Selasa, 28 Juni 2022

Mushoku Tensei Volume 1 bab 6 sampai 8

Alasan untuk Menghormati

Sejak aku datang ke dunia ini, aku belum pernah keluar dari rumah. Itu bukanlah hal baru, karena pada kehidupanku sebelumnya, aku pun melakukan hal yang sama. Aku benar-benar takut. Jika aku berjalan keluar halaman dan melihat pemandangan di luar, maka kenangan buruk masa laluku akan segera muncul. Kenangan hari itu. Rasa sakit di sisi perutku. Hawa dingin hujan yang menusuk. Penyesalan. Putus asa. Rasa sakit karena ditabrak truk. Semua kenangan buruk itu akan kembali kepadaku, seolah-olah itu baru saja terjadi kemarin. Kakiku gemetar. Aku dapat melihat ke luar melalui jendela, atau berjalan ke halaman dengan menggunakan kakiku sendiri. Tapi, seakan-akan kakiku tidak mau bergerak ketika harus meninggalkan rumah. Karena aku tahu. Pemandangan luar rumah yang tampak damai itu, bisa saja berubah menjadi neraka dalam sekejap. Seolah-olah, kedamaian semacam itu tidak pernah bisa menerima diriku. Dalam kehidupan masa laluku, aku telah berdelusi sebanyak mungkin, ketika aku tidak bisa tidur. Bagaimana jika tiba-tiba pecah peperangan di Jepang. Bagaimana jika bishoujo tiba-tiba muncul dan menjadi tetanggaku. Jika itu terjadi, harusnya aku mampu bekerja lebih keras dalam menjalani hidup. Aku terus menipu diri sendiri sehingga untuk melarikan diri dari kenyataan. Aku memimpikannya berkali-kali. Dalam mimpiku, aku bukanlah Superman, dan aku masih memiliki kemampuan yang sama seperti manusia pada umumnya. Dan seperti kebanyakan orang, ada batas yang mencegahku melakukan segala sesuatu. Aku bisa hidup dengan mengandalkan diri sendiri. Tapi aku akan bangun dari mimpi ini. Jika aku mampu beranjak keluar rumah, maka mungkin saja mimpi itu segera berakhir. Dan ketika aku bangun, aku kembali lagi pada saat-saat penuh keputusasaan itu. Seketika aku tenggelam dalam penyesalan .  Tidak, ini bukan mimpi. Bagaimana bisa ada mimpi senyata ini. Jika kau memberitahuku bahwa ini adalah dunia VRMMORPG, mungkin aku masih bisa menerimanya. Ini kenyataan. Aku terus meyakinkan diriku sendiri. Kenyataan ini bukanlah mimpi. Meskipun aku memahami bahwa ini semua adalah kenyataan, aku masih saja tidak dapat mengambil  angkah ke luar rumah. Tak peduli seberapa kali kutetapkan pendirianku. Aku bersumpah untuk hidup dengan sungguh-sungguh dengan bibirku sendiri. Tapi sepertinya tubuhku tidak bisa mewujudkannya. Aku benar-benar ingin menangis. Tes kelulusan akan diadakan di luar desa. Ketika Roxy mengatakan hal itu padaku, aku langsung menyatakan keberatan. “Di luar?”

“Ya, di luar desa. Kuda-kuda telah disiapkan.”

“Tidak bisakah dilakukan di rumah saja?”

“Tidak.”

“Tidak bisakah aku dites di rumah saja .?”

Aku benar-benar kalang kabut. Hatiku benar-benar menolaknya. Bayangan kejadian saat itu masih teringat segar di kepalaku. Kenapa aku harus menjadi hikikomori lagi di dunia ini. Tapi tubuhku menolaknya. Peristiwa itu masih belum bisa kulupakan. Pada hari yang menentukan dalam kehidupan masa laluku, aku dipukuli, dan para preman itu membuat sekujur tubuhku babak belur, mereka mem-bully-ku dengan kejam, dan hatiku mengalami kerusakan psikologis yang teramat parah. Kala itu, aku tidak punya pilihan lain, maka akupun memutuskan untuk mengurung diri di kamar.

“Memangnya kenapa?”

“Anuu . mungkin ada beberapa makhluk magis di luar sana.”

“Di daerah ini, hampir mustahil kau menemui makhluk magis, kecuali kau memasuki hutan. Lagipula, meskipun kita bertemu dengan mereka, aku sendirian saja pasti bisa mengatasinya, karena mereka cukup lemah. Bahkan, Rudi pun mungkin bisa mengatasi mereka.”

Roksi menunjukkan ekspresi terkejut ketika aku terus mencari segala macam alasan, bahkan sampai saat ini.

“Ah, sepertinya aku pernah mendengar ini sebelumnya, Rudi, apakah kau tidak pernah keluar rumah?”

“Mmmm . ya.”

“Apakah kau takut dengan kuda?”

“A-Aku tidak takut kuda, atau hal-hal semacamnya.”

Sebenarnya, aku sedikit menyukai kuda. Aku juga bermain balap kuda Debi

“Ha ha. Syukurlah. Wajar saja jika anak seumurmu takut pada kuda.”

Roksi salah paham. Tapi aku tidak bisa mengatakan bahwa aku takut keluar rumah. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih memalukan daripada takut pada kuda. Aku masih punya harga diri. Itu adalah kebanggaan murni yang masih kumiliki. Aku tidak ingin diremehkan oleh si gadis muda ini. “Oh yahh, kalau begitu, apa boleh buat. Ayo, sini.”

Justru karena aku tidak mau bergerak, Roksi tiba-tiba menggendongku di bahunya.

“Ap.a!?”

“Jika kau hanya duduk di atasnya, maka rasa takutmu akan segera hilang.”

Aku tidak meronta.

Hatiku bimbang, dan aku pun hanya bisa pasrah padanya.

Roksi melemparku ke punggung kuda.

Kemudian dia juga memanjat kuda tersebut, kemudian mengambil kendali.

Kuda pun maju dengan derapan langkah. Dan dengan begitu, akhirnya aku meninggalkan rumah. Ini adalah pertama kalinya aku keluar halaman rumah, semenjak aku bereinkarnasi di dunia ini. Roksi perlahan-lahan bergerak maju ke desa. Penduduk desa terus memandangi kami dengan tatapan penuh keraguan. Tidak mungkin. Tubuhku tegang. Aku masih takut menatap mereka. Terutama pada mereka yang melihatku dengan tatapan acuh dan penuh ejekan. Tentu saja mereka tidak mau repot-repot berurusan dengan kami, dengan  elontarkan kata-kata makian. Mereka mungkin tidak akan melakukannya. Toh, mereka juga tidak mengenaliku. Di dunia ini, hanya orang-orang di rumah kecil yang mengenalku. Mengapa kau menatapku. Berhenti menatapku, dan kembalilah bekerja .

.Tidak. Ternyata, mereka tidak menatapku. Roksi lah yang mereka lihat. Beberapa dari  mereka menyapa Roksi. Ah, benar juga. Dia cukup dikenal di desa ini. Meskipun, diskriminasi terhadap ras iblis cukup parah di negara ini. Namun di desa ini, hal yang kontras terjadi. Dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 2 tahun, dia telah menjadi sosok yang membuat semua orang bersedia menyapanya. Ketika aku memikirkan kenapa bisa begitu, aku pun menyadari bahwa Roksi adalah sosok yang sangat bisa diandalkan. Dia tahu ke mana harus pergi, dan mereka sangat mengenal gadis kecil ini. Jika aku mendapatkan cercaan dari mereka, Roksi pasti akan membelaku. Haaah. aku tidak percaya bahwa gadis muda yang suka ngintip kamar kedua orang tuaku ini, begitu bisa diandalkan. Dengan demikian, ketegangan pada tubuhku pun memudar.

“Mood Kalajav cukup bagus. Dia merasa senang ditunggangi oleh Rudi.”

Kalajav adalah nama si kuda. Tentu saja, aku tidak bisa membaca mood seekor kuda.

“Apakah begitu.”

Aku menjawab secara tak acuh, sembari kubersandar ke belakang, dan bagian belakang kepalaku menempel pada dada Roksi. Ah, betapa nyaman. Apa sih sebenarnya yang kutakutkan. Ini adalah sebuah desa yang damai. Lantas, siapa yang akan menggertakku?

“Apakah kamu masih takut?”

Dia bertanya, dan aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Aku tidak lagi takut pada tatapan orang lain.

“Tidak, aku sudah baik-baik saja.”

“Lihat. apa kubilang.”

Hatiku kembali lega. Kumelihat pemandangan sekitar desa. Ladang dan rumah-rumah, bintang di langit, semuanya terhampar sampai ke cakrawala. Atmosfir desa. Aku bisa melihat sejumlah besar orang di sekelilingku. Jika mereka lebih merapat, mungkin jumlahnya setara dengan suatu kota kecil. Jika ada kincir angin, mungkin saja seseorang berpikir bahwa dirinya sedang ada di Swiss. Ah, kincir air. Setelah santai, aku terdiam untuk sementara waktu. Aku tidak pernah mengalami ketenangan seperti ini ketika bersama Roksi sebelumnya. Aku belum pernah mencoba untuk begitu dekat padanya. Namun ini terasa memalukan. Jadi aku memutuskan untuk memulai percakapan.

“Sensei, ladang apakah itu?”

“Sebagian besar adalah tanaman gandum Asura, yaitu komponen untuk membuat roti. Ada juga sejumlah kecil sayuran hijau dan bunga Bardius. Bunga Bardius disempurnakan menjadi rempah-rempah di ibukota. Sisanya adalah bahan untuk makan.”

“Ah, itu cabai hijau. Sensei tidak sanggup makan itu.”

“B-Bukannya tak sanggup, a-aku hanya tak biasa memakannya.”

Aku mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Hari ini, Roksi mengatakan bahwa ini adalah tes terakhir. Artinya, kerjanya sebagai tutor privat hampir berakhir. Roksi adalah orang yang sabar. Karena hari ini adalah hari terakhir, sangat dimungkinkan bahwa dia akan meninggalkan rumahku besok pagi. Hari ini adalah hari terakhir. Mari kita bicara sedikit lebih banyak.

Tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Aku hanya bisa terus bertanya berbagai hal tentang desa ini. Berdasarkan keterangan Roksi, nama desa ini adalah Buina, dan daerah ini adalah bagian utara Asura dari Kerajaan Fedoa. Ada sekitar 30 kepala keluarga di sini, dan rata-rata profesi mereka adalah petani. paulku, Paul, adalah ksatria yang didelegasikan untuk desa ini. Tugasnya adalah untuk mengamati situasi petani, menjadi mediator ketika terjadi perselisihan di desa, dan mempertahankan desa dari serangan makhluk sihir. Itulah pekerjaannya. Dengan kata lain, dia seorang pengawal kerajaan yang diakui oleh orang-orang di desa. Tetapi walaupun sudah ada paulku, pemuda-pemuda desa ini masihlah bertanggung jawab akan keamanan desa, dan mereka bekerja secara bergantian.

Jadi, ketika Paul menyelesaikan shift-nya untuk berjaga-jaga di pagi hari, maka sore hari adalah giliran warga. Pada dasarnya, ini adalah sebuah desa yang damai, jadi para penjaga hampir tidak melakukan apapun. Setelah kami menyelesaikan topik pembicaraan ini, pemandangan ladang di kanan-kiri kami semakin jarang terlihat. Aku sudah tidak lagi punya pertanyaan untuk Roksi, dan kami berdua pun terdiam beberapa saat. Sekitar satu jam berlalu. Tak ada lagi pemandangan ladang di sekeliling kami. Lantas kami tiba di daerah padang rumput yang benar-benar belum tersentuh. Padang rumput ini terus membentang ke cakrawala bagaikan tanpa ujung. Ah, tidak juga. di kejauhan masih terlihat pemandangan lain, seperti jajaran pegunungan.

Setidaknya, pemandangan seperti ini tidak bisa kulihat di Jepang. Aku pun merasa sedang berada pada tempat-tempat yang sering kulihat di buku, seperti padang rumput Mongolia.

“Harusnya tidak apa-apa di sini.”

Roksi mengarahkan kuda ke pohon yang menjulang sendirian, kemudian menambatkan kudanya di sana. Lalu ia membawaku turun dari kuda. Kami akhirnya bertatap muka.

“Aku akan menggunakan sihir serangan air level Saint, yaitu Cumulonimbus. Teknik ini adalah sihir yang menciptakan petir, bersama-sama dengan hujan deras.”

“Ya.”

“Silahkan tiru apa yang aku lakukan.”

Dia menggunakan sihir level Saint. Jadi, seperti ini kah…. Tes terakhir itu. Roksi hendak menggunakan mantra terbesarnya. Jika aku mampu mempelajarinya, maka dia sudah tidak punya apa-apa untuk diajarkan padaku.

“Karena aku hanya mendemonstrasikannya, aku hanya akan mempertahankan mantra selama satu menit, sebelum akhirnya melepasnya, dan kemudian . Kau lulus jika kau bisa meneruskan hujan tersebut selama 1 jam.”

“Apakah ini adalah teknik rahasia, sehingga kau harus menunjukkannya di tempat yang sepi?”

“Tidak, aku khawatir jika ada orang yang terluka, atau mungkin ladang para petani akan rusak.”

Oh.

Jadi, ini adalah hujan setingkat bencana alam?

Itu cukup menakjubkan.

“Aku mulai.”

Roksi mengangkat tangannya ke langit.

“Oh, roh air yang agung, putra kaisar petir yang naik ke langit!! Penuhi keinginanku, turunkan berkah terganas darimu, dan tunjukkan kekuatanmu untuk makhluk kecil ini! Biarkan palu dewa milikmu menghantam tanah, tunjukkan kekuasaanmu, dan lahap bumi dengan air !! Wahai hujan!! Hancurkan dan cuci segalanya !! "CUMULONIMBUS!!"“

Dia merapalkan setiap kalimat mantra bagaikan sedang bernyanyi. Itu berlangsung lebih dari satu menit.

Daerah sekitarku berubah menjadi gelap, segera setelah lantunan mantra itu berakhir. Beberapa detik kemudian . hujan lebat jatuh dari langit. Angin kencang bermunculan di sekitar kami, sedangkan kilat muncul di tengah-tengah awan gelap. Di antara suara hujan yang bagaikan air terujun, garis-garis petir ungu berlarian melalui awan, sehingga menyebabkan suara letupan keras. Halilintar di awan perlahan-lahan menjadi lebih kuat.

Petir terus menjalar, sehingga memunculkan cahaya yang lebih terang, untuk.

. Menyerang bumi.

Dan menyambar pohon. Gendang telingaku berdengung, dan mataku berputar-putar.

Aku hampir pingsan. “Ah!!”

Itu adalah suara yang Roksi ucapkan ketika dia membuat kesalahan. Awan pun lebur dalam sekejap. Petir dan hujan juga berhenti.

“Uwawa .”

Wajah Roksi berubah menjadi hijau, saat ia berlari menuju pohon. Aku melihat ke arahnya. Kuda yang kami tambatkan di pohon itu telah roboh, dan tubuhnya mengeluarkan kepulan asap. Roksi meletakkan tangannya pada tubuh si kuda, dan dia merapalkan mantra lainnya.

“Oh, Ibunda Dewa yang penyayang, mohon sembuhkan luka makhluk ini, dan biarkan tubuhnya kembali sehat. EXHealing!.

Roksi menggunakan sihir penyembuhan level menengah dengan panik, dan setelah beberapa saat, si kuda pun terbangun. Sepertinya dia tidak mati. Sihir penyembuhan level menengah tidak bisa membuat makhluk yang telah mati, hidup kembali. Kuda itu menunjukkan ekspresi ketakutan, dan butiran keringan dingin merembes di dahi Roksi.

“Fiuh, Phew . Itu berbahaya.”

Kuda itu adalah satu-satunya kuda yang keluarga kami miliki.

Paul merawatnya dengan kasih sayang setiap hari, dan terkadang dia menungganginya sembari tersenyum. Meskipun bukan jenis unggulan, kuda itu sudah lama mendampingi Paul. Seseorang mungkin akan mengatakan bahwa rasa cintanya pada kuda itu setara dengan rasa cinta terhadap Zenith. Itulah pentingnya kuda ini. Tentu saja, Roksi, yang telah tinggal bersama kami selama 2 tahun, tahu akan hal itu. Aku juga tahu bahwa Roksi menyaksikan ketika Paul begitu lekat dengan kuda ini, dan gadis itupun terkejut ketika melihatnya

“Tolong jaga rahasia ini, ya?”

Roksi berkata dengan suara setengah merengek. Dia sedikit ceroboh. Tapi dia bekerja keras. Aku juga tahu bahwa gadis ini sering begadang sampai larut malam, hanya untuk mempersiapkan pelajaranku esok hari. Aku juga tahu bahwa dia adalah tipe orang yang tidak suka diremehkan hanya karena penampilannya terlihat begitu belia, dan selalu berusaha menjaga martabatnya. Aku sangat suka penampilan seperti itu. Andaikan saja usia kami tidak berbeda terlampau jauh, mungkin aku sudah menikahinya.

“Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahu paul.”

“Uuuu . Tolong ya.”

Kalau saja kita bertemu di usia yang sama.

“Uuu .”

Meskipun Roksi dalam keadaan setengah menangis, dia dengan cepat menggeleng, menampar pipinya, lantas menatapku dengan ekspresi serius.

“Sekarang, ayo maju dan coba. Aku akan mengurus Kalajav.”

Si kuda masih menunjukkan ekspresi takut, dan seakan-akan dia siap untuk melarikan diri setiap saat, tapi Roksi menempelkan tubuhnya erat-erat, dan berusaha sebisa mungkin untuk menahan si kuda. Meskipun begitu, aku merasa bahwa ia tidak akan mampu menahan si kuda, namun Kalajav semakin tenang sedikit demi sedikit. Roksi mempertahankan posisinya dan mulai merapalkan sesuatu. Dan kemudian, mereka berdua ditutupi oleh dinding tanah. Sebuah benteng terbuat dari tanah terbentuk dengan cepat. Ini adalah sihir bumi level lanjut, Earth Fortress. Dengan begini, mereka harusnya baik-baik saja walaupun tersambar petir lagi.

Baiklah, waktunya untuk memulai.

Biarkan aku berpikir mantra apa yang akan kuucpakan .

“Oh, roh air yang agung, putra kaisar petir yang naik ke langit!! Penuhi keinginanku, turunkan berkah terganas darimu, dan tunjukkan kekuatanmu untuk makhluk kecil ini! Biarkan palu dewa milikmu menghantam tanah, tunjukkan kekuasaanmu, dan lahap bumi dengan air !! Wahai hujan!! Hancurkan dan cuci segalanya !! 

CUMULONIMBUS!!

Aku mengatakan itu semua sekaligus. Awan mulai berkumpul.

Pada saat yang sama, aku mengerti. Cumulonimbus.

Menciptakan awan pada suatu tempat di stratosfer tengah, bersama dengan gerakan kompleks untuk membentuk awan badai. Sepertinya begitulah cara kerjanya. Jika Mana tidak dituangkan ke dalam formasi, awan akan berhenti terbentuk, lantas menghilang.

(Jangan pikirkan Mana, karena terlalu melelahkan untuk mengangkat tanganmu selama 1 jam.)

Tidak, tunggu.

Seorang penyihir membutuhkan semangat kreativitas dan penelitian. Apakah kau benar-benar perlu menjaga postur seperti mengumpulkan Genki selama sejam?

Itu benar, ini adalah ujian. Ini bukan tentang mempertahankan posisi, tetapi tentang menggunakan sihir yang dipadukan setelah membuat awan untuk mempertahankannya. Aku hampir gagal memikirkan itu. Hal-hal yang telah aku pelajari akan segera digunakan.

“Biarkan aku berpikir. Aku pernah melihat ini sebelumnya di TV. Proses bagaimana awan terbentuk.”

Masih ada beberapa gumpalan awan yang Roksi telah bentuk sebelumnya. Ini sesuatu tentang, bagaimana uap air naik ke angkasa. Untuk membuat air naik ke udara, kau harus membuat permukaan bumi menjadi hangat, atau sesuatu semacamnya. Dan aku harus memastikan bahwa udara di angkasa bisa mendingin dengan cepat. Ketika aku mencoba untuk melakukan hal ini, setengah dari Mana-ku benar-benar terkuras. Tapi jika dilakukan dengan cara ini, maka aku harus mempertahankan kondisi alam selama sejam. Sembari melihat hujan badai, aku masuk ke dalam benteng yang dibuat oleh Roksi dengan bangganya. Roksi duduk di sudut yang gelap, tangannya memegang tali kekang kuda. Dia melihat aku dan mengangguk.

“Benteng ini akan runtuh setelah sejam, jadi kau bisa menghentikan sihirmu sebelum itu terjadi.”

“Oke.”

“Jangan khawatir. Kalajav akan baik-baik saja.”

“Oke.”

“Jangan hanya mengatakan oka-oke saja. Kau harus mengontrol awan di luar dengan serius selama satu jam.”

Hm?

“Apakah aku perlu mengendalikannya?”

“Hm? Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh?”

“Tapi apakah aku perlu mengontrolnya?”

“Tentu saja. Sihir air level Saint jugalah termasuk sihir. Jika kau tidak mempertahankannya dengan Mana, angin akan meniupnya pergi.”

“Tapi aku sudah membuat agar awannya tidak terhembus pergi.?”

“Hah? Apa.!?”

Roksi, tampaknya telah melihat sesuatu, dia pun lari keluar benteng tanah. Benteng pun segera runtuh berantakan. Hey hey, bukankah kau harus mengendalikan bentengnya agar tetap berdiri kokoh?

Kuda itu akan terkubur hidup-hidup.

“Arara.”

Aku dengan cepat mengambil alih, dan berjalan di luar. Roksi menatap langit dengan bengong.

“. Jadi begitu ya, tornado spiral akan membawa awan ke atas . !!”

Langit dipenuhi dengan awan buatanku yang terus berkembang. Aku pikir, aku melakukan pekerjaan yang cukup baik. Aku pernah melihat acara TV tentang ilmu alam, yang menjelaskan proses di balik pembentukan tornado besar. Namun, aku tidak begitu ingat isinya. Aku hanya mencoba dnegan mengandalkan instingku, dan pada akhirnya, sepertinya aku telah melakukannya dengan cukup baik.

“Rudi. Kau lulus.”

“Eh? Tapi ini belum satu jam?”

“Tidak perlu menunggu. Ini semua sudah cukup. Tapi, bisakah kau melenyapkannya?”

“Ah iya. Bisa sih, tapi aku butuh sedikit waktu.”

Aku menurunkan suhu di bagian bawah badai sambil meningkatkan suhu di atasnya. Lalu aku membuat aliran udara ke tanah, dan akhirnya menggunakan sihir angin untuk meniup pergi awannya dengan paksa. Roksi dan aku benar-benar basah kuyup setelah aku menyelesaikan itu semua.

“Selamat. Saat ini, kau adalah penyihir level Saint Air.”

Dengan air yang masih menetes dari poninya, bishoujo di depanku mengumumkan bahwa aku telah lulus, dan ada senyuman di wajahnya yang jarang kulihat. Aku, yang tak pernah memperoleh prestasi apapun seumur hidup, kini berhasil menyelesaikan sesuatu yang membanggakan.

Suatu sensasi aneh terasa di perutku. Aku tahu perasaan ini. Ini adalah rasa kepuasan. Sekarang, akhirnya aku bisa merasakannya, bahwa ini adalah “Langkah Pertama”-ku setelah datang ke dunia ini.

Pada hari kedua, Roksi, yang penampilannya masih tidak berubah dalam 2 tahun terkahir, mengemasi kopernya, dan berdiri di depan gerbang. Orang tuaku juga tidak berubah terlalu banyak sejak kedatangan Roksi. Hanya akulah yang tumbuh lebih tinggi.

“Roksi, kami tidak masalah jika kau tetap ingin tinggal di rumah ai. Masih banyak resepku yang belum kumasakkan untukmu .”

“Betul. Walaupun pekerjaanmu sebagai tutor privat telah usai, kau telah melakukan banyak hal bagi kami selama beberapa tahun ini. Orang-orang desa pasti akan menyambut kamu.”

Orang tuaku berusaha menahan Roksi agar tidak pergi. Entah sejak kapan, Roksi dan orang tuaku menjadi seakrab ini. Yahh, dia punya waktu luang mulai sore sampai malam hari. Jika dia beraktivitas setiap hari di rumah ini, maka bukanlah hal yang aneh jika mereka semakin terbiasa dengannya. Ini seperti karakter game yang terus melakukan banyak petualangan, untuk meningkatkan statistiknya.

“Tidak. Terima kasih atas tawarannya, tapi aku pun telah menyadari kelemahanku setelah beberapa tahun mengajar Rudi. Aku akan berpetualang, dan terus mengasah kemampuan sihirku.”

Dia tampaknya begitu terkejut setelah aku bisa menyamai levelnya. Dia pernah mengatakan padaku bahwa dia adalah tipe orang yang membenci murid yang sanggup melampaui guru.

“Begitukah ? Kalau begitu, kami mohon maaf, tampaknya anak kami telah membuatmu kehilangan kepercayaan diri.”

Paul, apa sih yang kau katakan. 

“Tidak, justru dengan inilah, akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak boleh cepat puas dengan apa yang telah kumiliki. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian.”

“Tidak masalah jika kau bangga pada dirimu sendiri, karena kau telah berhasil menguasai sihir air level Saint.”

“Tapi, setelah mengajar Rudi, aku pun sadar bahwa jika aku lebih mengandalkan kreatifitas, maka aku akan bisa menciptakan sihir yang lebih kuat.”

Roksi tersenyum pahit sambil membelai kepalaku.

“Rudi. Meskipun aku telah berusaha yang terbaik, saat ini aku sudah tidak memiliki apapun yang bisa kuajarkan padamu.”

“Itu tidak benar. Sensei telah mengajariku banyak hal.”

“Aku puas jika kau mengatakan hal seperti itu . Ah, benar juga.”

Roksi merogoh saku mantel dengan tangannya, lantas menarik keluar suatu benda yang terikat pita.

“Selamat atas kelulusanmu. Karena aku tidak punya waktu untuk mempersiapkan sesuatu, maka ambil dan jagalah ini.”

“Ini adalah.?”

“Jimat perlindungan Migurd. Jika kau berpapasan dengan iblis jahat, tunjukkan saja benda ini, dan sebut namaku. Mungkin kau nanti memahaminya . ya, semoga saja.”

“Aku akan merawatnya dengan hati-hati.”

“Ini hanyalah kemungkinan. Jadi, jangan percaya terlalu banyak.”

Di ujung perpisahan kami, Roksi pun tersenyum, kemudian dia pergi. Aku tidak sadar kapan air mataku mengalir. Dia benar-benar telah memberiku banyak hal. Pengetahuan, pengalaman, teknik . Jika saja aku tidak bertemu dengannya, mungkin aku masih saja belajar sendirian, secara tidak efisien, sembari membawa buku sihirku. Dan yang paling penting, dia membawaku keluar rumah. Ke dunia luar. Itu saja, sudah cukup bagiku. Roksi membawaku keluar. Itu memberikan makna penting dalam hidupku. Roksi hanya singgah di desa ini selama 2 tahun.

Roksi, dialah gadis yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan baik pada orang lain. Sebagai orang yang berasal dari ras iblis, Roksi pasti pernah diperlakukan tidak baik oleh warga desa. Bukannya Paul atau Zenith, namun Roksi lah yang membawaku ke dunia luar. Ini memberikan makna penting dalam hidupku, Dia bahkan membawaku ke luar desa.

Sebelumnya, aku bahkan tidak pernah berpikir bisa keluar dari pintu rumah. Namun dia merubah semuanya. Bahkan keluar desa. Hatiku telah dilepaskan dan dibebaskan dari kegelapan. Mungkin dia tidak memiliki niat untuk membuatku menjadi orang yang lebih baik. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dia menghilangkan kegelapan di dalam hatiku. Kemaren aku kembali mengambil langkah ke luar gerbang, ketika kami basah kuyup.

Hanya ada tanah. Tanah biasa. Aku tidak menggigil. Aku akhirnya bisa berjalan di luar. Dia melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Bahkan orang tua atau saudara kandungku tak pernah bisa melakukan ini dalam kehidupanku yang sebelumnya.

Hanya dia yang bisa. Mengambil tanggung jawab untuk memberikan aku keberanian tanpa teguran apapun. Mungkin dia tidak sadar telah berbuat hal sebesar itu dalam hidupku. Aku mengerti itu. Dia melakukannya untuk dirinya sendiri. Aku tahu itu. Tapi aku masih menghormatinya. Aku menghormati gadis kecil itu. Aku bersumpah dalam hatiku untuk menghormati dia, sampai sosoknya lenyap nanti. Tanganku memegang tongkat dan jimat yang Roksi telah berikan padaku. Serta berbagai pengetahuan yang telah dia ajarkan padaku. Tiba-tiba aku ingat. Aku pernah mencuri celana dalam Roksi yang belum tercuci, dan itu masih ada di kamarku. Maafkan aku.

Bab 7  Teman

Aku memutuskan untuk mencoba keluar. Tidak mudah bagi Roksi untuk membawaku keluar. Usahanya tidak boleh disia-siakan.

“paul. Dapatkah aku pergi keluar untuk bermain?”

Pada suatu hari tertentu, aku bertanya pada Paul sambil membawa ensiklopedia botani milikku. Anak-anak seumuranku lebih suka bermain ke tempat-tempat yang tak dikenal daripada hanya berdiam diri di rumah. Meskipun aku tidak akan pergi terlalu jauh, orang tuaku akan khawatir jika aku tidak ijin.

“Keluar? Bermain? Bukan di halaman?”

“Ya.”

“O-ohh. Tentu saja.”

Dia dengan mudah menyetujuinya.

“Kalau dipikir-pikir, kamu sedikit sekali memiliki waktu luang. Kami terus saja menyuruhmu untuk belajar sihir dan teknik berpedang, namun bermain juga merupakan hal yang penting bagi anak-anak seumuranmu.”

“Aku bersyukur karena telah bertemu seorang guru yang hebat.”

Aku benar-benar berpikir bahwa Paul adalah orang yang sangat disiplin dalam hal pendidikan, tetapi pada kenyataannya, ia memiliki sisi lembut. Aku bahkan sempat berpikir bahwa dia akan menolak permintaanku ini, dan malah menyuruhku berlatih pedang seharian. Betapa sia-sia usahaku. Meskipun dia adalah orang yang selalu berpikir dengan mengandalkan naluri, dia bukanlah tipe orang yang setuju dengan ungkapan: “Jika ada kemauan, maka pasti ada jalan”.

“Hmmm, ternyata kau benar-benar ingin bermain ke luar. Dulunya, aku selalu berpikir bahwa kau memiliki tubuh yang lemah. Waktu berlalu dengan sangat cepat ya.”

“Apakah kau mengira bahwa tubuhku lemah?”

Ini adalah pertama kalinya aku mendengar tentang hal itu. Sampai saat ini, aku belum pernah terjangkit penyakit apapun.

“Karena, kau tidak menangis sama sekali ketika kau masih kecil.”

“Begitu ya. Yahh, syukurlah tidak ada hal buruk yang menimpaku sampai saat ini. Kau membesarkan anak yang manis dan kuat, heh.”

Aku menunjukkan wajah manis pada Paul, dan dia tersenyum kecut padaku.

“Kau benar-benar membuatku khawatir karena kau tidak bertingkah seperti anak kecil pada umumnya.”

“Apakah kau tidak puas memiliki anak sulung yang bisa diandalkan?”

“Tidak, tidak juga.”

“Aku tidak masalah jika kau tidak puas mendidikku untuk menjadi penerus keluarga Greyrat yang layak.”

“Tapi, dulu ketika paul seumuranmu, paul hanyalah bocah nakal yang suka menyingkap rok cewek-cewek.”

“Menyingkap rok, ya?”

Apakah di dunia ini juga ada hal seperti itu?

Orang ini, benar-benar mengatakan bahwa dia pernah menjadi seorang bocah yang nakal.

“Jika kau ingin menjadi penerus keluarga Greyrat yang layak, maka bawalah pulang seorang pacar.”

Apa? Jadi, semacam itukah keluarga ini?

Apakah kita tidak melindungi perbatasan? Bukankah kita adalah bangsawan (meskipun tingkat rendah sih)?

Tidak ada formalitas atau sejenisnya? Tidak, bagaimanapun juga keluarga kami hanyalah bangsawan tingkat rendah. Jadi, biarkan saja seperti ini.

“Aku mengerti. Kalo begitu, aku akan pergi ke desa untuk menemukan tempat di mana aku bisa menyingkap rok cewek-cewek.”

“Ah, kau harus memperlakukan perempuan dengan baik. Dan juga, jangan angkuh karena kau kuat dan mampu menggunakan sihir. Kekuatan laki-laki tidak untuk disia-siakan pada hal seperti itu.”

Oh, itu benar juga. Memang, memang, di kehidupan sebelumnya, aku pun ingin agar saudara-saudaraku mendengarkan hal ini. Itu benar, menggunakan kekerasan hanyalah hal yang sia-sia. Paul mengatakannya dengan sangat baik. Aku juga merupakan orang yang logis.

“Aku mengerti Yah. Tujuan menjadi kuat adalah untuk bertingkah keren di depan para gadis!”

“. Tidak, tidak seperti itu.”

Eh? Topik ini tidak menuju ke arah itu?

Ups. Hehe.

“Aku hanya bercanda. Tujuan menjadi kuat adalah untuk melindungi yang lemah, ‘kan?”

“Mmmm, itu benar.”

Ketika kami selesai berbicara tentang hal ini, aku menempatkan ensiklopedia botani di bawah lenganku, dan menempatkan tongkat yang Roksi berikan pada pinggangku. Ketika aku mempersiapkan diri untuk berangkat, aku tiba-tiba ingat sesuatu, lantas aku pun menoleh.

“Ahh, benar juga. paul, mulai saat ini aku akan sering pergi keluar rumah, tapi aku akan ijin pada seseorang jika aku keluar rumah. Aku tidak akan melupakan latihan pedang harian, dan juga latihan sihir. Aku akan datang kembali sebelum senja, dan aku tidak akan pergi ke tempat-tempat yang berbahaya.”

Agar paul tidak khawatir, aku pun mengatakan itu semua. Paul tiba-tiba terdiam. Sebenarnya, ini adalah tugasmu, ‘kan?

“Yah, aku keluar.”

“. Hati-hati di jalan.”

Dengan begitu, aku pun berjalan keluar dari pintu gerbang. Setelah beberapa hari.

Dunia luar tidaklah begitu menakutkan. Semuanya baik-baik saja. Aku bahkan berhasil menyapa orang yang lewat di hadapanku dengan riang. Semuanya juga mengenalku. Aku adalah anak Paul dan Zenith, dan juga murid Roksi.

Aku akan memperkenalkan diri kepada orang-orang yang baru pertama kali kutemui. Dan aku juga menyapa orang yang pernah kutemui sebelumnya. Semuanya membalasku dengan senyum di wajah mereka.

Sudah lama aku tidak merasa sesantai ini. Ini semua karena ketenaran Paul dan Zenith. Dan juga berkat nama baik Roksi. Namun, pada dasarnya Roksi lah yang lebih banyak memberikan andil. Aku akan merawat artefak dewi itu (celana dalam). Tujuan keluar rumah adalah, mengandalkan kakiku sendiri dan menghafal geografis lingkungan sekitar.

Jika aku mampu menghafalnya, aku tidak akan tersesat jikalau tiba-tiba aku diusir keluar rumah. Pada saat yang sama, aku ingin menyelidiki tanaman.

Kebetulan, aku punya ensiklopedia botani, dan aku bisa mengidentifikasi apakah tanaman tersebut layak dimakan ataukah tidak, serta membedakan antara obat dan tanaman beracun . Mengidentifikasi tanaman adalah pelajaran yang kelak akan memberikan keuntungan.

Dengan begitu, walaupun aku diusir dari rumah, aku tidak akan kelaparan. Roksi hanya memberiku gambaran kasar tentang tanaman desa, gandum, sayuran, dan bahan-bahan untuk membuat parfum. Bahan untuk membuat parfum adalah bunga dari tanaman yang bernama Bardius, itu menyerupai lavender. Warnanya keunguan, dan juga bisa dimakan.

Dengan memperhatikan tanaman yang mencolok, aku membandingkan tanaman yang kulihat dengan apa yang tergambar di buku. Tapi desa ini tidak terlalu besar, sehingga macam tanaman tidaklah terlalu bervariasi. Setelah beberapa hari, rute bermainku semakin luas, dan aku mulai bergerak ke arah hutan. Ada banyak jenis tanaman di hutan.

“Berdasarkan rumor, hutan adalah tempat yang jauh lebih berbahaya, karena Mana cenderung berkumpul di sana dengan mudah.”

Daerah di mana Mana cenderung berkumpul dengan mudah, akan berpotensi menciptakan makhluk sihir. Hal ini dikarenakan makhluk sihir akan mengalami perubahan mendadak karena berkumpulnya Mana tersebut. Namun, aku tidak pernah tahu alasan mengapa Mana berkumpul dengan begitu mudah di hutan.

Tapi daerah ini memiliki sedikit makhluk sihir karena warga desa akan memburunya secara berkala, jadi tempat ini cukup aman untuk tempat bermain.Berburu Makhluk Sihir, kira-kira seperti itulah mereka menyebutnya.

Setiap bulan, ksatria, pemburu, dan tim patroli pria akan pergi keluar dengan kekuatan penuh, untuk memasuki hutan, lantas membersihkan makhluk-makhluk tersebut.

Tapi dikatakan bahwa jauh di dalam hutan, kemungkinan ada makhluk sihir yang lebih menakutkan. Meskipun aku tahu sihir dan memiliki kemampuan bela diri, aku masihlah seorang NEET yang tidak pernah bertarung sebelumnya. Aku tidak boleh menjadi sombong.

Aku tidak punya pengalaman berkelahi dalam suatu pertempuran yang sebenarnya. Akan mengerikan jika aku membuat kesalahan karena terlalu menyombongkan diri. Aku telah melihat banyak orang mati karena alasan seperti itu . di Manga.

Dan juga, aku bukanlah orang berdarah panas. Aku merasa bahwa menghindari perkelahian adalah cara yang terbaik. Jika aku melihat makhluk apapun, aku akan lari ke Paul, dan melaporkannya. Aku akan melakukan hal itu. Aku memanjat sebuah bukit kecil sembari memikirkan itu. Ada pohon tunggal yang berdiri sendirian di atas. Itu adalah pohon terbesar di sekitar sini. Aku berencana untuk memeriksa jenis apakah pohon terbesar ini. Dan pada saat itu.

“Iblis tidak boleh tinggal di sini!”

Suara itu berhembus bersama angin. Hal ini mengingatkanku pada sebuah memori yang sangat kubenci.

Inilah yang membuatku mengurung diri sebagai NEET. Ini jugalah yang membuatmu mendapatkan mimpi buruk, ketika mendapatkan julukan, “penis yang belum disunat“. Dan suara ini sangat menyerupai suara yang biasa memanggilku dengan sebutan itu. Suara yang jelas-jelas berasal dari seorang pem-bully.

“Enyahlah!!”

“Makan ini!”

“Aku berhasil mengenainya!”

Aku menoleh untuk melihatnya, dan aku mendapai tanah menyerupai semacam kawah, seperti ketika tersambar petir buatannya Roksi. Di sana, aku melihat 3 anak-anak belepotan lumpur, yang melempari lumpur pada seorang anak kecil.

“Kau mendapatkan 10 poin jika kau mengenai kepalanya!”

“Baiklaaaah!”

“Aku mengenainya! Aku mengenainya!”

Woah. Ini benar-benar menjengkelkan. Aku melihat para pem-bully. Preman-preman cilik ini berpikir bahwa, tidak masalah jika kau melakukan apa saja pada orang yang status sosialnya lebih rendah daripada dirimu. Mereka memiliki semacam pistol air, lantas menembakkannya pada korbannya. Kau jelas-jelas tidak boleh menembakkan sesuatu seperti itu pada manusia. Ah tidak. mereka bahkan tidak memperlakukannya sebagai manusia. Kau tidak boleh memperlakukan mereka sebagai manusia. Dan berbicara tentang anak kecil yang menjadi korban itu, seharunsya dia melarikan diri dengan cepat, tapi aku tidak mengerti mengapa dia justru menikmati saat-saat ini. Aku melihat mereka sekali lagi, dan akhirnya aku menyadari bahwa dia membawa sesuatu benda seperti keranjang di depan dadanya, dia memeluknya untuk melindungi dari cipratan lumpur. Dengan demikian, dia tidak dapat menghindari serangan dari para pem-bully.

“Dia membawa sesuatu !!”

“Itu adalah harta iblis!!”

“Dia pasti mencurinya dari suatu tempat !!”

“Jika kau mengenai itu, maka kau akan mendapatkan 100 poin!!”

“Curi hartanya!!”

Sembari aku berlari ke arah anak yang di-bully, aku membuat bola lumpur dengan menggunakan sihir. Ketika aku sudah memasuki jangkauan tembak, aku pun melepaskannya dengan sekuat tenaga.

“Wah!”

“Ada apa!?”

Aku mengenai wajah anak yang terlihat seperti pemimpin.

“Aduh, mataku kena.”

“Apa yang sedang kamu lakukan!!”

“Pergilah kalian!!”

“Apakah kau mencoba untuk menjadi teman ras iblis!!”

Dalam sekejap, target kebencian mereka tertuju padaku. Tak peduli di manapun dunianya, inilah yang selalu terjadi.

“Aku bukan teman ras iblis. Aku adalah teman orang-orang yang lemah.”

Aku mengatakan itu dengan bangga, tetapi bocah-bocah tengik ini merasa bahwa mereka sudah memihak pada keadilan.

“Buat apa kau sok keren seperti itu!!”

“Kau anak dari ksatria itu, kan !!”

“Kau adalah “tuan muda” keluarga bangsawan, hah !!”

Arararara, ini buruk. Tampaknya identitasku telah bocor.

“Apakah kau pikir anak ksatria pantas melakukan hal seperti ini!!”

“Aku akan memberitahu orang lain bahwa anak ksatria sudah menjadi teman ras iblis!!”

“Katakan pada saudara-saudaramu untuk datang sekarang!!”

“Kakak!! Ada orang yang aneh di sini !!”

Anak-anak itu menggunakan sihir Call For Allies!

Tapi itu tidak efektif sama sekali. Namun, ternyata itu sudah cukup untuk membuat kakiku gemetar! 

Astaga, meskipun ada 3 orang yang menjadi lawanku, kakiku jadi melemah karena teriakan anak-anak itu sungguh memalukan. Apakah ini hasilnya di-bully, sehingga aku menjadi seorang NEET .

“D-diam! Tiga orang yang mem-bully satu orang adalah yang terburuk!”

Mereka menunjukkan ekspresi “Huh ~?”.

Betapa menjengkelkan.

“Kaulah yang menjengkelkan, untuk apa kau berteriak, bodoh !!”

Karena aku marah, aku melempar sihir bola lumpur pada mereka. Dan itu meleset.

“Bodoh !!”

“Dari mana bocah itu mengambil lumpur barusan!!”

“Siapa yang peduli, ayo balas lempar padanya!!”

Aku hanya melempar sekali, dan mereka membalasku tiga kali. Aku mengandalkan apa yang telah diajarkan Paul, kemudian aku menggunakan sihirku untuk menghindari serangan mereka dengan elegan.

“A-Aku tidak bisa mengenainya!!”

“Mengapa kau menghindar!!”

Hahaha, tidak ada yang istimewa jika kalian dapat mengenaiku!

Mereka terus melemparkan lumpur-lumpur itu, tapi setelah menyadari tidak dapat mengenaiku, mereka pun berhenti, seolah-olah sudah bosan.

“Ah ~ ahh! Ini membosankan!!”

“Ayo pergi!!”

“Aku akan memberitahu orang lain bahwa anak ksatria telah menjadi sekutu ras iblis !!”

“Kami tidak kalah. Kami hanya bosan bermain!!”

Sembari mengatakan penyangkalan itu, 3 bocah tengik inipun berlari ke sisi lain ladang gandum. Berhasil! Aku menang melawan pem-bully untuk pertama kalinya dalam hidupku! Y-Yahh, ini tidak pantas dibanggakan sih. Yahh, kalau dipikir-pikir, aku masihlah tidak pandai berkelahi. Aku bersyukur bahwa perselisihan ini tidak berubah menjadi perkelahian.

“Hei, apakah kau baik-baik saja? Apakah barangmu baik-baik saja?”

Setelah mengatasi mereka, aku menoleh ke belakang untuk melihat anak kecil yang menjadi korban bully.

“Wooah .”

Ada bishounen yang terkesan seperti dia tidak seumuran denganku.

Rambutnya sedikit lebih panjang untuk seukuran anak kecil, hidungnya bagaikan dipahat, bibir mungilnya begitu imut, dagunya lancip, kulitnya sehalus porselen ----- disertai ekspresi ketakuran bagaikan anak kelinci, sehingga menciptakan keindahan estetika yang tak terlukiskan padanya. Sial. Andaikan saja Paul lebih tampan, mungkin wajahku bisa lebih . Tidak, Paul tidaklah jelek. Zenith juga cantik. Ini tidak ada hubungannya dengan paras.

Dibandingkan dengan wajahku pada kehidupan sebelumnya yang penuh lemak, wajahku di dunia ini jauh lebih baik.

Pasti, yup.

“Um . Um . Aku b-baik saja .”

Anak kecil itu menunjukkan ekspresi lemah padaku.

Dia terlihat bagaikan hewan kecil, sehingga membuat setiap orang yang melihatnya merasa perlu untuk melindunginya. Jika ada seorang Onee-san melihat Shotacon ini, maka dia pasti akan segera terpelatuk. Tapi dia dikotori oleh lumpur di sekujur tubuh. Lumpur mengotori semua pakaiannya. Setengah dari wajahnya ditutupi dengan lumpur, dan rambutnya juga telah berubah menjadi warna lumpur. Adalah sebuah keajaiban bahwa dia masih bisa melindungi keranjang itu. Apa boleh buat.

“Letakkan keranjang itu, lalu berlutut lah di samping saluran di sana sebentar.”

“Eh .? Eh .?”

Meskipun ia kelihatan bingung, aku tidak tahu mengapa dia menuruti perintahku. Seolah-olah ia tidak mampu untuk melawan setiap perintah yang ditujukan padanya. Yahh, jika ia mampu melawan perintah, maka dia harusnya bisa membalas perilaku preman-preman cilik barusan. Si kecil itupun merangkak, dan menghadap pada saluran pembuangan.

Andaikan ada seorang Onii-chan yang melihat Shotacon ini, pastilah dia sudah melakukan hal-hal yang ilegal .

“Tutup matamu.”

Aku menyesuaikan suhu air untuk menghangatkannya, dengan menggunakan sihir api. Aku membuat air hangat sekitar bersuhu 40 derajat. Lalu kutuangkan airnya di atas kepala si kecil itu.

“Waah !!”

Aku meraih leher anak yang sedang panik itu, lantas kucuci bersih lumpur di rambutnya.

Meskipun awalnya dia menolak, setelah ia terbiasa dengan suhunya, dia pun akhirnya berhenti meronta. Pakaiannya . Yahh, lebih baik mencucinya di rumah nanti.

“Baiklah, ini harusnya sudah cukup.”

Setelah mencuci lumpur, aku menggunakan sihir api untuk membuat angin panas seperti hair dryer, lantas aku menggunakan saputangan untuk menyeka wajah anak itu dengan hati-hati. Seiring dengan telinga panjangnya yang mirip Elf, rambut berwarna zamrud itu juga muncul di hadapanku.

Saat aku melihat warna itu, aku ingat kata-kata Roksi.

“Jangan pernah mendekati ras dengan rambut berwarna zamrud.”

Tidak. ada sesuatu yang sedikit berbeda.

Aku ingat itu .

“Jangan pernah mendekati orang dengan rambut berwarna zamrud, dan batu berwarna permata di dahinya. jangan pernah.”

Yup, itu benar. Ras yang memiliki batu berwarna ruby di dahi mereka. Anak muda ini memiliki dahi yang besar dengan warna putih indah. Oke, dia aman. Dia bukan berasal dari ras Superd yang berbahaya itu.

“T . Terima kasih .”

Aku kembali tersadar setelah dia mengucapkan terima kasih.

Hey, hey, tapi itu sedikit membuatku terkejut.

Aku memberikan nasihat sombong kepadanya, dengan maksud sedikit membuang rasa maluku.

“Hei kau. Jika kau tidak sanggup melawan balik, maka mereka akan selalu mendatangimu.”

“Aku tidak bisa menang .”

“Yang paling penting adalah memiliki kemauan untuk melawan.”

“Tapi mereka selalu lebih besar . aku takut akan rasa sakit .”

Aku paham. Jika dia melawan, apakah mereka akan memanggil orang lain untuk benar-benar memaksa dia menyerah?

Hal ini juga terjadi di dunia ini. Karena upaya Roksi, orang dewasa bisa menerima ras iblis, tetapi itu belum tentu terjadi pada anak-anak. Kadang-kadang mereka sangatlah kejam. Jika ada orang yang sedikit berbeda, mereka akan menolaknya.

“Kau pasti kesulitan. Warna rambutmu menyerupai Ras Superd, itulah kenapa kau selalu diganggu.”

“Apakah kau tidak mempermasalahkannya .?”

“Tidak… karena guruku juga berasal dari ras iblis. Dari ras apakah kau?”

Roksi mengatakan bahwa Ras Migurd begitu mirip dengan Ras Superd.

Mungkin dia juga sesuatu seperti itu.

Aku bertanya padanya dengan pemikiran seperti itu, tetapi anak kecil itu menggeleng.

“. Aku tidak tahu.”

Hmm, Kau tidak tahu?

Mungkin karena dia masih kecil?

“Apa ras paulmu?”

“. Dia setengah manusia, setengah Elf.”

“Bagaimana ibumu?”

“Manusia, tapi dia memiliki sedikit keturunan ras Hewan .”

Setengah Elf dan 1/4 dari garis keturunan ras Hewan?

Apakah karena itulah dia memiliki rambut seperti ini .?

Ketika aku mulai terhanyut dalam pikiran, mata anak kecil itu mulai dipenuhi oleh air mata.

“. Jadi, meskipun paulku mengatakan bahwa . Aku bukanlah berasal dari ras iblis . tapi, warna rambutku, berbeda dari paul dan ibu .”

Aku menghibur dia dengan membelai kepalanya.

Tapi, itu juga menjadi masalah besar jika warna rambutnya berbeda.

Ada kemungkinan ibunya melakukan perzinahan dengan pria lain.

“Satu-satunya perbedaan adalah warna rambut?”

“. Telingaku, lebih panjang dari paul .”

“Aku paham.”

Rambut hijau, telinga panjang . kasus ini juga mungkin terjadi pada orang-orang lain. Hmm, meskipun aku tidak ingin bertanya terlalu banyak tentang keluarga orang lain, aku juga pernah menjadi korban bully, jadi akan lebih baik jika aku membantunya. Terlalu menyedihkan jika ia di-bully hanya karena warna rambutnya berbeda dari manusia pada umumnya. Tapi, di masa lalu aku pernah di-bully, itu setengahnya juga merupakan kesalahanku. Tapi anak kecil ini berbeda. Apakah dia harus mati terlebih dahulu sepertiku, kemudian berharap untuk bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik? Itu konyol sekali. Dia telah dilempari lumpur karena warna rambutnya sedikit hijau sejak dilahirkan.

Uuuu . memikirkannya saja sudah membuatku cukup takut, sampai-sampai aku kebelet pipis.

“Apakah paulmu baik padamu?”

“. Ya. Meskipun dia menakutkan ketika marah, ia tidak akan melakukan itu jika aku mendengarkan apa katanya.”

“Begitu ya. Bagaimana dengan ibumu?”

“Dia sangat lembut.”

Hoh. Kelihatannya, orang tuanya sangat menyayangi dia.

Tidak, kau belum jelas tentang hal ini.

“Baiklah, ayo kita pergi.”

“. Pergi, pergi ke mana?”

“Aku akan mengikutimu.”

Dengan mengikutinya, aku akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Itu sungguh logis.

“. M-mengapa kau ingin mengikuti aku?”

“Yahh, kau tahu, anak-anak nakal itu mungkin akan kembali. Jadi, biarkan aku menemanimu. Apakah kamu akan pulang? Atau apakah kau ingin mengirim keranjang ini ke suatu tempat?”

“Aku akan mengirim makanan . pada paul .”

paulnya adalah setengah Elf?

Dalam buku cerita, Elf adalah mereka yang berumur panjang, hidup penyendiri, dan bertingkah sombong terhadap ras lain. Mereka sangat ahli dalam memanah dan sihir, terutama sihir air dan angin. Dan ciri-ciri khasnya adalah telinga panjang meruncing.

Menurut Roksi, “Pada umumnya, ciri-ciri Elf memang seperti itu, namun sebenarnya mereka tidaklah begitu tertutup seperti yang sering dibicarakan.”

Seperti yang sudah kuduga, bukankah Elf biasanya cantik-cantik dan ganteng-ganteng? Tidak, Elf cantik hanyalah imajinasi orang Jepang. Dalam game barat, mereka tidak secantik itu. Ada beberapa perbedaan budaya pada negara kami. Namun, jika dilihat dari tampang bocah ini, paras kedua orang tuanya pastilah tidak buruk.

“Bolehkah aku bertanya . kenapa kau melindungi aku?”

Bocah itu bertanya dengan gagap, dan itu membuatku semakin ingin melindungi dirinya.

“Karena paulku pernah berkata padaku bahwa aku harus menjadi teman bagi orang yang lemah.”

“Tapi . kau akan dijauhi oleh orang lain.”

Itu benar. Jika aku membantu orang yang di-bully, maka aku akan ikutan di-bully ---- Itu adalah suatu hal yang umum.

“Kalau begitu, bagaimana jika kau bermain denganku. Mulai hari ini dan seterusnya, kita adalah teman.”

“Eh !?”

Jadi mari kita membentuk tag-team, ya. Rantai intimidasi biasanya terjadi setelah pihak yang membantu, mengkhianati sang penolong. Orang yang mendapat bantuan harus bertanggung jawab, dan berterima kasih kepada orang yang membantu. Namun, hal yang terjadi pada bocah ini sedikit berbeda, ada alasan yang lebih mendalam atas pembullian yang diterimanya. Aku ragu ia akan mengkhianatiku, dan bergabung dengan pihak pembulli.

“Ah, apakah kau perlu bantuanku untuk mengantarkan keranjang itu?”

“T-tidak.”

Aku juga perlu mendengarkan pendapatnya, tapi ia menggelengkan kepala dengan ekspresi lemah. Ekspresinya sungguh menakjubkan. Dia benar-benar akan menarik perhatian seorang onee-chan lolicon. Yahh, ide ini cukup bagus.

Dengan wajah seperti itu, dia pasti akan populer di kalangan para gadis. Lalu, jika aku berteman dengannya, mungkin akan ada beberapa gadis yang terpikat padaku. Meskipun wajahku tidaklah begitu istimewa, jika kami berdua jalan bersama-sama, kami akan terlihat sepadan.

Mungkin akan ada beberapa gadis yang gak pede untuk berkencan dengannya, lantas mereka pun mengalihkan targetnya padaku. Aku lebih suka pada gadis yang kurang pede seperti itu.

Ini pasti berhasil. Para gadis berparas pas-pas’an pun lebih memilih untuk jalan bareng gadis-gadis cantik untuk menyamarkan kejelekannya. Namun, aku sebaliknya.

“Sy.ph-----”

Dia diam-diam berbisik, tapi aku tidak begitu mendengarkan kalimatnya. silpi, ya. Apakah dia sedang memberitahu namanya padaku?

“Itu adalah nama yang bagus. Sama seperti roh angin.”

Ketika kukatakan itu, silpi pun memerah dan mengangguk.

paul silpi jugalah seorang bishounen.

Telinga panjang meruncing, rambut emas bersinar, dan tubuh ramping tanpa otot. Dia tidak menodai reputasi “Setengah-Elf” sedikit pun, dan sebagai laki-laki, ia mewarisi sisi baik ras Elf dan juga ras manusia.

Dia berdiri di atas menara jam, tangannya memegang busur sembari tetap mengawasi hutan.

“paul, ini, bekal makan siangnya .”

“Ah, aku selalu merepotkanmu, Luffy. Apakah hari ini kau juga di-bully?”

“Tidak, seseorang telah membantuku.”

Ketika dia berusaha memperkenalkan diriku pada paulnya, aku pun memberikan salam sederhana. Panggilannya Luffy ya . Entah mengapa tiba-tiba aku merasa bahwa dia akan memolorkan salah satu anggota tubuhnya?

Andaikan saja silpi begitu optimis, mungkin dia tidak akan di-bully.

“Senang bertemu denganmu, pak. Namaku adalah Rudeus Greyrat.”

“Greyrat . kau keluarganya Paul?”

“Ya. Paul adalah paulku.”

“Ohh, aku pernah mendengar tentangmu. Kau benar-benar anak yang sopan. Oh, aku minta maaf. Namaku Rawls. Aku biasanya berburu di hutan.”

Menurut dia, menara jam ini didirikan untuk mengamati pergerakan makhluk magis dari hutan. Menara ini dijaga selama 24 jam sehari oleh orang-orang desa. Paul juga mendapatkan giliran, jadi tentu saja Rawls mengenalnya, dan mereka berdua pernah saling membahas tentang anak-anak mereka.

“Penampilan anakku seperti itu karena dia sedikit mewarisi gen leluhurnya. Kumohon bertemanlah dengan anakku.”

“Tentu saja. Walaupun silpi adalah dari ras Supard, aku tidak akan membeda-bedakannya. Aku bersumpah atas nama paul aku.”

Setelah mendengar itu, Rawls berdecak kagum.

“Di usia semuda ini, kau sudah mengerti akan arti kehormatan keluarga . aku iri padamu, Paul. Kau memiliki seorang anak yang begitu baik.”

“Menjadi baik di saat muda tidak menjaminmu terus menjadi pribadi yang baik sampai kau tua. Ketika silpi tumbuh dewasa nanti, aku tidak yakin bahwa aku tidak akan iri padanya.” 

Saat itu, aku pun juga menghibur silpi.

“Aku paham . Kau persis seperti yang Paul ceritakan.”

“. Apa yang paul katakan?”

“Dia bilang, dia kehilangan kepercayaan sebagai seorang paul ketika ia bercakap-cakap dengamu.”

“Begitukah ? Yahh, kalo begitu, mulai sekarang aku akan melakukan beberapa kesalahan dengan sengaja, agar paul bisa memberikan nasehatnya padaku.”

Sudut lenganku ditarik, ketika aku berbicara tentang hal ini. Saat aku melihat ke belakang, aku mendapati silpi sedang menurunkan kepalanya sambil menarik lenganku. Apakah terlalu membosankan bagi anak kecil ketika orang dewasa sedang berbicara?

“Rawls-san. Bolehkah kami berdua bermain sebentar?”

“Ah, tentu saja. Tapi jangan mendekati hutan.”

Kupikir, kau tidak perlu mengatakan itu .

Tapi itu mungkin tidak cukup.

“Ada sebuah pohon yang sangat besar di bukit ketika kami datang ke sini. Kami akan bermain di sana, dan aku akan membawa silpi kembali sebelum matahari terbenam. Tapi jika kau tidak melihat kami ketika pulang ke rumah, maka kemungkinan besar kami sedang menghadapi kesulitan, jadi mohon cari kami ketika hal itu terjadi.”

“Ah . Hah.”

Yahh, ini adalah dunia tanpa adanya ponsel. Laporan, komunikasi, dan diskusi adalah hal-hal yang penting. Kecelakaan bukanlah hal yang tak terelakkan. Sangat penting untuk segera mengambil tindakan ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Meskipun ada keamanan di negeri ini cukup baik, tak seorang pun tahu jenis kejahatan macam apa yang sedang mengintai kami. Di tengah tatapan Rawls yang tertegun, kami berjalan menuju pohon besar di bukit.

“Nah, apa yang harus kita mainkan?”

“A-Aku tidak tahu . Aku tidak pernah bermain dengan teman sebelumnya .”

silpi tampaknya ragu-ragu tentang apa itu “teman”. Dia mungkin tidak punya teman sebelumnya. Betapa menyedihkan. Namun, saat ini akupun belum mempunyai teman.

“Hmm. Kalau dipikir-pikir, aku juga belum punya teman karena aku selalu saja tinggal di rumah. Apa yang harus kita mainkan?”

Dengan ekspresi gelisah, silpi mendongakkan kepalanya padaku. Tinggi kami hampir sama, tapi dia membungkukkan tubuhnya saat mengangkat kepalanya untuk melihatku.

“Erm, kenapa kau terus-terusan mengubah kata ‘saya’ (BOKU) dan ‘aku’ (ORE)”

“Hm? Ahh. Tidaklah sopan jika kau tidak mengubah cara bicaramu di depan orang yang lebih tua. Kau harus berbicara dengan sopan pada seseorang yang posisinya lebih tinggi darimu.”

“Berbicara sopan?” 

“Memang begitu.”

“Hrm?”

Dia tampaknya tidak mengerti, tapi seseorang akan belajar akan hal ini secara perlahan. Ini adalah cara seseorang menjadi dewasa.

“Hei, ajari aku jurus yang tadi.”

“Jurus yang tadi?”

silpi berkedip dan menggunakan tangannya untuk menjelaskan.

“Air panas yang menyembur keluar dari tanganmu, dan juga angin panas yang berhembus. Yang itu lho.”

“Ah--. Yang itu rupanya.”

Sihir yang kugunakan untuk mencuci lumpur dari tubuhnya.

“Apakah sulit?”

“Meskipun sulit, jika kau terus berlatih, siapa pun pasti bisa melakukannya . mungkin.”

Belakangan ini, kapasitas Mana-ku terus bertambah, sehingga akupun tidak tahu seberapa banyak Mana yang kupunya. Lagipula, aku tidak tahu berapa kapasitas Mana rata-rata orang di desa ini.

Namun, itu hanya menggunakan sihir api untuk memanaskan air. Jika tidak menggunakan mantra tanpa suara untuk membuat air mendidih seketika, maka siapa pun mungkin mampu menirunya dengan menggunakan sihir kombinasi. Jadi, seharusnya tidak ada masalah. Mungkin.

“Baik. Mulai hari ini dan seterusnya, kita akan mengadakan pelatihan khusus!!”

silpi dan aku bermain seperti ini sampai gelap.

Ketika aku sampai di rumah, aku mendapati Paul dengan mood yang buruk. Dia menunjukkan ekspresi marah. Kedua tangannya berada di pinggang, sembari dia berdiri di beranda rumah. Hm, apakah aku mengacaukan sesuatu? Kalau dipikir-pikir lagi, kesalahan yang kuperbuat sampai saat ini hanyalah, aku menyimpan artefak dewi (sempaknya Roksi), tapi itupun kalo ketemu .

“Yah, aku pulang.”

“Apakah kau tahu mengapa aku marah?”

“Tidak.”

Aku berpura-pura bahwa aku tidak tahu apa-apa. Jika sempak . eh, maksudku artefak dewi itu masih belum ditemukan, maka aku tidak perlu membahasnya, karena itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

“Barusan saja, Nyonya Ada datang untuk mencariku. Tampaknya kau telah memukul anaknya, Somar.”

Ada, Somar. Siapa sih?

Aku mulai memikirkan nama-nama yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Pada dasarnya, aku baru saja keluar rumah, dan menyapa beberapa orang. Aku sempat menyebutkan namaku, dan orang lain membalasnya dengan memperkenalkan diri.Apakah ada di antara mereka yang bernama Ada? Sepertinya tidak ada sih .

Hm? Tunggu.

“Apakah itu tentang apa yang telah aku lakukan hari ini?”

“Ya.”

Aku bertemu silpi, Rawls, dan 3 anak nakal hari ini. Itu berarti Somar adalah salah satu dari 3 anak nakal tersebut?

“Aku tidak memukulnya. Aku hanya melemparkan lumpur.”

“Apakah kau ingat apa yang aku katakan sebelumnya?”

“Tujuan menjadi kuat bukanlah untuk berlagak keren?”

“Betul.”

Oh Hoh.

Aku paham. Kalau dipikir-pikir, bocah-bocah nakal itu akan menguumukan bahwa aku telah menjadi sekutu ras iblis. Aku tidak tahu jenis kebohongan macam apa yang mereka tuduhkan padaku, namun apapun itu, target mereka adalah aku.

“Aku tidak yakin berita macam apa yang telah paul dengar.”

“Tidak!! Jika kau melakukan sesuatu yang salah, kaulah yang terlebih dahulu harus meminta maaf!!”

Aku dimarahi dengan keras. Aku tidak yakin apa yang ia dengar, tetapi tampaknya dia sama sekali tidak mencurigai berita yang sampai padanya.

Betapa merepotkan. Dalam situasi ini, walaupun aku mengatakan bahwa aku membantu silpi karena mereka telah mem-bully-nya, itu hanya akan terdengar seperti kebohongan.

Tapi aku hanya bisa mulai dari awal.

“Sebenarnya, aku sedang berjalan-jalan .”

“Jangan mencari alasan !!”

Paul semakin geram dan tidak sabaran. Jangankan kebohongan, penjelasanku saja tidak akan didengarnya. Meskipun tidak masalah bagiku jika akulah yang terlebih dahulu meminta maaf, namun sepertinya Paul tetap akan marah. Aku pun tidak ingin adik atau kakakku menerima perlakuan tidak adil seperti ini.

Gaya pendidikan seperti ini tidaklah baik.

“Ada apa, mengapa kau diam?”

“Karena apapun yang akan kukatakan, paul tetap saja akan marah padaku.”

“Apa katamu!?”

Paul masih saja menatapku dengan geram.

“Marah dan memaksa anak untuk meminta maaf sebelum berkata apapun. ah, aku iri pada orang dewasa karena mereka selalu menganggap caranya benar.”

“Rudi !!”

Paa, wajahku menerima tamparan keras. Aku pun terjatuh.

Tapi, aku sudah menduga bahwa ini akan terjadi. Memprovokasi seseorang pasti akan berakhir dengan mendapatkan pukulan. Tentu saja ini akan terjadi.

Lantas, aku pun perlahan-lahan berdiri kembali dengan tegap. Sudah 20 tahun aku tidak ditampar seperti ini . Ah tidak juga, aku sempat dihajar ketika diusir dari rumah, jadi ini adalah pengalamanku yang pertama sejak 5 tahun terakhir.

“paul, aku telah melakukan semua yang aku bisa untuk menjadi anak baik. Aku tidak pernah menyangkal ajaran orangtuaku, dan aku telah memperolah semua pencapaian ini dengan segenap usahaku.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan apa yang telah kau lakukan hari ini, ‘kan?”

Sepertinya Paul tidak sadar bahwa dia telah memukulku. Dia terlihat begitu kebingungan. Itu bagus.

“Tidak, bukan begitu masalahnya. Aku telah bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan dari paul, dan untuk mendapatkan ketenangan pikiran, namun paul tidak mendengarkan satu pun penjelasanku. Sebenarnya, hari ini aku bertemu dengan seseorang yang kupercayai walaupun baru pertama kali berjumpa, kemudian anak-anak itu berteriak kepadaku, sebelum akhirnya melempariku dengan lumpur.”

“Tapi si Somar itu benar-benar terluka .”

Benarkan?

Itu bukan sesuatu yang aku lakukan. Apakah dia melakukannya pada dirinya sendiri? 

Dia mungkin telah melakukan itu secara sengaja. Akan tetapi, apapun alasannya, dialah yang salah. Dan akulah yang benar dalam kasus ini. Mungkin saja dia tidak sengaja terpeleset, atau semacamnya.

“Walaupun dia terluka karena aku, aku tidak akan minta maaf. Karena sampai saat inipun, aku belum pernah sekali pun menyalahi ajaran paul. Meskipun dia benar-benar terluka karena ulahku, aku masihlah bangga dengan apa yang telah kulakukan.”

“. Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi?”

Oh, kau akhirnya tertarik? Yahh, kau pun boleh mengabaikan ini.

“Bukankah paul telah menolak apapun yang akan kukatakan?”

Ketika aku membalasnya dengan pertanyaan itu, Paul menampilkan ekspresi sedih di wajahnya. Rasanya ia membutuhkan dorongan lain.

“Jangan khawatir paul. Aku akan bertindak seolah-olah aku tidak melihat 3 orang memukul anak kecil yang tak berdaya. Aku bisa saja bergabung dengan mereka untuk membuatnya 4 vs 1. Aku bahkan bisa mengumumkan di mana-mana bahwa mengintimidasi yang lemah adalah ajaran keluarga Greyrat. Kemudian ketika aku tumbuh besar, aku akan meninggalkan rumah, dan tidak lagi menyebut diriku Greyrat. Namun paul. Mengabaikan pembullian fisik dan verbal seperti itu, dan terus membiarkan kekerasan itu terjadi, membuat aku merasa malu menyebut diriku Greyrat.”

Paul kehabisan kata. Wajahnya berubah menjadi hijau, dan kemudian merah, seolah-olah dia sangat kebingungan.

Apakah dia marah? Atau apakah ia perlu dorongan lain?

Katakan saja, Paul. Sebenarnya anakmu ini adalah seorang pria berusia 20 tahun lebih, yang memiliki sejuta alasan untuk memenangkan perdebatan. Jika sedikit saja ada celah, maka aku akan mendebatnya sampai imbang. Lagipula, aku benar-benar berada pasa sisi yang benar. Kau hanya tidak memiliki kesempatan untuk menang.

“Maafkan aku. Ini kesalahan paul. Beritahu aku tentang hal itu.”

Paul menundukkan kepalanya di hadapanku. Betul. Desakan sia-sia hanya akan membuat kedua belah pihak sengsara. Jika kau salah, maka segeralah minta maaf. Ini adalah untuk yang terbaik. Ketika suasana hatiku semakin cerah, aku pun menjelaskan semuanya dengan detail. Aku mendengar suara ketika aku mendaki bukit. Tiga orang anak melemparkan lumpur dari ladang gandum. Setelah aku melemparkan lumpur pada mereka dua kali, dan berdebat dengan mereka, mereka pun melarikan diri setelah memberikan ancaman pada kami. Lalu, aku menggunakan sihir untuk mencuci anak itu sampai bersih, dan bermain dengannya. Seperti itulah yang telah terjadi.

“Jika seseorang perlu meminta maaf, maka Somar lah yang terlebih dahulu harus melakukannya pada silpi. Jika tubuh seseorang terluka, maka itu bisa disembuhkan dengan cepat, namun lain halnya jika hati yang terluka.”

“.Kamu benar. Ini kesalahan paul. Maafkan aku.”

Paul melemaskan bahunya, tampaknya dia telah kalah. Aku ingat apa yang dikatakan Rawls hari ini, ketika aku melihatnya dalam keadaan seperti ini.

“Dia tampaknya kehilangan kepercayaan sebagai seorang paul ketika ia bercakap-cakap denganmu.” 

Mungkin saja Paul sedang mencoba untuk mengajarkan aku sebuah pelajaran untuk menunjukkan sisi kepribadiannya sebagai seorang paul. Yah, ia hanya gagal sekali.

“Tidak perlu meminta maaf. Jika kau merasa bahwa aku melakukan sesuatu yang salah, silakan memarahiku tanpa ampun, tapi tolong dengarkan dulu penjelasanku. Meskipun penjelasanku tidak meyakinkan, dan hanya terdengar seperti alasan semata, aku telah menyampaikan semua yang ingin kukatakan. Mohon coba untuk memahami pikiranku.”

“Aah. Aku akan memperhatikan hal itu, tapi aku tidak mengira bahwa kau benar-benar akan membuat kesalahan .”

“Kalau begitu, anggap saja ini sebagai pengalaman pendidikan, dan lakukan ini juga pada adik-adikku nanti.”

“. Ya, pasti.”

Ekspresi Paul benar-benar penuh kekalahan dan penyesalan. Apakah aku berlebihan? Kalah dari seorang anak berusia 5 tahun. Mmm. Jika aku berada di posisinya, maka akupun akan merasa sangat terkejut. Orang ini masih sangat muda untuk seorang paul.

“Kalau dipikir-pikir, paul, berapa umurmu?”

“Hm? 24 tahun, ada apa?”

“Aku paham.”

Itu berarti aku lahir saat dia berusia 19 tahun?

Namun, aku tidak tahu berapakah rata-rata usia menikah di dunia ini. Para ksatria di negara ini dibebani kewajiban berperang dan melawan makhluk sihir, apakah itu yang membuat mereka harus cepat-cepat menikah bahkan di umur 19 tahun?

Seorang pria yang lebih muda dariku, menikahi seseorang, dan harus khawatir tentang pendidikan anaknya. Ya ampun, sedangkan aku adalah seorang pria berusia 34 tahun, pengangguran, tunawisma, dan tak punya prestasi, bagian manakah dari diriku yang bisa unggul jika dibandingkan dengannya ??

Oh, lupakan saja.

“paul, bolehkah aku membawa silpi ke sini untuk bermain?”

“Eh? Ahh, tentu saja.”

Aku masuk ke dalam rumah, karena aku puas dengan jawabannya. Syukurlah Paul tidak mendiskriminasi ras iblis.

Bagian 6 Sudut pandang Paul

Anakku marah. Dia, yang tidak pernah menyatakan emosinya, kini sedang memendam amarah. Bagaimana bisa berakhir seperti ini?

Insiden itu terjadi pada sore hari, ketika Nyonya. Ada datang ke rumah kami untuk membuat keributan besar. Dia membawa anaknya, Somar, yang telah disebut-sebut sebagai anak nakal mengerikan oleh orang lain, dan sudut-sudut matanya terlihat memar. Sebagai Swordsman, aku cukup berpengalaman untuk menilai bahwa itu adalah luka bekas pukulan benda tumpul.

Nyonya. Ada tidak berbicara dengan jelas, tapi intinya, anakku telah memukul anakny, yaitu Somar. Ketika mendengar ini, aku benar-benar lega. Mungkin Rudi ingin bergabung dengan geng Somar untuk bermain. Tapi anakku berbeda dari kebanyakan orang. Dia adalah penyihir cilik berlevel Saint Air. Mungkin dia memamerkan prestasinya dengan sombong, kemudian memicu perkelahian dengan teman-teman lainnya. Meskipun anakku jujur dan cerdas, ia masihlah anak-anak.

Nyonya Ada membuatnya tampak seperti masalah besar, tapi aku melihatnya hanya sebagai perkelahian antar bocah. Sepengamatanku, luka seperti itu tidak akan meninggalkan bekas yang permanen.

Kupikir, masalah ini akan selesai setelah aku mendengarkan omelan wanita itu beberapa saat.

Anak laki-laki cenderung suka bertengkar, tapi Rudi lebih kuat daripada anak-anak lain pada umumnya. Selain menjadi seorang murid penyihir level Saint Air, Roksi, dia juga menerima pelatihan fisik dariku sejak umur 3 tahun.

Jikalau mereka benar-benar bertarung, maka itu adalah pertarungan yang tidak imbang. Tidak masalah jika itu hanya terjadi hari ini, tapi jika ia terlalu emosional, ia mungkin akan melakukan hal-hal yang berlebihan.

Ditambah lagi, Rudi sangatlah cerdas, harusnya dia bisa menyelesaikan permasalahan dengan Somar tanpa berkelahi. Aku harus mengajarinya bahwa berkelahi adalah cara menyelesaikan masalah tanpa akal, dan dampak setelahnya sangatlah merugikan.

Aku harus tegas dalam hal ini. Tapi, berbagai hal tidak berjalan sesuai dengan apa yang kuharapkan. Anakku tidak berniat untuk meminta maaf sama sekali. Jangankan minta maaf, dia bahkan melihatku bagaikan sedang melihat seekor kecoa.

Mungkin dari sudut pandang anakku, itu adalah perkelahian yang sulit karena jumlah lawannya lebih banyak, tapi dia harus menyadari bahwa semakin dia kuat, maka dia harus semakin mengendalikan kekuatannya itu.

Maka, dia pun melukai seseorang. Apapun alasannya, aku akan membiarkan dia meminta maaf.

Dia benar-benar pintar. Mungkin dia tidak bisa menerimanya untuk saat ini, tapi ia akan menemukan jawabannya cepat atau lambat.

Sembari memikirkan itu di dalam kepalaku, aku pun memarahinya dengan nada yang sedikit kasar, namun dia justru membantahku dengan komentar-komentar pedas.

Aku pun terprovokasi, dan akhirnya memukulnya. Meskipun begitu, aku sangat ingin mengajarinya bahwa jika kau memiliki kekuatan yang besar, maka tanggung jawabmu juga semakin besar, dan jangan pernah menggunakan kekerasan pada yang lemah. Malah aku yang terlebih dahulu merusak prinsip itu. Menyedihkan sekali diriku ini.

Aku memang salah, tapi di sini akulah sang pendidik, jadi aku tak akan meminta maaf. Menyuruh seseorang untuk tidak melakukan hal yang baru saja kukerjakan - argumen ini sama sekali tidak masuk akal.

Sementara aku tidak menunjukkan contoh yang baik, anakku menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah, dan dia mengatakan jika dia melakukan sesuatu yang buruk, maka dia bersedia keluar dari rumah ini.

Aku hampir mengucapkan kata-kata, “kalau begitu, pergilah!!”, tapi aku sanggup menahan diri. Aku harus menahan diri saat ini.

Aku adalah orang yang awalnya tidak tahan aturan formal rumah, dan aku sering mendapatkan teguran dari paulku yang disiplin, sebelum akhirnya aku bertengkar hebat dengannya, lantas akupun meninggalkan rumah.

Aku mewarisi darah paulku. Mewarisi darah yang keras kepala, dan kaku. Rudeus juga sama. Jika dilihat dari sifat keras kepala ini, dia memanglah anakku.

Hari itu, ketika paul mengusirku dari rumah, aku tidak bisa memikirkan jalan keluar lain, lantas akupun benar-benar meninggalkan rumah. Rudeus mungkin akan pergi juga suatu saat nanti. Meskipun ia mengatakan bahwa ia hanya akan pergi setelah tumbuh dewasa, jika aku menyuruhnya pergi sekarang, dia pasti akan segera pergi. Kami sama dalam aspek ini.

Tampaknya paul jatuh sakit tak lama setelah aku meninggalkan rumah, lantas beliau meninggal. Aku mendengar bahwa ia sangat menyesalkan pertengkaran hari itu. Dan untuk kejadian ini, aku juga menyalahkan diriku sendiri. Tidak, untuk lebih jelasnya. aku benar-benar tenggelam dalam penyesalan. Dan sekarang, jika aku menyuruh Rudeus pergi, ia pasti akan melakukannya, dan aku akan menyesal di kemudian hari nanti. Kami berdua akan menyesali ini. Tahan. Aku harus belajar dari pengalaman.

Dan juga, bukankah aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi seperti paulku ?

“.Maafkan aku. Ini kesalahan paul. Tolong beritahu aku.”

Aku langsung meminta maaf. Dan ekspresi Rudeus masihlah rileks, lantas ia menjelaskan dengan ringan. Berdasarkan apa yang dia katakan, dia kebetulan melihat anak Rawls diganggu, kemudian dia membantu anak itu. Tidak ada pemukulan atau semacamnya. Dia hanya melemparkan lumpur, dan tidak ada pertarungan sama sekali.

Jika apa yang dia katakan itu benar, maka dia sungguh melakukan suatu hal yang membanggakan. Tapi bukannya memuji dia, aku malah tidak mendengarkan penjelasannya dan memukulnya. Ahh, aku ingat sekarang. Aku punya pengalaman seperti ini ketika aku masih muda. paul tidak mendengarkanku, dan hanya mengungkapkan kelemahanku. Setiap kali mengingatnya, aku masih kesal.

Betapa parah. Ada apa dengan, “Adalah suatu keharusan untuk mendidik dia”?

Hah .

Rudeus tidak menyalahkan aku, dan bahkan menghiburku di saat-saat terakhir. Betapa menakjubkan anak itu. Apakah dia benar-benar anakku? . tidak, meskipun seandainya Zenith telah berselingkuh, tidak akan ada orang yang sebrilian dia.

Uuu, benihku lah yang terbaik . Aduh, perutku malah terasa sakit.

“paul, bolehkan aku membawa silpi ke sini?”

“Ah? Ahh, tentu saja.”

Tapi sepertinya, aku harus gembira karena anakku mendapatkan teman pertamanya.

Bab 8 – Tidak Sensitif

Aku berusia 6 tahun sekarang.

Tidak banyak perubahan dalam kehidupanku sehari-hari. Aku berlatih teknik pedang di pagi hari. Jika jadwalku kosong di sore hari, aku suka berkeliling di lingkungan sekitar untuk memeriksa keadaan, atau berlatih teknik sihir di atas bukit, yang terdapat pohon besar. Menghembuskan angin untuk meningkatkan kecepatan pedang, menciptakan gelombang kejut agar tubuhku bisa menukik dengan tajam, membentuk pasir untuk menghambat jejak musuh . Beberapa orang mungkin berpikir bahwa teknik pedang tidak akan membaik jika penggunanya mengandalkan trik kotor. Tapi aku tidak berpikir seperti itu. Ada dua cara untuk menjadi seorang pro di game bertarung. Yang pertama adalah mempertimbangkan cara-cara yang membuat pemain lemah dapat mengalahkan pemain kuat. Yang kedua adalah meningkatkan kemampuanku sendiri, dan terus berlatih. Sekarang, aku sedang melatih cara yang pertama. Tujuanku adalah untuk mengalahkan Paul.

Paul sangat kuat. Meskipun dia tidak cukup dewasa sebagai seorang paul, dia adalah pendekar pedang kelas wahid.

Jika aku memprioritaskan 2 metode, dan melatih tubuhku dengan sepenuh hati, mungkin saja aku bisa mengunggulinya cepat atau lambat. Saat ini aku berumur 6 tahun. Setelah 10 tahun, aku akan berusia 16, sedangkan Paul berusia 35. Dan setelah 5 tahun berikutnya, aku akan berusia 21 dan Paul akan berusia 40. Tidak ada artinya jika aku menang “cepat atau lambat” dengan mode ini.

Jika aku mengalahkan lawan yang telah melewati masa jayanya, ia hanya akan memberikan alasan seperti, “Haah, andaikan saja aku aktif bertugas .”

Satu-satunya hal yang bisa dibanggakan adalah mengalahkan lawan yang sedang dalam masa jayanya.

Paul berusia 25 tahun sekarang.

Meskipun ia telah meninggalkan tugas aktif, tubuhnya masih dalam kondisi puncak. Aku berharap untuk menang setidaknya sekali dalam 5 tahun ke depan. Jika memungkinkan, aku ingin mengalahkannya dalam suatu pertempuran yang murni menggunakan teknik pedang. Jika tidak, aku akan mencampurnya dengan mantra sihir, dan bertarung dalam suatu pertempuran jarak dekat.

Sementara aku berpikir tentang hal itu, aku membayangkan sedang berhadapan melawan Paul.

Jika aku pergi ke pohon besar di atas bukit, aku memiliki kesempatan untuk bertemu silpi.

“Maaf, apakah kau telah lama menunggu?”

“Tidak, aku juga baru tiba.”

Setelah mengatakan hal-hal yang umum diucapkan oleh sepasang kekasih yang berjanjian kencan, kami pun mulai bermain sama-sama.

Pada awalnya, Somar dan berandalan-berandalan kecil lainnya akan datang pada kami. Di antara mereka, bahkan ada anak seusia murid SMP yang bergabung, tapi mereka semua berhasil kami hadapi. Setiap kali itu terjadi, ibu Somar akan datang ke rumah kami untuk membuat keributan besar

Akhirnya, aku mengerti mengapa itu terjadi. Meskipun ibu Somar selalu mengomel tentang insiden yang terjadi pada anaknya, sebenarnya dia hanya ingin bertemu Paul karena dia suka pada paulku. Pertengkaran anak-anak hanyalah alasannya agar dia bisa berjumpa dengan Paul. Oh, betapa konyol.

Somar mungkin juga merasa sangat jengkel setiap kali ia diseret oleh ibunya, untuk menghadap keluarga kami. Sepertinya, dia tidak berusaha memalsukan insiden tersebut. Cukup memalukan untuk mencurigainya melakukan hal seperti itu.

Mereka berhasil kami pukul mundur sebanyak 5 kali.

Setelah hari itu, akhirnya mereka tidak lagi datang mengganggu kami. Mereka sesekali menonton kami bermain dari kejauhan, tapi mereka tak pernah berbicara pada kami jika saling berpapasan.

Mereka tampaknya telah memutuskan untuk benar-benar mengabaikan kami. Dengan ini, insiden itu tampaknya telah selesai, dan pohon besar di atas bukit telah menjadi wilpaul kami.

Aku mulai mengajarinya sihir dengan kedok bermain.

Jika dia bisa mengendalikan sihir, maka harusnya dia mampu melawan anak-anak nakal itu dengan usahanya sendiri.

Pada awalnya, silpi hanya bisa melepaskan sihir level dasar sebanyak 5 atau 6 kali, sebelum akhirnya dia kehabisan napas, tetapi dalam rentang 1 tahun, kapasitas Mana-nya telah berkembang jauh. Walaupun dia menggunakan sihir selama setengah hari, ia tidak mendapatkan masalah.

“Ada batas untuk kapasitas Mana”.

Ungkapan itu ada benarnya juga. Tapi mantra sihir adalah hal yang berbeda. Dia sangat lemah dalam sihir api. Sedangkan, dia sangat terampil dalam sihir angin dan air.

Mengapa? Apakah karena darah Elf yang mengalir di dalam dirinya?

Tidak.

Aku belajar dari Roksi tentang “sistem khusus” dan “sistem lemah”.

Jika hal ini didasarkan pada kedua istilah tersebut, itu berarti setiap orang memiliki elemen yang bisa dia kuasai dengan baik, ataupun sebaliknya. Aku pernah bertanya kepadanya, “silpi, apakah kamu takut api?”

Meskipun ia menjawab dengan “Tidak”, ketika dia menunjukkan telapak tangannya padaku, aku bisa melihat luka bakar di sana. Ketika ia berusia 3 tahun, dan kedua orang tuanya lengah, ia meraih batang logam di perapian dengan tangannya.

“Tapi aku tidak takut lagi terhadap api.”

Meskipun ia mengatakan itu, mungkin dia masih trauma pada api, namun tidak dia sadari. Pengalaman ini mungkin mempengaruhi ‘sistem lemah’. Sedangkan pada bangsa Dwarf, banyak di antara mereka yang lemah terhadap elemen air.

Para Dwarf biasanya tinggal di dekat daerah pegunungan, mereka bermain dan menjadikan bumi sebagai pendamping mereka. Ketika mereka tumbuh dewasa, mereka belajar menempa dari paul mereka, dan hidup dengan menggali batuan mineral sebagai mata pencaharian, sehingga afinitas mereka dengan api dan bumi sangatlah tinggi. Namun, ketika mereka menambang di gunung, terkadang mereka secara tak sengaja menemukan sumber air panas, sehingga menyebabkan banjir dan menyusahkan pekerjaan mereka. Itulah sebabnya mereka lemah terhadap elemen air. Salah satu faktor penyebab sistem lemah adalah ketakutan terhadap elemen tersebut.

Mungkin seperti itu, dan tidak secara langsung terkait dengan suatu ras. Dan perlu dicatat, aku tidak punya sistem lemah. Itu karena aku dibesarkan dengan aman dan nyaman. Kau tidak harus menggunakan api untuk membuat angin hangat dan air. Tapi mengajarinya konsep tersebut sangatlah merepotkan, jadi aku hanya membiarkan dia belajar sihir api. Banyak kegunaan yang bisa diperoleh jika kita mampu menggunakan sihir api. Salmonella akan mati jika kau memanaskan semuanya. Manusia tidak ingin mati keracunan oleh makanan, sehingga mereka memasaknya sampai matang

Jika kau menggunakan sihir dasar untuk menyembuhkan racun, maka sebagian besar racun bisa dinetralkan. Meskipun silpi berusaha keras mempelajarinya, dia tidak mengeluh dan terus berlatih.

Itu karena, dia sendirilah yang meminta aku mengajarkannya. silpi mengerutkan keningnya saat dia menggunakan tongkatku (yang Roksi telah berikan) dan buku sihirku (diambil dari rumah), dan itu terlihat begitu manis.

Bahkan laki-laki seperti diriku berpikir demikian. Dia pasti akan sangat populer di masa depan. Hati cemburu adalah hati seorang paul. Suara seperti itu tiba-tiba terngiang dalam pikiranku. Aku segera menggelengkan kepala. Tidak tidak. Kecemburuan tidak akan menghasilkan apapun. Lagian, strateginya harus seperti ini. Strategi umpan untuk memancing Ikemen ini. Dengan silpi sebagai ikemen, dan aku sebagai pria biasa, wanita akan berbondong-bondong mendatangi kami, lalala.

“Hei, Rudi. Bagaimana kau membaca ini?”

Ketika aku berdendang dalam hati, silpi menggunakan jarinya untuk menunjuk suatu halaman yang telah terbuka, sembari dia menatapku. Tatapan yang terlalu kuat. Keadaan darurat. Itu membuat orang ingin memeluk dan menciumnya.

Tahan!!!

“Itu adalah mantra 「Snow Avalance」.”

“Apa artinya?”

“Hal ini mengacu pada sejumlah besar salju yang telah tertumpuk di lereng. Ketika lereng tidak dapat mempertahankan beratnya sendiri, maka itu akan runtuh. Selama musim dingin, ada salju yang kadang-kadang tertumpuk di atap rumah, ‘kan? Maka, ini adalah sejenis tumpukan salju yang lebih besar dari itu.”

“Begitukah . Menakjubkan. Apakah kau pernah melihat itu sebelumnya?”

“Salju longsor? Tentu saja tidak.”

Aku hanya melihatnya di televisi. Aku membiarkan silpi mempelajari buku teks tersebut. Pada saat yang sama, aku bisa mengajarinya bagaimana membaca buku dan menulis surat. Tidak ada ruginya mempelajari ilmu berbahasa. Meskipun aku tidak tahu seberapa tinggi tingkat buta huruf di negara ini, pastilah tidak seperti di Jepang yang 100% penduduknya bisa membaca. Tidak ada mantra sihir yang memungkinkan orang memahami kata-kata di dunia ini. Semakin tinggi tingkat buta huruf, maka pembelajaran semakin diperlukan.

“Aku mengerti!!”

silpi melepaskan teriakan kemenangan. Aku menonton dia berhasil melepaskan sihir level menengah, Ice Pillar. Sebuah tugu es mencuat daribumi, dan bersinar di bawah cahaya matahari.

“Sekarang kau sudah terbiasa, hmm.”

“Ya!! . Tapi, apakah buku ini tidak membahas apa yang Rudi gunakan?”

silpi memiringkan kepalanya sembari bertanya.

“Hm?”

Aku ingat saat ia berbicara tentang mantra yang kugunakan. Sebenarnya, dia menanyakan tentang mantra yang kupakai saat membersihkan dirinya dari lumpur. Aku membalik buku sihir, lantas kutunjuk 2 titik. Tertulis di sini. Waterfall dan Heat Hands.”

“Gunakan keduanya bersama-sama.”

Dia masih memiringkan kepala.

“Bagaimana bisa kau merapalkan kedua mantra itu bersamaan?”

Sial. Aku begitu saja mengatakannya tanpa pikir panjang. Benar juga, buku ini tidak membahas bagaimana cara merapalkan 2 mantra berbeda secara bersamaan . Sekarang aku tidak bisa menertawakan Paul yang tidak peka. Aku menggunakan teknik mantra tanpa suara untuk merapalkan 2 mantra yang berbeda secara bersamaan. Mata silpi melebar. mantra tanpa suara tentu diklasifikasikan sebagai skill tingkat tinggi di dunia ini. Roksi tidak dapat melakukannya, dan pernah dikatakan bahwa hanya ada 1 guru di akademi sihir yang mampu melakukannya. Jadi, harusnya aku tidak mengajarkan mantra tanpa suara, tapi Roksi mengajariku sihir kombinasi. Menurutku itu tidak terlalu sulit, tetapi harusnya cukup jika dia bisa memperoleh hasil yang sama dengaku.

“Ajari aku itu.”

“ Apa maksudmu dengan ‘itu’?”

“Itu tuh, yang tidak perlu mengucapkan mantranya.”

Namun silpi tidak berpikir seperti itu.

Tentu saja, menggunakan 2 mantra sihir yang berbeda secara bersamaan adalah lebih baik daripada merapalkan mantra tunggal.

Hmm . Yahh, jika aku benar-benar tidak bisa mengajarinya, maka dia akan memilih sihir kombinasi dengan sendirinya.

“Hmm, pasti. Nah, gunakan saja perasaan yang sama ketika kau melantunkan mantra sihir. Kumpulkan Mana dari tubuhmu pada ujung jari, dan coba melepaskan mantra dengan lantunan untuk meniru perasaan itu. Setelah kau mengumpulkan Mana, cobalah untuk mengingat mantra apa yang telah kau gunakan, kemudian keluarkanlah dari tanganmu. Cobalah melakukan hal itu. Mulailah dengan peluru air.”

Apakah aku mengajarinya dengan baik?

Aku tidak bisa menjelaskan kepadanya dengan sangat baik. silpi menutup matanya sambil mengeluarkan suara “hmmm”, lantas dia memutar tubuhnya seperti melakukan tarian konyol. Mencoba melakukan sesuatu berdasarkan perasaan yang sulit. Mantra tanpa suara diproses dalam pikiran, yang berarti setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengaktifkannya. Aku merasa bahwa dasar itu sungguh penting, jadi aku biarkan silpi menggunakan mantra untuk mengaktifkan sihir, sepanjang tahun. Seperti yang kuduga, jika kau sudah terbiasa merapalkan mantra, maka mengaktifkan mantra tanpa suara akan semakin terasa sulit. Ini seperti seseorang yang sudah terbiasa menggunakan tangan kanan, tiba-tiba diharuskan untuk menggunakan tangan kiri. Merubah kebiasaan adalah tugas yang begitu sulit.

“Aku berhasil! Aku berhasil Rudi!!”

Tapi ini tidak berjalan seperti yang aku bayangkan. silpi berteriak dengan gembira, dan dia sanggup melepaskan peluru air berulang kali. Selama ini dia terus merapalkan mantra, namun sepertinya itu hanya berlangsung selama setahun. Mungkin ini seperti melepas roda tambahan pada sepeda anak-anak. Sensitivitas usia muda. Atau, apakah ini merupakan bakat tersembunyi silpi?

“Baik. Baiklah, mari kita coba semua sihir yang telah kau pelajari dengan menggunakan mantra tanpa suara sekali.”

“Ya!!”

Yahh, apapun itu, akan lebih mudah bagiku untuk mengajarinya, jika dia tahu bagaimana menggunakan mantra tanpa suara. Itu karena aku membiarkan dia melakukan apa yang aku lakukan.

“Hm?”

Tiba-tiba, hujan gerimis mulai membasahi tanah. Aku menoleh ke atas. Langit sudah ditutupi oleh awan gelap. Tak lama berselang, hujan lebat mulai turun. Biasanya, aku memperhatikan cuaca untuk memastikan apakah kami bisa pulang ke rumah sebelum hujan turun, tapi ketika silpi berhasil menggunakan mantra tanpa suara, akupun lengah.

“Ah ---- ah, hujan ini benar-benar deras.”

“Rudi, kau dapat membuat hujan, maka bisakah kau menghentikannya?”

“Meskipun aku bisa melakukan itu, kita sudah basah kuyup. Selain itu, tanaman tidak akan tumbuh jika mereka tidak menerima air hujan. Aku tidak akan mengganggu cuaca kecuali ada keluhan tentang cuaca yang buruk.”

Kami berlari ke rumah keluarga Greyrat sembari mengobrol. Itu karena rumah silpi sangatlah jauh.

“Aku kembali”

“M-maaf karena telah mengganggu .”

Saat aku masuk ke pintu gerbang, aku melihat Maid Lilia membawa handuk yang lebar, dia berdiri di depan pintu.

“Selamat datang kembali, Tuan Muda Rudeus . dan temannya. Air panas telah siap. Sebelum kau masuk angin, silakan naik ke lantai 2, dan mengeringkan tubuhmu. Tuan dan Nyonya akan segera kembali, dan aku perlu membantu mereka bersiap. Apakah tidak masalah jika kau mengeringkan tubuhmu sendiri?”

“Tidak masalah.”

Lilia mungkin sudah memperkirakan bahwa kami akan datang dalam keadaan basah karena hujan lebat. Meskipun dia tidak banyak berbicara, terutama terhadap aku, dia pastilah seorang Maid yang handal. Walaupun aku tidak mengatakan padanya, dia sudah menyediakan sehelai handuk yang lebar untuk silpi.

Kami melepas sepatu dan berjalan dengan bertelanjang kaki, kemudian kami mengeringkan rambut dan kaki sembari menuju lantai 2. Begitu aku memasuki ruangan, aku melihat tong besar yang berisi air panas. Di dunia ini, jangan pernah berharap ada shower, bahkan tidak ada bak mandi, kami hanya menggunakan ini untuk menggosok dan mencuci tubuh. Menurut Roksi, tampaknya ada semacam pemandian air panas. Yahh, bagiku, yang tidak begitu suka mandi, ini sudah cukup.

“Hm?”

Ketika aku melucuti pakaianku, silpi tampaknya gelisah dengan wajah merona.

“Ada apa? Jika kau tidak melepas pakaianmu, kau akan masuk angin, ‘kan?”

“EH? Mmm, mm .”

Tapi silpi masih tidak bergerak. Apakah dia malu ketika melepas pakaiannya di depan orang lain . Atau apakah ia tidak tahu bagaimana cara melepas pakaiannya sendiri? Ah, apa boleh buat, bagaimanapun juga dia masih berusia 6 tahun.

“Sini, angkat tanganmu.”

“Tapi . Erm .”

Aku membuat silpi mengangkat kedua tangannya, lantas kulucuti bajunya. Kulitnya yang putih tanpa otot terlihat olehku. Ketika kucoba melepas celananya, dia pun meraih tanganku.

“J-Jangan .”

Apakah dia merasa malu karena terlihat oleh orang lain?

Aku pun begitu ketika masih kecil dulu. Selama TK, aku merasa benar-benar malu dilihat oleh anak-anak lain yang seumuran, ketika mandi dalam keadaan telanjang setelah pelajaran berenang. Tapi tangan silpi terasa begitu dingin. Jika dalam keadaan seperti ini terus, maka dia akan segera masuk angin. Aku dengan paksa memegang dan menarik celananya.

“B . Berhenti .”

Ketika aku meraih celana dalamnya, dia memukul kepalaku. silpi melotot ke arahku sambil berlinang air mata, dan aku pun melihat ke atas padanya.

“Aku tidak akan menertawakanmu kok .”

“B-bukan masalah itu . J-jangan ., !!”

Ia menolak dengan segala cara. Ini adalah pertama kalinya aku melihat dia menolak dengan begitu keras. Aku merasa sedikit terkejut. Apakah ada suatu aturan di kalangan bangsa Elf, bahwa mereka tidak boleh terlihat dalam keadaan telanjang?

Jika memang begitu, maka tidak baik jika aku memaksanya untuk melucuti baju .

“Aku mengerti, aku mengerti. Kalau begitu, kau harus berjanji. Kau harus bersalin setelah ini. Pakaian basah benar-benar tidak nyaman, dan jika kau terlalu dingin, mungkin kau akan sakit perut.”

“Baik.”

Aku melepaskan tanganmu, dan silpi mengangguk sembari menangis. Dia benar-benar imut. Aku sungguh ingin memiliki hubungan yang baik dengan anak semanis ini. Tiba-tiba, aku merasa ingin berbuat usil padanya. Bukankah tidak adil jika aku saja yang telanjang di sini?

“Kesempatan!”

Aku menarik ke bawah sempaknya dengan sekali tarikan. Ayoh!! Tunjukkan padaku loli telanjang!

“E . Ti-tidaaaaaaaaakkk!”

“. Eh?”

silpi menjerit.

Detik berikutnya, ia menutup seluruh tubuhnya. Pada saat itu, aku sadar bahwa tidak ada pedang pendek pada tempat seharusnya itu berada. Tentu saja, di sana juga tidak ada rumput gelap yang rimbun.

Yang kulihat adalah, Tidak, aku tidak melihat apapun di sana ----------

. Betul. Tidak ada.

Padahal, harusnya ada sesuatu di sana. Di masa lalu, aku sudah sering melihatnya.

Kadang-kadang ada mozaik, dan kadang-kadang tidak ada. Suatu hari nanti, aku ingin merasakan pedang yang menancap pada celah sempit ----------- itulah yang seharusnya kulihat.

silpi adalah. adalah cewek.

Pikiranku menjadi kosong.

Apakah aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak pantas ditertawakan .?

“Rudeus, apa yang kau lakukan .”

Ketika aku tersadar, Paul sudah berdiri di sana. Kapan dia datang? Apakah dia berlari ke sini setelah mendengarkan jeritan silpi?

Aku tidak bergerak sedikit. Paul pun begitu. silpi terjerembab dalam keadaan telanjang bulat. Dan tanganku memegang celana dalamnya. Anakku yang teladan sedang menikmati masa-masa pubernya, mungkin seperti itulah yang dipikirkan oleh Paul. Pakaian dari tanganku jatuh ke lantai. Hujan di luar sangatlah lebat, namun yang kudengar hanyalah suara pakaian jatuh ke lantai.

Bagian 5 Sudut pandang Paul

Ketika aku menyelesaikan pekerjaan dan sampai di rumah, aku melihat anakku sedang menyerang temannya, yaitu seorang gadis kecil. Aku hampir memarahinya tanpa pikir panjang, tapi aku menahannya dengan hati-hati. Mungkin ada alasan di balik insiden ini. Kegagalan sebelumnya tidak boleh kuulangi lagi. Apapun itu, aku langsung saja menyerahkan gadis yang sedang menangis itu pada istriku, dan Maid-ku. Aku menggunakan air panas dan kain untuk menyeka tubuh anakku.

“Kenapa kau melakukan itu?”

“Maafkan aku.”

Satu tahun yang lalu ketika aku mencoba untuk memberinya pelajaran, ia menunjukkan kemauan untuk tidak pernah meminta maaf, tapi ia benar-benar melakukannya sekarang. Sikapnya juga cukup aneh, bagaikan acar sayuran dalam garam.

“Aku ingin tahu alasannya.”

“Kami basah kuyup. Dan aku berpikir bahwa pakaiannya harus dilepas .”

“Tapi dia tidak mau?”

“Ya.”

“paul pernah mengatakan sebelumnya bahwa kau harus bertindak lembut pada perempuan, ‘kan?”

Rudeus tidak menjelaskan apapun. Apa sih yang pernah kulakukan ketika aku seumuran dengannya?

Aku pikir, aku akan membalasnya dengan kata-kata seperti “Tapi.” dan “Namun.”.

Aku adalah seorang anak yang selalu menemukan alasan. Anakku benar-benar hebat.

“Yah, anak sepertimu memang akan tertarik pada sesuatu, namun kau tidak boleh memaksakannya.”

“. Ya, aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi.”

Aku merasa sedikit menyesal setelah melihat anakku, yang kelihatannya syok berat. Ada sifat pemuja wanita dalam darah keturunanku. Aku sangat bersemangat dan enerjik ketika melihat gadis cantik, dan aku pasti akan mencoba mendekati gadis-gadis itu. Aku sekarang lebih tenang, tapi di masa lalu, aku tidak tahu arti kata “menahan diri”. Sifat ini mungkin akan terus kuturunkan. Sangat logis bila anakku ini, mengikuti hawa nafsunya seperti diriku di masa lalu. Mengapa aku tidak melihat ini sebelumnya . Tidak, ini bukan waktu untuk bersimpati padanya. Aku harus mengajarinya dengan pengalamanku.

“Kau tidak harus meminta maaf kepada paul. Kau harus meminta maaf kepada silpi terlebih dahulu. Mengerti?”

“silpi, erm . Apakah dia akan memaafkanku .?”

Anakku semakin putus asa ketika menyatakan itu.

Kalau dipikir-pikir, anakku sangat dekat dengan gadis berambut hijau itu. Insiden setahun yang lalu juga dimaksudkan untuk melindungi gadis itu. Pada akhirnya, ia bahkan dipukul oleh paulnya sendiri.

Sejak saat itu, ia bermain dengannya setiap hari, sambil melindunginya dari anak-anak nakal itu. Dia tidak pernah berhenti berlatih pedang dan sihir, namun ia masih sanggup menyisihkan waktu untuk gadis kecil itu. Dia bahkan meminjamkan 2 harta paling berharga pada gadis itu, yaitu tongkat pemberian Roksi, dan buku sihir kesayangannya. Aku sungguh mengerti bahwa dia akan merasa frustasi jika dibenci oleh gadis itu. Aku juga sama. Aku akan merasa frustasi ketika dibenci oleh seorang wanita. Tapi jangan khawatir, nak. Berdasarkan pengalaman paul, ada kesempatan besar untuk membalik ini.

“Jangan khawatir, ini akan baik-baik saja. Kau belum pernah melakukan sesuatu yang kejam padanya, bahkan sampai sekarang. Jika kau meminta maaf dengan tulus, dia pasti akan memaafkanmu.”

Wajah anakku sedikit menjadi cerah. Anakku sangatlah cerdas. Walaupun ia melakukan kesalahan seperti ini, aku yakin dia pasti akan menyelamatkan hubungan ini. Bahkan, mungkin dia akan memanfaatkan kesalahan ini untuk menakhlukkan hati gadis kecil itu. Betapa handal dan mengerikan anak ini.

Setelah anakku selesai mandi, kata pertama yang dia sampaikan pada silpi adalah:

“Maaf silpi. Karena rambutmu sangat pendek, aku selalu berpikir bahwa kau adalah laki-laki!!”

Aku selalu berpikir bahwa anakku adalah seseorang yang sempurna, tapi ternyata dia juga cukup bebal. Ini adalah pertama kalinya aku memikirkan ini.

Bagian 6 Sudut pandang Rudeus

Aku meminta maaf, menghibur, dan memujinya, sebelum akhirnya aku diampuni. Karena silpi adalah seorang cewek, maka aku akan memanggilnya silpiy mulai dari sekarang. Tampaknya, nama lengkapnya adalah silpiiette. Aku salah sangka, lelaki manis itu ternyata adalah seorang gadis. Paul benar-benar kehabisan kata atas kesalahpahaman yang kuperbuat.

Aku tidak pernah mengira bahwa insiden: “Jadi kau adalah seorang gadis?!!” benar-benar akan terjadi.

Apa boleh buat? Rambutnya lebih pendek daripada rambutku ketika kami bertemu. Meskipun rambut pendeknya bukanlah potongan rambut trendi seperti di dunia modern, rambutnya pun tidak sependek biksu. Dia tidak pernah sekalipun berpakaian seperti seorang gadis. Kemeja cokelat dan celana. Itu saja. Jika ia mengenakan gaun, maka aku tidak akan salah sangka.

Ah, tidak juga . coba pikirkan secara rasional.

Dia di-bully karena warna rambutnya, jadi dia pasti ingin memotong rambutnya pendek-pendek agar tidak terlihat mencolok. Karena pembullian, dia pasti memilih baju yang bisa membuatnya lebih leluasa untuk berlari menjauh dari anak-anak nakal itu, sehingga dia pun lebih memilih mengenakan celana pendek daripada rok. Keluarga silpiy tidaklah begitu kaya, jadi setelah membuat celana, rupanya keluarganya tidak mampu menjahit rok. Jikalau kami bertemu 3 tahun kemudian, aku janji tidak akan mengulangi kesalahan serupa.

Aku benar-benar berpikir bahwa dia adalah seorang pria yang imut, tapi dia sama sekali tidak bertingkah layaknya cewek pada umumnya.

Jika dia . Bleh, lupakan saja.

Apapun yang aku katakan, itu hanyalah alasan. Karena sekarang aku tahu bahwa dia adalah perempuan, maka aku juga harus merubah perlakuanku padanya. Setiap kali aku melihat silpiy yang tomboy, aku selalu merasa sedikit aneh.

“Sy-silpiy terlihat benar-benar manis. Bukankah akan lebih baik jika kau memanjangkan rambutmu?”

“Eh .?”

Mungkin jika penampilannya benar-benar berubah, perasaanku juga bisa berubah.

Jadi aku menyarankan itu.

Meskipun silpiy tidak menyukai rambutnya sendiri, rambut berwarna zamrud itu bersinar di bawah cahaya matahari. Aku benar-benar berharap dia membiarkan rambutnya tumbuh panjang. Akan lebih baik jika rambutnya diikat model ekor kuda, atau mungkin twin-tail.

“Aku tidak ingin .”

Tapi sejak hari itu dan seterusnya, silpiy seakan mewaspadaiku. Dia semakin menghindariku, terutama untuk kontak fisik. Aku benar-benar merasa sedikit terkejut karena dia begitu patuh padaku tempo hari.

“Begitukah ? Kalau begitu, ayo kita berlatih mantra tanpa suara hari ini.”

“Baik.”

Aku merubah ekspresiku menjadi lebih serius, dan menyembunyikan emosiku. silpiy hanya memiliki aku sebagai temannya, jadi dia hanya bisa bermain denganku. Meskipun sekarang dia agak sungkan ketika berada di dekatku, namun dia tidak menolak bermain denganku. Jadi, aku pun membiarkan hal ini berlangsung. Saat ini, pada dasarnya, kemampuanku di dunia ini adalah seperti ini:

pertama Teknik Pedang

Jurus Dewa Pedang: level dasar

Jurus Dewa Air: level dasar

Kedua Serangan Sihir

Elemen Api: level lanjut

Elemen Air: level Saint

Elemen Angin: level lanjut

Elemen Bumi: level lanjut

Ketiga Sihir Penyembuhan

Sistem penyembuhan: level menengah

Sistem penangkal: level dasar

Sihir Penyembuhan dikategorikan menjadi 7 level seperti biasanya, dan itu terdiri dari 4 sistem: Healing, Barrier, Antidote, dan Divine Attack. Tapi, tidak seperti Sihir Serangan, tidak ada nama keren seperti Saint Api atau Saint Air. Tapi, masih ada gelar-gelar seperti Healer level Saint, atau Antidote Healer level Saint.

Seperti namanya, sihir penyembuhan adalah teknik untuk menyembuhkan luka. Pada awalnya, kau hanya bisa menyembuhkan luka kecil seperti goresan, tetapi jika kau berhasil naik sampai level Kaisar, sepertinya kau bahkan bisa meregenerasi anggota badang yang hilang. Namun, walaupun kau berhasil naik sampai level dewa, kau tidak dapat mengembalikan nyawa pada makhluk yang telah mati.

Sama seperti namanya, Antidote adalah teknik menyembuhkan racun atau penyakit. Pada level yang lebih tinggi, kau bahkan dapat membuat racun atau obat untuk menyembuhkan racun lainnya. Untuk level Saint ataupun di atasnya, tampaknya sangat sulit dipelajari.

Sihir Barrier adalah teknik untuk meningkatkan pertahanan seseorang, dan menciptakan tembok pertahanan. Dalam istilah sederhana, itu adalah sihir pendukung. Meskipun aku tidak terlalu mengerti detailnya, aku tahu bahwa sihir ini juga bisa meningkatkan kecepatan regenerasi sel untuk mengobati luka ringan, atau membuat kelebihan zat kimia di otak untuk mengurangi rasa sakit. Roksi tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.

Sistem serangan dewa tampaknya adalah sihir yang efektif terhadap roh atau ras iblis, tetapi itu dirahasiakan oleh Divine Priest Fighter. Akademi sihir juga tidak mengajarkan hal itu, sehingga Roksi sangat tidak mengerti tentangnya. Meskipun aku belum pernah melihat roh sebelumnya, tampaknya mereka benar-benar momok di dunia ini. Jika kau tidak memahami logikanya, maka kau tidak dapat menggunakan mantra tanpa suara.

Itu benar-benar praktis. Ditambah lagi, meskipun aku memahami logika dibalik sihir serangan, aku tidak tahu apakah sihir jenis lain juga memiliki logika serupa. Meskipun aku tahu bahwa sihir hampir bisa melakukan segala sesuatu, aku tidak tahu apakah aku bisa merubah pencapaian ini.

Misalnya, membuat sesuatu mengambang atau mengisapnya ke tanganku, dan menggunakan kemampuan mental untuk mengontrolnya. Aku merasa bahwa hal seperti itu bisa ditiru, tapi aku bukanlah orang yang memiliki kemampuan telekinesis, jadi aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya.

Perlu diketahui bahwa, aku sangat bingung tentang proses penyembuhan luka. Itulah mengapa aku tidak dapat menggunakan mantra tanpa suara untuk mengaktifkan sihir penyembuhan. Jika aku punya pengetahuan layaknya seorang dokter, maka mungkin saja aku bisa menggunakan mantra tanpa suara pada sihir penyembuhan.

Mantra tanpa suara juga bisa kau terapkan pada sihir lain, asalkan kau tahu detail proses terjadinya sihir tersebut. Atau mungkin, jika saja aku pernah menjadi seorang olahragawan, teknik pedangku dapat berkembang lebih jauh. Kalau dipikir-pikir lagi, aku pun menyesal bahwa kehidupanku sebelumnya hanya kusia-siakan. Tidak. Bukannya kusia-siakan. Memang benar bahwa aku tidak bekerja atau pergi ke sekolah, tapi aku tidak selalu berhibernasi, dan aku memiliki ketertarikan pada berbagai hal. Aku pun memainkan banyak game ketika orang lain bekerja.

Pengetahuan tentang game, pengalaman, dan cara berpikir dapat digunakan di dunia ini.

Harus.!!

Meskipun, itu tidak ada gunanya sekarang. Ini adalah insiden yang terjadi ketika berlatih bersama Paul.

“Haaaah .”

Aku mendesah. Aku pikir desahan seperti itu akan membuat Paul marah, tapi hanya menyeringai.

“Ha ha. Biar kutebak, Rudi. Apakah kau merasa karena sekarang kau dibenci oleh silpiiette?”

Aku tidak mendesah karena alasan itu. Tetapi, meskipun bukan itu alasannya, insiden dengan silpiy adalah salah satu masalah yang kuhadapi saat ini.

“Betul. teknik pedangku tidak kunjung membaik, dan aku dibenci oleh silpiy. Tentu saja, itu semua membuatku mendesah.”

Paul tersenyum seperti kucing Cheshire [3], dan dia menancapkan pedang kayu ke dalam tanah. Dia bersandar pada pedang tersebut, dan melihat ke bawah padaku.

Tidak mungkin bahwa pria ini memperlakukan aku seperti lelucon, kan?

“paul dapat membantumu memikirkan sebuah ide ~”

Dia mengatakan sesuatu yang tidak terduga.

Pikiran aku mulai bergerak seperti jam.

paul = Paul = Sangat populer. Zenith dapat dikatakan sebagai wanita cantik, dan ada juga insiden dengan Nyonya. Ada. Bahkan Lilia pernah dicolek pantatnya oleh Paul, namun dia malah kegirangan. Apakah ada semacam rahasia agar tidak dibenci oleh gadis?

Inikah cara hidup offline?

Nah, karena ia termasuk jenis orang yang mengandalkan naluriah, aku mungkin tidak dapat memahaminya, tapi mungkin aku bisa mempertimbangkan sarannya.

“Jika paul tahu, maka katakanlah.”

“Hm, kau mau tahu ya, hmmm ~”

“Haruskah aku menjilat sepatumu?”

“Tidak, hey, kenapa tiba-tiba kau begitu rendah diri?”

“Jika kau tidak memberitahuku, aku akan memberitahu ibu bahwa paul pernah melirik Lilia dengan penuh nafsu.”

“Tunggu dulu, apa !? Apakah kamu melihat itu!! Oke, aku mengerti. Maafkan aku karena telah meremehkanmu.”

Aku hanya memancingmu dengan perkataan seperti itu .

Apakah ini ----- perzinahan?

Ah. Aku sudah mengatakan bahwa orang ini adalah super populer. Ayo coba kita dengarkan kuliah pria populer ini.

“Dengarkan baik-baik, Rudeus. Perempuan.”

“Ya.”

“Kadang-kadang terlihat kuat seperti pria, tapi ada juga bagian lemah yang mereka tutupi.”

“Oh.”

Aku pernah mendengar sesuatu seperti ini sebelumnya. Apakah ini yang disebut naluri keibuan?

“Kau hanya menunjukkan sisi kuatmu pada silpiiette, ‘kan?”

“Begitukah? Aku sendiri tidak menyadarinya.”

“Pikirkan tentang hal ini dengan hati-hati. Jika kau dipaksa oleh seseorang yang tampaknya lebih kuat darimu, dan dia menunjukkan hasratnya, maka apa yang akan terjadi?”

“Aku akan merasa takut.”

“Benar, ‘kan?”

Dia berbicara tentang hari itu. Ketika aku memergoki bahwa silpiy ternyata adalah seorang cewek.

“Jadi, kau juga perlu menunjukkan kelemahanmu. Kau harus melindungi seseorang dengan sisi kuatmu, namun pada saat yang sama, kau juga harus menunjukkan sisi lemah yang perlu dilindungi oleh orang lain. Kau harus membangun hubungan seperti itu.”

“Oh !!”

Itu mudah dimengerti! Itu membuat aku merasa seakan-akan Paul bukanlah tipe orang yang hanya mengandalkan nalurinya saja!

Jangan hanya menunjukkan sisi kuatmu. Dan juga jangan hanya menunjukkan sisi lemahmu. Kau harus menunjukkan keduanya secara bersamaan untuk menjadi populer!!

“Tapi bagaimana caranya kau menunjukkan sisi lemahmu?”

“Itu mudah. Bukankah kau sedang bermasalah sekarang?”

“Ya.”

“Ceritakan saja masalahmu pada silpiiette, dan lihat apa reaksinya. Beri tahu dia bahwa kau merasa begitu tertekan, dan kau merasa sangat galau ketika dia menghindari dirimu.”

“Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Paul tertawa. Itu adalah senyum yang berbahaya.

“Jika berjalan lancar, dia akan mendekatimu dengan sendirinya. Mungkin, dia bahkan akan menghiburmu. Kemudian, kau akan terselamatkan. Tak seorang pun akan sedih ketika kau kembali bersemangat.”

Jadi itulah jawabannya. Menggunakan sikapku untuk mengontrol perasaan seseorang .

Luar biasa. Tapi rencana semacam itu mungkin juga tidak berhasil, ‘kan?

“T-Tapi, bagaimana jika rencana itu tidak berhasil?”

“Temui aku lagi. Aku akan mengajarkan langkah berikutnya padamu.”

Bahkan ada trik kedua yang masih dia simpan!! Orang ini benar-benar pengatur siasat yang lihai!! “Aku

“Aku paham. Kalau begitu, ayo lakukan!!”

“Pergilah.”

Paul menggusarku dengan tangannya. Aku pun pergi dengan kecemasan di hati.

“Apa sih yang barusan kuajarkan pada anakku yang baru berusia 6 tahun .”

Dengan samar-samar, aku mendengar kalimat itu dari belakang. 

Akulah yang terlebih dahulu menunggu di bawah pohon besar. silpiy masih belum datang. Aku biasanya membawa pedang kayu milikku, dan menyeka tubuhku sebelum datang ke sini, tapi aku penuh keringat sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya pilihan. Kupikir, aku harus mulai berlatih sekarang. Aku mengayunkan pedang kayuku, sembari membayangkan sedang bertarung dengan seseorang. Pertama, aku harus menunjukkan sisi kuatku. Kemudian, aku harus menunjukkan sisi lemahku. Sisi lemah. Bagaimana aku harus melakukannya? Ah, benar juga, aku harus membuat diriku terlihat sedih. Lalu, apa selanjutnya? Waktunya, hm. Apakah aku harus melakukan itu semua secara tiba-tiba? Itu akan terkesan terlalu tergesa-gesa. Mungkin aku harus menyesuaikan sesuai dengan alur percakapan. Bisakah aku melakukannya? Tidak, aku harus bisa melakukannya. Aku mengayunkan pedang, sembari berpikir dalam kebingungan. Aku tidak tahu kapan peganganku tiba-tiba melemah. Lantas, pedangnya pun terselip dari tanganku.

“Guuh .”

Pedang itu pun melayang, kemudian mendarat tepat di mana silpiy berada. Pikiranku menjadi kosong. A-apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan?

“A-Ada apa Rudeus .?”

silpiy menatapku, dengan matanya liar. Apakah dia bertanya mengapa aku datang ke sini?

“Erm, Haa . haa, aku hanya merasa menyesal atau semacamnya, jika aku tidak melihat ekspresi silpiy yang imut.”

“B-Bukan, aku tidak berbicara tentang itu. Keringatmu.”

“Haa . Haaaa . Ah, berkeringat? Apa.?”

Aku terengah-engah sembari mendekati dia, tapi dia menunjukkan ekspresi takut. Sama seperti sebelumnya, dia tidak ingin aku mendekatinya, kemudian dia pun bergerak mundur. Meskipun aku begitu tergila-gila denganmu, kau malah beranjak pergi. Aku hanya bercanda. Aku menyeka keringat dari dahiku. Napasku semakin stabil. Bagus. Aku menampilkan ekspresi penuh kesedihan, menempatkan tanganku di pohon, dan bertingkah seakan-akan aku sedang merenungkan semua kesalahan yang pernah kubuat selama ini. Aku melemaskan bahuku, dan mendesah berat.

“Hah . Akhir-akhir ini, silpiy benar-benar berperilaku dingin .”

Keheningan berlanjut beberapa saat. Apa itu cukup? Apakah itu cukup, Paul? Apakah aku harus terlihat lebih lemah daripada ini, ataukah itu terlihat begitu dibuat-buat?

Tanganku dicengkram dengan erat dari belakang. Aku merasakan kehangatan lembut, dan sangat lembut. Aku pun menoleh ke belakang, dan silpiy ada di sana.

W-Woahhh!

Begitu dekat. silpiy tidak pernah sedekat ini denganku. Paul-san! Aku berhasil!!

“Karena, belakangan ini Rudeus, terlihat sedikit aneh .”

Mmm. Aku sadar akan hal itu. Tentu saja, itu karena aku memperlakukannya dengan cara yang berbeda, setelah mengetahui bahwa dia adalah cewek.

Dari sudut pandang silpiy, mungkin sikapku telah banyak berubah. Ini seperti seorang pria rendahan yang mengetahui bahwa teman ceweknya ternyata adalah anak orang kaya, dan sedang mencari jodoh.

Dia pasti akan merasa tidak nyaman. Tapi, sikap macam apa yang harus kutunjukkan padany?

Di masa lalu, aku sama sekali tidak bisa melakukannya. Dan sekarang, aku bersama seorang gadis imut, bagaimana bisa aku tidak tegang dalam keadaan seperti ini?

Dia adalah seorang gadis cilik yang imut, dan juga seumuran denganku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus bergaul dengannya.

Andaikan sekarang aku berada di sudut pandang orang dewasa, mungkin jika silpiy lebih tua, aku bisa menggunakan beberapa jurus dari Eroge untuk menanganinya. Jika dia masih anak-anak, aku bisa menggunakan pengalaman ketika aku bersama adikku.

Tapi dia adalah osananajimi dan dia perempuan. Selama ini, aku sering memainkan game bertema ecchi tentang hubungan dengan wanita, namun itu tidak lebih dari delusi semata. Dan juga, aku pun tidak ingin memiliki hubungan dengannya secara ecchi. silpiy terlalu muda. Dia tidak masuk di medan pertahanan AT-ku. Untuk sementara, seperti itulah adanya. Tapi aku adalah pria yang terus menyongsong masa depan!!

Pertama-tama, ayo kita enyahkan semua pemikiran kotor itu. Dia adalah seorang anak yang sering di-bully. Pada kehidupan sebelumnya, tak ada seorang pun yang membelaku di saat aku di-bully, jadi aku berharap untuk menjadi temannya. Tak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan, itu adalah satu-satunya hal yang tidak akan berubah. Tapi, sulit bagiku memperlakukan dia seperti sebelumnya. Aku adalah laki-laki tulen, dan aku berharap membangun hubungan yang baik dengan para gadis.

Ini semua untuk hari esok!!

Urgh . Aku tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan? Andaikan saja Paul berada di sini sekarang…. Aku akan menanyakan hal ini secara langsung padanya.

“. Maaf, tapi sebenarnya aku tidaklah begitu membenci Rudeus.”

“S-silpiy .”

Setelah aku menunjukkan ekspresi bagaikan orang yang tak berguna, silpiy pun menyatakan itu padaku. Dan dia tersenyum padaku dengan lega. Itu adalah sebuah senyuman yang lembut.

Hatiku berdegup kencang. Meskipun harusnya akulah yang disalahkan, dia malah meminta maaf kepadaku. Aku meraih tangannya dengan erat. silpiy menatapku, dengan wajah merona. ”Jadi, kita bisa menjadi teman seperti sedia kala?” 

Efek dari pertanyaan ini sungguh luar biasa. Cukup untuk membuat hatiku semakin semangat. Aku semakin semangat. Itu benar, dia pun menginginkan hubungan yang seperti sedia kala. Agar kembali seperti sedia kala, aku tidak boleh memperlakukannya dengan berbeda. Agar dia tidak takut dan canggung, aku harus memperlakukan dia setara denganku. Aku harus seperti itu. Ayo menjadi.Seorang protagonis donkan. Yak, ini adalah nama bakteri patogen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar