Rabu, 06 Juli 2022

Mushoku Tensei Bab Special dan Prolog

Bab Spesial - Ibu Rumah Tangga Greyrat

Namaku Zenith Greyrat.

Aku lahir di negeri suci Milis. Itu adalah negara yang memiliki sejarah panjang. Akan sangat cocok jika kau mendeskripsikan tempat itu sebagai negara yang indah, namun tidak fleksibel.

Aku lahir sebagai anak kedua dari keluarga bangsawan negara itu.

Pada saat itu, aku bagaikan bunga di dalam rumah kaca. Aku berpikir bahwa, semua yang kulihat di sekitar lingkunganku adalah dunia seutuhnya. Seperti itulah ketidaktahuanku.

Aku tidak pantas mengatakan ini sih, namun aku sempat berpikir bahwa itu adalah masa kecil yang bahagia.

Aku tidak pernah melawan perintah orang tuaku, dan nilaiku di sekolah sangatlah baik.

Aku mengikuti semua pelajaran dari guru gereja Milis, dan aku belajar etiket sosial dengan begitu lancar.

Aku bahkan disebut sebagai “Wanita muda standar Milis”.

Oran tuaku pasti juga merasa bahwa diriku adalah seorang anak yang pantas mereka banggakan.

Tapi aku terus tumbuh seperti itu. Suatu hari, aku berada dalam sebuah pesta perjodohan.

Sepertinya calon suamiku adalah salah seorang putra bungsu dari keluarga bangsawan. Seorang pria dengan akhlak lurus bagaikan lesatan anak panah, dengan kebanggaan hati, dan menjaga ajaran Milis sebagai prinsip mutlak. Dia adalah contoh utama di keluarga bangsawan Milis. Aku akan menikah dengan seseorang seperti itu. Melahirkan anak. Aku akan menjadi istri seorang bangsawan, dan aku tidak akan merasa malu kemanapun aku pergi. Namaku akan terpampang pada urutan daftar suri tauladan kebangsawanan Milis.

Itulah hidupku. « Jalan » anak perempuan dari keturunan ningrat keluarga Milis.

Namun nyatanya, aku tidak berjalan di “jalan” tersebut.

Pada hari aku menjadi dewasa, ketika aku masih berusia 15 tahun.

Aku bertengkar dengan kedua orang tuaku. Aku tidak lagi menuruti perintah mereka, lantas aku pun minggat dari rumah.

Ada alasan mengapa aku membenci perintah dari orang tuaku, dan itu karena aku selalu diikuti.

Aku merasa iri atas saudariku yang lebih liar dariku.

Dengan berbagai alasan, akupun berbalik arah dari “jalan”-ku yang seharusnya kutempuh.

Seorang bangsawan akan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya, jika dia berpaling dari “jalan” yang semestinya.

Tapi untungnya, aku sudah belajar sihir penyembuhan ketika masih bersekolah di sekolah para bangsawan. Dan aku berhasil belajar sampai level menengah.

Meskipun negeri suci Milis adalah negara yang sangat maju dalam hal sihir penyembuhan dan sihir penghalang, sebagian besar orang hanya akan belajar sihir penyembuhan sampai level dasar. Jika kita belajar sihir penyembuhan sampai level menengah, maka kita bisa bekerja di rumah sakit Milis ini, dengan demikian tipe sihir tersebut menjadi favorit selama aku bersekolah.

Sehingga, aku pun secara arogan percaya bahwa aku akan mendapatkan hidup yang layak jika aku bisa mencapai level itu.

Namun ternyata aku terlalu naif.

Aku masihlah sangat polos, sampai-sampai aku tidak tahu tempat manakah yang aman untuk kutinggali. Lantas, sekelompok orang jahat menyerangku.

Mereka sempat berkata bahwa, “Kami sedang mencari penyihir penyembuh”, lantas mereka pun memperkerjakan aku pada Party-nya. Tawaran mereka bahkan lebih rendah daripada gaji untuk penyihir yang menguasai sihir penyembuhan level dasar, namun mereka bersikeras bahwa harga yang mereka tawarkan adalah yang tertinggi.

Aku cukup bodoh untuk percaya pada ketulusan hati mereka yang mendalam, meskipun ada banyak orang baik di dunia ini.

Jika aku mengikuti mereka, aku akan diminta untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih buruk. Seperti, digunakan sebagai perisai terhadap makhluk sihir, atau terus-terusan menggunakan sihir sampai badanku lemas. Dan bahkan, sepertinya aku akan diminta untuk menyerahkan kesucianku.

Dan sosok yang mencegah terjadinya semua hal mengerikan itu adalah, sang prajurit muda Paul Greyrat.

Setelah memberi pelajaran pada orang-orang jahat tersebut, dia secara paksa membawaku kembali ke Party-nya.

Andaikan saja anggota party mereka, Elinalize, tidak menjelaskan kepadaku secara detail, aku pasti sudah menganggap bahwa Paul jugalah orang jahat.

Apapun itu, begitulah aku pertama kali bertemu dengan Paul.

Pada awalnya, aku benci Paul.

Dia jelas-jelas merupakan mantan keluarga bangsawan Asura, tapi cara dia berbicara seperti preman. Dia sering melanggar janjinya, dan bertindak gegabah. Dia serakah, merendahkan aku, dan suka meremas pantat cewek. Dan yang terburuk, dia tidak sungkan-sungkan menunjukkan semua kebejatannya itu.

Tapi aku tahu dia bukan orang jahat.

Meskipun ia selalu saja merendahkanku dan mengejekku karena tidak paham bagaimana cara kerja dunia ini, ia selalu mengatakan bahwa dia tak punya pilihan selain membantuku.

Paul adalah kebalikan dariku, tapi sebenarnya dia adalah sesosok pria gagah yang liar dan bisa diandalkan.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku jatuh cinta padanya.

Tapi dia dikelilingi oleh banyak wanita lain yang mempesona, dan aku hanyalah pengikut Milis.

Ajaran Milis adalah: “Sepasang kekasih hanya boleh mengasihi satu sama lain, tanpa adanya pihak ketiga”, dan itulah doktrinnya.

Meskipun aku sudah meninggalkan rumah, aku dibesarkan oleh ajaran seperti itu, dan ajaran itu jugalah yang diajarkan di sekolah sebagai norma dasar. Sehingga, ajaran Milis telah terukir dalam di hatiku.

Kemudian pada suatu hari, akhirnya aku mengatakannya.

“Jika kau berjanji tidak akan tidur dengan wanita lain, maka aku bersedia tidur denganmu.”

Dia menyetujuinya sembari tersenyum.

Aku tahu dia berbohong.

Tapi aku masih berpikir bahwa itu bukanlah masalah.

Jika aku dibohongi olehnya suatu saat nanti, maka aku akan segera mencampakkannya.

Tapi aku masih terlalu bodoh. Terlalu ceroboh. Terlalu naif.

Karena aku benar-benar hamil setelah sekali melakukannya. [1]

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sangat gelisah.

Akupun tidak yakin bahwa Paul akan bertanggung jawab, kemudian menikahi aku.

Lantas, aku pun melahirkannya,

Rudeus Greyrat.

Rudi.

Rudeus duduk di samping buaian saudari-saudari perempuannya.

Ekspresinya sangat serius.

Wajahnya mengingatkanku pada Paul. Bibirnya tertutup rapat, dan dia terus melirik kedua saudarinya secara bergantian.

“Ah ah!”

Saat Norn bergumam, ekspresi Rudeus semakin serius.

Dan di saat berikutnya.

“Burururu.”

Rudeus menjulurkan lidahnya, dan membuat wajah konyol.

“Yaa, waa, ha, ha!”

Norn tersenyum gembira, ketika melihat ekspresinya.

Setelah melihat adiknya tertawa, Rudeus pun menganggukkan kepalanya, lantas dia lagi-lagi memasang wajah serius.

“Wuuu, ah!”

Kali ini, Aisha yang berbicara.

Dan Rudeus segera bergerak ke sisinya.

“Abububu.”

Dia meremas wajahnya, dan melakukan sesuatu yang aneh.

“Gyaa Ah, ah Ha ha”

Dan Aisha tersenyum bahagia juga.

Rudeus menunjukkan senyum yang sama seperti ketika dia menunjukkannya pada Norn.

Rudeus terus mengulangi lelucon itu.

“Ha ha Ha ha Ha ha”

Aku tertawa sedikit ketika aku melihat senyum Rudeus.

Itu karena Rudeus tidak sering tersenyum.

Dia selalu tampak tidak puas terhadap sesuatu. Terlepas dari pembelajaran sihir atau pedang, dia selalu melakukan sesuatu dengan ekspresi serius.

Dia bahkan tidak pernah tersenyum di depan orang tuanya.

Walaupun dia tersenyum, itu dibuat dengan sengaja.

Tapi dia menunjukkan senyuman yang ikhlas pada kedua adik perempuannya, dan dia terlihat begitu puas setelah melihat kedua adiknya bahagia.

Hanya menatapnya saja, aku sudah merasa senang.

Hal ini sangat berbeda dari sebelumnya.

“Fiuh”

Aku menghela napas, ketika aku memikirkan Rudeus saat ia masih kecil.

Aku sangat gembira ketika melihat bakat sihir Rudeus, tapi setelah beberapa saat, aku mulai curiga apakah Rudeus merendahkan kedua orang tuanya, dan tidak mencintai mereka.

Aku berpikiran begitu karena Rudeus sama sekali tidak dekat denganku.

“Tapi itu tidak benar.”

Hal yang merubah pemikiranku itu adalah tindakannya ketika insiden kehamilan Maid.

Lilia hamil dan Paul mengaku bertanggungjawab untuk itu.

Waktu itu aku merasa telah dikhianati.

Dikhianati oleh Paul. Bahkan dikhianati oleh Lilia.

Terutama ketika Paul melanggar janjinya. Kemarahanku hampir mencapai titik ledak. Jika aku gagal menahannya sedetik saja, pasti aku sudah menjerit histeris dan menendang Lilia keluar rumah, atau mungkin aku sendirilah yang akan meninggalkan rumah ini.

Sebelum menikah, aku sempat berpikir bahwa jika dia selingkuh dengan wanita lain, maka aku akan mencampakkannya dan pergi.

Aku mungkin sudah hampir melupakannya, namun itu masih membekas di hatiku.

Emosiku sungguh tertekan, sampai-sampai aku ingin menghancurkan hubungan antar keluarga ini.

Tapi Rudeus merubah segalanya.

Dia bertindak seperti anak kecil, namun dia sanggup menyelesaikan peliknya masalah ini dengan begitu rapih.

Namun, apa yang dilakukannya masih belum bisa kuanggap benar.

Meskipun Rudeus telah meredakan emosiku dengan menggunakan kata-katanya, aku masih belum bisa memaafkan Paul.

Tapi aku melihat kebenaran dari lubuk hati Rudeus yang terdalam.

“Aku merasa gelisah dan cemas jikalau aku menghancurkan hubungan keluarga ini.”

Aku memikirkannya berulang kali, kemudian akupun memikirkan jalan keluar ini.

Anak ini menghargai keluarganya dengan caranya sendiri.

Ketika aku berpikir tentang itu, kecurigaanku tentang apakah dia mencintai keluarganya, lenyap sudah.

Dan pada saat yang sama, aku dengan mudah sanggup memaafkan Paul dan Lilia.

Jika Rudeus tidak ada, ending insiden tersebut tidak akan seperti ini.

“Hm, Norn-chan benar-benar manis, kau akan menjadi secantik ibu. Jika kamu tumbuh nanti, ayo kita mandi bersama-sama.”

Rudeus memegang tangan kecil Norn untuk membujuknya.

Rudeus yang biasanya bertingkah serius, kini memasang wajah konyol di depan adik-adiknya. Itu sangat 

(Handal)

Aku menyadari bahwa Rudeus adalah anak yang luar biasa. Namun baru-baru ini, dia juga sangat handal.

Aku benar-benar kelelahan setelah Norn dan Aisha lahir.

Kedua gadis menangis siang - malam, dan setelah memberi mereka makan, mereka pun memuntahkannya.

Ketika mencuci tubuh mereka di dalam air, mereka buang air besar di sana.

Meskipun Lilia mengatakan bahwa ini adalah hal yang normal, aku masihlah tidak bisa tenang, dan akupun tidak sanggup tidur dengan nyenyak di malam hari.

Tapi Rudeus telah melakukan banyak hal untuk bayi kami.

Cara dia melakukannya sangatlah terampil.

Seolah-olah ia pernah melakukannya sebelumnya.

Tidaklah mungkin jika dia masih mengingat bagaimana dia dirawat ketika masih bayi. Seakan-akan, dia melihat dan mengingat semua hal yang Lilia lakukan padanya.

Rudeus memang hebat.

Aku pun merasa rendah diri ketika tahu putraku lebih terampil mengurusi bayi daripada ibuknya, namun terlepas dari itu semua, dia memang sangat membantu.

Aku tidak pernah mendengar atau melihat anak sehandal Rudeus, yang bisa merawat adik-adik perempuannya yang baru saja lahir.

Melihat Rudeus, aku teringat saudaraku di negara suci Milis. Dia seserius Rudeus. Dia rajin, berbakat, dan dipuji oleh ayah untuk menjadi contoh bagi bangsawan, tapi dia terlalu dingin untuk keluarganya, dan menganggap saudarinya bagaikan angin lewat.

Meskipun dia mengesankan sebagai seorang bangsawan, aku tidak bisa menghormati dia sebagai saudaraku.

Tapi Rudeus mungkin tidak akan menjadi seperti itu.

Dia pasti akan menjadi saudara yang dihormati oleh adik-adik perempuannya.

Faktanya. Dia bahkan berencana seperti itu. Ketika ia melihat adik-adiknya bersama Paul, ia menyatakan: “Tujuanku adalah menjadi kakak yang dihormati”.

Aku tidak sabar untuk melihat bagaimana Rudeus, Norn, dan adiknya tumbuh dewasa.

“Ah! Wahhh!”

Norn mulai menangis ketika aku berpikir tentang hal itu.

Tubuh Rudeus gemetar sedikit, dan dia membuat wajah konyol untuk menenangkan adiknya.

“Wah! Wah!”

Tapi Norn tidak berhenti menangis.

Rudeus menyentuh popoknya untuk memeriksa apakah dia pipis, lantas dia mengangkat adiknya, dan menepuk-nepuk punggungnya. Norn masih terisak-isak.

Kalau saja aku berada dalam posisinya, aku pasti hanya bisa berteriak untuk mendapatkan bantuan dari Lilia. Lalu aku ingat bahwa Lilia sedang pergi keluar untuk membeli sesuatu. Aku mulai panik.

Tapi Rudeus tidak panik.

Dia menenangkan semuanya, mengepalkan tangan, dan memberitahuku:

“Ibu. Saatnya untuk memberinya makan.”

Aku baru saja menyadarinya ketika Rudeus memberitahuku.

Waktu berlalu dengan cepat ketika aku melihat Rudeus bermain-main dengan adiknya.

“Anak baik. Anak baik.”

“Sini. Duduk sini.”

Aku duduk pada kursi, sesuai dengan arahan Rudeus.

Norn masih menangis, lantas aku membuka dadaku.

Seperti yang diperkirakan oleh Rudeus, Norn memang sedang kelaparan, lantas dia pun menghisap payudaraku, dia minum susu dan menikmatinya.

Setiap kali aku memberinya makan, emosi yang kuat bahwa aku adalah seorang ibu mulai melonjak naik.

“Hm?”

Tiba-tiba, aku menyadari tatapan Rudeus.

Setiap kali aku memberi bayiku ASI, Rudeus selalu menatap dadaku.

Dan itu bukanlah tatapan polos bocah berusia 7 tahun, melainkan tatapan mesum yang penuh gairah.

Jika kau menyandingkan dia bersama Paul, maka kau akan merasakan tatapan mata cabul yang identik. Itu membuatku merasa tak nyaman, dan ketika aku berpikir bahwa anak seumuran dia sudah menatap dada ibu-ibu dengan gairah seperti itu, akupun cemas akan masa depan anak ini. Apakah dia akan menjadi seperti Paul, lantas mengoleksi banyak cewek, dan membuat mereka menangis?

“Ada apa Rudi? Kamu juga ingin ASI?”

“EH!”

Aku menggodanya, dan Rudeus pun tersadar, lantas dia palingkan tatapannya.

Kemudian, dengan wajah merona, ia mencoba menemukan alasan untuk menjelaskan perbuatannya:

“Tidak. Aku hanya berpikir apakah Norn benar-benar dapat meminum itu.”

“Ha ha Ha ha”

Aku tidak sanggup menahan tawaku saa dia menunjukkan sikap lucu seperti itu.

“Kau sudah tidak boleh minum ASI, lho… ini jatahnya Norn. Rudi sudah minum banyak ASI ketika masih kecil, jadi kau harus bersabar.”

“Tentu saja, Ibu.”

Walaupun ia mengatakan itu, ekspresinya terlihat seperti ia merasa menyesal.

Aku jarang melihat ekspresi Rudi yang seperti ini. Itu membuatku ingin terus mengganggunya.

Kalau begitu, ayo kita goda dia sedikit lagi.

“Jika kau benar-benar menginginkannya, kau harus menunggu sampai kau menikahi istrimu, kemudian memohonlah pada istrimu untuk mencicipinya.”

“Ya. Aku akan coba minta padanya kelak.”

Uh oh. Aku pikir dia akan ngambek, namun entah kenapa dia seakan menemukan pencerahan.

Apakah dia tahu bahwa aku hanya menggodanya?

Meskipun itu sedikit mengecewakan, ini tidak sesuai dengan kepribadiannya.

“Jangan paksa istrimu untuk melakukannya, oke?”

“Aku tahu.”

Tanggapan serius itu membuatku merasa sedikit kecewa.

“Gleek.”

Norn bersendawa setelah menyelesaikan ASInya, lantas aku meletakkan dia kembali ke tempatnya.

Aku menggunakan kain untuk menyeka dadaku, dan lagi-lagi Rudeus menatapku.

Hm. Sepertinya istri bocah ini akan mengalami masa-masa sulit nantinya.

Kandidat terkuat adalah Sylphy, tapi gadis itu terlalu patuh padanya. Sepertinya, walaupun Sylphy tidak bersedia, dia tidak akan menolak keinginan Rudeus .

Baiklah.

Aku akan mengajarkan Rudeus pelajaran tentang hal-hal itu.

Sebagai seorang ibu.

Paul hanya mengajarinya bagaimana cara menaklukkan gadis. Aku akan mengajarinya tentang hal-hal setelah itu.

“Guu.”

Setelah Norn diberi ASI, dia menunjukkan wajah penuh kepuasan, dan si bayi pun mulai bersuara.

Dia pasti lelah.

“Minum dan tidurlah lebih baik. Cepatlah tumbuh, oke?”

Aku sedikit mengetuk kepala Norn sembari kukatakan itu padanya.

“Ah! Waaa!”

Rudeus melakukan hal yang sama pada Aisha, dia menggendongnya, memeriksa popoknya, dan meyakinkan bahwa tidak ada ruam maupun gigitan serangga .

Pada akhirnya, ia menggendong Aisha dan menatapku dengan ekspresi bingung.

Rudeus jarang menunjukkan ekspresi seperti itu padaku.

Aku sih senang-senang saja melihat putraku menunjukkan ekspresi wajah yang beragam padaku, namun aku tidak ingin melihatnya berekspresi suram.

“Ada yang salah?”

“Ada, bu. Hari ini, Lilia cukup lama.”

“Itu benar.”

Jika dia pergi keluar untuk membeli sesuatu, biasanya dia sudah kembali sekarang.

Apa terjadi sesuatu?

. Tidak. Ada sekelompok pedagang yang datang dari kota Roa. Dia mengatakan bahwa dia akan membeli lebih banyak barang dari biasanya, sehingga dia akan menghabiskan waktu lebih banyak.

“Itu lho sepertinya Aisha”

“Ya?”

“Sepertinya dia lapar”

“Aku paham.”

Aku memikirkannya dengan hatihati, karena Aisha kususui bersama dengan Norn, biasanya mereka berdua lapar pada saat yang sama.

Biasanya, aku menyusui Aisha dan Lilia menyusui Norn.

Sekarang aku melihat ekspresi cemas pada wajah Rudi.

Lantas, Rudi pun berkata dengan ragu.

“Begini, Ibu, aku tidak yakin kapan Lilia akan kembali. Mungkin tidaklah masalah jika kita membiarkan Aisha menunggu sebentar, tetapi jika Aisha terus menangis, Norn juga akan menangis”

Aku adalah pengikut tulus ajaran Milis.

Dan karena itu, aku menyalahkan Lilia untuk memutuskan hubungan dengan satu orang, satu perempuan, dan berjanji pada Paul. Aku tahu mereka bukanlah pengikut ajaran Milis, tapi aku tidak ingin membelot dari ajaran tersebut.

Rudi pasti sudah menemukan hal ini.

Apakah dia akan membuat ibunya tidak bahagia hanya karena satu kata.

Apakah dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan pada adiknya.

Dia harus menanggung kegelisahan ini.

Bagi Rudi, tak peduli apakah itu Norn, Aisha, ataupun aku sekalipun, semuanya adalah keluarga.

Dan, karena semuanya sudah terlanjur berubah menjadi seperti ini, aku harus melakukannya.

Tapi, apakah itu tidak masalah.

Apakah aku merasa tidak bahagia ketika aku menyusui Aisha.

Dan kemudian, jika Rudi melihat ekspresiku, akankah dia membenciku, atau bahkan meremehkanku?

“Hufff. Apa sih yang kamu katakan? Sini. Cepat berikan Aisha padaku.”

Aku melenyapkan ketakutanku sendiri, menggunakan nada paling lembut yang bisa kuucapkan, dan mengatakannya pada Rudi.

“Baik.”

Rudi menyerahkan Aisha padaku dengan hati-hati.

Aku pun menggendong Aisha, kemudian kususui dia.

Jika Aisha tidak mau, aku mungkin akan merasa tidak bahagia. Tapi Aisha tidak peduli, dan dia terus menghisap ASI-ku dengan lahap.

“Fiuh.”

Dengan pelan aku menghela napas lega, agar Rudi tidak mendengarnya.

Aku merasakah hal yang sama ketika menyusui Norn.

Perasaan seorang ibu.

Sulit dipercaya.

Mengapa aku sempat berpikir bahwa aku tidak bersedia menyusui Aisha?

Mengapa aku sempat berpikir bahwa aku tidak akan bahagia ketika menyusui Aisha?

Mengapa aku pikir aku perlu mentolerir itu?

Jawabannya sederhana. Aku tahu itu.

Karena aku adalah seorang ibu.

Pada akhirnya, aku tidak merasakan adanya perbedaan. Seorang pengikut ajaran Milis atau apapun itu.

“Sepertinya dia sedang menikmatinya.”

“Itu karena punya Ibu sangatlah lezat.”

“Mohon jangan memujiku dengan sanjungan seperti itu.”

Rudi pun tampaknya juga senang ketika melihat Aisha menyusu padaku dengan nikmatnya, dan tenang.

Dia pasti sedang berpikir kalau dia juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi adiknya sebagai keluarga.

Itu benar-benar mengagumkan.

Keinginannya untuk menjadi sesosok kakak yang dihormati oleh adik-adiknya, bukanlah suatu angan-angan belaka.

“Itu bukan sanjungan. Aku masih ingat rasanya.”

“Sungguh?”

Aku tersenyum sambil membelai kepala Aisha.

Setelah beberapa saat, Aisha juga selesai minum, dan dia pun menjauh dari dadaku.

Aku meletakkan dia kembali ke tempatnya, dan dia mulai tidur seperti Norn.

Rudi menunjukkan ekspresi wajah yang lebih lembut dari biasanya ketika melihat Aisha dan aku.

“Rudi.”

“Ya, ada apa?”

“Bisakah aku menyentuhmu?”

“Kenapa ibu harus menanyakan hal seperti itu, sentuh saja jika ibu ingin.”

Rudi duduk di sampingku, lantas dia mendongakkan kepalanya ke arahku.

Aku membelai kepalanya dengan lembut.

Rudi tidak pernah membuatku khawatir sejak kelahirannya, jadi aku tidak merasa  seperti ibu ketika dia tumbuh dewasa, namun belakangan ini semuanya terasa berbeda.

Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa menjadi ibu sepenuhnya.

Tiba-tiba aku merasakan suatu kehangatan, lantas aku menoleh ke arah kehangatan itu berasal.

Cahaya mentari musim panas terpancarkan dari jendela.

Suatu pemandangan ladang gandum berwarna emas yang tak berujung di luar jendela.

Sore hari yang damai di musim panas.

Aku merasa benar-benar penuh makna.

“Akan bagus jika kedamaian ini berlangsung selamanya.”

“Ya.”

Rudi setuju denganku.

Dia juga pasti merasa damai selama ini.

Tapi, salah satu hal yang membuatku bahagia adalah kehadiran Rudi.

Jika bukan karena Rudi, seorang pengikut ajaran Milis seperti diriku akan meratapi kenyataan bahwa aku telah menjadi korban perselingkuhan, dan aku akan meninggalkan rumah ini bersama Norn, atau menyalahkan Aisha dan Lilia.

Untungnya, ada Rudi.

Jika ia bukan anak yang pintar dan bijaksana, aku tidak akan mengalami sesuatu seperti ini sekarang.

“Rudi.”

“Ya?”

“Terima kasih karena telah lahir ke dunia ini.”

Rudi tampak bingung.

Kemudian, menggaruk kepalanya, lantas dia berkata dengan malu.

“Akulah yang seharusnya berterimakasih pada ibu.”

Aku tertawa lagi ketika aku melihat tingkah lucu Rudi.


Mushoku Tensei Volume 2 Prolog

Saat ini aku sedang berlari.

Aku melarikan diri dengan seluruh tenaga yang kumiliki dari cakaran hewan buas itu.

Aku melarikan diri dengan seluruh konsentrasiku, membuat hatiku dipenuhi oleh rasa takut.

Melalui tangga. Menyeberangi halaman. Terkadang menggunakan sihir untuk melompat ke atap. Terkadang jatuh.

"Dimana kamu?!"

Dia berteriak sambil terus mengejarku.

Tak peduli kemanapun aku berlari.

Aku lumayan percaya diri dengan kekuatan fisikku.

Lagipula, aku sudah melakukan jogging sejak umurku masih 2 atau 3 tahun, sambil latihan ilmu pedang.

Tapi sedikit kepercayaan diriku itu kini telah dihancurkan.

Dia, layaknya memandang rendah seluruh usaha yang telah aku lakukan, mengejarku tanpa kehabisan nafas, dengan rambut berwarna merah darah yang melayang-layang di udara.

Dia benar-benar tidak mengerti arti kata “menyerah”. Tidak peduli sejauh apapun aku berlari, di saat aku melambat, akan menjadi saat dimana dia akan memperdekat jarak di antara kami berdua.

"Haaa Haaa Haaa Haaa"

Aku mulai kehabisan nafas.

Aku tidak bisa terus berlari seperti ini. Aku sudah tidak bisa melarikan diri.

Aku akan sembunyi. Pilihanku hanya itu.

Aku bersembunyi di bawah bayangan tangga, mengamati dari area observasi tumbuh-tumbuhan, ketika aku mendengar teriakan hewan buas dari tengah-tengah mansion.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

Teriakan itu membuat kakiku gemetaran.

Aku adalah Rudeus Greyrat. Berumur 7 tahun.

Aku mempunyai rambut berwarna coklat cerah. Aku adalah bishounen yang kuat, dan mantan NEET berusia 34 tahun.

Karena aku tidak menghadiri pemakaman orang tuaku, aku diusir oleh keluarga, dan terbunuh karena ditabrak truk. Tapi karena lelucon takdir yang buruk ini, aku bereinkarnasi menjadi seorang bayi sambil tetap mempertahankan ingatanku.

Aku sudah merenungkan tentang kehidupanku yang dulu, dimana aku hidup sebagai manusia yang menjijikkan, dan dalam 7 tahun ini, aku berusaha keras untuk hidup dengan sungguh-sungguh.

Belajar bicara dan menulis, mempelajari sihir, berlatih ilmu pedang, membangun hubungan baik dengan orang tuaku, dan bahkan bertemu dengan teman masa kecil yang manis bernama Sylphy. Untuk bisa pergi ke sekolah bersama Sylphy, aku telah setuju untuk bekerja, dan mengunjungi kota Roa.

Kalau aku menyelesaikan pekerjaanku, yaitu menjadi guru privat untuk si tuan putri, majikanku akan menanggung biaya sekolahku dan Sylphy --- Situasiku yang sekarang seharusnya berjalan seperti itu.

"Keluarlah, dimanapun kamu berada! Aku akan menghancurkanmu hingga berberkeping-keping!"

Aku mengawasi sekelilingku dari area pengamatan, dan tubuhku gemetar ketakutan ketika mendengar teriakan si hewan buas itu.

Gemetar ketakutan gara-gara jelmaan bentuk dari kekerasan yang berwujud seorang gadis muda.

Kenapa situasinya bisa jadi seperti ini?

Aku harus kembali ke 1 jam yang lalu untuk menjelaskannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar