secara urut, apa yang akan terjadi?”
“Kau akan menciptakan kabut.”
“Memang. Lalu bagaimana kau menghilangkan kabut?”
“Yahh, panaskan bumi lagi.”
“Jawaban yang tepat. Kalau begitu, cobalah.”
Menciptakan suatu kondisi dengan menggunakan berbagai mantra sihir dalam urutan tertentu.
Ini disebut “sihir kombinasi”.
Cara memanggil hujan tercatat dalam buku pelajaran, namun tidak ada keterangan tentang cara memanggil kabut.
Oleh karena itu, seorang penyihir akan menggunakan sistem sihir yang berbeda sesuai urutan tertentu. Dengan demikian, seseorang dapat meniru fenomena alam.
Tidak ada mikroskop di dunia ini.
Sehingga, fenomena alam tidak bisa dijelaskan.
Sihir kombinasi adalah perpaduan antara kreativitas sang penyihir, dan kerja keras.
Yah, aku tidak perlu melakukan sesuatu yang begitu merepotkan.
Selama kau bisa menghasilkan awan, dan membuat hujan pada tempat yang kau inginkan, maka itu sudah cukup.
Tapi fenomena alam buatan manusia memungkinkan seseorang untuk memahaminya dengan mudah.
Jika kau merenungkan hal-hal itu, maka kau dapat melakukan banyak hal.
Meskipun begitu, aku pun masih kesulitan memikirkannya.
“Sihir benar-benar dapat melakukan apapun.”
“Masih banyak hal yang tidak bisa diwujudkan dengan sihir, jadi janganlah terlalu mempercayai itu. Lakukan saja semua hal yang kau bisa dengan tenang.”
Meskipun Roxy membantahku, aku masih saja memikirkan hal-hal keren seperti Railgun, ataupun peralatan-peralatan canggih yang muncul.
“Dan juga, jika kau membual dan mengatakan bahwa kau dapat melakuan segala sesuatu, maka orang-orang akan meminta kau melakukan hal-hal yang mustahil.”
“Apakah Roksi Sensei punya pengalaman tentang itu?”
“Ya.”
Aku paham. Aku harus memperhatikan ini.
Akan merepotkan jika aku dipaksa.
“Tapi apakah ada orang yang memaksakan hal-hal seperti itu pada penyihir?”
“Ya, karena tidak banyak penyihir berlevel lanjut.”
Dari setiap 20 orang, hanya 1 yang dapat bertempur.
Dari setiap 20 orang tersebut, hanya 1 yang merupakan seorang penyihir.
Sesuatu seperti itu.
Seorang penyihir adalah 1 di antara 400 orang?
Namun, profesi sebagai penyihir bukanlah hal yang langka.
“Dan manusia yang lulus dari sekolah sihir .. Sebagai penyihir berlevel lanjut, adalah sekitar 1 di antara 100 orang.”
Itu berarti, penyihir berlevel lanjut, adalah 1 di antara 40000 orang.
Dengan kemampuan menggunakan sihir tingkat menengah dan lanjut untuk membuat sihir kombinasi, maka kita bisa melakukan berbagai macam hal.
Oleh karena itu, mereka adalah orang-orang berbakat yang sangat dicari oleh setiap faksi.
Tutor privat di negara ini juga harus memiliki sihir tingkat lanjut, atau di atasnya.
Itu adalah efek yang kuat dari posisi seseorang.
“Ada sekolah sihir?”
“Ya. Hanya negara-negara besar yang memiliki sekolah sihir.”
Kalau dipikir-pikir, aku pun sudah menduga bahwa ada sekolah sihir di dunia ini.
Apakah akan dimulai Arc Sekolahan pada hidupku ini ?
“Tapi, mungkin sekolah sihir terbesar adalah akademi di Ranoa.”
Oh, ada sebuah akademi juga.
“Apa perbedaan antara akademi itu dan sekolah lainnya?”
“Ada fasilitas yang sangat baik dan juga guru-guru yang kompeten. Dibandingkan dengan lokasi lain, kau dapat menerima pelajaran dengan kualitas yang lebih tinggi.”
“Apakah Roksi Sensei juga pernah bersekolah di sana?”
“Ya. Sekolah sihir biasanya adalah tempat-tempat yang diperuntukkan bagi orang-orang berstatus sosial tinggi. Sebagai ras iblis, aku hanya bisa masuk akademi sihir ..”
Ras manusia elit boleh bersekolah di Ranoa, tapi untuk ras bukan-manusia, itu bukanlah tempat bagi mereka.
Meskipun diskriminasi terhadap ras iblis sudah jauh berkurang, namun hal-hal seperti itu tidak pernah bisa lenyap sepenuhnya.
“Akademi Ranoa tidak memerlukan status sosial tinggi atau kebanggaan. Meskipun kau gila teori, kau tidak akan ditolak selama logika berpikirmu benar. Dan juga, karena mereka menerima berbagai ras, maka terdapat berbagai penelitian teknik sihir unik berdasarkan rasnya masing-masing. Jika Rudeus ingin mendalami sihir lebih jauh, maka aku menyarankan agar kau bersekolah di akademi sihir.”
Apakah karena akademi itu merupakan almamaternya? Sehingga Roxy terus memuji sekolahan tersebut.
Yahh, itu adalah masa depan yang masih jauh.
Mungkin aku akan di-bully jika aku masuk sekolahan pada umur 5 tahun.
“Masih terlalu dini untuk membuat keputusan ..”
“Itu benar. Aku pikir, jika kau mengikuti arahan Paul untuk menjadi Swordsman ataupun ksatria, itu bukanlah pilihan yang buruk. Ada juga beberapa ksatria yang bersekolah di akademi sihir. Tolong jangan berpikir bahwa pilihan yang tersedia untukmu hanyalah teknik sihir dan teknik berpedang. Kau juga dapat memilih rute Swordsman sihir.”
“Ya.”
Tampaknya dia adalah kebalikan dari Paul. Roxy tidak merasa resah, apakah aku menyukai sihir ataukah tidak.
Baru-baru ini, kapasitas Mana-ku telah meningkat, dan aku mulai mengerti prinsip-prinsip sihir.
Karena itu, aku mulai tidak memperhatikan pelajaran di kelas dengan baik.
Lagipula, aku mulai mengambil pelajaran sihir ketika aku berumur 3 tahun.
Sehingga, aku pun mulai bosan.
Mungkin aku salah paham.
Paul melihat bakat sihirku.
Roxy melihat gairahku dalam mempelajari ilmu berpedang.
2 orang dengan alasan yang berbeda menunjuk jalan tengah bagiku.
“Tapi ini adalah sesuatu yang sangat jauh.”
“Bagi Rudeus, memang.”
Roxy tersenyum dengan sedikit ekspresi kesepian di wajahnya.
“Tapi, aku mulai kehabisan bahan ajar untukmu. Ketika kau hampir lulus nanti, kita harus membicarakan ini dengan lebih serius.”
. Lulus?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar