Mushoku Tensei Volume 2 Kesadisan Sang Tuan Putri
Ketika kami sampai di Roa, malam sudah tiba.
Jarak antara desa Buina dan Roa adalah sekitar satu hari perjalanan dengan menggunakan kereta kuda.
Kalau dihitung-hitung dengan waktu, kira-kira sekitar 6-7 jam. Jarak seperti itu tidak bisa dianggap jauh, tapi kalau dianggap dekat juga salah.
Kota Roa, memang benar merupakan salah satu kota terbesar yang ada di sekitar sini, dan merupakan tempat yang sangat ramai.
Hal pertama yang aku lihat adalah tembok.
Tembok-tembok yang mengelilingi kota dengan tinggi sekitar 7-8 meter, dan terlihat sangat kokoh.
Di sekitar gerbang kota, ada arus lalu lintas yang tak ada akhirnya, dan setelah kami masuk ke dalam, aku langsung melihat berbagai jenis pedagang yang sedang berjualan.
Dan tepat di lokasi yang baru saja kami masuki, ada serangkaian losmen dan kandang kuda.
Para penduduk kota berbaur dengan para pedagang, ada juga orang-orang yang berjalan dengan mengenakan armor, dan seluruh tempat ini sekarang benar-benar terlihat seperti kota fantasi yang biasa muncul di buku cerita.
Ada beberapa orang yang membawa barang bawaan besar duduk di sebuah tempat, layaknya mereka sedang menunggu sesuatu.
Apa ya itu?
"Ghyslaine, apa kamu tahu itu apa?"
Aku bertanya pada orang yang duduk dihadapanku.
Memiliki telinga hewan dan sebuah ekor, dan mengenakan pakaian kulit yang sangat terbuka, dengan kulit berwarna coklat di bawahnya, dia adalah seorang pria besar berotot --- Tidak, dia adalah seorang Swordsman wanita.
Ghyslaine Dedorudia.
Peringkat ketiga dalam ranking teknik Pedang Dewa, seorang swordswoman kuat yang memiliki gelar Raja Pedang, dan dia telah setuju untuk mengajariku ilmu pedang di tempat yang sekarang sedang kami tuju.
Dia adalah guruku yang kedua.
"Nak."
Menanggapi pertanyaanku, dia menunjukkan ekspresi jengkel.
"Apa kamu menganggapku sebagai orang idiot?"
Ghyslaine melotot dengan garang ke arahku, dan tatapannya itu membuatku takut.
"Ah bukan. Aku hanya, aku tidak tahu apa itu, jadi aku mau bertanya……"
"Ah, maaf. Jadi itu maksudmu."
Melihatku hampir meneteskan air mata, Ghyslaine dengan cepat menjawab.
"Itu adalah tempat menunggu kereta kuda umum. Pergi dari suatu kota ke kota lain membutuhkan kereta kuda, dan kamu bisa naik kereta kuda bila kamu membayar beberapa uang kepada pengemudinya."
Ghyslaine menunjuk ke toko-toko yang kami lewati satu per satu, memberitahuku kalau itu adalah toko senjata, itu adalah bar, dan yang di sana ada beberapa asosiasi perdagangan. Hey tunggu dulu, itu adalah toko yang sangat mencurigakan.
Meskipun dia memiliki penampilan yang bisa membuat orang lain takut, sebenarnya dia sangat bersahabat.
Kami masuk ke dalam suatu tikungan, dan suasana di sekeliling kami berubah.
Setelah ada banyak toko yang melayani para petualang, saat kami melaju dalam proses menuju tujuan di dalam kereta kuda, kami melihat banyak toko-toko yang menyatu dengan rumah.
Pasti ada orang-orang yang tinggal di dalam lorong-lorong ini.
Sepertinya penataan bangunan di sini sudah direncanakan dengan matang.
Kalau ada musuh yang muncul, orang-orang yang berada di sekitar sini akan bertahan, sedangkan para penduduk akan melarikan diri menuju jantung kota, atau lari ke arah yang berlawanan.
Karena kota ini memiliki konsep seperti itu, makin dekat dirimu dengan jantung kota, rumah-rumah di jalanan pun akan menjadi lebih besar, dan bahkan bangunan toko-toko pun lebih tinggi.
Makin dekat dengan jantung kota, makin kaya orang-orang yang tinggal di sana.
Dan kemudian, tepat di tengah-tengah kota, terletak bangunan yang paling tinggi.
"Itu adalah mansion milik majikanmu."
"Walaupun kamu bilang itu mansion, itu lebih terlihat seperti kastil."
Menurut sejarah, 400 tahun yang lalu, kota ini menjadi garis pertahanan terakhir bagi umat manusia. Roa adalah kota dengan sejarah yang panjang.
Tapi hanya sebagian dari sejarah itu yang benar, para bangsawan yang tinggal di ibu kota menganggap tempat ini sebagai tempat di mana para petualang kelas rendah menetap.
Jadi ini bisa dibilang kastil yang berdiri di tengah kota.
"Sepertinya status kebangsawanan Ojou-sama lumayan tinggi, karena kita sampai sedekat ini dengan jantung kota."
"Tidak juga."
Ghyslaine menggelengkan kepalanya.
Tapi karena mansion milik Lord sudah berada tepat di hadapan mataku, menurut informasi yang aku dapatkan sebelumnya, orang-orang yang tinggal di sini sudah jelas memiliki posisi yang tinggi.
Atau mungkin tidak. Menetap di area yang dekat dengan perbatasan seperti ini, posisi mereka mungkin tidak terlalu tinggi.
"Eh?"
Saat aku memikirkan itu, si pengemudi menyapa orang yang ada di gerbang mansion.
Dan memasukinya.
"Apakah dia adalah anak Lord?"
"Bukan."
"Bukan?"
"Hampir."
Apa ada makna tersembunyi dibalik kata-katanya? Aku tidak mengerti……
Kereta kuda yang kami tunggangi pun berhenti.
Saat kami memasuki mansion, kami dituntun ke dalam ruangan yang sepertinya memiliki fungsi untuk menghibur para tamu.
Pelayan itu menunjuk ke arah dua sofa yang ada di dalam ruangan.
Ini adalah interview pertama untukku.
Aku harus melakukan ini dengan hati-hati.
"Silahkan duduk di sini."
Aku menuruti saran dari pelayan dan duduk di sofa yang ditunjuk, sedangkan Ghyslaine pergi dari sisiku tanpa mengucapkan sepatah katapun, lantas dia berdiri di pojokan ruangan.
Yang mana bisa digunakan untuk mengawasi seluruh area ruangan.
Kalau hal seperti itu terjadi di kehidupanku yang dulu, aku pasti mengira bahwa Ghyslaine adalah seseorang yang menderita chuunibyou.
"Tuan muda akan segera datang. Mohon tunggu sebentar."
Pelayan itu menuangkan cairan yang mirip seperti teh merah ke dalam cangkir yang kelihatan sangat mewah, kemudian menunggu di pintu masuk.
Aku meminum cairan yang mengepulkan uap itu.
Rasanya lumayan. Meskipun aku tak tahu bagaimana cara untuk menilai kualitas dari teh merah, teh yang aku minum ini harganya pasti lumayan mahal.
Mulai dari awal, tak ada minuman yang disiapkan untuk Ghyslaine. Sepertinya, hanya aku lah yang diperlakukan sebagai tamu.
"Di mana dia!"
Ketika aku memikirkan hal-hal tersebut, aku mendengar suara yang lantang dan langkah kaki yang tergesa-gesa dari samping ruangan.
"Apa dia di sini?"
Seorang pria yang tampak kuat memasuki ruangan dengan kasar.
Umur pria itu mungkin sekitar 50 tahunan, dan rambut berwarna coklat gelap di kepalanya tercampur dengan sedikit uban berwarna putih, tapi secara keseluruhan sepertinya dia berada dalam kondisi yang cukup baik.
Aku meletakkan cangkir ke atas meja dan berdiri, kemudian membungkukkan pinggangku sampai 90 derajat.
"Senang bertemu dengan anda, nama saya Rudeus Greyrat."
Pria itu mendengus tidak puas.
"Hmph, kamu bahkan tak tahu bagaimana caranya memberi salam kepada orang lain!"
"Tuan, Rudeus-dono belum pernah meninggalkan desa Buina. Beliau masih muda dan belum memiliki waktu untuk mempelajari tata krama. Tolong maafkan ketidaksopanan kecil tersebut……"
"Diam."
Pelayan itu tak lagi berbicara setelah dia diteriaki.
Pria tua ini sepertinya adalah orang yang mempekerjakanku.
Sepertinya dia benar-benar marah. Rasanya seperti ada sesuatu yang kurang memadai dalam diriku.
Meskipun aku ingin memberi salam dengan benar, sepertinya tata krama para bangsawan memiliki aturan yang berbeda.
"Hmph, Paul bahkan tak mengajarkan formalitas kepada anaknya!"
"Saya dengar ayah membenci aturan-aturan kaku, dan karena itulah ayah dengan sengaja tak mengajarkan itu kepadaku."
"Langsung membuat alasan! Kamu itu sama saja seperti Paul."
"Apa ayah selalu mencari alasan?"
"Kamu pikir bagaimana? Tiap kali dia membuka mulutnya, yang keluar hanyalah alasan. Kalau dia mengompol, dia bakal mencari alasan. Kalau dia bertengkar, dia akan mencari alasan. Kalau dia bermalas-malasan saat belajar, dia juga akan mencari alasan."
Jadi begitu. Kalau dipikir-pikir, benar juga.
"Kalau kamu ingin mempelajari sesuatu, paling tidak ketahuilah tata krama! Kamu tak mencobanya sama sekali, dan karena itulah kamu menjadi seperti ini!"
Tapi apa yang dia katakan tidaklah salah, dan bukan tanpa alasan.
Aku hanya mempelajari sihir dan ilmu pedang, dan aku tak pernah berpikir untuk mempelajari sesuatu yang lain.
Mungkin pandanganku memang terlalu sempit.
Aku harus merenungkan itu dengan sungguh-sungguh.
"Anda benar. Ini memang kesalahan yang saya sebabkan sendiri. Saya benar-benar meminta maaf."
Pria tua itu menghentakkan kakinya ke lantai saat aku menundukkan kepalaku.
"Tapi sepertinya kamu tak menggunakan itu sebagai alasan, dan berusaha sebisamu untuk menampilkan sikap formal! Aku akan mengijinkanmu untuk tinggal di dalam mansion ini!"
Aku tak benar-benar mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya aku sudah dimaafkan.
Setelah pak tua itu mengucapkan kalimat di atas, dia membalikkan tubuhnya dengan penuh semangat dan pergi meninggalkan ruangan layaknya badai.
"Siapa?"
Aku menatap ke arah pelayan dan bertanya.
"Beliau adalah Sauros Boreas Greyrat-sama, Lord dari Fedoa, dan paman dari tuan Paul."
Jadi orang itu adalah seorang Lord.
Dia itu sedikit terlalu sombong. Aku benar-benar khawatir dengan metode yang ia gunakan untuk mengatur daerah ini. Yah, ada banyak petualang di sini, jadi kalau dia tidak memiliki figur yang mengesankan, dia mungkin tak akan bisa menjalankan tugas-tugas yang dimiliki seorang Lord.
Hm? Greyrat, paman?
"Itu artinya beliau adalah saudara dari kakekku?"
"Ya."
Aku sudah menebak kalau Paul memanfaatkan hubungan keluarga yang sebelumnya sudah ia putuskan.
Tapi kalau dipikir-pikir, berarti keluarga Paul termasuk salah satu bangsawan kelas atas.
Orang itu dulunya pasti adalah tuan muda dari suatu tempat yang lumayan bagus.
"Ada apa Thomas? Kenapa pintunya terus dibiarkan terbuka lebar?"
Ada orang lain memasuki ruangan dari sisi lain pintu.
"Tapi ayah kelihatannya lumayan gembira. Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Seorang pria dengan tubuh ramping dan memiliki rambut berwarna coklat muda.
Berdasarkan pada apa yang dia ucapkan, dia pasti sepupunya Paul.
"Tuan muda, saya benar-benar minta maaf. Tuan Sauros baru saja bertemu dengan Rudeus-sama, dan sepertinya beliau cukup senang dengannya."
"Hoh, anak yang disenangi ayah…… Apa dia salah memilih? Hmm."
Ucapnya sambil berjalan ke arah sofa yang ada di depanku, kemudian duduk di atasnya.
Ah, benar juga, lebih baik aku buru-buru menyapanya.
"Senang bertemu dengan anda, nama saya Rudeus Greyrat."
Aku menundukkan kepalaku, dengan cara yang hampir sama seperti yang aku lakukan ketika menyalami Sauros.
"Ah, namaku adalah Philip Boreas Greyrat. Ketika para bangsawan menyapa satu sama lain, mereka akan meletakkan tangan kanan ke dada, dan sedikit menundukkan kepala. Dari caramu melakukan itu, kamu pasti akan mendapat omelan."
"Seperti ini?"
Aku meniru tindakan Philip dan sedikit mengangkat kepalaku.
"Benar, tapi caramu memberi salam sebenarnya tidaklah buruk. Kalau seorang pandai besi memberi salam kepada ayah dengan cara seperti itu, beliau mungkin akan merasa senang. Duduklah."
Philip pun duduk dengan bunyi “plop”.
Aku pun mengikuti sarannya dan kembali duduk.
Apakah interview-nya sudah dimulai?
"Seberapa banyak yang kamu pahami?"
"Ayah bilang kalau saya akan mengajari Ojou-sama di sini selama 5 tahun, saya akan menerima bantuan biaya untuk bersekolah di Akademi Sihir dari sini."
"Hanya itu?"
"Ya."
"Aku mengerti……"
Philip meletakkan kedua tangan ke bawah dagunya, layaknya sedang memikirkan sesuatu, dan pandangannya mengarah ke atas meja.
"Apa kamu suka dengan wanita?"
"Tidak separah ayah."
"Begitukah? Baiklah, kamu diterima."
Ah? Ara?
Itu terlalu cepat, ‘kan?
"Untuk sekarang, anak itu hanya menyukai 2 orang, Edena yang mengajari tata krama, dan Ghyslaine yang mengajari ilmu pedang. Sebelum kamu datang kemari, sudah ada 5 orang yang dipecat. Bahkan salah satu diantara mereka adalah orang yang pernah mengajar di istana kerajaan."
Meskipun dia pernah mengajar di istana kerajaan, cara dia mengajar mungkin tidak bagus, tapi aku tak mengatakan itu secara terang-terangan.
" Apa itu semua ada hubungannya dengan menyukai wanita?"
"Tidak juga. Karena Paul adalah orang yang akan melakukan segala hal untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan, aku penasaran apakah kamu itu sama dengan dia atau tidak."
Philip mengangkat bahunya.
Aku Juga merasa ingin mengangkat bahuku. Kau ternyata mengkelompokkan aku ke dalam grup yang sama dengannya.
"Sejujurnya, aku tak memiliki harapan apapun kepadamu. Tapi karena kamu adalah anaknya Paul, bagaimanapun juga aku ingin kamu mencobanya."
"Whoa. Itu terlalu singkat untuk menyelesaikannya."
"Memangnya kenapa? Apa kamu punya kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan ini?"
Sebenarnya aku tak memilikinya.
Tapi sekalipun aku tak memilikinya, aku tak bisa mengatakan itu secara terang-terangan dalam suasana seperti ini.
"Sebelum saya bertemu dengan Ojou-sama, saya tak yakin"
Kalau aku gagal dalam pekerjaan ini dan harus mencari pekerjaan lain, aku pasti akan ditertawai oleh Paul. Dia pasti akan mengatakan sesuatu seperti, kamu itu masih bocah lah, atau apalah.
Apa kau bercanda?
Bagaimana bisa aku ditertawakan oleh pria yang usianya lebih rendah dariku?
"Kalau kenyataannya memang tidak mendukung…… bagaimana kalau kita coba untuk berakting."
Aku akan menggunakan pengetahuan dari kehidupanku yang dulu.
Sebuah metode untuk menjinakkan Ojou-sama.
"Berakting. Bagaimana cara kerjanya?"
Aku menjelaskan secara detil.
"Ketika saya sedang bersama dengan Ojou-sama, kami akan diculik oleh orang jahat yang berasal dari suatu keluarga tertentu. Saya akan menggunakan bahasa, matematika, dan sihir untuk melarikan diri bersama dengan Ojou-sama, dan kembali ke mansion ini dengan kekuatan kami sendiri."
Setelah mendengar kata-kata yang aku ucapkan, Philip terdiam untuk beberapa saat, namun ia dengan cepat memahami plot dari ceritaku dan mengangguk.
"Dengan kata lain, kamu ingin agar dia sendirilah yang mengambil inisiatif untuk belajar. Menarik. Tapi apakah semuanya akan berjalan dengan mulus?"
"Saya pikir itu akan memiliki kesempatan berhasil yang lebih tinggi daripada metode yang digunakan oleh orang-orang dewasa untuk mengajari Ojou-sama."
Sebuah plot yang biasanya terjadi di dalam anime dan manga.
Setelah menyaksikan atau mengalami insiden seperti itu, seorang anak yang membenci buku akan menyadari betapa pentingnya belajar bagi dirinya sendiri.
Meskipun kejadian itu sudah di atur dari balik layar.
"Yang barusan kamu katakan, apakah itu adalah metode untuk menguasai para wanita yang diajarkan oleh Paul kepadamu?"
"Tidak. Sekalipun ayah tidak melakukan itu, dia masih tetap sangat populer."
Philip mendengus untuk menahan tawanya.
"Benar juga. Orang itu memang selalu beruntung dalam hal wanita. Bahkan sekalipun dia hanya berdiam diri, akan ada wanita yang datang mendekatinya."
"Siapapun yang dikenal oleh ayah sepertinya tertarik kepadanya. Bahkan Ghyslaine yang di sana sepertinya juga merupakan salah satu dari mereka."
"Ah. Itu benar-benar sesuatu yang membuat orang lain merasa iri."
"Saya khawatir ayah akan menyentuh teman saya yang ada di desa Buina."
Setelah aku mengucapkan itu, aku mulai benar-benar khawatir.
5 tahun kemudian, dia akan tumbuh menjadi besar.
Ketika aku kembali, Sylphy telah menjadi salah satu ibuku. Ya Tuhan.
"Kamu tak usah mengkhawatirkan itu. Paul hanya tertarik dengan wanita yang “besar”."
Philip melihat ke arah Ghyslaine yang berdiri di pojokan sembari mengatakan itu.
"O, oh.:
Aku melihat ke arah Ghyslaine. Dia besar.
Zenith dan Lilia juga besar.
Apa yang aku maksud dengan besar?
Tentu saja, payudara mereka.
"Kalau hanya 5 tahun, harusnya sih tak ada masalah. Orang dengan darah campuran elf. Sekalipun mereka tumbuh dewasa, mereka tak akan jadi terlalu ‘besar’. Dan juga, aku pikir Paul tak akan bersikap segila itu."
Begitukah?
Dan orang ini ternyata tahu kalau Sylphy adalah seorang elf.
Kalau begitu, untuk jaga-jaga, aku akan menganggap semua hal yang pernah terjadi di desa Buina, telah diinvestigasi secara menyeluruh.
"Haruskah aku bertanya, 'Apa kau akan mencoba untuk merayu putriku'?"
"Apa yang sebenarnya anda khawatirkan dari anak berusia 7 tahun?"
Itu benar-benar tidak sopan. Aku tidak akan melakukan apapun. Palingan, si tuan putri yang bakal jatuh cinta kepadaku. (Aku yang akan menuntun skenarionya).
"Tapi kalau dilihat dari surat yang ditulis Paul, kamu terlalu banyak bermain dengan teman perempuanmu di desa, sampai-sampai dia harus memaksamu untuk pergi kemari. Bahkan aku pun berpikir kalau itu hanyalah gurauan belaka, tapi setelah mendengar rencana yang barusan kamu ajukan, rasa kekhawatiran Paul itu ada benarnya."
"Saya hanya berteman dengan Sylphy."
Dan aku ingin membesarkan temanku satu-satunya itu menjadi gadis yang menurut padaku.
Sekalipun kau merobek-robek mulutku, kalimat itu tidak akan pernah aku ucapkan.
Ada beberapa hal yang tidak perlu diucapkan, dan tidak harus diucapkan.
"Yah, baiklah. Tidak akan ada kemajuan kalau kita hanya bicara terus. Aku akan mengijinkanmu untuk menemui putriku. Thomas, bawa dia kemari!"
Philip berdiri saat ia selesai mengucapkan itu.
Dan seperti itu lah, aku bertemu dengan dia.
Cewek yang satu ini benar-benar angkuh.
Pertama kali aku melihatnya, aku langsung mendapat kesan seperti itu.
Dia 2 tahun lebih tua dariku. Ujung kedua matanya diangkat, dan memiliki rambut bergelombang.
Warna rambutnya merah menyala. Rasanya seperti dilukis dengan cat berwarna merah.
Dua kata. Sangat eksplosif.
Mungkin nantinya dia akan menjadi sangat cantik, tapi kebanyakan cowok akan berpikiran "Mustahil aku bisa bersama dengan dia".
Mungkin kalau cowoknya Maso…… Nah. Sepertinya cowok serendah itu juga tidak akan mau.
Pokoknya, aku pikir dia itu berbahaya.
Seluruh sel yang ada di tubuhku berteriak, "Jangan dekati dia!".
"Senang bertemu denganmu. Namaku Rudeus Greyrat."
Tetap saja, aku tak bisa melarikan diri.
Aku akan menggunakan ilmu yang barusan aku pelajari.
Dia mengendus dengan gaya yang sama seperti kakeknya.
Dia berdiri tegak dengan kedua kakinya tertanam di tanah, dan menatapku dengan sikap merendahkan diriku. Memandang rendah dari posisi yang lebih tinggi.
Dia lebih tinggi dariku.
Dia menunjukkan sikap yang menyebalkan setelah melihatku, dan berkata:
"Apa-apaan? Bukannya dia lebih kecil dari aku!? Orang seperti ini mau mengajariku, apa kau bercanda!?"
Blah blah blah. Harga diri yang ia miliki sepertinya sangat tinggi.
Tapi aku tak bisa mundur begitu saja.
"Aku pikir itu tidak ada hubungannya dengan umur."
"Apa kau bilang!? Kamu berani membantah omonganku!?"
Suaranya benar-benar lantang. Rasanya gendang telingaku mau pecah.
“Yang terpenting adalah, aku bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan Ojou-sama.”
Setelah aku mengatakan itu, rambut si Ojou-sama serasa berdiri tegak.
Aku tak pernah membayangkan kalau ternyata kemarahan bisa berwujud seperti itu.
Ini benar-benar mengerikan.
Guh. Sial. Kenapa aku harus takut sama anak yang usianya saja belum mencapai 10 tahun?
"Apa? Sombong sekali kau. Apa kau tidak tahu siapa aku?"
"Kamu itu kakak sepupuku."
Aku menyembunyikan rasa takutku dan memberikan jawaban.
"Sepupu? Apa itu?"
"Putrinya sepupunya ayahku. Bisa dibilang kalau kamu adalah putrinya pamanku."
"Omong kosong tidak masuk akal apa itu!"
Apa penjelasanku salah?
Yah, mungkin dengan menyebutkan nama kerabat akan lebih mudah untuk menjelaskannya.
"Apa kamu pernah mendengar nama Paul?"
"Mana pernah aku dengar nama seperti itu!?"
"Benarkah?"
Aku sangat terkejut saat mengetahui bahwa dia tidak mengetahui namanya.
Pokoknya, aku akan mengobrol dengannya.
Kau harus terus bicara dengannya. Dewa Pengelana pernah berkata seperti itu.
Di saat aku memikirkan itu.
Ojou-sama mengangkat tangannya.
Itu benar-benar terlalu mendadak.
Ojou-sama tiba-tiba menamparku.
Pikiranku agak sedikit bingung, dan aku bertanya kepadanya.
"Kenapa kau menamparku?"
"Soalnya kamu itu terlalu sombong, padahal kamu lebih kecil dari aku!"
"Oh, aku mengerti."
Pipiku yang kena pukul terasa nyeri.
Itu benar-benar sakit
Gambaran kedua. Kekerasan.
Aku benar-benar tak punya pilihan.
"Kalau begitu, aku akan membalas."
"Hah!?"
Tanpa menunggu jawaban dari Ojou-sama, aku menamparnya.
Itu benar-benar terdengar aneh.
Mungkin karena aku tidak terbiasa dengan menampar orang. Yah, biarkan sajalah. Asal tamparanku masih terasa sakit.
"Kalau kau menampar orang, orang itu akan merasa kesakitan."
Apa kau paham sekarang? Saat aku bersiap-siap untuk mengatakan itu, aku melihat Ojou-sama mengangkat tinjunya dengan penuh amarah.
Raja Iblis. Gadis di depanku benar-benar mirip dengan Raja Iblis.
Tanpa memberiku kesempatan untuk berpikir, dia memukulku.
Aku pun bergeser kebelakang, dan dia melanjutkannya dengan tendangan.
Seluruh tubuhku seketika melayang kebelakang, efek setelah tendangannya menghantam dadaku.
Saat berikutnya, dia menindihku.
Kedua tanganku ia kunci dengan kedua kakinya.
A, ara? Aku tidak bisa bergerak?
"Tunggu, hey."
Suaraku yang terdengar canggung ditenggelamkan oleh teriakan amarah Ojou-sama.
"Kau ternyata benar-benar berani menyerangku ya! Aku akan membuatmu menyesal!"
Pukulan demi pukulan melayang ke arahku.
"Ow, owww, hen, hentikan, eh, jangan, hentikan itu."
Setelah pukulan kelima, aku akhirnya menggunakan sihir dan melarikan diri dari tindihannya.
Aku memegangi kakiku yang gemetaran dan berusaha untuk berdiri. Kemudian aku mengangkat kedua tanganku, dan bersiap untuk menggunakan sihir untuk melawan Ojou-sama.
Aku menciptakan gelombang kejutan dengan sihir angin dan mengarahkannya ke wajah Ojou-sama.
"Tidak, Tidak bisa lagi dimaafkan."
Wajah Ojou-sama terkena langsung oleh seranganku dan terbang keatas, tapi dia tidak berhenti untuk sedetik pun, dan malah lari menghampiriku seperti monster.
Setelah melihat ekspresi itu, aku sadar kalau aku telah membuat kesalahan.
Aku buru-buru melarikan diri hingga hampir terjatuh.
Itu bukanlah Ojou-sama yang angkuh.
Dia lebih mirip seperti protagonis dalam manga berandalan.
Mungkin aku bisa menggunakan sihir untuk menghajarnya tanpa ampun.
Tapi dia pasti tidak akan mau mendengarkanku.
Dan setelah Ojou-sama itu kembali sadar, dia pasti akan mencariku untuk membalas dendam.
Aku bisa terus menggunakan sihir untuk mengalahkan dirinya tiap kali dia menyerangku.
Tapi dia tidak akan menyerah.
Dan dia berbeda dari seorang protagonis dalam sebuah cerita. Tak peduli seberapa liciknya itu, dia pasti akan menggunakan segala cara untuk membalaskan dendamnya.
Seperti, melemparkan vas dari lantai dua, atau bersembunyi di pojokan dan tiba-tiba menebasku dengan pedang kayu.
Dia akan menggunakan segala cara yang tersedia, dan membalasku 10x lebih parah dari apa yang aku lakukan terhadapnya.
Dan dia tak akan menunjukkan rasa ampun.
Oi, ini bukan gurauan, aku tak bisa menggunakan sihir penyembuh kalau aku tidak merapal mantranya.
Dan kalau pertarungan ini belum berakhir, dia tak akan mau mendengarkanku.
Menggunakan kekerasan melawannya.
Itu bukanlah opsi yang bisa aku pilih untuk saat ini.
Dan kemudian, kita kembali ke awal.
Setelah itu, Ojou-sama merasa bosan dan berhenti mencariku, lalu kembali ke kamar tidurnya.
Dia tidak menemukanku.
Tapi dia nyaris saja berhasil. Saat iblis berambut merah itu berjalan dihadapan mataku, aku tak bisa merasakan kalau sebenarnya aku ini masih hidup. Aku tak pernah membayangkan, bahwa akan tiba waktu dimana aku akan merasakan pengalaman yang biasa didapat oleh protagonis dari sebuah film horror.
Saat aku kembali ke Philip dengan kondisi lemas, ia tersenyum kecut kepadaku.
"Bagaimana?"
"Tidak ada yang berhasil."
Aku setengah menangis saat memberikan jawaban itu.
Saat aku dipukul olehnya, aku hampir mengira kalau aku bakal dibunuh. Saat aku melarikan diri, aku nyaris menangis.
Aku belum pernah mengalami perasaan seperti itu untuk waktu yang begitu lama, dan kalau aku pikir-pikir soal kenapa aku bisa mengingat perasaan seperti itu, itu berarti aku pernah mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya.
Meski begitu, ini bukanlah trauma psikologis.
"Kalau begitu, apa kau akan menyerah?"
"Tidak."
Aku masih belum melakukan apa-apa.
Kalau aku menyerah begitu saja, bukannya itu artinya kalau aku dipukul sia-sia?
"Saya mohon bantuan anda."
Aku menundukkan kepalaku dihadapan Philip.
Aku harus menanamkan arti terror sesungguhnya kepada hewan buas itu.
"Aku mengerti. Thomas, pergilah dan persiapkan rencana itu."
Philip memberikan instruksi kepada pelayan itu, yang kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Tapi omong-omong, ide yang kamu pikirkan itu benar-benar menarik."
"Benarkah?"
"Ya, kamu adalah satu-satunya diantara para guru privat yang kami telah pekerjakan, yang mampu membuat rencana sebesar itu."
"Apa anda pikir rencana itu akan berhasil?"
Aku merasa sedikit gelisah.
Bisakah aku menjinakkan Ojou-sama dengan trik-trik murahan seperti itu?
Philip mengangkat bahunya.
"Sukses atau tidaknya, tergantung usahamu."
Dia benar.
Dengan itu, rencananya pun mulai dieksekusi.
Aku memasuki kamar yang sudah disediakan untukku, dan sepertinya kamar itu dipenuhi dengan barang-barang yang sangat mewah. Kasur yang begitu besar, furnitur yang didesain dengan intriksik, bingkai jendela yang indah, dan lemari buku modern.
Kalau saja aku punya minuman bersoda dan komputer, aku bisa hidup menganggur dengan bahagia di sini untuk seumur hidupku.
Ini adalah kamar yang bagus.
Mungkin karena aku memiliki nama Greyrat, jadi mereka menyediakan kamar yang khusus untuk aku tinggali, dan bukan kamar pelayan biasa.
Omong-omong soal pelayan. Aku tak tahu kenapa, tapi ada begitu banyak maid yang berasal dari Ras Hewan.
Di negara ini, aku dengar ras iblis didiskriminasi. Apa Ras Hewan termasuk dalam pengecualian?
"Haa. Sialan kau Paul. Kamu ternyata mengirimku ke tempat yang gila seperti ini."
Aku duduk lemas di kasur, sambil memegangi kepalaku yang terasa sakit.
Tempat yang terkena pukulan masih terasa nyeri.
Aku membaca mantra untuk menggunakan sihir penyembuh, dan menyembuhkan luka itu.
"Tapi, dibandingkan dengan kehidupanku yang sebelumnya, ini masih bagus."
Proses pengusiranku dari rumah memang sama-sama menggunakan kekerasan, tapi kali ini ada yang berbeda, dan aku tak perlu mondar-mandir tanpa tujuan di jalanan. Perbedaan yang signifikan.
Paul sudah mengatur hidupku dengan baik. Sebuah pekerjaan dan tempat untuk ditinggali. Dan juga, bukankah aku mendapat uang saku? Itu benar-benar tingkat kepedulian yang menakjubkan. Kalau saja saudara-saudaraku bisa melakukan ini di kehidupanku yang dulu, mungkin aku bisa kembali ke jalan yang benar.
Membantuku mencari pekerjaan, menyediakan tempat tinggal untukku, dan memberiku perhatian, dan tidak membiarkanku lari
Tidak, itu masih belum cukup.
Pengangguran berusia 34 tahun tanpa sedikitpun pengalaman bekerja. Mereka tidak punya pilihan selain mengabaikanku.
Ditambah lagi, sekalipun mereka tiba-tiba melakukan hal seperti itu, aku hanya akan marah. Aku mungkin tidak akan mau bekerja.
Memisahkanku dari kekasihku (komputer), aku mungkin akan bunuh diri.
Hal seperti itu baru bisa dilakukan sekarang.
Pekerjaan yang sudah aku dapatkan, dan determinasiku untuk mencari uang. Aku yang sekarang.
Sekalipun aku diusir secara paksa, Paul memilih timing yang sangat pas. Aku mungkin saja akan menyalahkan Paul. Tapi apa-apaan yang aku hadapi sekarang ini? Makhluk yang ganas dan gila itu. Ini adalah pertama kalinya dalam 40 tahun hidupku aku melihat sesuatu yang seperti itu.
Simbol kekerasan.
Itu tadi nyaris membuatku mendapat trauma. Aku hampir, atau mungkin kamu sudah bisa menganggap kalau aku ngompol di celana.
"Aku merasa, tak peduli seperti apapun usahaku, dia bakal bersikap seperti orang gila."
Bahkan rasanya, dia hanya akan memandangku sebagai 'musuh' dan bersikap gila.
Bagi Ojou-sama, aku hanyalah target.
Aku akan dicabik-cabik.
" Jelas saja dia dikeluarkan dari sekolah."
Cara dia menyerang orang benar-benar sudah seperti ahli bela diri.
Yang ia tunjukkan adalah cara untuk menghajar orang. Tak peduli lawannya bisa atau tidak bisa membalas, dia hanya akan menghajar mereka tanpa mempedulikan hal yang lain.
Sekalipun umurnya baru 9 tahun, cara yang ia miliki untuk membuat orang merasa putus asa itu benar-benar terasah.
Bisakah aku membimbing orang seperti dia?
Philip dan aku mendiskusikan masalah itu.
Biarkan dia diculik, dan buat dia merasakan keputusasaan.
Dan kemudian, aku akan menyelamatkan dia. Dia pun kemudian akan menghormatiku, dan menuruti bimbingan yang aku berikan.
Rencananya terdengar sederhana, tapi aku tahu proses mendasarnya.
Jika dia melakukan sesuatu yang tidak terduga, harusnya rencanaku tetap berjalan dengan mulus.
Tapi akankah rencanaku benar-benar akan berjalan dengan mulus?
Tingkat kekerasan seperti itu benar-benar di luar imajinasiku.
Menggunakan seluruh tenaga untuk berteriak. Menggigit, dan kemudian mencabik-cabik mangsanya hingga berkeping-keping.
Kekerasan yang mampu menenggelamkan segalanya.
Kalau dia diculik, akankah dia merasakan sesuatu?
Kalau aku menyelamatkan dia, akankah dia menunjukkan ekspresi seperti, semuanya sudah ia perkirakan dan berkata, "Kenapa kau tidak datang lebih cepat, dasar sampah."?
Mungkin saja.
Itu mungkin saja terjadi jika dia adalah Ojou-sama.
Dia mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak terduga, dan aku harus memikirkan solusi untuk segala sesuatunya. Aku harus menguatkan tekadku.
Tak peduli bagaimanapun caranya, rencanaku tidak boleh gagal.
Aku terus menerus memikirkan itu.
Langkah-langkah untuk mensukseskan rencana ini.
Tapi saat aku memikirkan itu, pikiranku serasa seperti tenggelam kedalam rawa yang kelam.
"Tuhan. tolong berkahi aku agar rencanaku bisa berhasil"
Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa.
Aku sama sekali tidak percaya terhadap Tuhan.
Tapi yah, seperti kebanyakan orang Jepang yang lain, ketika ada sesuatu yang buruk menimpa kami, kami akan memohon perlindungan dari Tuhan.
Sambil mengucapkan sesuatu seperti, “tolong buat aku sukses”.
Saat aku menyadari bahwa artefak dewi (celana dalam) tertinggal di dalam kamarku, aku menangis.
Dewiku (Roxy) tidak ada di sini.
Saat aku sadar, aku mendapati diriku sedang berada di dalam gudang kecil yang kotor.
Cahaya matahari masuk melalui jendela yang dipasangi jeruji besi.
Seluruh tubuhku terasa sakit, dan setelah aku memastikan kalau tidak ada tulangku yang patah, aku mulai membaca mantra sihir penyembuh dengan suara rendah.
Kedua tanganku diikat di belakang punggungku, namun itu bukan masalah yang berarti buatku.
"Baiklah."
Aku sudah benar-benar pulih, dan pakaianku tidak compang-camping.
Bagus sekali. Strateginya berjalan dengan lancar.
Rencana untuk meyakinkan Ojou-sama adalah sebagai berikut:
1 Pertama-tama. Pergi ke toko pakaian bersama Ojou-sama.
2 Karena sifat Ojou-sama sangatlah nakal, dia pasti ingin lari keluar dari toko sendirian.
3 Biasanya Ghyslaine akan berada di samping Ojou-sama untuk menjaganya, tapi dia tidak akan menyadari Ojou-sama.
4 Sekalipun aku mengikuti Ojou-sama, bagi dia, aku hanyalah bocah yang lebih lemah dari dirinya, dan hanya bisa pasrah dihajar setelah bertengkar, jadi Ojou-sama tidak akan memperhatikanku sama sekali.
5 Aku akan diperlakukan sebagai pengikut Ojou-sama, dan berjalan mengikuti Ojou-sama di area sekitar. Perlahan kami akan bergerak menuju tempat yang terisolasi di dalam kota (Sepertinya dia mengagumi petualang).
6 Pada saat itu, orang-orang jahat yang sudah di atur sebelumnya oleh keluarga Greyrat akan muncul.
7 Mereka dengan mudah membuat aku dan Ojou-sama tidak sadarkan diri. Kemudian mereka akan menculik dan membawa kami untuk disekap di kota sebelah.
8 Aku akan menggunakan sihir dan melarikan diri dari area tersebut.
9 Menyadari bahwa kami sedang berada di kota lain.
10 Menggunakan uang yang tersembunyi di celana dalamku untuk kembali ke Roa dengan menaiki kereta kuda.
11 Menjadi guru Ojou-sama ketika kami sampai di rumah.
Hingga saat ini, rencananya sudah berjalan mulus sampai poin ke tujuh.
Yang harus kulakukan berikutnya adalah menggunakan sihir, pengetahuan, kecerdasan, dan keberanian untuk melarikan diri dari tempat ini dengan penuh gaya.
Untuk tetap membuat rencanaku tampak nyata, aku masih harus siap berimprovisasi.
Aku tak tahu apakah rencanaku akan berhasil, dan aku pun merasa sedikit gelisah.
Tapi tempat ini sedikit berbeda dari tempat yang sudah di atur sebelumnya.
Seluruh bagian gudang ini penuh dengan debu, dan dipojokan ruangan ada satu kursi rusak dan sebuah armor yang penuh dengan lubang.
Bukannya mereka bilang kalau tempatnya tidak akan lusuh?
Yah, sekalipun ini cuman akting, ada perlunya juga untuk menggunakan barang-barang yang asli. Terima sajalah.
Setelah beberapa saat, Ojou-sama juga sadar.
Ia membuka kedua matanya. Setelah menyadari bahwa dirinya sedang berada di tempat yang asing, dan mencoba untuk bangkit, ia menyadari bahwa kedua tangannya terikat di belakang punggungnya, dan pada akhirnya pun ia jatuh ke tanah dengan posisi seperti ulat.
"Apa-apaan ini!?"
Ojou-sama, setelah sadar bahwa dirinya tidak bisa bergerak, dia mulai bersuara.
"Berhenti main-main denganku! Apa kalian tidak tahu siapa aku!? Lepaskan aku!"
Teriakan yang buruk. Aku pernah memikirkan ini sebelumnya di mansion, tapi dia sama sekali tak pernah mencoba untuk mengontrol suaranya.
Apa mungkin dia sengaja melakukan itu agar teriakannya bisa terdengar di seluruh mansion yang luar biasa besarnya itu?
Tidak, mungkin dia tidak pernah memikirkan itu sama sekali. Kakeknya Ojou-sama, si Lord, juga merupakan tipe orang yang menggunakan suara lantang untuk memberikan tekanan terhadap orang lain. Kakeknya menggunakan suaranya untuk mengintimidasi baik para pelayan maupun Philip, dan Ojou-sama pasti sudah menyaksikan itu berulang kali.
Anak-anak suka meniru berbagai hal, khususnya hal yang buruk.
"Kau itu terlalu ribut, Sialan!"
Saat Ojou-sama membuat keributan, pintu gudang terbuka dengan kasar, dan ada seorang pria yang masuk.
Ia mengenakan pakaian jelek. Seluruh tubuhnya bau dengan wajah yang penuh dengan janggut, dan kepalanya botak.
Kalau dia memberikan kartu nama bertuliskan “Bandit”, itu akan memberikan efek yang lumayan meyakinkan.
Aktingnya lumayan bagus. Sekarang aku tak perlu khawatir kalau aktingku akan ketahuan.
"Kau bau. Jangan dekati aku. Kau benar-benar bau! Apa kau tidak tahu siapa aku? Ghyslaine akan segera datang dan membelahmu menjadi dua!"
Dengan bunyi yang kedengarannya begitu menyakitkan, pria itu menendang Ojou-sama.
Ojou-sama pun mengeluarkan suara yang harusnya tak akan pernah terdengar dari mulut seorang wanita.
Seluruh tubuhnya melayang, dan akhirnya menabrak tembok dengan lumayan keras.
"Sialan kau! Kau mencoba sombong dalam keadaan seperti ini!? Aku tahu kalau kalian berdua itu cucunya Lord!"
Pria itu tanpa ampun menginjak-injak Ojou-sama yang tak bisa bergerak, yang kedua tangannya terikat di belakang punggungnya.
Hey, bukannya ini terlalu berlebihan?
"Ow. Sakit sekali. Hentikan. Ah. Berhenti. Ow. Cukup."
Pria itu menendangi Ojou-sama selama beberapa saat dan akhirnya meludah ke wajahnya. Kemudian ia berbalik dan melotot ke arahku. Saat aku menghindari tatapannya, sesaat berikutnya wajahku terkena tendangan keras, dan aku pun melayang.
Itu benar-benar sakit. Sekalipun ini cuma bohong-bohongan, bisakah kau tidak menendangku sekeras itu?
Yah, sekalipun aku memikirkan itu, toh aku bisa menggunakan sihir penyembuh untuk menyembuhkan luka.
"Hmph! Berakting layaknya kamu senang!"
Kemudian, pria itu keluar dari gudang.
Saat dia melewati pintu, aku mendengar percakapan antara pria itu dengan orang lain.
"Sudah beres?"
"Ya."
"Kamu tidak membunuhnya kan? Kalau kamu terlalu banyak melukainya, uang yang kita dapat juga akan berkurang."
Apa? Percakapan mereka benar-benar aneh.
Itu adalah akting yang bagus. tidak apa-apa, tapi aku tidak merasa seperti itu.
Mungkinkah ini, kau tahu, itu?
"Apa? Lagipula bayarannya juga tidak terlalu banyak. Kemudian, Asal anak laki-laki itu masih hidup juga rasanya tidak masalah."
Hei, ini sama sekali tidak bagus.
Setelah aku tidak bisa lagi mendengar suara mereka, aku menghitung selama 300 detik penuh, dan membakar tali yang mengikat tanganku dengan sihir api, kemudian bergerak menghampiri Ojou-sama.
Hidung Ojou-sama masih meneteskan darah. Tatapan matanya tampak tidak fokus, dan mulutnya terus-terusan menggumamkan sesuatu.
Saat aku mendengarkan itu dari dekat, yang ia gumamkan adalah sesuatu seperti, “tak bisa dimaafkan” atau sesuatu, “aku akan protes kepada kakek”, dan setelahnya, beberapa kalimat berbahaya yang sebenarnya tidak pantas terdengar.
Pokoknya, pertama-tama aku akan memeriksa dan memastikan hal itu dengan tanganku sendiri.
Ojou-sama menatap ke arah kedua mataku, dan gemetaran, sepertinya dia merasakan rasa sakit yang tersebar di seluruh tubuhnya.
Aku menggunakan satu jari untuk menutup bibirku, dan memberinya sinyal agar dia bisa diam.
Aku memastikan posisi luka-luka yang ia derita dari reaksi yang ia tunjukkan.
Dua tulangnya ada yang patah.
"Oh dewi yang maha pengampun, tolong sembuhkanlah luka yang ada pada dirinya, dan biarkan dia pulih dengan tubuh yang sehat."
Dengan suara pelan aku merapal mantra untuk sihir penyembuh level menengah, dan menyembuhkan luka-luka yang ada di tubuh Ojou-sama.
Keefektifan sihir penyembuh tidak bertambah sekalipun aku mengerahkan lebih banyak Mana saat menggunakannya. Jadi aku tak tahu apakah sihirku mampu memulihkannya secara sempurna atau tidak.
Aku harap tulang-tulangnya tidak salah posisi
"Eh? Ehhh? Tidak sakit lagi"
Ojou-sama memandang tubuhnya dengan terkejut.
Aku mendekat dan berbisik di telinganya.
"Shh. Jangan ribut-ribut. Tulangmu tadi ada yang patah, dan aku barusan menggunakan sihir penyembuh. Ojou-sama, sepertinya kita diculik oleh orang-orang jahat. Mereka adalah musuh besar Lord. Langkah kita berikutnya adalah"
Ojou-sama sama sekali tidak mendengarkan ucapanku.
"Ghyslaine! Ghyslaine, selamatkan aku! Mereka akan membunuh kami! Cepat selamatkan aku!"
Aku buru-buru menyembunyikan tali yang kubakar di balik bajuku, dan lari ke pojokan ruangan. Punggungku menghadap tembok, aku menyembunyikan kedua tangan di belakang punggungku, dan berakting layaknya kedua tanganku masih terikat.
Gara-gara Ojou-sama beteriak sekuat tenaga, pria yang tadinya sudah keluar pun kembali masuk ke dalam gudang.
"Diam!"
Dan dia kembali menendangi Ojou-sama, bahkan dengan durasi yang lebih lama dari sebelumnya.
Aku benar-benar kehabisan kata-kata melihat kemampuan belajar Ojou-sama.
"Sialan kau. Ingat, kalau kau berani teriak lagi, aku akan membunuhmu!"
Aku bahkan ditendang dua kali.
Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Tolong jangan tendang aku. Aku benar-benar mau menangis
Aku memikirkan itu sambil bergerak mendekati Ojou-sama.
Ini benar-benar kelewatan.
Aku tidak begitu yakin soal apa yang terjadi terhadap tulang-tulangnya, tapi dilihat dari muntahan darah yang begitu banyak, sepertinya ada organ tubuh yang pecah. Semua tulang yang ada di kedua tangan dan kakinya patah.
Aku memang tidak terlalu paham soal medis, tapi kalau dia dibiarkan begitu saja, dia mungkin akan mati, ‘kan?
"Biarkan kuasa Tuhan diubah menjadi berkah yang melimpah, dan diberikan pada orang yang telah kehilangan kekuatan mereka agar bisa bangkit sekali lagi, HEALING"
Pokoknya, aku akan menggunakan sihir penyembuh tingkat dasar terlebih dahulu untuk sedikit menyembuhkan Ojou-sama.
Sekarang Ojou-sama sudah tidak muntah darah lagi, dan dia sudah tidak memiliki resiko untuk tewas, mungkin.
"Uuu M-masih terasa sakit, b-bantu sembuhkan aku Ah."
"Tidak mau. Lagipula kalau kamu pulih, nantinya kamu bakal melakukannya dan mendapati diri ditendangi lagi? Silahkan gunakan sihirmu sendiri."
"Ba-bagaimana caranya aku bisa melakukan. itu?"
"Kalau kamu mau mempelajari itu sebelumnya, sekarang pasti kamu sudah bisa melakukan itu."
Aku melontarkan kalimat seperti itu, dan berjalan ke arah pintu.
Kemudian aku menempelkan telingaku di pintu agar aku bisa mendengarkan apa yang mereka ucapkan.
Semakin aku memikirkan ini, semakin aku menyadari kalau situasi ini benar-benar aneh. Bagaimanapun juga, menghajar Ojou-sama sampai dia sekarat itu benar-benar kelewatan.
"Kalau begitu, apa kita akan menjual mereka ke orang yang sebelumnya itu?"
"Tidak. Lebih baik kalau kita minta tebusan."
"Bagaimana kalau nantinya kita tertangkap?"
"Tidak masalah. Kita akan pergi ke negara lain."
Dilihat dari percakapan itu, mereka benar-benar berencana untuk menjual kami.
Meminta bantuan kepada seseorang yang familiar untuk berpura-pura menyerang si gadis, dan pada akhirnya, malah bertemu penculik yang asli. Apakah alur cerita seperti itu yang tengah kuhadapi sekarang?
Sejak kapan rencanaku menjadi kacau? Apakah orang yang seharusnya menculik kami malah diincar oleh mereka? Apakah sejak dari awal mereka sudah mengincar kami? Atau apakah Philip memang memiliki niat untuk menjual anaknya?
Kemungkinan yang terakhir itu benar-benar mustahil
Ya sudahlah. Aku tak akan memikirkan itu sekarang. Bagaimanapun juga, hal yang akan aku lakukan mulai dari sekarang tidak benar-benar berubah.
Cuma kurang dalam hal keselamatan
"Daripada dijual, uang dari tebusan pasti lebih tinggi, ‘kan?"
"Pokoknya, lebih baik kita membuat keputusan sebelum malam tiba."
"Tak peduli pilihannya yang mana, keduanya sama-sama menguntungkan."
Sepertinya mereka sedang berdiskusi soal apakah mereka akan menjual kami atau meminta tebusan dari Lord. Dan sepertinya mereka berencana untuk pergi dari sini di malam nanti.
Kalau begitu, lebih baik aku mulai bergerak selagi hari masih cerah.
"Baiklah."
Tapi, apa yang harus aku lakukan?
Dobrak pintu dan menaklukkan para penculik? Setelah menghajar para penculik hingga babak belur, Ojou-sama akan menghormatiku
Tapi aku tidak yakin kalau hal seperti itu akan terjadi.
Kalau kedua tangannya tidak terikat, aku pikir si Oujou-sama akan menang melawan para penculik itu sendirian.
Dan pada akhirnya, dia akan berpikir kalau kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah. Itu tidak boleh terjadi.
Aku harus mengajarinya bahwa menggunakan kekerasan itu tidak ada untungnya, karena kalau tidak, di masa depan nanti aku akan sering dihajar olehnya.
Aku harus membuatnya merasa putus asa.
Ah, lagipula, bisa jadi aku tidak bisa mengalahkan para penculik itu.
Aku sangat yakin bahwa aku akan kalah kalau para penculik itu sama kuatnya dengan Paul.
Kalau begitu, aku pasti akan terbunuh. Aku yakin itu.
Baiklah. Begini saja, tanpa membuat kontak dengan para penculik, kami akan melarikan diri dari tempat ini.
Aku melihat ke belakang dan memeriksa kondisi Ojou-sama.
Dia melotot ke arahku dengan penuh amarah.
Pokoknya, aku akan melaksanakan tugasku terlebih dahulu.
Pertama-tama, aku akan menggunakan tanah untuk menyegel celah yang ada di pintu. Kemudian, aku akan menggunakan sihir api untuk perlahan melelehkan tanah yang sudah aku munculkan sebelumnya, agar pintunya tidak bisa bergerak.
Sekarang pintu itu sudah tidak bisa dibuka, tapi tetap saja pintu itu akan hancur kalau ditendang atau didobrak dengan keras. Ini cuma jaga-jaga.
Setelah itu, aku bergerak menghampiri jendela. Sekalipun aku mempertimbangkan untuk fokus dan melelehkan salah satu jeruji besi dengan sihir api, aku pikir nanti rasanya akan terlalu panas, dan aku pun mengabaikan ide tersebut.
Setelah mencoba berbagai solusi yang berbeda-beda, aku menggunakan sihir air dan mengubah tanah yang ada di sekeliling jendela menjadi lumpur, dan berhasil melepas semua jeruji besi yang ada. Lubang jendelanya cukup besar untuk dilalui oleh anak kecil.
Dengan begitu, rute untuk melarikan diri sudah terjamin.
"Ojou-sama, sepertinya kali ini kita telah diculik oleh musuh besarnya Lord, dan setelah berdiskusi, mereka memutuskan menungu hingga malam tiba untuk membawa rekan mereka kemari, kemudian menyiksa kita sampai mati."
"Kamu bo bohong, kan?"
Tentu saja aku bohong.
Tapi wajah Ojou-sama langsung menjadi pucat pasi.
"Aku masih belum mau mati, jadi aku mau kabur sendiri. Selamat tinggal."
Aku beranjak dan berjalan menuju lubang jendela yang jeruji besinya sudah aku lepaskan.
Pada saat itu, ada suara yang datang dari arah pintu.
"Hey, kenapa pintunya tidak mau dibuka!? Apa-apaan ini!?"
Benturan-benturan keras datang dari sisi lain pintu.
Ojou-sama, yang memutar kepalanya dan melihat ke arah pintu dengan wajah yang penuh ketakutan dan keputusasaan, melihat ke arahku lagi, dan berulang kali mengulangi kalimat ini:
"Ah Ja, jangan tinggalkan aku…… Selamatkan aku"
Ara, cepat sekali kamu menenangkan diri. Itu sebuah kejutan buatku.
Jadi bahkan Ojou-sama pun akan merasa ketakutan bila dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Aku segera berjalan menghampiri Ojou-sama dan berbisik di dekat telinganya.
"Sebelum kita sampai di rumah, kamu harus mendengarkan seluruh perkataanku. Bisakah kamu berjanji untuk melakukan itu?"
"Mendengar, um, aku akan mendengarkanmu, oke?"
"Bisakah kamu berjanji untuk tidak berteriak? Ghyslaine tidak ada di sini."
"Aku janji, aku janji. Ce, cepat, masuk. mereka, masuk!"
Ojou-sama mengangguk dengan tegas.
Ketakutan dan kegelisahan tampak jelas di wajahnya. Benar-benar berbeda dari saat ia menghajarku.
Yang paling penting adalah, agar dia merasakan bagaimana rasanya kalau dihajar tanpa bisa membalas.
"Kalau kamu melanggar janjimu, aku pasti akan meninggalkanmu."
Aku mengucapkan kalimat yang terdengar sedingin mungkin, sambil mengubur pintu gudang dengan sihir tanah.
Kemudian aku membakar tali yang mengikat Ojou-sama dengan menggunakan sihir api, dan menyembuhkan luka Ojou-sama secara menyeluruh dengan sihir penyembuh level menengah.
Setelahnya, aku memanjat ke jendela dan menarik Ojou-sama agar ia bisa mengikutiku.
Setelah memanjat keluar dari gudang, aku mendapati bahwa saat ini kami sedang berada di kota lain.
Tidak ada tembok. Paling tidak ini bukanlah Roa.
Ukuran kota ini tidak sekecil desa, tapi masih berada di kategori kota kecil. Kalau aku tidak segera melanjutkan rencanaku, para penculik itu akan segera menemukan kami.
"Fiuhh, aku pikir kita akan baik-baik saja kalau kita sudah melarikan diri sampai di sini."
Ojou-sama mulai bicara dengan suara yang lumayan keras. Apa dia berpikir kalau sekarang dia sudah aman?
"Bukannya kamu berjanji untuk tidak bicara dengan suara keras sebelum kita sampai di rumah?"
"Hmph! Kenapa juga aku harus menepati janjimu!?"
Ojou-sama mengucapkannya layaknya itu adalah hal yang paling wajar.
Bocah sialannnn.
"Begitukah? Kalau begitu, kita akan berpisah di sini. Selamat tinggal."
Ojou-sama mendengus tanpa peduli dan mulai berbalik. Di waktu yang bersamaan, terdengar suara teriakan marah yang datang dari tempat cukup jauh.
"Bocah sialan! Kemana kalian lari!?"
Sepertinya mereka mendobrak pintu, memutuskan memeriksa jendela untuk melihat situasinya, melihat bahwa jeruji besinya sudah hilang, dan menyadari bahwa kami telah melarikan diri, kemudian langsung mencari kami. Harusnya sih situasinya seperti itu.
"Ahhh."
Ojou-sama berteriak lemas, dan segera lari menghampiriku kembali.
"A-aku cuma bercanda barusan. Aku tidak akan bicara dengan suara keras lagi. Bawa aku kembali pulang ke rumah."
"Aku bukan pengawal Ojou-sama, dan aku bukan budak."
Aku sedikit jengkel dengan sikapnya yang suka merendahkan orang lain.
"A, apa, bukannya kamu guru privatku?"
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini."
"Eh?"
"Ojou-sama bilang kalau kamu tidak merasa puas denganku, jadi aku belum dipekerjakan secara resmi."
"A, aku akan mempekerjakanmu"
Saat mengatakan itu, dia memalingkan kepalanya ke satu sisi, layaknya dia sangat enggan untuk menerimaku.
Aku harus membuat janji yang pasti dengannya.
"Sekarang kamu bilang begini. Tapi setelah kamu sampai di mansion, kamu akan melanggar janjimu seperti barusan, ‘kan?"
Aku menggunakan suara paling dingin dan keji yang bisa aku keluarkan.
Tanpa emosi, aku mengucapkan itu dengan datar.
Tapi nada bicaraku berkata bahwa kamu tidak akan pernah memenuhi sebuah janji itu.
"Tidak, aku tidak akan melanggar janji itu. Tolong, selamatkan aku"
"Kalau kamu janji untuk tidak bicara dengan suara keras dan mendengarkan apapun yang aku katakan, kamu boleh mengikutiku."
"A, aku mengerti."
Ojou-sama mengangguk dengan patuh.
Bagus sekali.
Kalau begitu, aku akan melakukan langkah selanjutnya.
Pertama-tama, aku mengeluarkan 5 Koin Tembaga Besar Asura dari celana dalamku, yang merupakan seluruh kekayaanku saat ini. Sebagai informasi, koin tembaga memiliki nilai 1/10 dari koin perak. Itu bukan jumlah yang mampu membuat orang merasa tenang. Tapi uang sebanyak itu harusnya sudah cukup untuk saat ini.
"Ikuti aku."
Aku berjalan menjauh dari arah datangnya teriakan para penculik, dan pergi menuju pintu masuk kota.
Di sana, ada seorang penjaga yang bermalas-malasan di menara pemantau.
Aku memberikan 1 koin tembaga kepadanya.
"Kalau kamu melihat ada seseorang yang mencari kami, tolong katakan pada mereka, kami pergi keluar dari kota."
"Huh? Apa? Anak-anak? Aku mengerti, tapi apa kalian sedang bermain petak umpet? Hmm, begitu banyak uang. Apa kalian berasal dari keluarga bangsawan? Beneran dah"
"Tolong lakukan itu."
"Ahh. Aku mengerti."
Aku merasa kalau dia menjawab dengan acuh tak acuh, tapi paling tidak dia akan memberikan lebih banyak waktu bagi kami untuk melarikan diri dari kejaran para penculik.
Kemudian kami langsung pergi menuju ke area tempat kereta kuda umum berada. Aku sudah mengkonfirmasikan biaya diperlukan untuk menaiki kereta kuda yang tertempel di tembok. Aku juga memeriksa lokasi kami saat ini.
"Ini adalah kota yang terletak disamping Roa, yang bernama Widin."
Aku berbisik di telinga Ojou-sama, dan sepertinya kali ini dia menepati janjinya, karena dia membalas dengan berbisik kepadaku.
"Bagaimana kamu bisa tahu itu?"
"Bukannya ada tulisannya di sana?"
"Aku tidak bisa membacanya"
Bagus, bagus sekali.
"Akan lebih mudah kalau kamu bisa mengerti itu. Karena cara untuk menggunakan transportasi umum juga tertulis di sana."
Syukurlah. Kita dipindahkan kemari hanya dalam satu hari.
Datang ke kota asing benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Traumaku hampir muncul kembali.
Tidak, tidak. Aku sekarang sudah berbeda dari saat aku bahkan tidak tahu dimana lokasi “Hello” berada.
Kalau dipikir-pikir, Paul terkesan seperti Hello di surat yang ia tulis.
Saat aku memikirkan hal yang bukan-bukan seperti itu, aku merasa kalau teriakan para penculik makin mendekat.
"Bajingan kalian! Dimana kalian sembunyi!? Keluar sekarang juga!"
"Ayo sembunyi!"
Aku menarik tangan Ojou-sama, sembunyi di belakang toilet di area tunggu, dan mengunci pintunya.
Langkah kaki dari luar terdengar dengan jelas.
"Kemana para bajingan itu pergi?"
"Jangan pikir kalian bisa melarikan diri!"
Woahhh, itu benar-benar menakutkan.
Bisakah kalian tidak membuat suara-suara seperti itu saat sedang melakukan pencarian? Harusnya kalian paling tidak menggunakan suara yang lebih lembut. Bahkan mungkin saja aku akan terpancing. Sekalipun, hal seperti itu kebanyakan mustahil.
Akhirnya, suara itu terdengar semakin jauh. Aku bisa bersantai untuk beberapa saat.
Tapi aku tidak boleh ceroboh. Terkadang orang yang panik akan melakukan pencarian di tempat yang sama beberapa kali.
"Ki, kita akan baik-baik saja kan?"
Ojou-sama menutupi mulut dengan kedua tangannya yang gemetaran. Ia tampak sangat khawatir.
"Yah, kalau kita ketahuan, kita tinggal bertarung melawan mereka."
"A, ah, begitu Baiklah!"
"Tapi mungkin kita tidak bisa mengalahkan mereka."
"E, eh, begitukah"
Ojou-sama tiba-tiba kembali bersemangat, dan aku harus mengoreksi sikapnya itu.
Kalau dia tiba-tiba keluar dan melawan mereka, aku yang akan kewalahan.
"Tapi barusan, saat aku melihat harga yang dibutuhkan untuk naik kereta kuda, aku lihat kalau kita harus berganti kereta kuda sebanyak dua kali kalau kita berangkat dari sini."
"Berganti?"
Ojou-sama menunjukkan ekspresi yang sepertinya berkata “memang kenapa?”.
"Kereta kuda yang pertama berangkat di jam 8 pagi, dan kereta kuda yang selanjutnya akan berangkat setiap 2 jam. Kondisi itu juga sama di kota-kota lain. Karenanya, berangkat dari sini membutuhkan waktu 3 jam. Dan sekarang, sebentar lagi adalah gilirannya kereta kuda yang keempat. Yang artinya"
"Yang artinya?"
"Sekalipun kita sampai di kota selanjutnya, tidak akan ada kereta kuda yang pergi menuju Roa. Kita harus beristirahat malam ini di kota selanjutnya."
"A, aku mengerti, ah."
Ojou-sama tampak ingin berteriak, tapi pada akhirnya dia masih bisa menahan diri.
Berhati-hatilah. Jangan membuat suara-suara keras, oke?
"Aku punya 4 Koin Tembaga Besar Asura yang paling tidak bisa digunakan untuk pergi ke kota selanjutnya dari sini, beristirahat semalam di sana, dan dari sana berangkat ke Roa keesokan harinya."
"Paling tidak…… tapi uangnya cukup kan?"
"Ya, memang cukup."
Ojou-sama menghembuskan nafas lega.
Tapi sekarang bukan waktunya untuk bersantai.
"Itu, kalau kita tidak ditipu saat mengambil kembalian."
"Kembalian?"
Apa itu? Ojou-sama menunjukkan ekspresi seperti bingung.
Mungkin sebelumnya dia tidak pernah menggunakan uang yang ia miliki untuk membeli sesuatu.
"Bos yang ada di penginapan dan stasiun kereta kuda akan mengira kalau kita hanyalah anak-anak yang tidak bisa menghitung. Jadi, mereka mungkin tidak akan memberikan uang kembalian yang pas. Pada saat itu, kita bisa menunjukkan mana yang salah, dan mereka akan memberikan jumlah yang benar. Tapi kalau kita tidak bisa menghitung……"
"Apa yang akan terjadi kalau kita tidak bisa menghitung?"
"Maka kita tidak akan bisa menaiki kereta kuda, dan kita akan ditangkap oleh para penculik itu"
Ojou-sama gemetaran sekali lagi, seperti mau pipis.
"Ojou sama, toiletnya berada tepat di sini."
"A, aku mengerti."
"Kalau begitu, aku akan keluar dulu."
Saat aku hendak keluar dari kamar mandi, lengan bajuku ditarik.
"Ja-jangan pergi."
Setelah dengan senang hati menyaksikan Ojou-sama pipis, kami keluar dari toilet.
Sepertinya para penculik itu sudah pergi.
Aku tak yakin apakah mereka masih melanjutkan pencarian di luar kota, atau di dalam kota.
Kalau kami ketahuan, aku hanya bisa menggunakan seluruh kemampuan sihirku untuk melumpuhkan mereka.
Aku berdoa dengan harapan aku bisa mengalahkan mereka, dan menunggu di pojokan pada waktu yang sama. Setelah waktunya tiba, kami menyerahkan uang kepada pengemudi dan menaiki kereta kuda.
Kami akhirnya sampai di kota selanjutnya.
Untuk menunjukkan kepada Ojou-sama betapa kejamnya dunia, aku mencari tempat yang kumuh untuk beristirahat, dan tidur di atas jerami.
Ojou-sama tampak begitu gelisah, sampai-sampai dia tidak bisa tidur.
Tiap kali dia mendengar suara, dia akan duduk dan melihat dengan ketakutan ke arah pintu. Setelah beberapa saat tidak menemukan apa-apa, dia akan menghembuskan nafas lega--- Dia pun melakukan proses itu berulang-ulang.
Di hari kedua, kami naik kereta kuda yang berangkat pertama.
Kedua mata Ojou-sama tampak begitu merah. Mungkin itu karena kurang tidur, tapi dia tidak berani untuk menutup kedua matanya, dan terus mengamati bagian belakang kereta kuda dengan penuh waspada.
Beberapa kali, ada orang datang menyusul kereta kuda yang kami tumpangi, namun mereka bukanlah para penculik.
Mungkin mereka sudah jauh tertinggal. Mungkin mereka sudah menyerah.
Aku tidak terlalu serius memikirkan itu.
Setelah beberapa jam tanpa ada peristiwa penting yang terjadi, kami sampai di Roa.
Setelah melewati tembok-tembok kota yang kokoh dan meyakinkan, kami bisa melihat mansion dari jauh, dan di dalam hati aku langsung merasa aman.
Dalam pikiranku, tanpa aku sadari, sudah percaya bahwa posisi kami saat ini sudah aman.
Setelah turun dari kereta kuda, kami berjalan menuju mansion. Langkah kami cepat dan ringan. Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta kuda dan tidur di atas jerami untuk pertama kalinya, aku juga merasa lelah.
Dan layaknya memanfaatkan kelemahan itu Ojou-sama tiba-tiba ditarik masuk ke dalam salah satu lorong.
Aku terlalu ceroboh.
Aku baru menyadari itu setelah 2 detik berlalu.
Tatapanku hanya beralih selama 2 detik, dan dalam jeda waktu yang singkat itu, Ojou-sama menghilang.
Aku benar-benar mengira kalau dia lenyap begitu saja. Di pojok penglihatanku, aku melihat ada sobekan pakaian yang memiliki warna sama seperti pakaian yang dikenakan Ojou-sama di tembok.
Aku segera melakukan pengejaran.
Memasuki lorong, aku melihat ada dua orang yang sedang menggendong Ojou-sama.
Aku segera menggunakan sihir tanah untuk membuat tembok.
Dari tanganku, sihir yang aku keluarkan menciptakan tembok besar terbuat dari tanah yang muncul di hadapan mereka.
Mereka hanya bisa berhenti di jalan buntu, tepat di depan tembok tanah yang tiba-tiba muncul.
"Apa-apaan ini!?"
Mulut Ojou-sama sudah mereka tutupi. Tampak air mata menetes dari kedua matanya.
Mampu menutupi mulut Ojou-sama dalam hitungan detik, mereka benar-benar ahli dalam hal ini.
Dan Ojou-sama tampak seperti habis menerima pukulan, wajahnya tampak memerah.
Lawanku adalah dua manusia, dan mereka berdua pria.
Salah satu dari mereka adalah orang kasar yang menendangku. Yang satunya mungkin adalah orang yang berbicara dengannya. Mereka berdua tampak seperti bandit, dan memiliki pedang di masing-masing pinggangnya.
"Oh, jadi si bocah ini. Padahal kau bisa diam-diam pulang ke rumah"
Kedua orang itu terkejut melihat tembok yang tiba-tiba muncul, tapi setelah mereka melihatku, mereka tersenyum.
Tanpa peringatan, orang kasar yang sempat menendangku, kini berjalan menghampiriku.
Yang satunya menggendong Ojou-sama. Apa masih ada yang lain?
Pokoknya, dengan niat untuk mengintimidasi mereka, aku mengeluarkan bola api kecil di ujung jariku.
"Apa? Bajingan!"
Melihat itu, si orang kasar menghunuskan pedangnya.
Pria yang satunya menjadi waspada, meletakkan pedangnya di leher Ojou-sama, dan mundur perlahan.
"Kau bocah sialan. Di sini aku penasaran kenapa kau bisa bersikap begitu tenang, ternyata kau adalah penyihir pengawal…… Jelas saja kalian bisa melarikan diri dengan mudah. Sialan. Aku tertipu oleh penampilanmu! Apa kau berasal dari ras iblis!"
"Aku bukan pengawal, aku belum dipekerjakan secara resmi."
Sekalipun aku tidak berasal dari ras iblis, aku tidak perlu mengoreksi itu.
"Apa? Kalau begitu kenapa kau menghalangi kami?"
"Seharusnya aku akan dipekerjakan setelah ini semua selesai."
"Oh, jadi karena uang?"
Untuk uang.
Dia benar soal itu. Aku memang berniat mendapatkan uang untuk membayar biaya akademi.
"Aku tidak akan menyangkal soal itu."
Mulut orang kasar itu pun tersenyum setelah mendengar jawabanku.
"Kalau begitu, bantulah kami. Diantara para pelanggan kami, ada seorang bangsawan mesum yang ingin membeli gadis dengan status sosial tinggi. Kalau kita minta tebusan, itu juga mungkin. Aku dengar kalau gadis ini adalah putri kesayangan Lord yang ada di sini. Mereka pasti akan menyediakan semua hal yang kita inginkan."
"Oh"
Aku menunjukkan respons tertarik, dan wajah Ojou-sama langsung menjadi pucat pasi.
Mungkin dia tahu kalau aku menjadi guru privatnya hanya untuk membayar biaya akademi.
"Kalau begitu, berapa banyak uang yang bisa kita dapat?"
"Tentu bukan jumlah kecil seperti 1 atau 2 koin emas per bulan, tapi 100 koin emas!"
Ucap orang kasar itu dengan penuh rasa bangga.
Sekalipun aku tidak tahu seberapa besar nilai itu sebenarnya, aku merasa orang itu seperti berkata, “Wow 1 juta dolar!”. “Itu benar-benar menakjubkan bukan?” Dia itu mirip seperti anak TK.
"Hehehe. Bocah, kau mungkin kelihatan masih muda, tapi sebenarnya usiamu lumayan tinggi kan?"
"Hmm? Kenapa kamu memiliki pemikiran seperti itu?"
"Dengan sihir dan sikap tenang seperti itu, cukup dengan melihatnya saja kami sudah tahu. Ras iblis punya orang dengan ciri-ciri seperti itu. Kau pasti merasa tidak nyaman dengan penampilanmu, ‘kan? Yah, kau sudah pasti tahu betapa pentingnya uang di dunia ini, ‘kan?"
"Oh begitu."
Dari orang yang tidak tahu apa-apa, pasti dia akan berpikir seperti itu. Tapi benar, umur mentalku sudah lewat dari 40 tahun. Tebakanmu tepat sekali, tuan bandit yang hebat.
"Benar, hidup hingga mencapai usiaku kini, aku sangat menyadari betapa pentingnya uang. Aku bahkan pernah terlempar ke tanah asing tanpa dibekali uang sedikitpun."
"Hehehe, jadi kau paham bukan?"
Sekalipun sebelum itu, aku hidup tanpa memiliki sedikitpun rasa kekhawatiran.
Hampir 20 tahun hidup pengangguran. Penuh dengan Eroge dan game di internet. Itu adalah separuh hidupku.
Dari situ aku mempelajari sesuatu.
Aku bisa mengkhianati Ojou-sama.
Atau, skenarioku dengan Ojou-sama bisa dimulai di sini dengan cara membantunya.
"Karenanya, aku sangat paham, kalau ada hal yang lebih penting daripada uang."
"Jangan berkata sok benar seperti itu!"
"Itu bukan sok benar, kalian tak bisa membeli “Dere” dengan uang!"
Oh sial. Aku mengatakan yang sebenarnya dari hatiku.
"Dere? Apa itu?"
Orang kasar itu tampak kebingungan, tapi kenyataannya, negosiasi diantara kami telah gagal. Senyumnya yang menjengkelkan menghilang, dan dia menghunuskan pedangnya ke arah leher Ojou-sama dengan ekspresi serius.
"Kami punya sandera. Buang bola api yang ada di tanganmu!"
"Bolehkah aku melemparnya ke udara?"
"Terserah, tapi jangan coba-coba untuk melemparnya ke arah kami. Sekalipun kau bisa bertindak dengan cepat, kau tetap tidak akan lebih cepat dari pedang yang ada di tanganku. Aku akan menggorok leher pelacur ini dan menggunakannya sebagai perisai."
Dia tidak menyuruhku untuk memadamkan bola apiku. Tidak, mungkin dia tidak tahu.
Saat membaca mantra, sihir yang keluar itu otomatis.
Dia tak akan memahami bagian ini kalau dia tidak pernah belajar sihir sebelumnya.
"Aku mengerti."
Aku memanipulasi Mana dari bola apiku sebelum menembakkannya.
Aku menciptakan bola api dengan tipe special, dan kemudian menembakkannya ke atas, ditemani dengan bunyi aneh.
Ledakan besar terjadi di udara.
"Huh!?"
"Apa!?"
Bunyi ledakan yang memekakkan telinga terdengar dengan jelas. Di saat semuanya melihat ke atas, ada kilasan cahaya yang begitu terang, dan temperatur yang tampaknya mampu membakar kulit seseorang.
Aku mulai berlari.
Menyiapkan sihir sambil berlari, aku menciptakan dua tipe sihir yang paling sering aku gunakan.
Di tangan kanan adalah sihir angin "True Sonic Boom".
Di tangan kiri adalah sihir tanah "Rock Cannon".
Aku menembakkan kedua sihirku ke arah kedua penculik.
True sonic boom mengenai pria yang menggendong Ojou-sama.
Ojou-sama terjatuh dari gendongan pria itu, dan aku berhasil menangkapnya dengan selamat. Tentunya dengan gaya seperti menggendong seorang putri.
"Tch! Jangan meremehkan aku!"
Aku menoleh ke arah penculik satunya, dan melihatnya mampu menebas batu yang aku tembakkan menjadi dua.
Sial. Dia ternyata mampu membelah batuku. Sekalipun aku tidak tahu teknik seperti apa yang dia gunakan, tetap saja itu mengerikan. Kalau dia sama hebatnya seperti Paul, situasinya bakal jadi merepotkan. Aku mungkin tidak akan bisa menang melawan musuh seperti itu.
Aku menggunakan sihir kombinasi angin dan api dan menciptakan gelombang kejut di dekat kakiku, dan melesat ke arah berlawanan.
Gelombang itu cukup kuat sampai membuatku merasa kalau tulang-tulang yang ada di kakiku retak semua.
Sesaat setelahnya, ada sebuah pedang menebas di tempat dimana aku berada sebelumnya. Pedang itu mengayun tepat di hadapan pucuk hidungku, dan mengeluarkan bunyi tebasan angin.
Itu terlalu berbahaya.
Tapi dia tidak secepat Paul. Kalau begitu aku hanya perlu berkonsentrasi dan menghadapinya. Aku sudah banyak melakukan pertarungan melawan swordsman di dalam pikiranku. Aku akan bisa mengatasi dia kalau aku menerapkan apa yang sudah aku pelajari selama ini.
Aku mempersiapkan sihir berikutnya di udara.
Pertama-tama adalah bola api yang aku lempar ke arah wajah pria itu.
Kecepatannya sedikit lambat.
"Cuma ini kemampuanmu!?"
Pria itu melihat bola api yang aku tembakkan dengan jelas dan bersiap untuk menghadapinya dengan mengangkat pedangnya.
Di saat dia menebas bola apiku, aku menggunakan sihir tanah dan air untuk menciptakan pasir hisap di bawah kakinya.
Sekalipun dia berhasil mengatasi bola api, kini kedua kakinya terjebak di lumpur yang sangat kental. Gerakannya kini sudah berhasil kusegel.
"Apa!?"
Bagus sekali, kami berhasil menang.
Aku yakin itu.
Musuhku tidak akan bisa lari lagi, dan sekalipun mereka mampu menangkis bola apiku, aku sudah berada di luar jangkauan mereka. Sekalipun aku menggendong Ojou-sama, setelah aku berhasil menemukan tempat yang ada orangnya, kemenangan akan menjadi milik kami. Atau kalau tidak, aku bisa memanggil bantuan.
Disaat aku memikirkan itu.
"Jangan pikir kalian bisa lari!"
Pria itu tiba-tiba melempar pedangnya.
Melihat itu, ajaran Paul terlintas di dalam pikiranku. Teknik untuk melempar pedang di teknik Dewa Utara bila kaki mereka terluka.
Itu adalah teknik untuk melempar pedang ke arah musuh dari jauh.
Pedang itu melayang lurus ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Naluriku berkata kalau aku tidak bisa melarikan diri dari pedang itu.
Pedang itu seperti melayang dalam adegan gerak lambat.
Tujuannya adalah kepalaku.
Mati.
Kalimat "Mati" langsung muncul di dalam pikiranku.
Sesuatu berwarna kecoklatan melayang di hadapan kedua mataku.
Pada waktu yang sama, pedang yang melayang ke arahku jatuh ke tanah.
Di hadapan mataku, tampak punggung seseorang.
Punggung yang lebar. Aku mengangkat kepalaku, dan melihat ada telinga hewan di kepala orang itu.
Dia adalah Ghyslaine Dedorudia.
"Serahkan sisanya kepadaku."
Sembari mengucapkan itu, tangannya bergerak ke arah pedang yang ada di pinggangnya, sebuah kilatan berwarna merah melintas di udara.
Kepala pria yang tersangkut di pasir hisap jatuh ke tanah.
Sekalipun jarak diantara mereka berdua sangat jauh. Sekalipun pedang Ghyslaine tak mungkin mencapai posisi mereka.
"D, darimana kau datang"
Di saat ekor Ghyslaine bergoyang, kepala pria yang satunya juga turut jatuh ke tanah.
Puk. Bunyi seperti itu bisa kudengar dengan jelas. Aku bahkan bisa mendengarnya dari jarak sejauh ini.
Pikiranku tak bisa memahami situasi yang sedang terjadi.
Dengan bengong, sku melihat dua tubuh yang jaraknya beberapa meter dariku roboh.
Ini benar-benar tidak terasa nyata. Apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak paham.
Eh? Mereka mati?
Pertanyaan itu melayang di dalam pikiranku.
"Hm, Rudeus. Hanya ada 2 musuh?"
Aku kembali sadar ketika Ghyslaine bertanya kepadaku.
"Ah, ya, terima kasih, Ghyslaine, nee-chan."
"Tidak perlu pakai nee-chan, Ghyslaine saja sudah cukup."
Ghyslain berbalik menghadapku dan mengangguk.
"Aku tiba-tiba melihat ada ledakan di udara, dan berlari kemari untuk memeriksanya. Sepertinya dugaanku benar."
"Ce-cepat sekali. Kau barusan mengalahkan mereka berdua secepat itu"
Sejak aku meluncurkan bola api ke udara, satu menit saja belum berlalu.
Tak peduli bagaimanapun orang melihatnya, itu tadi terlalu cepat.
"Aku sedang berada di dekat sini, dan itu tidak terlalu cepat. Bagi prajurit Dedorudia, musuh seperti bukanlah apa-apa, dan kami bisa membunuhnya dalam sekejap mata. Tapi Rudeus, apa ini pertama kalinya kamu bertarung melawan pengguna teknik Dewa Utara?"
"Ini adalah pertama kalinya aku mencoba untuk saling bunuh dengan orang lain."
"Begitukah? Kamu harus hati-hati. Mereka tidak akan menyerah sebelum mereka mati."
Sebelum mereka mati.
Benar, barusan aku nyaris mati.
Kakiku gemetaran saat aku mengingat kalau barusan ada pedang yang melayang tepat ke arahku.
Saat kami mencoba untuk membunuh satu sama lain.
Itulah yang baru saja terjadi.
"A, ayo kita kembali."
Kalau aku membuat satu saja keputusan yang salah, aku akan mati.
Aku belum pernah memikirkan itu sebelumnya. Ini adalah dunia yang berbeda.
Dunia dengan pedang dan sihir.
Apa yang akan terjadi kepadaku kalau aku mati lagi ?
Rasa takut akan hal yang tidak diketahui, membuat darah di tubuhku terasa begitu dingin.
Saat aku kembali ke mansion, Ojou-sama terduduk di lantai seperti kehabisan seluruh tenaga.
Tubuhnya tampak begitu lemas setelah semua ketegangan yang ia rasakan menghilang.
Para pelayan wanita berlari menghampiri Ojou-sama dengan panik.
Melihat para pelayan yang berniat untuk membantu, Ojou-sama menampik tangan-tangan yang mereka ulurkan, lantas dia berdiri sambil gemetaran layaknya bayi rusa yang baru lahir.
Ia berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan pundaknya seperti Raja Iblis.
Sepertinya dia sudah kembali mendapatkan auranya setelah berhasil sampai di rumah.
Para pelayan berhenti bergerak setelah melihat postur tubuh aneh yang ditunjukkan Ojou-sama.
Ojou-sama tiba-tiba menunjuk ke arahku dengan jarinya, lantas dia berkata dengan suara lantang.
"Itu adalah janji sebelum kita sampai di rumah! Sekarang aku sudah boleh bicara kan!"
"Mmm, ya, kamu boleh bicara sekarang, Ojou-sama."
Mendengar suaranya yang begitu lantang, aku merasa kalau rencanaku gagal.
Insiden separah ini tak akan bisa membuatku menjinakkan anak yang kasar dan arogan ini.
Khususnya setelah pertarungan hidup mati pertamaku. Seluruh tubuhku gemetaran. Mungkin Ojou-sama menyadari itu. Ia pasti berpikir kalau aku hanya pintar bicara, tapi sebenarnya sangat lemah.
"Aku mengijinkanmu secara khusus untuk memanggilku Eris!"
Tapi kalimat yang dilontarkan Ojou-sama malah membuatku terkejut.
"Aku bilang, aku mengijinkanmu secara khusus untuk memanggilku dengan nama itu!"
Itu artinya, rencanaku berhasil?
Aku bisa menjadi guru privat?
Wo, woah, kau serius!? A, aku berhasil? Itu menakjubkan!
"Terima kasih banyak, Eris-sama!"
"Kau tak perlu menambahkan –sama! Panggil saja Eris!"
Eris meniru Ghyslaine, dan mempertahankan postur tubuhnya sambil duduk di lantai dengan bunyi ‘plop’.
Dengan demikian, aku menjadi guru privat Eris Boreas Greyrat.
Orang yang ada di balik peristiwa penculikan ini adalah sang pelayan, Thomas.
Ia memiliki suatu hubungan dengan bangsawan mesum yang sebelumnya disebutkan oleh para penculik.
Bangsawan mesum tersebut sudah lama memiliki rasa ketertarikan dengan Ojou-sama, dan ingin “menganiaya” si gadis yang buas dan arogan tersebut.
Dengan iming-iming uang dalam jumlah besar, ia berhasil mencuci otak Thomas, yang pada akhirnya membiarkan dua orang yang sudah diatur sebelumnya oleh si bangsawan mesum untuk berpartisipasi dalam rencana yang aku buat.
Serius. ternyata ada pengkhianat seperti itu di sekitarku.
Lain kali kalau kamu mau melakukan hal-hal seperti ini lagi, tolong beritahu aku terlebih dahulu, oke?
Tapi dia salah perhitungan, karena dia tidak mengira kalau aku memiliki kemampuan untuk melarikan diri dari dua penculik itu. Dan mereka juga ternyata tidak seloyal yang ia kira.
Si bangsawan mesum menolak semua tuduhan yang diajukan, dan tidak ada cara yang tersedia untuk menghukumnya.
Ia mengucapkan sesuatu tentang kurangnya bukti yang hanya berdasarkan pada testimoni yang diberikan Thomas, dan bahwa hal tersebut tidak ada hubungannya dengan kematian kedua penculik. Dengan tidak adanya bukti lain yang mengarah kepada si bangsawan mesum tersebut, kira-kira seperti itu, apalah, aku tidak peduli.
Bagian yang meragukan tidak bisa digunakan sebagai bukti. Aku pikir inilah yang disebut-sebut sebagai politik.
Insiden ini dianggap layaknya Ghyslaine lah yang membereskan semuanya sendirian.
Membiarkan seluruh dunia tahu bahwa keluarga Greyrat telah mempekerjakan Raja Pedang Ghyslaine sebagai prajurit bayaran mereka, membuat insiden ini sebagai sebuah pencegahan bagi masalah yang mungkin akan timbul di masa depan, dan juga menunjukkan kekuatan dan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga mereka.
Setelah aku ditanyai, mereka menyuruhku untuk tidak berpartisipasi dalam masalah ini, dan membiarkan Ghyslaine untuk mengatasi semuanya.
Kalau kehadiranku diketahui oleh anggota keluarga Greyrat yang lain, situasinya akan menjadi rumit.
Ini juga politik bukan?
Tapi aku tak menduga kalau ternyata ada keluarga Greyrat yang lain.
"Beginilah jadinya nanti. Kamu tidak keberatan kan?"
"Ya. Saya akan mematuhinya dengan penuh rasa hormat untuk itu."
Philip menjelaskan masalah diatas kepadaku di ruang resepsi.
Aku hanya tau kalau Philip adalah putri
Sudah sebulan lamanya sejak aku mulai menjadi guru privat.
Sejak awal, Eris tak memiliki niat untuk menghadiri kelasku.
Dalam hal matematika dan bahasa, dia bakal menghilang begitu saja, dan tidak akan muncul kembali sebelum kelas berpedang dimulai.
Tentu saja ada pengecualian. Dia hanya akan memperhatikanku dengan sungguh-sungguh di kelas ilmu sihir.
Saat pertama kali dia berhasil menggunakan sihir Fireball, aku tidak bisa menemukan kata yang tepat dalam kosakataku untuk menjelaskan betapa senangnya dia. Dan dia sambil melihat ke arah tirai yang terbakar, berkata:
"Suatu hari aku akan mengeluarkan kembang api yang besar seperti Rudeus."
Aku memadamkan api yang membakar tirai, dan memberi peringatan keras kepada Eris agar dia tidak menggunakan sihir api bila tidak ada aku disekitarnya. Tirai yang terbakar memancarkan cahaya yang menyelimuti Eris. Tak peduli dari sisi manapun kau melihatnya, Eris benar-benar terlihat seperti pembakar, tapi kelihatannya dia lumayan bersemangat untuk mempelajari itu. Namun, kalau dihilat dari kemampuannya memahami sihir api, seharusnya dia juga bisa belajar dengan baik pada mata pelajaran lainnya.
Itulah yang aku pikirkan, tapi ternyata prediksiku benar-benar melenceng.
Eris sama sekali tidak memiliki niat untuk mengikuti kelas bahasa dan matematika.
Kalau aku mulai membahas kelas tersebut, dia akan segera melarikan diri. Kalau aku mencoba untuk menangkapnya, dia akan memukulku sebelum melarikan diri.
Kalau aku terus mengejar dia, dia akan berbalik dan menghajarku sebelum melanjutkan pelariannya.
Aku pikir dia akan paham tentang pentingnya bahasa dan matematika gara-gara insiden yang terjadi sebelumnya, tapi sepertinya dia masih sangat membencinya.
Saat aku mengeluh kepada Philip, dengan acuh tak acuh ia menjawab:
"Membuat murid mau mendengarkan pelajaran di kelas itu juga tugas seorang guru."
Aku tak bisa menyangkal itu.
Aku mulai mencari Eris.
Sekalipun Ghyslaine datang ke kelasku untuk belajar bahasa dan matematika dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya, dia itu masih lebih seperti pendampingnya Eris.
Bagaimana bisa aku mengajari Ghyslaine sendirian?
Tapi, mencari Eris itu bukan hal mudah.
Dibandingkan aku yang baru datang kemari sebulan yang lalu, Eris sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Dibandingkan denganku, dia jauh lebih akrab dengan area yang ada di sekitar sini. Dan jangan bicara soal petak umpet.
Guru privat yang sebelumnya juga sudah berusaha keras untuk membereskan masalah ini.
Tetapi. Tak peduli seberapa besarnya mansion ini, area yang ada di dalamnya tetaplah terbatas. Pada akhirnya, Eris masih bisa ditemukan.
Guru yang berhasil menemukan Eris pada akhirnya juga dihajar tanpa terkecuali.
Pada mulanya para guru banyak yang keluar gara-gara masalah ini.
Tapi ada juga guru privat yang membalas dan balik menghajar Eris. Kekerasan melawan kekerasan. Itu adalah sesuatu yang mulanya aku rencanakan.
Tapi di tengah malam, guru itu diserang oleh Eris dengan menggunakan pedang kayu, dan menderita luka-luka yang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan untuk bisa sembuh sepenuhnya, yang memaksanya untuk berhenti mengajar.
Satu-satunya orang yang mampu menghalau serangan Eris di siang dan malam adalah Ghyslaine.
Aku tak yakin bisa menghalau serangan dari Eris.
Sekalipun aku berhasil menemukan dia, aku pasti akan masuk rumah sakit.
Kalau bisa, aku tidak mau pergi mencarinya.
Aku tak mau dihajar habis-habisan.
Kalau dia mau menghadiri kelas ilmu sihir, bukannya tak apa kalau aku cuma mengajarinya ilmu sihir? Tapi Philip memerintahkanku untuk juga mengajari Eris bahasa dan matematika. Dia juga bilang kalau kedua mata pelajaran itu harus setara dengan ilmu sihir yang aku ajarkan. Bahkan dia bilang:
"Dibandingkan dengan sihir, kelas yang lainnya sebenarnya lebih penting."
Sekali lagi, aku tidak bisa menyangkal itu.
Mungkin aku harus melakukan simulasi penculikan untuk kedua kalinya.
Anak-anak yang tidak mau mendengarkan harus dihukum.
Saat aku memikirkan itu, aku akhirnya menemukan Eris.
Seluruh tubuhnya tertimbun di dalam jerami yang berada di kandang kuda, dengan perut yang terlihat jelas.
Dia sedang tertidur pulas. Wajah yang dia miliki benar-benar mirip seperti bidadari.
Tapi, jangan tertipu dengan penampilan luarnya, karena dibalik wajah bidadari itu ada iblis yang bersembunyi.
Kau bisa menerima pukulan fatal dari si iblis, dan kemudian memuntahkan banyak darah.
Tapi bagaimanapun juga, aku harus membangunkan dia.
Pokoknya, pertama-tama aku menarik pakaian Eris untuk menutupi perutnya yang terbuka, agar dia tidak masuk angin.
Sementara itu, aku memijat bagian dadanya.
Petapa yang tinggal di dalam hatiku memberikan penaksiran.
"Hmm, aku mengerti, ukurannya masih AA, tapi ada kemungkinan yang sangat besar kalau ukurannya akan meningkat. Saat dia sudah dewasa, mereka akan tumbuh hingga melampaui ukuran E. Kau harus memijatnya setiap hari agar mereka bisa tumbuh dengan subur. Ini juga merupakan bagian dari latihanmu. Hoh, hoh, hoh."
Terima kasih banyak, tuan petapa.
Setelah aku menikmati momen itu sepenuhnya, aku memanggil Eris dengan suara kecil.
"Ojou-sama. Tolong bangun, Eris Ojou-sama. Waktu untuk kelas matematika yang menyenangkan telah tiba."
Dia tidak bergerak sama sekali. Yah, aku hanya bisa menyerah.
Apa boleh buat, celana dalam anak-anak yang tidak mau mendengarkan orang dewasa harus dilepas, kau tahu?
Aku perlahan menggapai ke arah gaun yang ia kenakan, dan pada saat itu.
Kedua mata Eris tiba-tiba terbuka.
Pandangannya perlahan beralih dari tanganku, ke pahanya, kemudian ke wajahku.
Wajah yang masih tampak mengantuk, namun ditemani dengan kertakan gigi.
Sesaat berikutnya, Eris mengepalkan tinjunya.
Wajahku!? Aku buru-buru menggunakan kedua tanganku untuk menutupi wajahku.
Hantaman keras datang menghampiri ulu hatiku.
Aku berlutut kesakitan.
Tidak ada bidadari. Hanya ada iblis di sini.
Dengan mengendus, Eris menendangku lagi.
Setelah melangkahiku, Ojou-sama pergi meninggalkan kandang kuda.
Aku tak punya pilihan lain.
Aku harus meminta bantuan Ghyslaine.
Aku hanya mendengarnya dari mulutnya Paul, namun katanya, otaknya Ghyslaine juga terbuat dari otot. Dari alasan yang ia miliki untuk mempelajari bahasa dan matematika, tentu dia akan lebih mudah untuk membujuk Eris. Dan harusnya, Eris akan mau mendengarkan Ghyslaine.
Ini adalah jalan keluarku.
Pada mulanya Ghyslaine tidak begitu peduli, tapi setelah aku menggunakan sihir air dan menangis sambil memohon kepadanya, Ghyslaine akhirnya setuju untuk membantuku.
Dia benar-benar gampang ditipu.
Benar, tunjukkan kemampuanmu kepadaku.
Kami tak pernah mendiskusikan itu secara khusus, dan aku menyerahkan semuanya kepada Ghyslaine.
Ghyslaine memulai aksinya di masa istirahat kelas ilmu sihir.
"Aku pernah berpikir kalau pedang yang ada ditanganku sudahlah cukup untuk mengatasi semuanya."
Dia tiba-tiba bicara soal masa lalu.
Dulu dia adalah seorang anak manja, dan menemukan seorang guru yang mau menerima dirinya apa adanya, dan bagaimana dia bisa menjadi seorang petualang, tentang pertama kali dia mendapat rekan seperjuangan --- Sebuah pengantar yang panjang, dan kisahnya berputar dari sana. semuanya adalah masa lalu yang bermasalah.
"Saat aku masih menjadi seorang petualang, semuanya aku serahkan kepada orang lain. Persenjataan, armor, makanan, pembelanjaan, kehidupan sehari-hari, kontrak, peta, tujuan. Itu semua adalah hal-hal penting yang aku sadari setelah aku meninggalkan rekan-rekanku."
Berdasarkan dari kisah yang ia ceritakan, Ghyslaine pergi meninggalkan kelompoknya sekitar 7 tahun yang lalu.
Dengan kata lain, karena Paul dan Zenith pensiun dan memilih untuk menetap di tempat terpencil, kelompok tersebut bubar.
Sekalipun aku sudah menyadari tanda-tandanya, tapi aku tidak mengira kalau mereka benar-benar berasal dari kelompok yang sama.
"Sekalipun masih ada anggota kelompok lain, tapi Paul yang bertugas dalam memimpin garis depan dan Zenith yang merupakan satu-satunya penyembuh telah meninggalkan kelompok tersebut. Sekalipun kelompok itu tidak bubar, pada akhirnya mereka juga akan berpisah. Itu adalah hal yang wajar."
Jadi itu adalah kelompok yang terdiri dari 6 orang.
Warrior, swordsman, swordsman, mage, priest, thief.
Kalau kau menggunakan job untuk menjelaskan kelompok itu, kira-kira ya seperti kombinasi di atas.
Sekalipun pada saat itu Ghyslaine masih bergelar Sword Saint, tapi kekuatan serangnya sangatlah tinggi.
Warrior (Tak diketahui): Tank
Swordsman (Paul): Tank dan penyerang
Swordsman (Ghyslaine): Penyerang
Mage (Tak diketahui): Penyerang
Priest (Zenith): Healer
Sebagai tambahan, yang aku sebut thief, kalau didasarkan dari apa yang diucapkan Ghyslaine, dia bertanggung jawab dalam berbagai hal.
Mulai dari membobol kunci, memeriksa jebakan, membangun kemah, dan berdagang dengan para pedagang.
Orang terpelajar dengan pemikiran yang fleksibel.
Orang-orang seperti itu biasanya datang dari keluarga pedagang.
"Menyebut dia sebagai pemburu harta karun sepertinya akan cocok"
Aku mengatakan itu, tapi Ghyslaine mendengus dan menjawab:
"Orang itu selalu mencuri uang simpanan kelompok kami untuk berjudi, memanggil dia pencuri itu sudah cukup bagus."
"Mencuri uang? Apa dia tidak dihajar saat dia ketahuan?"
"Tidak, orang itu sangat berbakat dalam berjudi, dan dia selalu menang dan membawa uang lebih. Sangat jarang melihat dia rugi sampai kehilangan separuh dari uang yang ia bawa. Dan di saat tertentu, dia juga bersikap sangat bijak."
Situasinya kira-kira seperti itu.
Tapi sekalipun kau bisa meningkatkan dana simpanan, bagaimana bisa kau memaafkan sesuatu seperti itu
Aku kesulitan memahami itu.
Bukan niatku untuk pamer, tapi aku tak pernah sampai ketagihan berjudi.
Sekalipun aku menghabiskan lebih dari ¥100.000 di internet.
Yah, di dalam kelompok itu ada Paul yang tergila-gila dengan wanita, jadi etika yang ada di dalam kelompok itu mungkin tidak begitu ketat.
Semua orang punya garis dasar yang berbeda-beda. Makin banyak orang, makin banyak aturan.
"Tapi memang apa bedanya swordsman dengan warrior?"
Aku menanyakan itu karena aku lumayan tertarik.
Kalau keduanya sama-sama berada di garis depan, harusnya mereka tidak perlu dibedakan.
"Kalau kau menggunakan pedang dan teknik yang kau miliki berasal dari 3 teknik utama, kau adalah seorang swordsman. Orang lain yang menggunakan pedang namun tidak memiliki teknik yang berasal dari 3 teknik utama, adalah warrior. Sekalipun kau mempelajari 3 teknik utama tersebut, kalau kau tidak menggunakan pedang, kau akan tetap dipanggil warrior."
"Ehh, jadi ternyata swordsman memiliki sesuatu yang spesial seperti itu."
Atau lebih tepatnya, 3 teknik utama itulah yang spesial.
Teknik yang digunakan Ghyslaine benar-benar luar biasa.
Aku bahkan tidak tahu kapan dia menggunakan pedangnya.
Hanya dengan sedikit bergerak, dan kepala lawan akan menggelinding di tanah.
Setelah aku bertanya kepadanya soal itu, sepertinya teknik itu bernama ‘Sword of Light’, jurus rahasia dari teknik Pedang Dewa.
"Kalau begitu, seorang knight adalah ?"
"Knight ya knight. Orang jadi knight kalau mereka dipekerjakan oleh suatu kerajaan atau penguasa daerah. Mereka yang berpendidikan memahami bahasa dan matematika. Beberapa diantara mereka juga tahu ilmu sihir. Tapi kebanyakan dari mereka datang dari keluarga bangsawan, dan harga diri mereka sangatlah tinggi."
Mungkin mereka berpendidikan karena mereka sekolah.
"Apa pada waktu itu ayahku adalah seorang knight?"
"Aku tak begitu yakin soal itu, aku ingat Paul menyebut dirinya sendiri sebagai seorang swordsman."
"Aku dengar ada yang namanya sihir swordsman dan sihir warrior?"
"Itu adalah orang-orang yang bisa menggunakan sihir, dan mereka memilih gelar mereka sendiri. Tak peduli profesi apapun yang mereka miliki, mereka memiliki kebebasan untuk menyebut diri mereka sendiri dengan gelar yang mereka inginkan."
"Oh~"
Kedua mata Eris tampak bersinar dan dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dia tidak akan memintaku atau Ghyslaine untuk membawanya ke dungeon terdekat, ‘kan?
Ini benar-benar membuatku gelisah. Daripada berpetualang, aku lebih memilih untuk dikelilingi oleh gadis dan hidup dengan gaya Eroge.
Ah, oops, rencana asliku adalah untuk membiarkan Ghyslaine bercerita tentang pentingnya bahasa dan matematika.
Tanpa aku sadari, rasa penasaranku menyebabkan topik pembicaraan ini jadi melenceng.
Tapi hal yang bagus dari tragedi ini adalah, di hari kedua Eris ikut datang bersama Ghyslaine ke dalam kelas matematika dan bahasa.
Ini semua berkat Ghyslaine. Setelah itu, dia lanjut bercerita tentang masa lalunya yang bermasalah.
Hanya mendengarkan ceritanya saja mampu membuat perutku terasa sakit, tapi berkat itu, Eris mungkin sudah menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang harus ia pelajari.
Sekalipun, mungkin saja dia datang ke kelasku hanya karena dia tertarik untuk mendengarkan cerita dari Ghyslaine. Pokoknya, ada kemajuan lah.
Aku sempat mempertimbangkan untuk melakukan hal seperti ini lebih awal…… tapi, tanpa insiden penculikan, aku pikir Ojou-sama tidak akan mau mendengarkan sepatah katapun dariku.
Sebelum insiden itu, dia menatapku seperti sedang menatap semut.
Jadi itu bukanlah usaha yang sia-sia.
Bagaimanapun juga, akhir seperti ini juga lumayan bagus.
Awalnya, pada pembelajaran pertama, aku mengajarkan dia operasi aritmatika dasar.
Karena Eris pernah sekolah, dan mempekerjakan beberapa guru privat, dia sudah tahu tentang penjumlahan dasar.
"Rudeus!"
"Ada apa, Eris-kun."
Aku menunjuk Eris yang tengah mengangkat tangannya dengan penuh semangat.
"Kenapa aku harus belajar pembagian?"
Dia tidak mengerti tentang pentingnya pembagian dan pengurangan.
Sebelumnya, dia sangat buruk dalam hal pengurangan.
Aku selalu merasa kalau dia akan terjebak dalam perubahan angka, dan pada akhirnya menyerah untuk mempelajari matematika.
"Daripada kita bicara soal pentingnya itu, pada dasarnya ini adalah kebalikan dari perkalian."
"Aku tanya, apa gunanya itu."
"Baiklah, kalau kamu punya 100 koin perak, dan kamu harus berbagi dengan 5 orang, apa yang harus kamu lakukan?"
"Omonganmu sama seperti guru-guru sebelumnya!"
Eris menghantam meja dengan sekuat tenaga.
"Karena itulah aku tanya kenapa! Kenapa! Kenapa aku harus berbagi! Memang aku perlu berbagi dengan orang lain!"
Ah, ya, anak-anak yang tidak mau belajar pasti akan punya alasan seperti ini.
Tapi sejujurnya, ini tidak begitu penting.
"Entahlah, coba saja tanya sama 5 orang sana. Pembagian bagus digunakan kalau kamu mau membagi sesuatu dengan adil."
"Kamu bilang bagus, itu artinya kamu tak perlu menggunakan pengurangan, ‘kan?"
"Saat kamu tidak mau menggunakan itu, tentu saja kamu tidak perlu menggunakannya. Tapi tidak ingin menggunakan dan tidak bisa menggunakan, adalah dua hal yang sangat berbeda."
"Mumumuu"
Saat aku mengucapkan kalimat “tidak bisa menggunakan”, Eris yang angkuh itu menutup mulutnya. Tapi, ini tidak akan menyelesaikan masalah yang ada saat ini. Kalau aku membiarkan dia untuk terus-terusan beralasan, maka tidak ada gunanya untuk belajar matematika lebih lanjut.
Pada saat ini, aku hanya bisa bergantung kepada Ghyslaine.
"Ghyslaine, pernahkah kamu mengalami kesulitan tentang membagi sesuatu dengan rata?"
"Hmm, pernah sekali aku kehilangan beberapa persediaan makananku, dan aku ingin untuk mendistribusikan makananku agar bisa bertahan sampai beberapa hari, tapi aku gagal. Pada akhirnya, aku tidak makan dan minum selama 3 hari penuh. Pada saat itu, aku pikir aku akan mati. Saat aku sudah mencapai separuh perjalanan, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi, dan aku mulai memakan kotoran dari makhluk sihir, yang membuatku sakit perut. Aku menahan diri agar tidak muntah, menderita sakit perut, dan juga diare, dan aku masih tetap harus menghalau makhluk sihir yang ada di sekitar"
Cerita masa lalu ini berlangsung selama 5 menit, dan membuatku merasa mual.
Aku mendengarkan cerita itu dengan wajah pucat, tapi sepertinya bagi Eris, ini adalah kisah perjuangan yang mengagumkan.
Kedua matanya bersinar, serasa ada bintang di dalamnya.
"Jadi, aku mau mempelajari pembagian, silahkan lanjutkan pelajarannya."
Karena Ghyslaine sudah mengucapkan sesuatu seperti itu, Eris hanya bisa menurut.
Keluarga Sauros sepertinya sangat menyukai Ras Hewan, dan bahkan Eris juga terus mendekati Ghyslaine.
Eris pasti akan mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan oleh Ghyslaine. Seperti seorang adik laki-laki yang mengikuti kakak perempuannya, tak peduli hal seperti apapun yang dilakukan oleh si kakak, si adik pasti akan menirunya.
"Kalau begitu, kita tinggalkan dulu latihan berulang-ulang yang membosankan. Tolong jawab semua pertanyaan ini. Kalau ada yang tidak paham, silahkan tanya."
Situasiku mengalami kemajuan selangkah demi selangkah, seperti ini.
Ghyslaine juga merupakan guru yang luar biasa.
Dia akan. menunjukkan bagian mana yang salah aku lakukan, dan memberikan pendapat yang tidak dibuat-buat.
Paul sebenarnya juga menunjukkan kesalahanku, tapi dia hanya bilang kalau itu tidak benar. Tak pernah sekalipun dia memberitahuku apa sebenarnya kekuranganku, dan dia juga tidak mengajariku bagaimana cara untuk mengoreksinya.
Hari ini juga sama seperti biasa; Eris dan aku berhadap-hadapan sambil menggenggam pedang, berlatih, dan menerima bimbingan dari Ghyslaine bersama-sama.
"Ingat pose tubuhmu saat kamu melangkah, dan terus perhatikan lawanmu."
Pedang kayu yang ada di tanganku telah diterbangkan oleh pedang kayu Eris.
"Kalau kau melangkah terlebih dahulu sebelum lawanmu, perhatikan dengan baik ke arah mana lawanmu akan bergerak, dan tebaslah ke arah itu. Kalau kau lebih lambat dari lawanmu, dia akan berhasil menghindari dari jalur seranganmu."
Karena tak bisa memberikan reaksi, aku terkena pukulan langsung oleh pedangnya Eris.
Hantaman yang kuat menembus armor pertahanan yang dipenuhi oleh kapas, dan langsung memberikan efek kepada tubuhku.
"Kamu harus bereaksi terhadap gerakan dan pandangan lawan untuk memprediksi aksi mereka!"
Aku terkena serangan lagi.
"Rudeus! Jangan gunakan pikiranmu, dan pikirlah! Pikir saja kemana musuhmu akan melangkah dan ayunkan pedangmu!"
Sebenarnya kamu mau aku berpikir atau tidak?
"Eris! Jangan berhenti! Lawanmu masih belum menyerah!"
"Ya!"
Ada perbedaan yang jelas di antara kami.
Eris menjawab dengan semangat. Melihat aksinya, aku beranggapan kalau dia masih memiliki sisa energi yang cukup banyak; sayangnya, aku sama sekali tidak memiliki setetes semangatpun yang tersisa untuk melanjutkan ini.
Aku akui, gadis ini punya cukup banyak energi untuk menghajarku tanpa henti. Dia mendemonstrasikan itu sampai Ghyslaine menghentikan dirinya.
Tanpa mengijinkanku untuk membalas sekalipun, sepertinya Eris tengah mencoba untuk melampiaskan amarahnya yang telah tertumpuk di kelas matematika.
Sialan.
Tapi bulan ini, aku bisa merasakan peningkatan kemampuanku dengan cukup jelas.
Memiliki Eris sebagai sainganku, yang tingkatannya kira-kira sama denganku, benar-benar sangat membantu.
Tak peduli bagaimanapun situasinya, memiliki seseorang dengan tingkat yang sama pasti akan banyak membantu perkembanganmu.
Sekalipun Eris lebih kuat dariku, sekalipun kami memiliki kemampuan yang sama, kekuatan yang ia miliki relatif kecil bila dibandingkan dengan Paul atau Ghyslaine.
Aku masih bisa memahami apa yang dilakukan lawanku.
Kalau aku bisa memahami lawanku, berarti aku bisa mengalahkan dia.
Misal, aku terkena pukulan di suatu tempat, maka aku akan memasang pertahanan di area itu.
Aku akan bergerak berdasarkan penalaran silogisme.
Ketika melawan Paul, perbedaan kemampuan diantara kami terlalu lebar, jadi caraku di atas tidak bisa berfungsi dengan baik. Aku bahkan tidak bisa mengikuti pergerakan Paul, jadi ujung-ujungnya aku bakal dikalahkan dengan cepat dan menyedihkan.
Sekalipun aku mendengarkan saran yang ia berikan, ada terlalu banyak perbedaan diantara ilmu dasar kami, jadi itu sama sekali tidak membantu.
Karena itulah, aku selalu mempertanyakan setiap gerakanku.
Saat Ghyslaine mengajariku sesuatu, sekalipun ada masalah seperti yang aku sebutkan di atas, aku cukup memahami penjelasan yang ia berikan. Tapi dia selalu bicara soal membalas serangan lawan dan mengatur posisi pedang pada waktu yang sama, jadi aku merasa ragu saat aku ingin menggunakan sebuah teknik.
Tapi, dengan Eris sebagai lawanku, pasti akan ada hasil lain bila aku melakukan sesuatu yang berbeda atau menggunakan trik tertentu.
Sekalipun aku merasa ragu, namun perbedaan teknik diantara kami tidak begitu besar, jadi aku masih bisa menyerang dia.
Mungkin cara seperti itu tidak akan berhasil di hari kedua, atau Eris akan menggunakan teknik yang berbeda, namun hal-hal yang tidak bisa dilakukan kemarin akan diselesaikan pada hari ini, atau teknik yang belum keluar kemarin akan ditunjukkan pada hari ini. Dengan terus bertambahnya pengalaman seperti itu, walaupun hanya sedikit demi sedikit, tapi kami sudah pasti mengalami kemajuan.
Seperti yang sudah aku duga, memiliki seorang rival akan memberiku banyak keuntungan, dengan beberapa kekurangan yang bisa diabaikan.
Ada target yang harus dikejar dan dilampaui.
Mungkin kemampuan kami hanya meningkat sebanyak 1 atau 2 poin, tapi, bagi orang-orang yang hanya memiliki perbedaan kemampuan yang sangat sedikit, poin sekecil itu sangatlah penting.
Tanpa kami sadari, kami menjadi lebih kuat.
Tapi dalam hal perkembangan, Eris jauh lebih cepat dariku.
Kalau kau melatih seekor kambing dan singa pada waktu yang sama, tentu saja singa yang akan lebih cepat menjadi kuat daripada si kambing.
Tapi setelah dilatih oleh Paul sejak aku mulai bisa berjalan, aku merasa tidak puas dengan situasi ini.
"Rudeus masih belum cukup kuat!!"
Eris menyilangkan lengannya dan memandang rendah diriku yang sedang terbaring lemas di tanah.
Pada akhirnya, dia dimarahi oleh Ghyslaine.
"Jangan sombong, Eris. Kamu sudah belajar ilmu pedang lebih lama."
Hanya pada saat kelas ilmu pedang berlangsung. Ghyslaine akan memanggil Eris dengan namanya secara langsung.
Dia bilang itu adalah suatu keharusan.
"Aku mengerti! Dan Rudeus juga bisa sihir!"
"Seperti yang kau katakan."
Hanya ilmu sihirku yang diakui oleh Eris.
"Tapi itu benar-benar aneh. Reaksinya Rudeus menjadi lambat saat ia diserang oleh lawan"
"Itu karena aku takut. Aku takut dengan lawan yang menyerang dihadapanku."
Tepat setelah aku selesai mengucapkan itu, kepalaku dipukul oleh Eris.
"Bicara apa kamu ini! Dasar tak berguna! Karena itulah kamu dipandang rendah!"
"Tidak, Rudeus adalah seorang penyihir. Ini sudah cukup."
Ghyslaine segera menambahkan komentar, namun pada akhirnya Eris hanya mengangguk layaknya ia mengetahui segalanya.
"Begitukah? Yasudah, mau bagaimana lagi!"
Eh? Terus kenapa aku harus dipukul?
"Aku minta maaf, aku tidak tahu cara untuk memperbaiki kebiasaan burukmu soal kakimu yang gemetaran. Itu adalah sesuatu yang harus kamu lalui sendiri."
"Aku mengerti."
Bagi diriku yang sekarang ini, tidak peduli siapapun yang menjadi lawanku, kakiku selalu gemetaran. Aku masih harus belajar banyak.
"Tapi setelah aku mulai menerima instruksi dari Ghyslaine, aku merasa yakin kalau aku sudah mengalami kemajuan."
"Paul itu termasuk orang dengan tipe naluriah, jadi dia tidak begitu ahli dalam mengajari orang lain."
Tipe naluriah!
Ah, jadi sesuatu seperti itu juga ada di dunia ini.
"Apa maksudnya itu 'tipe naluriah'??"
Orang yang tidak memahami teknik secara sadar, namun lebih memilih untuk mengandalkan perasaan dan naluri, disebut tipe naluriah.
Aku menjawab pertanyaannya, dan Eris langsung cemberut.
Dia mungkin juga termasuk dalam perguruan naluriah.
"Memang apa salahnya dengan mengandalkan naluri?"
Dari awal, sangat sulit untuk menjawab pertanyaan Eris karena sifat keras kepala yang ia miliki, tapi sekarang aku ditanyai apakah 'tipe naluriah' itu bagus atau tidak.
Karena sekarang kita sedang mempelajari ilmu pedang, aku akan menyerahkan pertanyaan ini kepada sang guru.
Aku melihat ke arah Ghyslaine.
"Bukannya jelek. Tapi sekalipun ada seseorang yang berbakat, jika dia tidak menggunakan otaknya untuk berpikir, maka dia tidak akan menjadi kuat. Sebagai tambahan, 'tipe naluriah' juga tidak cocok untuk mengajari orang lain."
"Kenapa mereka tidak cocok untuk mengajar?"
"Karena mereka sendiri tidak memahami teknik yang mereka gunakan. Dan kalau mereka tidak bisa memahami semuanya, maka hal itu akan menghambat mereka untuk mempelajari teknik yang lebih sulit."
Berdasarkan dari penjelasan sang Raja Pedang, semua teknik sampai tingkat lanjut berhubungan dengan ilmu dasar. Baru setelah mampu menguasai ilmu dasar, dan sanggup mengatasi berbagai situasi yang berbeda dengan reaksi yang berbeda-beda pula, kau bisa menjadi seorang Sword Saint.
Untuk menaiki ke tingkat yang lebih tinggi, kau hanya bisa bergantung pada seberapa rajin dirimu dan juga bakat yang kau miliki.
Ya, pada akhirnya, bakatlah yang menentukan.
"Aku dulu juga termasuk dalam 'tipe naluriah', tapi setelah aku mulai menggunakan pikiranku dan mampu memahami teori dibalik teknik yang aku gunakan, aku mampu menjadi Raja Pedang."
"Itu menakjubkan."
Aku benar-benar merasa kagum dari dalam lubuk hatiku. Mengoreksi tindakan yang selalu diterapkan sebelumnya, dan berhasil.
Itu bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah.
"Bukannya Rudeus adalah penyihir air level Saint?"
"Aku sebenarnya juga termasuk dalam tipe naluriah. Tapi sihir dan ilmu pedang itu berbeda, asal kamu punya ilmu sihir, kamu akan bisa melakukannya."
"Oh, begitu Tapi, ilmu dasarnya juga penting kan?"
"Aku tahu itu. Tapi lebih tepatnya, aku mampu mencapai tingkat Saint karena guruku yang mengajariku dengan baik."
Kalau dipikir-pikir, aku selalu mengingatkan diriku sendiri kalau ilmu dasar itu penting, tapi aku lebih condong untuk menggunakan Mantra tanpa suara
Jadi ilmu dasar sihir itu sebenarnya apa?
Kelasnya Roxy juga lebih condong ke arah perkembangan daripada ilmu dasar.
Kalau dipikir-pikir, Roxy itu juga termasuk tipe orang yang jenius, dan tidak terlalu condong ke arah ilmu dasar.
"Omong-omong, aku tak berencana untuk menjadi terlalu kuat, jadi itu tidak apa-apa!"
Eris menghentikan pemikiranku dengan ucapannya yang penuh dengan percaya diri.
Waktu SMP, aku ingat aku pernah mengucapkan sesuatu tentang tidak mau menjadi nomer 1, dan tidak mengerahkan banyak usaha.
Aku berencana untuk mengoreksi pemikirannya,
"Tapi aku akan berusaha keras untuk menjadi kuat seperti Ghyslaine dan Rudeus."
Tidak perlu. Dia memiliki target yang jelas.
Dia berbeda dari diriku di masa lalu.
Setelah pelajaran di pagi dan siang hari selesai, sudah waktunya untuk istirahat.
Hari itu, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Itu karena aku melihat Eris dan Ghyslaine membawa bahan-bahan untuk belajar sihir, jadi aku pikir mungkin perpustakaan di sini memiliki koleksi buku sihir yang lebih lengkap.
Karena aku tidak tahu tempatnya, aku meminta bantuan kepada seorang Maid bertelinga anjing untuk membawaku ke sana.
"Ah "
Aku bertemu dengan istrinya Philip di tengah jalan.
Namanya adalah Hilda, dan dia memiliki rambut berwarna merah membara seperti Eris, dan dada yang seperti gelombang tsunami. Sepertinya aku bisa berharap banyak pada pertumbuhan anaknya di masa depan nanti.
Aku pernah diperkenalkan kepada dia, tapi aku tidak pernah benar-benar berinteraksi dengannya.
Coba kupikir, kalau tidak salah, satu tangan diletakkan di dada
"Nyonya, selamat siang"
Hilda mendecakkan lidahnya dan mengabaikan salamku.
Aku membeku dengan postur seperti itu.
"Rudeus-sama"
"Ah, tidak apa-apa."
Maid bertelinga anjing mencoba untuk menghiburku, tapi aku menghentikannya dengan tanganku.
Tapi aku masih merasa sedikit terkejut. Apa aku dibenci olehnya? Tapi rasanya aku tidak melakukan hal-hal yang mampu memicu itu……
Oh iya, kalau dipikir-pikir, dia tidak punya anak selain Eris.
Tidak, aku merasa kalau aku menemukan ada anak yang lain, dan kalau kasus anak itu lebih parah dari Eris, aku merasa beban kerjaku akan meningkat sebanyak 3 atau 4 kali lipat.
Aku tidak boleh menggali lubang kuburanku sendiri.
Saat aku sampai di perpustakaan, aku melihat Philip di sana.
"Apa kau tertarik dengan perpustakaan?"
Philip menatapku dengan penuh harapan.
Aku tak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan.
"Hmm, ya, sedikit."
"Kalau begitu silahkan nikmatilah waktumu."
Aku menerima tawarannya, dan melihat-lihat di sekitar perpustakaan, tapi ternyata aku tidak menemukan apa yang aku cari.
Aku berharap bisa menemukan buku sihir seperti yang dimiliki oleh Roxy, tapi semua dokumen yang tersedia memiliki hubungan dengan politik, dan tidak boleh dibawa keluar perpustakaan. Buku sihir adalah sesuatu yang langka di dunia ini, dan tidak bisa ditemukan di segala tempat.
Rencanaku sama sekali tidak berjalan dengan mulus.
Tapi aku menemukan beberapa buku sejarah di pojokan. Kalau aku punya waktu luang, aku akan membacanya.
Setelah bekerja seharian, aku sekarang sedang berada di kamarku sendiri, mempersiapkan materi pembelajaran untuk keesokan harinya.
Pada dasarnya, aku mempersiapkan pertanyaan untuk kelas matematika dan catatan untuk kelas bahasa dan juga latihan praktik untuk mengajari ilmu sihir.
Aku tidak mempersiapkan jadwal mengajar sama sekali, dan kalau aku tidak memiliki hal lain untuk diajarkan dalam 5 tahun ke depan, aku akan berada dalam masalah besar, jadi pelajaran di kelasku tidak berkembang terlalu cepat. Pokoknya, untuk mencegah adanya sesuatu yang tidak jelas, aku dengan cermat mengamati kembali rencana pendidikanku selama 5 tahun ke depan.
Itu adalah perasaan sama seperti yang aku rasakan saat aku mengajari Sylphy.
Latihan ilmu sihir sangatlah penting. Karena aku tidak merapal mantra saat aku menggunakan sihir, aku terus-terusan melupakan bacaan mantranya.
Satu-satunya saat dimana aku sungguh-sungguh mengingat bacaan mantra adalah saat aku mempelajari antidote dan sihir penyembuh, dan aku tak pernah mengingat mantra sihir serangan.
Materi pelajaranku sama dengan buku sihir yang ada di rumahku.
Eris dan Ghyslaine juga punya itu.
Berdasarkan penjelasan yang aku dapatkan, ada ratusan buku yang terjual dan tertulis sekitar seribu tahun yang lalu.
Sebelum buku itu muncul, orang harus mencari guru untuk belajar ilmu sihir, dan ‘guru’ tersebut biasanya hanya bisa menggunakan semua sihir tingkat dasar. Orang hanya bisa menemukan seorang guru setelah melewati banyak rintangan, tapi ternyata tidak ada yang bisa mereka pelajari dari guru tersebut. Kasus seperti itu sangat banyak terjadi.
Sekalipun pernah dijual, buku tersebut memiliki jumlah yang sangat sedikit, dan sekalipun kau menjualnya di pasar, orang yang tidak memiliki minat untuk mempelajari ilmu sihir tidak akan meliriknya sama sekali.
Di dunia ini juga tidak ada teknologi percetakan.
Buku ini terjual dengan jumlah yang lumayan banyak sekitar 50 tahun yang lalu.
Berkat material yang bisa dibeli dengan murah, jumlah penyihir di dunia ini meningkat dalam jumlah besar.
Para penyihir menguasai dunia tidak, tapi diantara para bangasawan kerajaan Asura, mereka mendapatkan pendidikan yang lumayan tinggi
Tapi, apa sebenarnya alasan yang membuat materi ilmu sihir bertambah
Aku memikirkan itu sambil membolak-balik halaman, dan di buku itu tertulis Diterbitkan oleh Akademi Ranoa.
Mereka benar-benar ahli dalam hal bisnis.
Seperti itulah, hari-hariku sebagai guru privat, mengalir dengan cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar